Tangsel Jazz Festival 2015

Wajar saja timbul kepenasaran yang luar biasa pada diri saya ketika mendapat informasi akan digelarnya festival jazz di Kota Tangerang Selatan. Bagaimana tidak, kota yang baru dibentuk sekitar 6 tahun ini akan menggelar festival jazz-nya yang kedua pada tahun 2015 ini, setelah sukses menggelar festival sejenis pada tahun 2014 yang lalu. Bagaimana kiranya festival jazz ini berlangsung disana?

Festival jazz yang diberi nama Tangsel Jazz Festival ini digelar selama 2 hari, 15 – 16 Agustus 2015. Hebatnya, dalam dua hari festival ini akan tampil artis-artis jazz papan atas saat ini. Tidak hanya itu, akan tampil juga disana artis-artis jazz senior. Jazz lintas generasi, itulah yang rasanya pas untuk menggambarkan Tangsel Jazz Festival tahun ini.

Tulisan ini berdasar apa yang saya lihat dan saksikan saat menghadiri Tangsel Jazz Festival pada hari ke-2, 16 Agustus 2015. Walau saya mencatat beberapa kekurangan saat pelaksanaan festival ini, namun tetap ini adalah festival jazz yang sangat layak untuk dihadiri, baik oleh para pencinta musik umumnya maupun para pencinta musik jazz khususnya.

***

Area Pergelaran Tangsel Jazz Festival

Tiket TJFSaya memasuki area pelaksanaan Tangsel Jazz Festival ini sekitar jam 11.00 siang. Setelah membeli tiket masuk seharga Rp 75.000,- saya segera menelusuri area yang masih sepi pengunjung ini. Yang pertama saya rasakan saat memasuki area ini adalah panasnya udara yang luar biasa akibat sengatan matahari yang bersinar kuat siang hari itu.

Area ini telah ditata dengan ornamen-ornamen terbuat dari bambu. Ini menciptakan suasana alami yang kontras bertolak belakang dengan keadaan sekeliling area yang bertanah gersang. Saya menyimpulkan kalau area ini sedang tahap pembangunannya yang kelak mungkin akan dijadikan sebagai taman atau boulevard di kawasan South City, Pondok Cabe.

Ornamen-ornamen terbuat dari bambu juga dapat dilihat dibagian kiri dan kanan setiap panggung yang sudah disiapkan, yaitu panggung Blandongan, Jawara dan Nyi Ageng. Beberapa tempat duduk yang ada di depan panggung terbuat dari bambu. Kesan kembali ke alam sepertinya hendak diciptakan disini.

Dibagian belakang area festival, saya melihat beberapa tenda berwarna biru berjajar diatas tanah tak berumput. Ini area camping ground, yang mempersiapkan tenda bagi pengunjung yang ingin menghadiri 2 hari festival jazz ini berturut-turut tanpa harus pulang pergi ke tempat tinggal masing-masing.

Line Up Day 2_sumber @TangselJazzFestBerada di area festival ini siang itu dan menyaksikan penampilan beberapa artis jazz di panggung harus bersiap denga panas yang luar biasa menyengat. Belum ada pepohonan yang tumbuh disana untuk sejenak berteduh. Berteduh hanya bisa dilakukan di depan beberapa bangunan permanen yang tersedia disana yang digunakan untuk mushala, tempat pertemuan para panitia dan kedai kopi.

Beberapa musisi dan penyanyi jazz yang akan tampil pada hari ke-2 ini telah saya tandai untuk saya saksikan penampilannya. Diawal saya berharap, semoga penampilan ini tepat waktu sesuai dengan jadwal penampilan yang saya peroleh informasinya dari akun twitter resmi Tangsel Jazz Festival, @TangselJazzFest.

Pergelaran Siang

Iwan Abdie_1Iwan Abdie adalah penyayi jazz pertama yang saya saksikan siang itu. Iwan Abdie tampil di panggung Jawara sekitar jam 13.00, agak telat dibanding dengan jadwal tampilnya yang seharusnya jam 12.30.

Saat Iwan Abdie tampil, penonton yang hadir bisa dihitung dengan jari. Masih sepi pengunjung. Keadaan yang tidak menyurutkan Iwan untuk tampil dengan baik dengan diiringi grup bandnya yang bermain dengan harmonis.

Teus terang saya belum mengenal banyak lagu-lagu karya Iwan Abdie ini. Tapi saya menikmati olah vokalnya yang baik dan aransemen musik bernuansa jazz-nya yang mantap terutama pada saat mereka membawakan lagu berwarna Betawi yang berjudul Sang Kodok.

