Aloha!, Mini Album Syaharani and Queenfireworks: Album Review

Diva jazz Indonesia Syaharani, bersama grupnya Queenfireworks, tentunya tidak ingin mengecewakan penggemarnya dengan menghadirkan album terbarunya bertajuk Aloha! pada Oktober 2019, setelah melewati penantian panjang selama 5 tahun sejak album Selalu Ada Cinta dirilis pada tahun 2014.

Meskipun Aloha! hanya berupa mini album dengan menyajikan hanya 7 track, dengan 2 track merupakan lagu dari album sebelumnya yang di remake, namun Aloha! hadir dengan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang unik, dibandingkan dengan album-album sebelumnya.

Sebelum membahas secara detil album Aloha! mari sejenak flashback melihat perjalanan karir bermusik Syaharani sejauh yang saya kenal dan ketahui.

***

Syaharani: Sejauh yang Saya Kenal

Nama Syaharani mulai dikenal dan menancapkan karirnya sebagai penyanyi jazz Indonesia pada tahun 1999, saat dirilis album pertamanya bertajuk LOVE. Album yang dikemas dalam bentuk jazz standar ini berisi 8 track dengan 6 track lagu-lagu yang termasuk kategori jazz standar – seperti lagu berjudul “Love”, “Unforgettable”, “Smile” – dan 2 track lagu Indonesia berjudul “Sesaat Kau Hadir” (pernah dipopulerkan oleh Utha Likumahuwa) dan “Dia” (pernah dipopulerkan oleh Harvey Malaiholo).

Melalui LOVE inilah saya mulai mengenal Syaharani, dan jatuh cinta pada karakter vokal dan gaya bernyanyinya, sehingga saya selalu menantikan dirilisnya kembali album berikutnya.

Tahun 2002, Syaharani merilis album berjudul Magma. Melalui album ini Syaharani seperti berkelana merambah berbagai genre musik. Boleh dibilang berbagai genre musik – seperti jazz, fusion, ethnic, trip hop – bercampur pada album ini, sehingga tak salah bila Syaharani menyebut album ini sebagai album psychedelic.

Kerinduan penggemar Syaharani akan model album LOVE dipenuhi Syaharani dengan merilis album bertajuk Syaharani pada tahun 2004. Ya, album Syaharani ini bagaikan reinkarnasi album LOVE karena album ini dikemas dengan genre jazz standar. Album yang dibuka dengan lagu “A Whiter Shade of Pale” ini keseluruhannya berisi 10 track diantaranya terdapat lagu “Autumn Leaves”, “Lately” hingga “Kesan” (pernah dipopulerkan oleh Ermy Kullit).

Tahun 2006, Syaharani berkolaborasi dengan dua temannya Ahmad “Didit” Fareed dan Donny Suhendra, gitaris Krakatau, membentuk kelompok musik Queenfireworks dan merilis album pertama bertajuk Buat Kamu. Menjadi catatan penting, bersama Queenfireworks kini Syaharani tidak hanya sebagai vokalis tapi juga sebagai komposer dan produser. Ini satu lompatan besar dalam karir musik Syaharani.

Syaharani – cover album Buat Kamu (2006)

Corak musik yang disajikan oleh Syaharani & Queenfireworks boleh dikatakan sebagai musik yang ringan, gembira dan tidak njlimet. Ramuan musiknya dari berbagai genre seperti jazz, bossa, pop, rock, blues bahkan soul. Namun, bagaimanapun jazz tetap menjadi root atau pijakan utama sajian musiknya.

Syaharani & Queenfireworks baru 4 tahun kemudian merilis kembali sebuah album, tepatnya tahun 2010, melalui album yang diberi judul Anytime. Anytime kembali disusul 4 tahun kemudian dengan hadirnya album Selalu Ada Cinta pada tahun 2014. Terlihat adanya siklus 4 tahunan pada kelompok musik Queenfireworks ini untuk merilis album.

