Abah Ahmad: Usia 85 Tahun, Tetap Aktif Berdagang Bubur Ayam

Mampir di gerobak bubur ayam Abah Ahmad itu hampir menjadi kebiasaan saya ketika saya melakukan aktivitas jalan kaki menyusuri jalan-jalan di kota Sukabumi. Begitupun pada suatu hari Sabtu beberapa pekan lalu.

Selalu mengasyikan nongkrong di bubur ayam Abah Ahmad. Selain racikan bubur ayamnya yang pas dengan selera dan lidah saya, juga obrolan yang terbangun secara spontan yang tetap selalu menarik.

Gerobak bubur ayam Abah, berlokasi di Jln. Jend. A. Yani, Sukabumi

Sebenarnya saya telah menulis tentang Abah Ahmad pada blog ini. Tulisan pertama bercerita tentang perjuangan Abah Ahmad mulai dari berjualan bubur ayam sejak tahun 1977 ketika usia Abah menginjak 40 tahun. Tulisan berjudul Abah Ahmad: Kisah Perjuangan Hidup dapat di akses pada tautan ini.

Sedangkan tulisan kedua lebih kepada kepenasaran tentang kebenaran usia Abah Ahmad yang ketika tulisan tersebut dibuat Abah mengaku berusia 83 tahun. Lewat obrolan sejenak dan googling berhubungan dengan clue yang Abah sampaikan, ternyata benar usia Abah saat itu adalah 83 tahun. Tulisan berjudul Abah Ahmad: Pedagang Bubur Ayam Tertua di Sukabumi, bila berkenan membacanya dapat di akses pada tautan ini.

Dua tahun telah berlalu sejak tulisan kedua tersebut, yang pasti kini usia Abah Ahmad telah menginjak 85 tahun. Dan, luar biasa, beliau masih tetap aktif berdagang bubur ayam.

Abah Ahmad, 85 tahun, tetap aktif berdagang bubur ayam.

Seperti pagi-pagi sebelumnya, usai saya menikmati racikan bubur ayam Abah, tibalah saatnya melangkah ke sesi selanjutnya, ngobrol santai.

Saya ingin tahu, bagaimana efek pandemi terhadap aktivitas berdagang bubur ayam yang Abah alami dan rasakan.

Abah menjelaskan, pandemi demikian berpengaruh terhadap omzet dagangannya. Abah mencontohkan, sebelum masa pandemi dalam 1 hari Abah membuat bubur ayam dari 2,5 liter sampai 3 liter beras. Bubur ayam akan habis paling telat pada jam 09.00 pagi. Hari Sabtu dan Minggu akan lebih cepat lagi dagangannya habis, rata-rata maksimal jam 08.00 pagi sudah ludes.

Belakangan di masa pandemi, Abah hanya membuat bubur dari 1 liter beras, atau paling banyak dari 1,5 liter beras. Bubur ayam sejumlah itu baru habis sekitar jam 10.00 atau bahkan sampai jam 11.00 siang. “Sepi sekali situasi berdagang saat ini”, demikian Abah menekankan.

Di akhir obrolan, Abah menceritakan satu fakta yang bagi saya cukup mengejutkan. Konon saat awal Abah berjualan bubur ayam, harga jual 1 porsi bubur ayam adalah Rp. 50,- ; setara dengan 10 liter beras, mengingat harga 1 liter beras saat itu hanya Rp. 5,-.

Harga bubur ayam 1 porsi saat ini hanya Rp. 8.000,- atau setara dengan harga 1 liter beras.

Obrolan saya dengan Abah saya abadikan dalam bentuk video dibawah ini. Patut dicatat 2 hal berikut berkenaan dengan video ini, yaitu:

  1. Video ini diambil saat sebelum berlaku PPKM Darurat.
  2. Dialog berlangsung dalam Bahasa Sunda. Namun inti obrolan telah saya ringkas pada beberapa paragraf diatas.

Sila disimak bila berkenan.

Sukabumi, 13 Juli 2021

3 respons untuk ‘Abah Ahmad: Usia 85 Tahun, Tetap Aktif Berdagang Bubur Ayam

Add yours

  1. Semangat abah menjemput rezeki itu jadi motivasi juga buat saya. Kita yang jauuuh lebih muda dari beliau harusnya lebih ulet lagi.

    Sehat selalu kang Asa.

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: