Jejak Bioskop-Bioskop di Kota Sukabumi

Mengenang kota Sukabumi masa lalu, bagi saya, tdak terlepas dari kenangan saya berhubungan dengan bioskop-bioskop yang berada disana, terutama yang saya kenal saat masa remaja saya sekitar tahun 1980-an.

Bagi saya pribadi hal ini layak menjadi satu bagian kenangan indah dalam hidup, mengingat masa remaja yang memang masa yang teramat indah untuk dikenang dan juga mengingat saat ini tidak ada satupun bioskop berada di Sukabumi, seperti pernah saya tuliskan secara sederhana pada posting saya yang berjudul Kota Tanpa Bioskop.

***

Ide untuk menulis posting ini muncul ketika saya menemukan potongan-potongan karcis dari film-film yang pernah saya tonton di beberapa bioskop yang ada di Sukabumi. Potongan-potongan karcis ini masih tertempel dengan rapi dalam buku diary, beserta dengan catatan tanggal menonton dan film apa yang ditontonnya. Potongan-potongan karcis ini bertahun 1982, suatu saat dimana saya sedang demikian gandrung menonton film.

Inilah potongan-potongan karcis bioskop yang saya maksud…

Beberapa potongan karcis bioskop bertahun 1982 yang masih tersimpan di buku diary...

Beberapa potongan karcis bioskop bertahun 1982 yang masih tersimpan di buku diary…

Karena kini tidak satupun bioskop berada di Sukabumi, timbul pertanyaan, sekarang ini dijadikan apa tempat-tempat yang dulunya bioskop itu?

Nah, sabtu pagi kemarin, sekalian jalan kaki pagi, saya menyempatkan untuk mengambil foto dari enam lokasi yang dahulu merupakan tempat dimana bioskop-bioskop favorit saya berada.

Bioskop Royal

Saya mengenang bioskop Royal sebagai bioskop yang demikian luas ruangan dalamnya. Saya masih ingat desain bioskop Royal yang dominan berdinding coklat dikarenakan tempelan kayu-kayu coklat disebagian dindingnya. Di bioskop ini terdapat 3 kelas untuk tempat duduk penontonnya. Kelas 2, yang paling dekat dengan layar; kelas 1 yang berada dibelakang kelas 2 berakhir sampai dengan pintu masuk dan terakhir balkon yang berada di atas dan sebagiannya berada diatas tempat duduk kelas 1. Walau ada 3 kelas, seingat saya harga karcis masuk hanya dibedakan menjadi dua, yaitu harga karcis kelas 2 dan kelas 1. Adapun harga karcis balkon tetap sama dengan harga karcis kelas 1. Saat membeli karcis kelas 1 biasa kita ditanya apakah kita ingin duduk di bawah atau di balkon.

Pada saat itu, pengaturan tempat duduk untuk bioskop lainnya sama dengan pengaturan tempat duduk seperti di bioskop Royal. Ada kelas 1, balkon dan kelas 2. Demikian juga dalam hal harga karcis masuk, setiap bioskop menganut aturan yang sama pula.

Saat ini ditempat dahulunya bernaung bioskop Royal telah berubah menjadi tempat perbelanjaan fashion. Foto dibawah ini menunjukan lokasi dimana dulu bioskop Royal berada. Saya sertakan pula potongan karcis bioskop Royal, bertanggal 17 Januari 1982 saat menonton film Indonesia berjudul Detik-detik Cinta Menyentuh. Potongan karcis ini sampai sekarang yang masih tersimpan baik di buku diary.

Bioskop Gelora dan Sukabumi Theatre

Bioskop Gelora pada bagian depannya tidaklah seluas bioskop Royal. Kalau bioskop Royal mempunyai halaman yang luas dan cukup untuk parkir beberapa mobil, bioskop Gelora ini cenderung sempit dan tepat berada dipinggir jalan. Tidak ada tempat parkir khusus bagi penonton yang membawa mobil.

Hal unik lain yang saya kenang dari bioskop Gelora, adanya pekerja yang berdiri disamping pintu masuk tempat menyobek karcis. Pekerja ini akan berteriak berulang-ulang mulai dari pintu masuk dbuka sampai pintu masuk ditutup kalau fim sudah main. Masih terngiang apa yang diteriakan pekerja ini. Kurang lebh begini, “Ayo ayo, film seru…action… Bruce Lee melawan mafia…ayo ayo masih iklan…

Di seberang bioskop Gelora, belakangan berdiri bioskop yang bernama Sukabumi Theatre. Terbilang bioskop muda, dan saya masih ingat pembangunannya ketika saya duduk di bangku SMP. Tempat duduknya sudah seperti model bioskop 21 saat ini. Artinya, tidak ada lagi balkon disini. Juga tempat duduknya yang semuanya sudah dalam bentuk kursi ber-jok.