Perlu dicatat juga, pada tahun 2014 Syaharani berkolaborasi dengan Roedyanto (Emerald) membuat proyek yang mereka beri nama R2. Proyek yang berdasar kenangan lama akan lagu-lagu dengan musik bercorak disco 80-an, dengan me-recycle lagu-lagu lama ciptaan Roedyanto, tertuang dalam album berjudul Ternyata Oh Ternyata. Tidak hanya lagu ciptaan Roedyanto, ada juga komposer lain terlibat dalam album ini termasuk Syaharani yang menyertakan 3 lagu ciptaannya.

Keseluruhan album Syaharani, termasuk Aloha!, berjumlah 8 album. Ini koleksi album berbentuk fisik yang saya miliki yang hanya berjumlah 6 CD, minus album Magma (2002) dan album Syaharani (2004).

Koleksi CD album Syaharani, minus Magma (2002) dan Syaharani (2004)

***

Walaupun saya sudah mengenal Syaharani sejak tahun 1999 melalui album LOVE, tapi baru 15 tahun kemudian saya berjumpa dan menyimak langsung penampilannya di panggung. Pertemuan itu berlangsung tahun 2014 pada festival jazz di Yogyakarta, Ngayogjazz. Pada Ngayogjazz 2014 Syaharani & Queenfireworks menjadi bintang utama dan tampil pada puncak acara sebagai penutup perhelatan Ngayogjazz.

Ada kesempatan saya nimbrung ngopi dan ngobrol sejenak dengan Syaharani di pagi hari, saat Syaharani & Queenfireworks mengadakan sesi sound check. Obrolan pagi yang hangat dan mengalir, ditemani kopi hitam panas. Dan, malamnya saya berdesakan menyimak penampilannya yang riang dan menawan.

Syaharani di Ngayogjazz, 2014

Tahun 2015, beberapa kali saya menyimak penampilan Syaharani & Queenfireworks pada beberapa festival jazz diantaranya di Kampoeng Jazz , dimana Syaharani mendapat anugerah piagam Hall of Fame. Kemudian pada festival jazz Loenpia Jazz di Semarang, yang bagi saya terasa menyedihkan karena saya tidak dapat memotret penampilannya akibat kamera saya kehabisan baterai. Berjumpa lagi di festival jazz Enjoy Jakarta Jazz Festival, kemudian juga pada festival jazz yang dengan berseloroh Syaharani sebut sebagai “konser penuh perjuangan…” di Tangsel Jazz Festival.

Syaharani di Tangsel Jazz Festival, 2015

Sejak tahun 2015, saya belum berkesempatan bertemu kembali dengan Syaharani & Queenfireworks. Tak apa-apa, saya cukupkan saja dengan menyambut kehadiran Aloha! sebagai medium untuk menyimak karya-karya terbaru dari Syaharani.

***

Aloha!: Album yang Disajikan dengan Unik

Menerima album Aloha! dalam kemasan berwarna coklat tua dengan ukuran 14 cm x 19 cm yang tidak seperti kemasan CD biasanya – kemasan CD rata-rata ukurannya 14 cm x 12.5 cm – membuat penasaran untuk segera membuka dan meneliti apa saja yang terdapat di dalamnya.

Ketika kemasan albumnya dibuka, di dalamnya terdapat kepingan CD berwarna hitam bertuliskan Aloha!, booklet berisi cerita pendek dengan ilustrasi yang artistik, 5 lembar kartu pos – dengan 1 lembar berilustrasi simbol Queenfireworks, 4 lembar kartu pos lainnya masing-masing berisi lirik lagu-lagu baru yang terdapat dalam album ini – dan terakhir terdapat beberapa foto hitam putih yang diambil saat sesi rekaman berlangsung.

Mini album Aloha!

Kesimpulannya, Aloha! merupakan album yang menampilkan berbagai disiplin seni yang dikemas dalam satu paket dan ini menjadi nilai plus kenapa album ini seharusnya dimiliki dalam bentuk fisik, tidak hanya dalam format digital seperti umumnya pembelian karya musik saat ini.

Aloha! merupakan album yang menampilkan berbagai disiplin seni yang dikemas dalam satu paket dan ini menjadi nilai plus kenapa Aloha! seharusnya dimiliki dalam bentuk fisik…

Berdasarkan wawancara Syaharani di AntaraNews, terungkap kenapa album ini diberi judul Aloha!. Rupanya perjalanan panjang yang telah ditempuh Syaharani baik dalam bemusik, dalam keseharian maupun dalam perenungannya telah menempanya hingga sampai pada titik dimana seharusnya tetap bersikap adil, wajar dan tidak berlebihan baik pada saat bertemu dengan kegembiraan maupun saat  menghadapi kesedihan. Kata Aloha dinilainya tepat untuk mewakili emosi yang adil tersebut, karena kata Aloha biasa diucapkan orang Hawaii baik pada saat mereka baru bertemu (baca: kegembiraan) maupun pada saat mereka akan berpisah (baca: kesedihan).

Sekarang kita tinjau booklet-nya. Pada halaman pertama booklet tertulis Aloha!: Sebuah cerpen. Ya, booklet ini berisi cerita pendek yang ditulis sebagai respons terhadap lagu-lagu yang bertutur tentang perjalanan gadis berusia 10 tahun yang bernama Aloha dalam upayanya mencari ayahnya yang diculik oleh sejumlah perompak. Dalam perjalanannya menembus hutan belantara, Aloha bertemu dengan seekor harimau (Panthera Sumatera). Perjalanan Aloha selanjutnya tak lagi sendirian namun ditemani oleh harimau tersebut. Cerpen yang menarik ini dihiasi oleh ilustrasi yang cantik, artistik dan penuh tata warna menawan. Cerpen dan ilustrasinya karya Ariga Yada.

Lembaran cerpen Aloha dengan ilustrasi yang artistik

Dengan membaca cerpen Aloha tersebut, terjawablah pertanyaan kenapa cover album ini berilustrasi gambar harimau dan gadis yang sedang berjalan.

7 Lagu pada Mini Album Aloha!

Mini album Aloha! menyajikan 7 lagu, terdiri 4 lagu baru – “Oh So Lonely”, “Everyday I Love You More”, “Apa Daya” dan “Panthera Sumatera” – dengan lagu “Oh So Lonely” disampaikan dalam 2 versi dan 2 lagu lawas dari album Anytime (2010) – “Kiranya”, “Jangan Lagi Datang” – yang di remake.

Syaharani – sesi rekaman Aloha!

Lagu “Oh So Lonely” membuka album Aloha!. Disajikan dalam bentul Live Band Version, lagu dibuka dengan ketukan piano yang manis kemudian dipadu dengan vokal Syaharani yang lembut namun perlahan meninggi, petikan gitar akustik yang indah dan pukulan drum yang mantap. Lagu yang berlirik kesedihan setelah ditinggal oleh seseorang  dengan balutan musik yang cenderung berbau soul terasa sangat nyaman dan demikian manis untuk disimak.

“Oh So Lonely” juga merupakan lagu penutup Aloha! yang ditempatkan pada track ke-7. Pada track ini “Oh So Lonely” disampaikan dalam String Version yang memberikan suasana yang sangat jauh berbeda. Dengan string version nuansa dan efek kesedihan terasa demikian dalam dan menghunjam.

Lagu “Everyday I Love You More” pada track ke-2, dikemas dalam balutan bossanova yang terasa demikian mengalir. Mendengarkan lagu ini bagaikan dalam perjalanan dengan jalan yang mulus dan lurus tanpa hambatan. Vokal Syaharani terdengar demikian lembut dan dalam. Hiasan melodi gitar dilanjutkan dengan melodi ketukan piano pada bagian pertengahan lagu memberikan efek kenikmatan menyimak lagu ini hingga usai.

Donny Suhendra – Sesi rekaman album Aloha!

Track ke-3 menampilkan lagu “Apa Daya”. Lagu ini dibuka dengan aransemen musik berirama reggae dipadu dengan vokal Syaharani yang terasa lebih powerful. Pada bagian refrain, aransemen musik berubah ke irama swing. Lagu ini juga diperindah dengan improvisasi tiupan terompet pada beberapa bagian. Mendengarkan “Apa Daya” terasa mengajak badan, atau setidaknya kepala, untuk ikut bergoyang-goyang.

Lagu “Panthera Sumatera” pada track ke-4, diiringi dengan gebukan drum yang kuat dan bass yang mantap disajikan dengan irama fusion jazz dengan tempo yang medium. Selain asyik disimak, lagu ini boleh dibilang sebagai pengobat rindu ke masa dimana fusion jazz demikian populer.

