Pagi di Pantai Widuri, Pemalang

Akhirnya Sabtu malam kemarin, 24 Januari 2015, saya memulai perjalanan menuju Pemalang. Saya berangkat dari terminal bus Bekasi sekitar jam 21.30 malam. Harapannya saya akan sampai di Pemalang menjelang waktu Subuh tiba. Sesuai dengan keinginan saya yaitu ingin menikmati pagi di Pantai Widuri.

Tanggal 24 Januari 2015 ini Kabupaten Pemalang berulang tahun yang ke-440. Berbagai acara budaya ditampilkan dalam rangka menyambut hari ulang tahunnya tersebut. Yang menarik saya untuk mengunjungi Pemalang, selain penasaran dengan keindahan pantai Widuri yang sering saya baca diberbagai media, juga adanya festival jazz – disebut sebagai Pemalang Road Race Jazz Festval 2015 – yang akan dilaksanakan di Pantai Widuri. Sebagai pencinta musik jazz tentu saya tidak melewatkan event yang baru pertama kalinya dilaksanakan di Pemalang ini.

Sekitar jam 04.00 pagi saya sudah turun dari bus di depan jalan yang menuju pantai Widuri. Saya lihat ada beberapa becak yang nongkrong di pinggir jalan. Saya bilang kepada salah satu abang becak bahwa saya akan ke pantai Widuri, tapi ingin menunggu waktu Subuh dahulu. Saya bertanya tentang mushala terdekat. Abang becak tersebut malah menyarankan agar saya shalat Subuh di mushala yang ada di obyek wisata Widuri saja.

Saya bingung, apakah saya bisa memasuki obyek wisata Widuri sepagi begini. Setahu saya memasuki obyek wisata Widuri itu harus membeli tiket, apakah loketnya sudah dibuka?

Abang becak itu menjelaskan kalau masih pagi obyek wisata Widuri terbuka bebas bagi masyarakat…

Benar juga apa yang diceritakan abang becak tadi, gerbang obyek wisata Widuri terbuka gerbangnya. Bukaan gerbang yang tidak terlalu besar, kira-kira selebar becak saja, sehingga becak bisa memasukinya dengan leluasa.

Demikianlah, akhirnya saya beristirahat sejenak di mushala sambil menunggu hingga waktu Subuh tiba.

***

Ketika langit sudah agak terang, saya meninggalkan mushala menuju pinggir pantai. Saat itu suasana obyek wisata Widuri masih sangat sepi. Saya belum melihat orang-orang yang beraktifitas disana. Saya berjalan menuju pantai. Udara yang cukup dingin dan angin yang bertiup semilir menyambut kedatangan saya di pantai.

Di pinggir pantai, saya menatap bangunan dermaga yang panjang menjulur ke laut lepas. Ini rupanya dermaga yang sering saya lihat potretnya di berbagai media itu. Akhirnya saya bisa menatapnya langsung pagi ini. Sayang sekali saya tidak dapat memasuki dermaga karena pintunya masih terkunci.

Dermaga memanjang

Setelah agak siang sedikit, saya melihat satu dua anggota masyarakat berdatangan. Sebagian bermotor, sebagian bersepeda, sebagian dengan berjalan kaki. Saya baru memahami kalau obyek wisata Widuri ini dijadikan area gerak badan oleh masyarakat yang ada disekitarnya.

Ketika saya keluar dari obyek wisata Widuri, saya baru memperhatikan pintu gerbangnya dengan di sebelah kiri pintu gerbang bagian luar terdapat loket untuk membeli tiket sebagai tanda masuk ke obyek wisata ini.

Berjalan melewati pintu gerbang ini akan terlihat pintu masuk menuju Widuri Water Park dengan di halamannya terdapat patung yang menggambarkan legenda Poseidon.

Suasana yang rimbun dan banyak pepohonan besar di area obyek wisata Widuri, seperti dapat dilihat pada potret dibawah ini, cukup memberikan jaminan kalau suasana di obyek wisata Widuri akan terasa sejuk. Beberapa wahana wisata tersedia disini, seperti water park dan juga kolam renang.

Rimbun di dalam obyek wisata Widuri

Menuju Road Race

Keluar dari obyek wisata Widuri, saya berjalan menuju ke road race pantai Widuri. Acara-acara yang dilaksanakan dalam rangka menyambut dan memeriahkan ulang tahun Pemalang sebagian akan dilangsungkan disana, diantaranya adalah festival jazz yang saya nantikan.

Gerbang menuju road racePada mulut jalan menuju road race telah dipasang semacam gerbang yang cukup artistik dengan bagian atasnya bertuliskan PEMALANG AMAZING EXTRAVAGANZA.

Dari gerbang ini saya terus berjalan menuju road race pantai Widuri. Lumayan agak jauh juga, mungkin sekitar 15 menit berjalan kaki untuk akhirnya saya sampai di pinggir pantai Widuri.

Saat tiba di pantai Widuri jam baru menunjukkan pukul 08.00 pagi tapi suasana pantai sudah mulai ramai baik oleh pengunjung yang mulai berdatangan maupun oleh pedagang-pedagang yang berjejer rapi di pinggir jalan sepanjang pantai.

Pantai ini terasa sejuk karena sepanjang pantainya ditumbuhi pepohonan yang dedaunannya rimbun. Saya lihat bangku-bangku terbuat dari bambu banyak tersedia disana. Nyaman sekali duduk dibangku bambu ini. Di kejauhan saya perhatikan banyak anak-anak yang sudah bermain dan mandi di pantai.

photo boothSaya melihat juga poster besar bertuliskan Pemalang Road Race Jazz Festival telah dipasang. Beberapa orang berfoto didepan poster tersebut. Ini semacam photo booth yang telah disiapkan oleh panitia. 

