5 Film Biopik Musisi dan Penyanyi Jazz Pilihan (part #5) – “Born to Be Blue”

Pada bagian ke-5, atau bagian terakhir, diulas film berjudul Born to Be Blue, yang menceritakan masa suram pemain trompet dan vokalis Chet Baker akibat tindak kekerasan yang dialaminya, dan bagaimana Baker bangkit dan kembali ke jalur musik.

Selamat menyimak.

***

Born to Be Blue (2015)

Film ini menceritakan satu periode dalam karir pemain trompet dan penyanyi Chet Baker (23 Desember 1929 – 13 Mei 1988), bernama lengkap Chesney Henry Baker Jr, sejak dari tenggelam dalam masa suram sampai bangkit kembali bermain musik.

Chet Baker (diperankan oleh Ethan Hawke) yang mempunyai ketergantungan kepada obat-obatan, pada satu malam dipukuli oleh beberapa orang karena berutang kepada pengedar obat-obatan. Pemukulan ini berakibat fatal diantaranya luka berat pada bagian leher, retak di bagian pipi dan kehilangan gigi bagian depan.

Kondisi akibat tindak kekerasan tersebut sampai pada vonis yang menyatakan bahwa Baker tidak akan pernah lagi mampu bermain trompet.

Bersama teman wanitanya, Jane (diperankan oleh Carmen Ejogo), Baker kembali ke kampung halamannya di Oklahoma. Dengan dorongan Jane dan kedua orang tua, Baker mencoba kembali bermain trompet. Setiap meniup trompet, Baker merasakan sakit pada mulutnya. Bahkan darah mengalir sampai membasahi dadanya.

Ethan Hawke as Chet Baker

Berlatih kembali bermain trompet dan bekerja di pom bensin, itu yang Baker lakukan setiap hari. Setelah beranjak pulih, Baker mulai kembali bermain trompet di bar setempat.

Baker menghubungi kembali bos pemilik rekaman dan meyakinkan bahwa kemampuannya bermain trompet sudah kembali normal dan dirinya sudah bersih dari kecanduannya akan obat-obatan.

Di studio rekaman Barker menampilkan kemampuannya yang tidak hanya dalam bermain trompet tapi juga dalam bernyanyi. Di studio ini mengalun lagu My Funny Valentine, yang kemudian menjadi salah satu hits nya.

Ciri khas Baker pada gaya bernyanyi yang penuh penghayatan sehingga terasa sangat romantis dan pada tiupan trompet yang tajam dengan nada-nada panjang, menempatkannya sebagai salah seorang musisi jazz aliran Cool Jazz yang berpengaruh. Bahkan Baker dijuluki sebagai “Prince of Cool”.

Simak video saat Baker membawakan lagu Time After Time pada salah satu penampilannya di Belgia (1964), untuk membuktikan betapa “cool”-nya sang “Prince of Cool” ini menyajikan satu lagu.

Baker mempunyai satu obsesi yang selalui menghantuinya yaitu tampil di klub jazz bergengsi di New York, Birdland, dan ingin disaksikan oleh pemain trompet ternama saat itu, Miles Davis dan Dizzy Gillespie.

Atas bantuan Dizzy Gillespie, akhirnya Baker bisa tampil di Birdland.

Chet Baker, Miles Davis, Rolf Erickson

Film ini ditutup dengan penampilan Baker di Birdland. Baker menyanyikan lagu I’ve Never Been in Love Before dengan vokalnya yang syahdu di bagian pembukaan dan dilanjut dengan tiupan trompet mulai bagian pertengahan lagu.

Miles Davis dan Dizzy Gillespie hadir diantara penonton, demikian juga Jane. Namun Jane berlinang air mata saat menyimak lagu, bukan saja karena lagu yang disampaikan Baker tapi lebih karena ia akan meninggalkan Baker menempuh jalan hidup yang berbeda.

***

Sebagai catatan, salah satu lagu hits yang Chet Baker bawakan adalah My Funny Valentine. Lagu ini dinyanyikan juga pada konsernya di Jepang pada tahun 1987 dan mendapat sambutan meriah dari penonton. Konser tersebut direkam dan diabadikan dalam bentuk live album berjudul Chet Baker in Tokyo (1987).

Pada video yang direkam oleh televisi Jepang terlihat sosok Baker dengan wajah yang tampak lebih tua dari usianya – apakah ini pengaruh dari konsumsi obat-obatan yang tak dapat Baker hentikan hingga akhir hayatnya? – tapi tiupan trompetnya tetap tajam, hidup dan menginspirasi.

Mari simak penampilan Chet Baker di Tokyo saat membawakan lagu My Funny Valentine

***

5 film biopik musisi dan penyanyi jazz mengisahkan sekelumit perjuangan mereka dalam meniti karir dalam bidang musik, yang dibalik itu juga menggambarkan dedikasi mereka kepada perkembangan musik jazz.

Perjuangan mereka adalah bagian dari sejarah kehidupan mereka. Dan sebaik-baiknya bersikap ketika mempelajari sejarah tokoh siapapun adalah: ambil hal positifnya, tinggalkan hal negatifnya.

Sukabumi, 30 Desember 2018

Iklan

3 comments

    • Iya Mbak sejak di bangku SMP saya suka jazz. SMA mulai koleksi kaset2 jazz. Sekarang masih suka koleksi CD.

      Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya Mbak.

      Salam.

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s