Saat ini bioskop Gelora telah berubah menjadi Super Mall, sedangkan bangunan Sukabumi Theatre masih ada seperti dahulu namun disana tidak ada lagi bioskop hanya tempat perdagangan saja yang bernama Shopping Centre.

Bioskop Capitol

Bioskop Capitol terbilang bioskop baru juga. Sebelumnya di lokasi itu, di bagian belakang, kalau tidak salah ada bioskop bernama Ramayana. Bangunan ini kemudian dipugar dan dijadikan tempat perbelanjaan yang di lantai duanya terdapat bioskop Capitol. Pengaturan tempat duduk di Capitol ini sudah menganut tempat duduk seperti di Sukabumi Theatre, tanpa  balkon.

Saat ini bangunan yang dulunya berlokasi bioskop Capitol ini masih berdiri. Namanya menjadi Capitol Plaza. Dibawah ini saya tampilkan foto Capitol Plaza saat ini, beserta karcis potongan bioskop Capitol yang masih saya simpan dan bertanggal 1 Agustus 1982, saat saya menonton film berjudul Lembah Duka.

Bioskop Indra

Diseberang bioskop Capitol, disamping Kantor Pos, dahulu berdiri bioskop Indra. Bagian luar dan dalam bioskop Indra mirip dengan bioskop Royal. Artinya, bagian luarnya cukup luas halamannya, cukup untuk parkir kendaraan roda empat. Adapun bagian dalamnya, terutama dalam hal penataan tempat duduk penonton, menganut 3 kelompok tempat duduk. Kelas 1, balkon dan kelas 2. Seingat saya film-film barat yang relatif masih baru sering diputar di bioskop ini.

Dibawah ini foto lokasi tempat dahulu bioskop Indra berada. Kini hanya jejeran kios-kios toko dan beberapa tempat jajan makanan. Dan tak lupa, potongan karcs bioskop Indra yang bertanggal 20 Mei 1982, saat saya menonton film berjudul Body and Soul.

Bioskop Nusantara

Bioskop Nusantara berada di lokasi paling timur. Agak jauh dari rumah tempat saya tinggal saat itu. Karenanya agak jarang saya menonton di bioskop ini. Hal yang khas dari bioskop Nusantara ini adalah ragam film-film yang diputarnya. Disana yang diputar selang-seling antara film-film India dan film-film Indonesia.

Berikut foto lokasi dimana dahulu berdiri bioskop Nusantara. Kini berdiri bangunan sebuah bank disana. Saya sertakan potongan karcis bioskop Nusantara bertanggal 13 Juni 1982 saat saya menonton film komedi berjudul Manusia 6.000.000 Dollar…

***

Tulisan ini tidak menyertakan ulasan atas beberapa bioskop lain yang berada di Sukabumi, seperti bioskop Garuda yang berada di belakang bioskop Gelora, atau bioskop kecil yang muncul belakangan yaitu Mutiara dan Mustika, atau juga yang berdiri paling akhir, yaitu bioskop yang masuk kelompok studio 21, yang kalau tidak salah bernama Odeon Theatre. Bioskop-bioskop tersebut tidak meninggalkan kenangan yang membekas dalam hidup saya, apalagi Odeon Theatre yang hadir di tahun 1990-an, saat saya sudah berkeluarga dan tinggal di Bekasi.

Setelah periode 1990-an, satu demi satu bioskop di Sukabumi berguguran sampai akhirnya kini tiada satupun bioskop berada di kota ini.

Demikian sedikit ulasan atas beberapa bioskop favorit saya di Sukabumi. Ulasan ini hanya berdasar potongan-potongan karcis dan memori yang masih tersimpan di otak saya. Sangat mungkin beberapa hal yang saya sampaikan ini tidak akurat mengingat masa yang sudah puluhan tahun berlalu…

Sukabumi, 15 September 2013

Catatan
Posting ini telah di publish di VIVAlog-VIVAnews disini. Terima kasih.

Iklan