Lagu “Kiranya” dan “Jangan Lagi Datang”, masing-masing pada track ke-5 dan track ke-6, merupakan lagu lama yang pernah direkam pada album Anytime (2010) kemudian dibongkar dan di tata ulang aransemen musiknya. Dengan penataan ulang kedua lagu ini terasa lebih kaya ornamen-ornamen musiknya namun tetap terasa sentuhan jazz-nya.

Sebagai penutup, mari simak video klip lagu “Apa Daya”. Sebagai catatan, lagu ini telah dirilis secara single dan digital pada September 2019 sebelum mini album Aloha! dirilis dalam bentuk fisik.

***

Menurut penilaian saya, mini album Aloha! merupakan puncak pencapaian Syaharani & Queenfireworks khususnya dalam bidang musik dan umumnya di bidang seni dengan menampilkan berbagai disiplin seni yang disajikan menjadi satu kesatuan dalam album ini. Hal ini menjadikan mini album Aloha! seharusnya dimiliki secara fisik ketimbang hanya dalam bentuk digital.

Ke depan, semoga ada puncak-puncak pencapaian lainnya yang akan digapai oleh Syaharani & Queenfireworks.

Semoga.

Sukabumi, 13 Februari 2020

Tulisan Internal Terkait:

  • Ngayogjazz 2014, “Ngayogjazz: Bukan Hanya Suguhan Jazz“, klik tautan ini.
  • Kampoeng Jazz 2015, “Kampoeng Jazz 2015: Tetap Menawan“, klik tautan ini,
  • Enjoy Jakarta Jazz Festival 2015, “Enjoy Jakarta Jazz Festival“, klil tautan ini,
  • Tangsel Jazz Festival 2015, “Tangsel Jazz Festival 2015“, klik tautan ini.
  • Loenpia Jazz 2015, “Leonpia Jazz 2015: Kerja Kreatif Anak Muda Semarang, klik tautan ini.
  • Tentang Festival Jazz, “5 Festival Jazz Gratis yang Layak Dihadiri“, klik tautan ini,

12 respons untuk ‘Aloha!, Mini Album Syaharani and Queenfireworks: Album Review

Add yours

  1. Wah, Pak Asa ternyata mengikuti musik Syaharani 😀

    Kenal jazz baru pas kuliah, saya nggak sempat mengoleksi album-album Syaharani. Zaman kaset sudah lewat sementara harga CD lumayan juga buat Mahasiswa. Hehehe… Pas kuliah, saya cuma beli album the best The Police dan tiga-empat album kompilasi jazz Komunitas Jazz Jogja yang biasanya diluncurkan pas Ngayogjazz. 😀

    Tapi saya selalu suka lihat penampilan ESQI:EF di Ngayogjazz. Pertama kali lihat mereka tampil di Ngayogjazz 2010 (yang diadakan 2011 awal karena Merapi meletus) dan saya selalu menantikan penampilan mereka di Ngayogjazz-Ngayogjazz berikutnya.

    Setelah baca ulasan menarik Pak Asa ini, saya jadi tertarik buat mengumpulkan album-albumnya Syaharani. 😀

    1. Iya Mas, saya mengikuti Syaharani sejak tahun 1999. Suka dengan Syaharani salah satunya karena saya suka jazz.

      Saya suka juga ngoleksi album-album dalam bentuk fisik. Mungkin ini karena memang dulu tidak ada cara lain menikmati musik melalui kaset. Jadi kebiasaan koleksi kaset, jadi berlanjut ke ngoleksi CD.
      Tapi sayang saya tidak menemukan 2 album Syaharani dalam bentuk fisik, Magma & Syaharani.

      Tentang Ngayogjazz, ini festival jazz gratis yang luar biasa hebat. Siapa tahu saya bisa hadir lagi di Ngayogjazz tahun ini.

      Salam,

      1. Waktu remaja saya sempat ngoleksi album fisik juga, Pak. Kaset waktu itu. Menariknya, karena di sampul kaset ada daftar lagu dan lirik, saya jadi hafal lirik sampai urutan lagunya. Zaman digital sekarang sudah susah banget ya Pak buat dengerin album?