Penampil lainnya yang saya saksikan siang ini adalah Grup KSP dan Fungky Thumb yang tampil di panggung Nyi Ageng. Yang menonjol dari Grup KSP ini adalah formasi 4 vokalisnya dengan olah vokalnya yang prima, lincah dan demikian menarik, terutama saat mereka membawakan lagu-lagu lawas dari penyanyi jazz Utha Likumahuwa. Selain 4 vokalisnya, KSP juga menyertakan 4 pemain alat tiup yang memberikan warna riang dan lincah pada lagu-lagu yang mereka bawakan.


Berbeda dengan Grup Band KSP, Fungky Thumb lebih menonjolkan kepiawaian pemain-pemainnya dalam memainkan alat musik yang mereka pegang. Hal ini dapat saya saksikan saat mereka menyampaikan instrumentalia yang panjang saat mereka membuka penampilannya. Fungky Thumb menyertakan juga dalam grupnya 4 orang pemain alat tiup.

Ditengah penampilannya, Fungky Thumb juga menghadirkan vokalis wanita. Suatu selingan yang menawan yang saya saksikan disepanjang penampilan mereka siang itu.

Menjelang sore saya menyaksikan penampilan pemain saxophone muda, Richard Hutapea dan grup, di panggung Blandongan. Permainan saxophone Richard yang lembut, aransemen jazz dari grup band nya yang harmonis diselingi dengan vokalis wanita muda, sungguh paduan yang pas untuk dinikmati di sore hari yang sudah mulai terasa sejuk ini.

Monita Tahalea tampil ke panggung sebagai bintang tamu pada penampilan Richard Hutapea. Penyanyi wanita muda ini, yang telah merilis album pertamanya berjudul Dream, Hope and Faith di tahun 2010, membawakan lagu hits dari albumnya dan membawakan juga lagu barunya yang akan mengisi album keduanya yang akan segera dirilis.

Saya baru pertama kali ini menyaksikan langsung Monita Tahalea dipanggung. Karakter lagu-lagu Monita yang cenderung lembut dan tenang demikian pas dengan gaya panggung dan warna vokal Monita seperti yang saya saksikan sore itu.

Pergelaran Malam

Tompi adalah penyanyi jazz pertama yang saya saksikan penampilan malam hari. Tompi dan grup bandnya tampil dengan memukau dari atas Jawara Stage.

Lagu-lagu hits Tompi dari berbagai albumnya dibawakan dengan menawan oleh Tompi. Kepopuleran lagu-lagu Tompi ini setidaknya terbukti dari antusiasme penonton yang ikut bernyanyi mengikuti lirik lagu yang Tompi bawakan.

Syaharani dan ESQI:EF tampil di panggung Blandongan. Syaharani tampil dengan anggun mengenakan gaun berwarna ungu. Penampilannya yang selalu memukau dan kompak dengan grup bandnya tak berubah setelah beberapa kali saya menyaksikannya secara langsung pada festival-festival jazz lainnya. Tetap menarik untuk disimak.

Syaharani on stage_1

Beberapa lagu, baik dari albumnya sendiri maupun lagu jazz lainnya, Syaharani bawakan dengan baik dan penuh penghayatan. Walau saya dapat menebak adanya kekesalan Syaharani pada awal dan akhir penampilannya. Kekesalan yang berasal dari distorsi suara dari panggung kecil, yang berada diseberang bagian kiri panggung Blandongan, pada awal penampilannya; maupun dari panggung Jawara, pada saat menjelang akhir penampilannya.

Yura Yunita tampil dengan grup bandnya di panggung Nyi Ageng, yang semula dijadwalkan akan tampil di panggung Jawara. Penampilan Yura menyedot perhatian penonton yang hadir. Lagu-lagu Yura yang saat ini sedang populer dibawakan dengan baik oleh Yura malam itu.

Ditengah penampilan Yura, Walikota Tangerang Selatan, Ibu Airin Rachmi Diany naik ke panggung. Sepatah kata beliau sampaikan sebagai salam selamat datang kepada para pengunjung dan selamat menikmati sajian yang dipersembahkan oleh berbagai musisi dan penyanyi jazz yang memeriahkanTangsel Jazz malam ini.

Yura Yunita dan Ibu Airin, Wali Kota TangSel

Tidak sampai tuntas saya menyaksikan penampilan Yura karena saya mesti berpindah tempat mendekati panggung Jawara yang segera akan menampilkan pergelaran dari Jazz For Indonesia.

Jazz for Indonesia ini menampilkan penyanyi dan musisi senior dari berbagai generasi. Sepertinya band pengiringnya dimotori oleh pianis wanita Otti Jamalus dan pemain bass senior Yance Manusama.

Melalui pergelaran Jazz for Indonesia ini saya menyaksikan penyanyi senior Bob Tutupoli yang diantaranya membawakan lagu hits nya di tahun 70-an, Widuri, dengan sentuhan irama jazz yang syahdu. Setelah Bob Tutupoli, hadir penyanyi jazz wanita Iga Mawarni. Iga masih tetap menawan saat membawakan 2 lagu lawasnya yang populer pada masanya, Kasmaran dan Andai Saja.

Dua penyanyi jazz wanita berturut-turut hadir ke panggung. Pertama, Ermy Kullit. Warna vokal Ermy yang bercirikan bossas malam itu membawakan lagu barunya dan juga lagu lawasnya, Pasrah. Setelah Ermy Kullit, Margie Segers tampil ke panggung. Vokal Margie yang tetap terjaga baik hingga Margie seusia sekarang ini sungguh patut diacungi jempol. Margie, selain satu lagu Barat, juga membawakan lagu lawas yang dahulu ia populerkan. Lagu lawas yang berjudul Kesepian dengan indah mengalun malam itu dibawakan oleh Margie Segers.

Mus Mujiono_1Mus Mujiono, vokalis dan gitaris jazz, artis senior terakhir yang tampil pada pergelaran Jazz for Indonesia. Lagu lawas masterpiece-nya yang berjudul Arti Kehidupan dibawakan dengan syahdu. Permainan gitar Mus Mujiono tetap prima dengan sentuhan-sentuhan improvisasi melodi gitarnya di sepanjang lagu Arti Kehidupan.

Sekitar Jam 24.00 penyanyi muda yang sedang populer saat ini, Tulus, tampil di panggung Jawara sebagai artis terakhir yang tampil dan sekaligus menutup Tangsel Jazz Festival 2015. Tulus telah merilis dua album, Tulus (2010) dan Gajah (2014), yang keduanya meraih sukses pada belantika musik tanah air.

Sekitar satu jam Tulus membawakan lagu-lagu hitsnya yang berasal dari dua albumnya. Satu demi satu lagu ini mengalir dengan syahdu dan merdu. Sambutan penonton yang luar biasa hangat, berpadu dengan gaya menyanyi Tulus yang rileks dan akrab, membuat penampilan Tulus hingga usai pada jam 01.10 dini hari tidak terasa lama apalagi membosankan.

***

Walau saya hanya dapat hadir satu hari saja dari dua hari festival jazz ini, saya mendapat kesan yang baik dan menarik mengenai pelaksanaan Tangsel Jazz Festival ini. Kehadiran musisi dan penyanyi jazz selama dua hari berlangsungnya festival ini dan dukungan yang besar dari pihak pemerintahan setempat menyiratkan kesuksesan pelaksanaan festival jazz ini.

Sedikit kekurangan dalam pelaksanaan festival ini, menurut saya pribadi, ada pada hal-hal berikut :

  • Area lingkungan yang rasanya belum cukup mendukung – karena pelaksanaannya berlangsung di taman / boulevard yang masih dalam tahap pembangunan, yang masih minus pepohonan rindang – sehingga menyaksikan penampilan yang berlangsung pada siang hari hingga sore hari membutuhkan perjuangan yang lumayan untuk bertahan dari siraman matahari yang demikian menyengat.
  • Penampilan panggung yang belum sesuai jadwal. Penampilan pertama di panggung Jawara yang dijadwalkan akan dimulai pada jam 12.30 mundur dan baru dimulai pada jam 13.00. Keterlembatan-keterlambatan lain yang diantaranya diakibatkan oleh setting peralatan musik saat berganti penampil, mengakibatkan pergelaran yang seharusnya berakhir jam 24.00 tapi kenyataannya berakhir jam 01.00 dini hari. Juga ada perpindahan panggung, seperti misalnya Yura Yunita yang semula akan tampil di panggung Jawara namun pindah ke panggung Nyi Ageng.
  • Jarak panggung terlalu dekat. Jarak yang terlalu dekat ini adalah antara panggung Jawara, panggung Blandongan dan panggung kecil yang berada didepan bagian samping panggung Blandongan. Keadaan ini menimbulkan distorsi suara dan mengganggu konsentrasi penyanyi jazz yang tampil. Saya melihat penyanyi Syaharani dan Monita Tahalea, yang keduanya tampil di panggung Blandongan, terganggu konsentrasi bernyanyinya akibat distorsi suara yang berasal dari panggung Jawara dan panggung kecil didepannya.

Namun kekurangan-kekurangan tersebut diatas tidaklah mengurangi salut saya atas pelaksanaan festival jazz ini yang telah sukses menampilkan artis-artis jazz tanah air dari berbagai generasi.

Harapan saya semoga kekurangan-kekurangan tersebut menjadi semacam tantangan dan tidak meyurutkan kreatifitas dan kerja keras fihak penyelenggara agar pelaksanaan Tangsel Jazz Festival lebih baik lagi pada tahun-tahun mendatang, sehingga festival jazz ini menjadi salah satu icon bagi Kota Tangerang Selatan.

Sukabumi, 22 Agustus 2015

34 pemikiran pada “Tangsel Jazz Festival 2015

  1. Tangerang Selatan ; ternyata music jazz telah mengerang-ngerang nginya shg Kota Tangsel telah menjadi satu lagi destinasi meninati music jazz, yg smoga semangkin apik lagi diwaktu-waktu yad, trims reportase nya broo Titik Bam’s Asa .

    • Sepakat Mbak, tinggal peningkatan di segi pengelolaannya festival jazz ini akan menjadi festival jazz yang kian layak untuk dihadiri dan menjadi icon bagi Kota Tangerang Selatan.

      Salam,

  2. benar-benar ya, kalo soal jazz ahlinya deh sampe dibela2in nonton, eh itu unik ya disediakan fasilitas tenda untuk menginap, kalo pak Titi Asa gimana? nginap di tenda kah? musim panas begiti pasti hot banget di area panggung, apalagi di sekitar tenda tak ada pepohonan

    • Nah itu Mbak, saya belum mencoba untuk menginap di tenda tersebut. Ini pendekatan baru yang dilakukan pengelola pergelaran disana yang baru tahun ini diterapkan. Penasaran juga ingin menginap di tenda itu. Mungkin tahun depan Mbak…

      Salam,

    • Iya Mbak, bagi saya sbg pencinta jazz menikmati jazz secara langsung terasa seru banget.
      Setiap hadir di festival terbuka seperti ini biasa sudah saya antisipasi dgn membawa kaca mata hitam, topi dan memakai kaos warna putih. Semua untuk bertahan dari panas siraman sinar matahari.

      Salam,

  3. meski engga terlalu ngeh soal penyanyi jazz, dari sekian itu yang bisa saya ikut nyanyi cuma tulus (anak kekinian banget), tapi saya salut sama even even musik kayak gini.

    • Hayu Mbak kapan-kapan kalo pulang ke tanah air, mungkin bisa bareng nonton festival jazz.
      Duh itu Blue Notes, tempat manggung jazz yang legendaris sekali Mbak. Ah gak kebayang senangnya bisa nonton jazz di Blue Notes…

      Salam,

    • Betul Mas, mereka musisi jazz tanah air yang tetap berkibar hingga kini. Moga jarak panggung menjadi perhatian untuk penyelenggaraan Tangsel Jazz tahun depan…

      Mas, insya Allah saya November ingin menghadiri lagi Ngayogjazz. Walau sampai saat ini saya belum dapat info di desa wisata akan dilaksanakan, mungkin saya ingin mengulang seperti tahun lalu dgn menginap di rumah penduduk setempat.

      Salam,

    • Sayangnya ini hanya liputan hari ke-2 saja Mbak.
      Melihat tenda-tenda itu saya jadi ngin nginap disana, mungkiin tahun depan kalau konsepnya masih sama saya akan coba ikutan camping disana.
      Jazz sebenarnya musik rakyat, seperti yg saya lihat di Ngayogjazz yang festivalnya selalu dilangsungkan di salah satu desa wisata di kawasan Yogya. Kurang lebih begitu Mbak.

      Salam,

  4. Walau tempatnya kurang representatif tetap semangat ya kang,🙂 Semoga tjf tetap berlangsung tiap tahun, tidak hanya sekedar ajang buat meningkatkan kepopuleran karena mau pemilu, hehe…
    Salut juga karena pesertanya penyanyi terkenal.

    • Sepakat, keren pergelaran Tangsel Jazz ini. Beberapa penyempurnaan sepertinya perlu dilakukan. Tetap ini festival yang keren dan tetap dinanti di tahun depan.

      Salam,

  5. Ping balik: Sejenak di Tangsel Jazz Festival 2016 | Sisi Hidupku

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s