Salam Kangen untuk Bapa dan Ema…

Selamat malam duhai malam,

Malam ini entah mengapa merayap kuat kerinduanku pada Bapa dan Ema. Mungkin karena aku didera masalah yang bertubi di minggu lalu yang juga belum kunjung usai di awal minggu ini. Seperti layaknya anak kecil ketika menemui masalah dalam kesehariannya pasti akan lari pada orang-tuanya untuk meminta perlindungan. Atau mungkin hanya insting kerinduan seorang anak kepada orang tuanya? Atau bahkan mungkin juga semacam kontak bathin karena mereka merindukan aku?

Bapa…
Aku mengingatmu sebagai sebagai pekerja keras yang jujur. Beberapa karir pernah kau lewati, selalu kau pilih jalur swasta. Ah, ini seperti menular pada pekerjaanku kini.

Ya, aku kini bisa merasakan betapa beratnya memberi pendidikan yang baik pada anak-anak. Biaya dan perhatian tentunya. Aku masih bisa membayangkan bagaimana kerasnya perjuanganmu mencari rezeki ketika aku dan adikku (alm) sama-sama kuliah di Jakarta. Kini kau tak perlu bertutur tentang beban itu, karena kinipun aku alami hal yang sama seperti yang kau alami puluhan tahun yang lalu.

Aku akan menyimpan sosokmu sebagai seorang yang pandai bergaul, murah senyum namun tetap tegas dan taat pada aturan. Kau pekerja yang baik, seperti yang pernah kau bilang kita turunan pekerja atau pengabdi. Darah yang mengalir dari orang-tuamu juga. Ah, jadi kita selamanya akan jadi pekerja? Aku pernah bertanya demikian. Kau tersenyum bijak dan berkata, mungkin layak dicoba bidang yang lain tapi jangan kau lepas dahulu punai yang sudah kau genggam. Sungguh bijak.

Kini kau telah pensiun. Usiamu sudah melewati 70 tahun. Alhamdulillah kau tetap sehat dan semangat. Kau pernah bilang pensiun itu bukan berarti berhenti bekerja. Kau bilang bahwa pensiun itu hanya perubahan mode kerja. Dulu kerja di kantor, dibayar. Kini kerja melayani masyarakat, tanpa mengharapkan bayaran. Intinya tetap semangat beraktifitas, itu kunci agar tetap sehat.

Ema…
Ema dari dahulu berbadan kurus. Cenderung terkesan lemah secara fisik bila berhadapan. Tapi sungguh tak terbayangkan justru Ema menyimpan energi yang dahsyat khususnya kepada Bapa untuk tetap tabah berjuang.

Kekuatan ketabahan Ema sungguh luar biasa. Aku bisa menyaksikannya ketika terbetik berita adikku meninggal dunia di Palembang. Berkali-kali Bapa pingsan di malam nahas itu. Mungkin terbayang jauhnya jarak dari Sukabumi ke Palembang sehingga tiada mungkin menghadiri pemakaman almarhumah. Disaat itu Ema hanya berlinang air mata memeluk tubuh Bapa yang berkali tak sadarkan diri.

Bapa dan Ema, inilah foto yang aku ambil beberapa minggu lalu saat aku mengunjungimu…

Bapa dan Ema,
Sujud padamu kalau sampai kini anakmu ini belum bisa membalas budi jasamu karena telah mendidik dan membesarkan aku. Tapi sungguh walaupun hartaku bertumpuk emas, tetap tak kan berbalas jasamu itu…

Bekasi, 24 Januari 2011

Posted with WordPress for BlackBerry.

2 pemikiran pada “Salam Kangen untuk Bapa dan Ema…

  1. Ping balik: Tweets that mention Salam Kangen untuk Bapa dan Ema… « Sisi Hidupku -- Topsy.com

  2. Dari tulisan anda menunjukkan anda adalah seorang anak yg baik itu bisa terlihat ketika kita masih mempunyai rasa kangen atau rindu dan perhatian kepada org tua kita, semoga apa yg sudah kita lakukan bisa menjadi contoh bagi anak2 kita dalam memperlakukan kita sebagai orang tua dengan diiringi doa dari kita tentunya, semoga, Amin… Titip salam hormat saya untuk orang tua anda

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s