        Langka kah Pak 2 album itu? Kalau nggak salah setiap kali tampil di Ngayogjazz ESQI:EF buka lapak CD dan merchandise, Pak.

        Semoga Ngayogjazz tetap lanjut, Pak. Ruhnya Ngayogjazz, om Djaduk, baru berpulang akhir tahun kemarin..,

        1. Iya Mas zaman digital ini, baru bikin 1 lagu, langsung di rilis, disebut deh single…
          Zaman kaset dulu ya rata-rata 10 lagu bahkan lebih baru jadi album…

          Tentang 2 album Syaharani ini, entah kenapa saya gak ketemu CD nya, Mas. Termasuk di situs queenfireworks pun tidak ada.

          Tentang Ngayogjazz kemarin, sebenarnya saya sudah berniat hadir, bahkan sudah semacam janji ketemu dg kolektor rekaman dan suka nulis blog juga, orang Yogya, namanya Mas Singo. Tapi gagal, saya ada sesuatu urusan yg mendesak. Terkakhir sedih juga mendengar kabar Mas Djaduk meninggal sebelum pelaksanaan Ngayogjazz.

          Salam,

          1. Mungkin eranya memang sudah berubah ya, Pak. Sama seperti LP ganti kaset, kaset ganti CD. Para native digital mungkin sudah biasa mengonsumsi album digital dan aplikasi musik, seperti generasi sebelumnya yang terbiasa dengan kaset.

            Owalah, mungkin memang sudah jadi collector’s item ya, Pak… Tapi saya yakin suatu saat Pak Asa akan menemukan kedua album itu.

            Tahun kemarin saya juga nggak sempat datang, Pak, karena sedang melancong. Kabar Om Djaduk meninggal juga saya terlambat tahu. Tapi bersyukur juga karena ternyata Ngayogjazz tetap diselenggarakan. Dan saya berharap tahun-tahun selanjutnya tetap ada, diteruskan oleh legacy-nya Om Djaduk.

            1. Itu juga harapan saya dengan Ngayogjazz, Mas. Semoga tetap berlanjut dan tetap menjadi pergelaran jazz terbesar yang mendekatkan jazz dengan masyarakat umum sehingga jazz tidak ekslusif namun merakyat karena jazz pd dasarnya musik rakyat. Semangat ini yg dihidupkan oleh mendiang Mas Djaduk.

              Oh ya siapa tahu tahun ini saya bisa menghadiri Ngayogjazz, dan siapa tahu kita bisa berjumpa dan berbincang disana.

              Salam,

  2. Iya Pak, sekarang eranya digital. Penikmat dan para kreatif lebih menyukainya. Para penikmat bisa memilih dan membeli lagu kesukaan tanpa harus beli satu album full. Sedangkan para kreatif ya itu tadi, tidak harus buat banyak lagu dulu. Satu aja bisa langsung rilis. 🙂

    Btw, sekilas baca judulnya tadi saya kira Pak Asa mau bah syahrini 😛

    1. Ya memang ekses dunia digital terhadap dunia musik ya Mas.
      Tapi saya keukeuh ada merasa ada yang kurang kalau cuma beli musik dalam bentuk digital, boleh dibilang ini hal yang tak pernah saya lakukan. Selalu saya menanti rilisan fisik dalam bentuk CD. Mungkin ini karena kebiasaan masa lalu yang membeli musik dalam bentuk kaset.

      Aha, Syahrini ya Mas?

      Salam,

  3. Suka dengerin musik Jazz..betul-betul “cuma” dengerin..tapi baca postingan-postingan akang tentang Jazz jadi banyak belajar..nuhun kang, nambah playlist baru nih album Aloha, dan iyaa Oh So Lonely ini enak banget buat didengerin sambil liat hujan dan minum kopi panas 🙂

    1. Sami nuhun, Teh.
      Sebenarnya saya suka jenis musik apapun, tapi cuma jazz yang benar-benar saya cintai sampai saya bela-belain hunting album-albumnya dan hadiri festival-festivalnya.

      Album Aloha memang ringan dan tidak njlimet. Jadi, selamat menikmati terutama lagu “Oh So Lonely” nya itu…

      Salam,

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: