Tahun baru, harusnya identik dengan sesuatu yang baru. Harapan baru, semangat baru, terobosan baru dan baru-baru lainnya yang dijadikan embel-embel.

Bagaimana kalau masih berkutat dengan hal-hal yang sama? Ya, baiknya lakukan pendekatan baru atau cara-cara baru dalam menggeluti hal-hal tersebut.

Demikian juga apa yang saya rasakan dengan ngeblog. Saya menyimpulkan mesti ada pendekatan baru atau cara-cara baru bagaimana saya ngeblog, sebagai konsekuensi dari pilihan bahwa saya akan tetap ngeblog di tahun ini.

***

Awal Ngeblog

Pada saat awal ngeblog, entah kenapa saya menambahkan kalimat “my mobile diary” pada nama blog ini. Mungkin hanya sekadar mengenang kebiasaan lama saat sekolah dulu yang suka menulis catatan singkat harian di buku kecil. Kegiatan menulis di buku kecil memang berlanjut juga ke masa saya bekerja, tapi jauh sekali berbeda apa yang ditulis di buku kecil itu.

Kalaupun kemudian saya menemukan blog sebagai media untuk menulis, namun saya berkeinginan menjadikan blog semacam tempat menulis harian, atau diary, dengan media yang tidak lagi berbentuk buku. Tapi dengan mengingat keterbatasan di blog yang tidak sebebas menulis di buku diary, karena blog yang saya buat di-setting terbuka untuk publik.

Saat awal membuat blog saya menyewa komputer dan akses internet di warung internet alias warnet. Saat itu tersedia banyak warnet di berbagai tempat mengingat komputer – terutama akses internet – masih langka dimiliki oleh keluarga.

Apakah setiap kali posting di blog saya ke warnet? Tentu saja tidak. Saya posting blog melalui email via handphone. Menulis email saya anggap menulis di buku diary, karena bisa dilakukan dimana saja kapan saya ada ide untuk menulis. Selesai menulis langsung email dikirim, jadilah posting di blog.

Perlu diketahui, kemampuan handphone saat itu sudah bisa akses internet dengan GPRS, sehingga kegiatan mengirim dan menerima email mulai menjadi hal yang umum dilakukan

Ketika masyarakat demam handphone Blackberry, saya ikut-ikutan. Dengan Blackberry selalu menemani, saya kadang menulis blog melalui aplikasi WordPress for Blackberry.

Karena Blackberry menggunakan keypad fisik, aktivitas mengetik yang lama dan panjang berakibat kurang baik pada jempol. Bahkan sampai suatu waktu kedua jempol saya mati rasa.

Setelah koneksi internet mudah dan dengan harga terjangkau, saya mulai ngeblog melalui laptop. Karena nyaman, lama-lama keenakan dan makin manja hingga akhirnya tidak lagi mau repot mengetik di handphone. Ini membuat kegiatan ngeblog via handphone sama sekali ditinggalkan.

Kehilangan Makna “Mobile Diary”

Saya merasakan dengan ngeblog via laptop kalimat “mobile diary” mulai kehilangan maknanya. Karena diary sebenarnya bisa ditulis dimana saja, dibaca kapan saja, melalui media yang ringkas dan selalu dibawa-bawa. Sedangkan ngeblog di laptop harus selalu berhadapan dengan laptop. Ini menjadikan kegiatan ngeblog terikat pada satu tempat.

Pagi mendung, jelang stasiun kereta api Cisaat

Kembali ke Konsep “Mobile Diary”

Karena saya ingin kembali ke konsep awal ngeblog, yaitu menjadikan blog sebagai “mobile diary”, akhirnya saya utak-atik kembali aplikasi WordPress for Android (WPA). Dulu pernah mencoba aplikasi ini, tapi terasa masih banyak kekurangan dibanding ngeblog via laptop, membuat saya malas menggunakannya.

Ternyata kini WPA sudah cukup nyaman untuk digunakan dan rasanya pas untuk ngeblog kapanpun dan dimanapun, seperti layaknya menulis diary. Inilah yang saya maksud “ngeblog kembali ke konsep awal”.

Apakah saya akan meninggalkan ngeblog via laptop? Sama sekali tidak. Ngeblog via laptop tetap akan dilakukan khususnya untuk tulisan-tulisan panjang.

Untuk tulisan-tulisan dari ide-ide spontan, dalam perjalanan, maupun memotret keseharian yang ditemukan, akan saya tulis melalui handphone. Blogging on the go, istilah itu mungkin tepat untuk model ngeblog seperti ini.

Kembali ke konsep awal ngeblog dengan menjadikan blog sebagai mobile diary, itu yang akan saya lakukan pada blog ini.

***

Tulisan ini di posting ke blog melalui aplikasi WPA saat saya rehat sejenak di Alun-alun Cisaat, setelah menempuh perjalanan dengan berjalan kaki dari rumah melalui jalan raya kemudian menyusuri jalan kereta api. Jalan kaki pagi kini menjadi kegiatan rutin yang saya lakukan.

Setengah draft tulisan telah disusun secara off-line tadi malam, pagi ini menuntaskannya terlebih dahulu sebelum di-upload ke blog. Saya melakukannya sambil duduk di bangku alun-alun dan menikmati kopi hitam yang selalu saya bawa menemani jalan kaki pagi, selain air putih.

Amunisi jalan kaki pagi: Air putih dalam tumbler dan kopi hitam dalam botol – Alun-alun Cisaat

Sebagai catatan, menurut saya WPA tidak stand-alone tapi tetap memerlukan aplikasi pendukung seperti aplikasi untuk menulis draft off-line dan aplikasi untuk edit foto dan me-resize ukurannya sebelum di upload ke blog.

Terakhir, buat pembaca blog ini, atau siapapun yang kebetulan mampir di blog ini, saya ucapkan Selamat Tahun Baru 2019. Semoga tahun ini membawa kebaikan kepada kehidupan kita pada umumnya.

Selamat berjuang di dalam bidang masing-masing. Tetap Semangat. Sukses selalu.

Alun-alun Cisaat, Sukabumi, 3 Januari 2019

Posted from WordPress for Android