A Long Way Home…

Pagi cerah, udara sejuk. Begitu suasana pagi ini saat saya kembali melakukan aktivitas jalan kaki pagi, dan kembali menyusuri rute favorit saya, jalan kereta api.

Berjalan kaki dengan ritme yang tetap dan teratur, menatap jalan kereta api yang lurus di depan, koq tiba-tiba ingatan saya tertuju kepada satu kisah dramatis dan mengharukan dari seorang anak kecil yang kehidupannya terpaut dengan jalan kereta api.

Anak kecil itu bernama Saroo. Perjalanan hidupnya dituliskan dalam memoarnya berjudul Lion: A Long Way Home, kemudian di adaptasi ke dalam film. Film tersebut diberi judul Lion, dirilis pada tahun 2016, mendapat sambutan yang baik dan bahkan mendapat 6 nominasi Piala Oscar pada tahun 2017.

Mengingatkan pada A Long Way Home…

Sambil menuntaskan target jumlah langkah jalan kaki pagi ini, saya mengingat-ingat kembali alur kisah sang Lion ini…

***

Kisah ini bermula dari satu tempat bernama Khandwa, India di tahun 1986. Dua orang anak, yang satu kakaknya bernama Guddu, berusia sekitar 14 tahun, yang satu adiknya bernama Saroo, berusia sekitar 5 tahun berlarian di jalan kereta api, berusaha menaiki gerbong kereta yang sedang melaju.

Dari atas gerbong yang memuat batubara, Saroo dan Guddu mengambil beberapa butir batubara, diselipkanlah batubara tersebut kepada semacam selendang yang masing-masing disangkutkan pada pundak anak-anak tersebut.

Guddu memeriksa batubara di selendang Saroo | Source: imdb.com

Batubara yang terkumpul itu kemudian ditukarkan dengan 2 kantong susu kepada pedagang makanan yang membutuhkannya sebagai bahan bakar tungku masaknya, kemudian dibawa pulang ke gubuk mereka untuk dinikmati bersama. Di gubuk tersebut tinggal seorang ibu, bernama Kamla, dengan 2 saudaranya yang lain, Kallu dan Shekila.

Guddu dan Saroo, pulang membawa 2 kantong susu | Source: imdb.com

Melihat lingkungannya yang gersang, jarang pepohonan, gubuk-gubuk dan kemiskinan di perkampungan itu tergambar kehidupan yang keras. Entah berapa keras upaya yang mereka lakukan hanya untuk bertahan hidup.

Anak-anak mengerjakan apa saja yang penting membuahkan hasil, seperti apa yang dilakukan oleh Guddu dan Saroo. Pekerjaan sehari-hari si ibu sebagai pemecah batu dan mengangkutnya ke proyek-proyek konstruksi. Gambaran awal yang mengharu-biru.

Pekerjaan ibu sehari-hari sebagai pemecah batu | Source: imdb.com
Kedekatan emosional Guddu dan Saroo | Source: imdb.com

Kisah semakin mencekam sejak Saroo terjebak di gerbong kosong, seorang diri, sedangkan kereta api tersebut terus bergerak. Entah berapa hari dan berapa malam Saroo berada dalam kereta api tersebut. Untuk mengisi perutnya yang lapar, Saroo mencari-cari sisa-sisa makanan yang ditemukan.

Kereta api tersebut baru berhenti di Kolkata. Ini berarti jarak yang di tempuh sejauh 1.600 km!

Saroo terjebak di gerbong kosong | Source: imdb.com

Anak berusia 5 tahun, seorang diri di kota besar Kolkata, bertahan hidup sebagai anak jalanan…ini gambaran yang bikin merinding saat menyaksikan adegan demi adegan dalam filmnya.

Keadaan Saroo berangsur membaik saat mulai diadopsi oleh keluarga Brierley di Australia pada tahun 1987 dan kemudian tinggal, dibesarkan dan mengenyam pendidikan yang layak pada keluarga tersebut.

Kerinduan Saroo akan sang ibu dan Guddu membuatnya terus mencari keberadaan mereka dan kampung halamannya yang sebagian besar hanya berdasar pada ingatan yang tertanam dalam otak anak berusia 5 tahun. Pencarian tersebut Saroo lakukan melalui internet dengan bantuan Google Earth dan kemudian melalui jejaring Facebook.

Berapa lama pencarian kampung halaman tersebut Saroo lakukan?

Dibutuhkan waktu delapan bulan pencarian yang intens dan nyaris lima tahun sejak aku pertama kali mengunduh Google Earth!”, demikian Saroo tuliskan dalam memoarnya.

Akhirnya pada bulan Februari 2012, setelah 25 tahun meninggalkan kampung halaman, Saroo dapat berjumpa kembali dengan ibunya, Shekila dan Kallu.

Guddu kemana?

***

Menyaksikan filmnya dan membaca memoarnya terasa saling melengkapi. Melalui film kita dapat menyaksikan visual yang dramatis, mengharu-biru. Tapi melalui buku, kita mendapat detail cerita yang tak tersampaikan dalam film.

Lion: A Long Way Home karya Saroo Brierley

Oh iya, rupanya Saroo baru menyadari bahwa ia salah menyebut namanya sendiri. Bukan Saroo, seharusnya Sheru. Sheru berarti Singa, Lion.

Apakah sahabat pernah menonton filmnya dan atau membaca memoarnya?

Sukabumi, 6 Februari 2020

19 respons untuk ‘A Long Way Home…

Add yours

    1. Hehehe… Sebenarnya sih ingin menuliskan semuanya, tapi nanti tulisan ini di cap sebagai spoiler deh…

      Sila dicari saja film atau bukunya.

      Salam,

  1. Saya belum baca bukunya, Pak. Baru menonton filmnya saja. Hehehe. Mengaduk-aduk emosi sekali memang filmnya.

    Sependapat dengan Pak Asa, buku memang bisa menjelaskan hal-hal yang tak terjelaskan dalam film. Ini saya rasakan betul waktu baca buku The Godfather setelah nonton The Godfather 1 (meskipun filmnya sendiri sebenarnya sudah cukup jelas).

    1. Ah ya Mas, sekitar 30 menitan awal memang bikin haru terutama menyimak si Saroo kecil berjuang bertahan hidup.

      Nah, kalau The Godfather saya entah sudah berapa kali menonton 3 seri filmnya, tapi belum pernah membaca bukunya. Konon ini adalah film dg adaptasi terbaik.

      Film lain yang saya sudah tonton dan baca novelnya, misal Papillon, Musashi, Forest Gump, memang harus kembali ke buku untuk detailnya.

      Salam,

      1. Memang susah juga sepertinya Pak buat mengadaptasi novel ke film. Kalau cerita tertulisnya agak jauh dari jangkauan perspektif sutradara, film adaptasinya pasti akan berbeda dari “harapan” penulis atau pembaca.

        Novel yang saya penasaran banget buat diadaptasi ke film itu “The Catcher in the Rye,” Pak. Tapi entah kenapa sampai sekarang belum keluar juga versi filmnya.

        1. The Catcher in the Rye mengingatkan saya pada kasus John Lennon dan David Chapman nih Mas.
          Tapi saya belum baca novel tersebut.

          Salam,

          1. Pas baca The Catcher in the Rye, memang terasa sekali kemarahannya, Pak, meskipun diceritakan dari sudut pandang anak kecil. Mungkin Chapman terlalu terbawa….

            Andai saja Salinger ngasih hak buat bikin adaptasi…. Padahal Leonardo DiCaprio, katanya, pernah bilang bersedia buat jadi Holden Caulfield hehehe

            1. Wuih padahal kalo DiCaprio yang jadi peran utamanya sepertinya bakal keren pisan, secara DiCaprio aktor serba bisa yang perannya variatif, ambil contoh mulai dari peran romantis di Titanic sampai peran yang keras di The Revenant.

              Salam,

      1. udah ketemu kang, saya udah liat trailer nya juga. mau pinjem dari YouTube Filme & Shows 👍🏻 nunggu waktu yang pas karena kalau minjem harus ditonton dalam 2×24 jam.

  2. Oh Lion yg lain ternyata. Film India sering bikin mewek, sy belum nonton pastinya pak Titik. Terakhir nonton film India judulnya 3 Idiot. Meskipun durasinya lama tp menimbulkan kesan mendalam. Apalagi kalau baca bukunya ya? Banyak detil2 yg tak didapat di filmnya.

    1. Memang demikian drama2 India dari beberapa filmya yang pernah saya tonton, Mas.

      Lion ini bukan film India. Memang sekitar 30 menitan awal ber-setting di India, tapi selanjutnya sudah setting di Australia. Film ini dibuat dan disutradarai oleh sineas Australia.

      Nah, saya penasaran dengan 3 Idiot nih Mas. Nanti saya cari dulu deh filmnya.

      Salam,

  3. Sudah lama sekali saya nggak nonton film India, dulu hampir setiap hari karena memang sewaktu di Jambi stasiun tv yang bisa nyantol hanya TPI (kini jadi MNC TV). Dan TPI setiap hari memutar film India, makanya suka diplesetin jadi Tivi Pilem India 😀

    Btw, ini ceritanya menarik. Saya langsung cari dan masukkan buku ini dalam wishlist. Terima kasih banyak untuk rekomendasinya, Pak.

    1. Wah Mas ini pernah mengembara sampai Jambi juga rupanya. Iya ingat saya dengan TPI yang mutar film-film India.
      Tapi ledakan film India itu saya pikir dimulai sejak film Kuch Kuch Hota Hai itu. Lagu-lagunya juga keren-keren.

      Semoga cepat ketemu bukunya Mas.

      Salam,

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

<span>%d</span> blogger menyukai ini: