Minggu, 7 Juni 2015, saya berkesempatan menghadiri event menarik yang berlangsung di kota Semarang. Event yang merupakan festival jazz, bernama Loenpia Jazz 2015, berlangsung dari siang hingga malam hari dan digelar di Puri Maerakaca, Semarang.

Loenpia Jazz yang diselenggarakan oleh anak-anak muda yang tergabung dalam komunitas Jazzngisoringin Semarang ini konsisten dilaksanakan setiap tahun dan telah berlangsung sejak tahun 2012. Loenpia Jazz kali ini adalah pergelarannya yang ke-4.

Berikut catatan saya tentang pergelaran Loenpia Jazz 2015

***

Tentang Komunitas Jazzngisoringin

jazzngisoringinBerbicara mengenai Loenpia Jazz tentu tak terlepas kaitannya dengan Komunitas Jazzngisoringin. Komunitas inilah yang berada dibalik terlaksananya, dan merupakan motor penggerak utama, pergelaran Loenpia Jazz. Komunitas Jazzngisoringin sendiri boleh dibilang sebagai wadah bagi musisi, pencinta musik dan juga pemerhati musik yang berada di Semarang yang mencoba berkomunikasi dalam satu bahasa yaitu bahasa jazz.

Jazzngisoringin, dalam bahasa Indonesia, berarti jazz di bawah pohon beringin. Nama yang diambil dari saat pertama kali komunitas ini manggung dan ber-jam session di bawah pohon beringin, pada salah satu cafe yang berada di Semarang, pada tanggal 13 Juli 2009. Selanjutnya acara jam session ini dilaksanakan reguler setiap 2 minggu sekali setiap hari Senin. Selain tampil reguler, komunitas Jazzngisoringin juga tampil setiap bulan pada event-event tertentu. Festival jazz tahunan Loenpia Jazz ini merupakan perayaan ulang tahun komunitas Jazzngisoringin yang diadakan sejak tahun 2012.

Saya dan Mas Gatot berfoto di Media Center.

Saya mengenal komunitas Jazzngisoringin pertama kali saat menyaksikan penampilan komunitas jazz ini di festival jazz yang diadakan di kota Pemalang, Pemalang Jazz Festival, pada hari Minggu, 25 Januari 2015. Saat itulah saya sejenak sempat ngobrol dengan Mas Gatot Hendraputra yang tampil malam itu mewakili komunitas Jazzngisoringin.

Dari perbincangan dengan Mas Gatot itulah, belakangan saya baru tahu kalau Mas Gatot ini adalah salah seorang tokoh dan founder komunitas Jazzngisoringin, saya mendapat informasi kalau setiap tahun di kota Semarang berlangsung festival jazz yang bernama Loenpia Jazz, yang biasa dilaksanakan pada bulan Juni atau Juli. Sejak itulah saya mencari informasi mengenai Loenpia Jazz ini.

Booklet Loenpia JazzSaat hari Minggu kemarin saya bertemu kembali dengan Mas Gatot di sekitar Media Center sungguh membuat saya terkejut. Terkejut, ternyata ia masih mengingat saya. Saya menyampaikan kekaguman saya atas pelaksanaan Loenpia Jazz 2015 ini yang saya pikir jauh lebih hebat dibanding Loenpia Jazz 2014, melihat dari jumlah panggung yang telah disiapkan dan line-up musisi jazz yang bakal tampil nanti.

Diakhir perbincangan, Mas Gatot memberi saya booklet tentang Loenpia Jazz. Buku kecil yang berisi latar belakang dan historis Loenpia Jazz, beserta informasi singkat mengenai musisi-musisi yang akan mengisi panggung-panggung Loenpia Jazz 2015, sungguh merupakan buku kecil yang sarat dengan informasi mengenai festival jazz yang sedang berlangsung ini.

Tentang Puri Maerakaca

Pergelaran Loenpia Jazz 2015 dilangsungkan di satu taman yang bernama Puri Maerakaca. Puri Maerakaca, atau sering disebut Taman Mini Jawa Tengah Indah, adalah sebuah objek wisata yang berada di kawasan Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan (PRPP) Jawa Tengah. Di taman mini Jawa Tengah ini berdiri rumah adat, yang disebut dengan anjungan, dari 35 kabupaten dan kota yang ada di Jawa Tengah. Di dalam rumah-rumah tersebut digelar hasil–hasil industri dan kerajinan yang diproduksi oleh masing–masing daerah.

Memasuki pelataran Puri Maerakaca, saya sudah mencium aroma jazz. Disisi kiri telah dipersiapkan semacam photo booth yang berkarpet merah. Disamping photo booth ini terdapat plang cukup besar berisi informasi mengenai Puri Maerakaca, dalam bentuk peta, beserta lokasi anjungan-anjungannya yang berada disana.

Gerbang memasuki Puri Maerakaca

Saya memasuki Puri Maerakaca dengan melewati sebuah gerbang ber-ornamen menarik. Menyusuri bagian dalam taman, saya melihat anjungan-anjungan yang beridiri di pinggir jalan. Anjungan-anjungan dengan bentuknya yang khas rumah adat masing-masing daerah ini sepertinya sudah siap menyambut pengunjung yang akan menghadiri festival jazz yang akan segera dilangsungkan disana.

Saya sempat juga berada diujung taman yang bersentuhan dengan laut. Udara panas menyengat yang saya rasakan siang itu cukup terobati juga dengan hembusan angin lembut yang terutama saya rasakan saat berada di pinggir laut tersebut.

Sudut-sudut Puri Maerakaca telah banyak dihias dengan berbagai pernik-pernik yang kesemuanya disiapkan sebagai bentuk sambutan kepada pengunjung yang akan menghadiri festival jazz Loenpia Jazz ini.

Tulisan Loenpia Jazz yang cantik.

Tentang Pelaksanaan Loenpia Jazz 2015

Empat panggung telah disiapkan di pelataran anjungan. Setiap panggung ini diberi nama unik yang mencirikan khas Semarang. Di anjungan Semarang telah berdiri panggung Tahu Gimbal, di anjungan Banyumas ada panggung Mie Kopyok, di anjungan Surakarta telah disiapkan panggung Wingko dan di anjungan Rembang telah pula berdiri panggung Ganjel Rel.

Selain empat panggung tersebut, ada panggung tambahan yang didirikan dipelataran Puri Maerakaca, yaitu panggung Nivea. Juga disiapkan satu area khusus untuk Music Clinic.

Ini foto dua panggung dari empat panggung yang telah dipersiapkan,

Beberapa musisi jazz yang sudah dikenal dikalangan masyarakat luas tercatat memeriahkan Loenpia Jazz 2015. Sebut saja Syaharani ESQI:EF, Barry Likumahuwa, Tohpati dan Endah N Rhesa. Tentu saja kehadiran mereka menjadi salah satu pesona bagi khalayak untuk menghadiri pergelaran Loenpia Jazz 2015 ini.

Banyaknya panggung di Loenpia Jazz ini dan musisi jazz yang akan tampil disetiap panggung tersebut cukup membingungkan juga. Bingung, akan menyaksikan musisi jazz yang mana. Setiap musisi jazz ini memang mempunyai ciri khas unik yang sangat merangsang untuk disaksikan penampilannya.

Saya akhirnya memutuskan untuk menyaksikan penampilan dari musisi-musisi jazz yang belum pernah saya saksikan pada berbagai festival jazz yang saya hadiri sebelumnya.

Catatan atas beberapa penampil yang saya saksikan saya sampaikan dibawah ini.

Tentang Beberapa Penampil

Catatan pertama saya pada grup band yang saksikan di panggung Mie Kopyok yang beranggotakan musisi-musisi muda Semarang yang tergabung kedalam grup bernama Aljabar. Melihat penonton yang antusias menyambut penampilan grup ini di panggung saya menyimpulkan kalau grup ini cukup dikenal oleh masyarakat Semarang. Saya sendiri baru menyaksikan penampilan grup ini untuk pertama kali.

Aljabar mengusung format jazz dengan mengeksplorasinya dan memadukannya dengan unsur hiphop. Saya pikir racikan komposisi-komposisi yang mereka ciptakan ini mengena dan pas di telinga kawula muda. Mungkin inilah yang membuat grup ini demikian populer di masyarakat muda Semarang.

Menyaksikan penampilan Aljabar siang ini mau tidak mau membuat saya ikut juga menggoyangkan badan. Kehadiran dua vokalis terasa lebih memeriahkan penampilan panggung mereka.

Di panggung Wingko saya menyaksikan grup band yang berasal dari Yogyakarta. Grup band ini menamakan dirinya Etawa Jazz. Saya terpesona dengan komposisi-komposisi yang demikian rapi yang disampaikan grup ini.

Etawa Jazz, vokalis yang ciamik.

Permainan saxophone salah seorang personil Etawa Jazz demikian matang. Tiupan saxophone yang terkadang demikian lembut membuai perasaan penikmat jazz yang hadir menyaksikan penampilan mereka. Saya tidak melupakan pemain contra-bass Etawa Jazz yang sudah berumur, kontras dengan personil lainnya yang berusia muda.