Saya tidak sempat berpotret di depan poster itu, malahan mata saya tertumbuk kepada gerobak bubur ayam yang ada dipinggir pantai. Terus terang saya penasaran bagaimana racikan dan rasa bubur ayam Pemalang dibandingkan dengan bubur ayam Sukabumi.

Saya memesan semangkuk bubur ayam Pemalang. Racikannya dapat dilihat pada potret dibawah ini. Saya mencicipi bubur ayam tersebut. Ah, ternyata nikmat juga. Perbedaan yang mencolok dengan bubur ayam Sukabumi dalam hal rasanya. Bubur ayam Pemalang ini rasanya cenderung agak manis, sedangkan bubur ayam Sukabumi rasanya asin.

Inilah bubur ayam Pemalang. Tertarik untuk mencobanya?

Bubur ayam Pemalang

***

Demikian catatan saya berminggu pagi di pantai Widuri, Pemalang.

Pantai Widuri dan Pemalang yang baru pertama kali saya kunjungi ini telah memberikan kesan yang baik dalam ingatan saya. Semoga suatu waktu nanti saya dapat mengunjunginya kembali.

Bekasi, 26 Januari 2015

Note:
Catatan mengenai pelaksanaan festival jazz Pemalang akan saya sampaikan pada posting berikutnya.

 

44 pemikiran pada “Pagi di Pantai Widuri, Pemalang

    • Dermaganya terbuka untuk umum, Mbak. Ini memang dermaga yg dibangun untuk tujuan wisata.
      Pantainya lumayan bersih Mbak. Begitu yg saya perhatikan saat saya mampir disana.

      Salam,

    • Iya Mbak dermaganya bagus banget. Ingin banget saya menyusurinya dan berfoto diatasnya. Sayangnya pagi saat saya disana pintu menuju dermaga masih dikunci.

      Salam,

    • Bubur ayam ini salah satu kesukaan saya. Melihatnya ada yg berjualan bubur ayam disini, gak tahan untuk gak mencobanya.
      Tentang jazz, saya sudah menyukainya sejak zaman saya sekolah di SMP. Sampai kini tetap suka…

      Salam,

    • Mas Adi penyuka jazz juga? Sampai sekarang hanya jenis musik ini yg intens saya dengarkan walau saya suka juga mendengar jenis musik lainnya.
      Ayo Mas kapan2 berkunjung ke Pantai Widuri…

      Salam,

    • Betul Mbak. Beberapa perjalanan wisata saya ke daerah-daerah belakangan ini lebih disebabkan karena ada pergelaran jazz di daerah tersebut.
      Bubur ayam Pemalang ternyata nikmat juga Mbak…

      Salam,

    • Nama pantai ini mengingatkan saya pada lagu lawas yg berjudul Widuri. Lagu yg manis semanis nama pantai ini.
      Seporsi bubur ayam itu memang penuh semangkuk, Mbak…

      Salam,

  1. Ohhh ini to pantai Widuri. Waktu sekolah di Pekalongan dulu teman2 pada cerita. Saya sing belum pernah kesana karena bapak nggak punya duit utk jalan2 meskipun cuma kota sebelah🙂

  2. saya kangen pemalang, kangen ke belik, gombong, gunungjaya, randudongkal hehehhe.Dulu KKN sebluan di belik belum sempat mengunjungi pantai widuri😦

  3. Ping balik: Pemalang Jazz Festival: Langkah Awal yang Gemilang | Sisi Hidupku

  4. Wah matur suwun om sudah mampir ke Pemalang. Saya minta maaf karena tidak sempat nyamperin meski sudah diarahkan Kang Gery kemarin. Pantai Widuri tepat di sebelah timur Obyek Wisata Widuri Waterpark hanya saja karena dipagar makannya Om Titik harus memutar melalui sisi selatan🙂.

    • Gak apa-apa Mas, suatu saat kalau saya berkunjung lagi ke Pemalang mungkin kita bisa jumpa.
      Iya saya juga baru menyadari kalau saya jalan memutar setelah dalam perjalanan itu saya melihat pintu gerbang samping Obyek Wisata Widuri itu…

      Salam,

    • Dipikir-pikir lucu juga Mbak. Jauh-jauh ke Pemalang ujung-ujungnya sarapan paginya bubur ayam juga.
      Tapi itulah, ternyata ada perbedaan rasa dibanding dgn bubur ayam Sukabumi. Tapi tetap nikmat…🙂

      Iya pantainya ramai banget. Bagus juga sudah ditata dgn baik oleh pemeritah daerah setempat Mbak.

      Salam,

    • Saya melihat-lihat suasana di pantai Widuri, kondisi sudah baik dan bersih, mantap banget sebagai tujuan wisata.

      Salut dengan kesiapannya menyambut kunjungan wisatawan…

      Salam,

  5. memang widuri smkin tertata. tp itu blm sberapa dri smua keindahan alam pemalang. klo ke pemalang lg cba explore curug2 (bnyak skali) yg org pmalang sndiri hnya sdkit yg tau. alamnya msih sgt alami.

    bangga dgn alam kota tercinta

    • Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.
      Wah, sepertinya menarik nih untuk berkungjung ke curug-curug yang ada di kawasan Pemalang. Moga suatu saat nanti saya dapat mengunjunginya.

      Salam,

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s