Diakhir penampilannya, Etawa Jazz menghadirkan penyanyi wanita muda. Lagu lawas bejudul Softly, As in A Morning Sunrise dibawakan dengan penuh penghayatan, mengalun dengan indah.

Grup band Solo Jazz Society saya saksikan penampilannya di panggung Ganjel Rel. Solo Jazz Society telah terbentuk sejak tahun 2007 dengan salah satu tujuannya adalah mengembangkan potensi dan musik jazz di kota Solo.

Empat orang musisi sebagai perwakilan dari Solo Jazz Society tampil dipanggung. Empat orang musisi yang tergolong masih berusia muda sungguh tak dapat dipandang sebelah mata mengingat kepiawaian mereka dalam memainkan alat musik yang mereka pegang, juga komposisi-komposisi jazz ciptaan mereka sendiri, yang mereka sampaikan disepanjang penampilan mereka.

Sore hari menjelang senja saya menyaksikan penampilan yang menawan dari penyayi jazz Peppi Kamadhatu bersama Rencang Band di panggung Tahu Gimbal. Terus terang Peppi Kamadhatu ini merupakan salah satu penyanyi jazz yang saya rindukan. Sudah lama saya menyimak lagu-lagu yang dibawakan Peppi Kamadhatu melalui rekaman-rekamannya, sudah lama juga saya tidak mendengar kiprahnya di belantara musik tanah air, menyaksikan penampilannya secara langsung sungguh hal yang luar biasa.

Sore ini Peppi membawakan lagu-lagu lawas. Beberapa lagu jazz standar mengalun dengan indah. Mulai dari lagu Route 66, God Bless the Child, The Lady is A Tramp sampai dengan The Boy from Ipanema. Peppi seakan mengajak penonton yang hadir untuk berwisata jazz. Mainstream, swing sampai bossas adalah irama-irama jazz yang Peppi bawakan sore itu.

Bagi saya, penampilan Peppi sore itu sungguh penampilan jazz yang romantis dan tak terlupakan…

Malam hari saya menyaksikan penampilan DAC band di panggung Mie Kopyok. Grup band DAC, singkatan dari Dynamic Action of Chord, terdiri dari empat orang personil, adalah grup band berasal dari Semarang yang mengusung format jazz fusion, yang pernah berjaya pada kompetisi Band Explosion pada tahun 1987 dan 1988. DAC sekian lama vakum dan baru hadir kembali pada berbagai panggung sekitar tahun 2010.

Komposisi-komposisi yang DAC bawakan seakan membawa saya kembali ke masa muda. Tahun 80-an, tahun ketika usia saya masih muda, adalah masa ketika saya gandrung kepada jazz fusion. Jazz fusion rasanya cukup populer di kalangan kawula muda saat itu.

Bonita

Catatan terakhir saya adalah penampilan Bonita and The Hus Band yang saya saksikan di panggung Wingko. Saya mencatat grup ini sebagai grup yang menampilkan format akustik dalam bermain musik. Bonita yang bernyanyi dengan lincah, dengan vokalnya yang khas, sungguh demikian menawan penonton yang hadir meyaksikan penampilannya malam itu.

***

Pergelaran festival jazz Loenpia Jazz 2015 berakhir sekitar jam 22.00 malam. Walau saya tidak dapat menyaksikan keseluruhan penampil yang hadir, namun saya tetap merasakan kemeriahan pergelaran ini secara penuh.

Kesuksesan yang luar biasa pada penyelenggaraan Loenpia Jazz 2015 ini, bila mengingat jumlah panggung yang tersedia, banyaknya musisi jazz yang tampil disana dan jumlah pengunjung yang mencapai kisaran 11.000 orang lebih pengunjung, sungguh merupakan prestasi yang membanggakan.

Dan tentu saja dibalik prestasi yang membanggakan ini terdapat sekelompok anak muda yang telah bekerja keras dan kreatif mewujudkan pergelaran Loenpia Jazz 2015, itulah anak-anak muda yang tergabung dalam komunitas Jazzngisoringin Semarang. Setidaknya, itu yang ada dalam pikiran saya.

Semoga Loenpia Jazz akan tetap dilaksanakan dengan konsisten setiap tahun dengan penyelenggaraan yang lebih baik pada tahun-tahun mendatang.

Dan, semoga kelak saya dapat kembali menghadirinya.

Bekasi, 13 Juni 2015

Iklan