Pemalang Road Race Jazz Festival, atau saya lebih suka menyebutnya dengan Pemalang Jazz Festival saja, merupakan salah satu bagian dari event yang dinamakan Pemalang Amazing Extravaganza. Event ini dirancang dan dilaksanakan dalam rangka perayaan hari jadi Kabupaten Pemalang yang ke-440.

Pemalang Jazz Festival yang dilangsungkan di Pantai Widuri pada hari Minggu, 25 Januari 2015 ini dimeriahkan oleh musisi-musisi jazz dan komunitas-komunitas jazz, dengan bintang tamu utamanya musisi jazz dari Bogor, yang juga merupakan penggagas event Bogor Jazz Reunion, Idang Rasjidi.

Bagi saya ini adalah event yang sangat menarik untuk dihadiri. Selain saya memang pencinta musik jazz, pelaksanaannya yang dilangsungkan di alam terbuka dan di pantai ini telah melambungkan imajinasi saya akan betapa syahdu dan romantisnya menikmati alunan irama jazz di tengah alam yang demikian indah.

Berikut ulasan saya tentang pelaksanaan Pemalang Jazz Festival, catatan-catatan atas musisi jazz yang tampil – namun tidak semua musisi jazz yang tampil yang dapat saya tulis – dan diakhiri dengan beberapa kekurangan yang saya rasakan saat event ini berlangsung, yang semoga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi fihak penyelenggara demi penyempurnaan event ini berikutnya.

***

Hari Minggu, 25 Januari 2015, jam 08.00 pagi, saya sudah berada di area road race Pantai Widuri, pantai yang indah, sejuk dan nyaman yang kerap menjadi tujuan wisata. Suasana sudah mulai ramai saat itu. Pengunjung-pengunjung sudah mulai berdatangan, pedagang-pedagang sudah menggelar dagangannya dengan berjejer rapi di pinggir jalan, seperti yang saya tuliskan dalam posting saya berjudul Pagi di Pantai Widuri, Pemalang.

Banner & Photo BoothSaya melihat banner yang cukup besar yang bertuliskan Pemalang Road Race Jazz Festival 2015 di salah satu sudut jalan. Di depan banner itu digelar karpet berwarna merah. Beberapa orang saya lihat berfoto di depan banner ini. Ini semacam photo booth yang seperti mengajak siapa saja yang datang kesini untuk mengabadikan kehadirannya pada event ini.

Dua panggung telah disiapkan untuk penampilan musisi-musisi jazz. Satu panggung berukuran besar, yang merupakan panggung utama – saya sebut Panggung A, didirikan menghadap lapangan yang luas. Idang Rasjidi Syndicate akan tampil di panggung ini nanti malam. Penampilan yang juga sekaligus akan menutup keseluruhan event festival jazz ini.

Satu panggung lagi didirikan di pinggir jalan dengan menghadap ke jalan dan membelakangi pantai. Panggung ini – saya sebut Panggung B – lebih kecil ukurannya di banding panggung utama tadi. Panggung ini selain akan digunakan untuk event festival jazz juga digunakan untuk pergelaran musik SKA yang khususnya ditujukan bagi kalangan kawula muda mulai pagi hingga sore nanti.

Pentas Sore

Jam 16.00 pentas jazz dimulai. Saya menyaksikan tiga grup band yang tampil di Panggung Utama. Yang pertama saya saksikan adalah grup band yang menamakan dirinya Edo Combo. Grup ini menyuguhkan sajian jazz yang boleh dikatakan sebagai jazz yang ringan, semacam smooth jazz. Lagu-lagu jazz yang grup ini bawakan terasa nyaman didengarkan terlebih dengan vokalis wanitanya yang bersuara lembut dan berparas jelita.

Grup kedua yang saya saksikan adalah Grup band Robby N Friend. Berbeda dengan Edo Combo, vokalis grup band ini seorang pria. Olah vokalnya yang menawan memberikan nilai tambah kepada grup band ini. Jazz yang mereka tampilkan bernuansa kegembiraan kawula muda. Sungguh nikmat disimak sajian mereka di suasana yang semakin sore.

Grup band yang ketiga yang saya saksikan di Panggung A adalah grup band dari Jogja, Jogja Blues Forum. Irama blues yang menghentak cukup memberikan kehangatan suasana sore. Apalagi permainan trio gitarnya yang demikian piawai memainkan melodi. Benar-benar mereka telah menguasai teknik bermain gitar ala blues dengan demikian baik.

Pentas Malam

Saya menyaksikan pentas malam ini dengan berfokus di Panggung B. Ada tujuh grup band yang saya saksikan dipanggung ini. Tujuh band dengan nuansa jazz yang berbeda satu dengan lainnya. Perbedaan nuansa yang merupakan ragam kekayaan dari musik jazz.

Grup band pertama yang saksikan adalah Jazz Ngisoringin. Ngisoringin dalam bahasa Indonesia berarti dibawah (ngisor) pohon beringin (ringin). Komunitas Jazz yang berasal dari Semarang ini biasa melakukan jam- session di bawah pohon beringin di salah satu cafe di Semarang.

Permainan yang kompak dari personil Jazz Ngisoringin sungguh memikat. Kekompakan mereka dan kepiawaian bermain musik jazz setidaknya ditunjukkan saat mereka membawakan lagu Summertime yang mereka aransir dengan beat jazz yang kuat dan menghentak.

Grup band kedua adalah Jazz Mben Senen. Jazz Mben Senen, dalam bahasa Indonesia berarti Jazz setiap Senin, adalah komunitas pelaku dan penikmat jazz dari Jogja yang setiap Senin malam berkumpul mengadakan sebuah kegiatan apresiasi dan jam-session musisi-musisi jazz di Jogja.

Jazz Mben Senen kali ini menampilkan musisi-musisi jazz yang masih berusia muda. Saya menilai karakter jazz mereka lebih bernuansa fusion jazz yang khas dengan beat yang “keras”. Gebukan drum yang mantap memberikan warna tersendiri kepada jazz yang mereka tampilkan malam ini.

Komunitas Jazz Kemayoran, yang berasal dari Jakarta, tampil berikutnya. Mereka tampil dengan formasi yang minimalis dengan hanya bertiga saja diatas panggung. Mereka terdiri dari dua orang pria yang memainkan gitar akustik dan satu orang wanita sebagai vokalisnya.

Lagu-lagu jazz yang mereka bawakan adalah lagu-lagu yang cukup populer. Menyimak komposisi musik yang mereka tampilkan, bagaikan memberikan waktu untuk cooling down setelah sebelumnya disuguhi irama jazz yang “keras”. Sungguh, mereka telah memberikan warna jazz demikian romantis pada penampilannya.

Grup band ke-4 yang tampil menamakan dirinya Three Song. Cukup terkejut melihat mereka tampil di panggung. Bagaimana tidak, tiga personil band ini masih sangat muda usianya. Pemain drumnya baru berusia 13 tahun, pemain bass berusia 12 tahun, pemain melodi – yang termuda diantara mereka – baru berusia 10 tahun. Hanya pemain keyboardnya saja yang cukup senior.

Menyimak permainan jazz Three Song ini sungguh demikian menawan. Usia sangat muda dari ketiga pemainnya ini ternyata mampu menampilkan hidangan musik jazz yang cukup “matang”. Luar biasa…

Yohanes Gondo Trio tampil dengan nuansa akustik dengan membawakan komposisi-komposisi jazz standard. Ketukan piano Yohanes Gondo yang berpadu dengan suara bass akustik dan drum yang kadang lembut-kadang keras memberikan efek-efek yang luar biasa indah pada lagu-lagu jazz standard yang mereka bawakan.

Saya tak ragu mengatakan kalau Yohanes Gondo Trio memang piawai membawakan jazz standard dalam format akustik…

Ina Ladies tampil berikutnya. Grup band ini terdiri dari tujuh orang wanita dan satu orang pemain drum pria. Salah satu dari ketujuh orang wanita itu adalah Happy Pretty, pemain trompet dan vokalis jazz. Saya mengenalnya di era 80’an dan 90’an. Rasanya sudah lama sekali saya tidak mendengar namanya pada kancah blantika musik Indonesia.

Musik jazz yang dipersembahkan oleh Ina Ladies demikian lincah dan kompak disertai dengan olah vokal dari dua orang vokalisnya yang hebat, diselingi permainan trompet Happy Pretty yang tetap prima, dan penyajian lagu Lir Ilir yang diaransir dengan apik dan khusus dibawakan bagi Pemalang yang sedang ber-ulang tahun merupakan rangkaian suguhan jazz yang demikian menawan untuk disimak.

Artis jazz terakhir yang tampil di Panggung B adalah Margie Segers. Margie Segers ini penyanyi jazz yang sangat saya tunggu kehadirannya. Entah sejak kapan saya mengenal lagu-lagu jazz-nya, namun lagu-lagu lawasnya masih tetap terngiang ditelinga dan kerap saya memutarnya kembali hingga kini.

Margie Segers, yang kini berusia 64 tahun, bagi saya merupakan legenda penyanyi jazz Indonesia. Kehebatan olah vokal Margie Segers seolah tidak termakan waktu dan usia. Penampilannya malam ini diiringi oleh Motown Band.

Beberapa lagu jazz dibawakan oleh Margie Segers mengalir dengan lincah. Menikmati lagu demi lagunya bagai merupakan obat rindu yang sekian lama terpendam. Sayang sekali Margie Segers tidak membawakan lagu-lagu lawasnya yang berbahasa Indonesia yang cukup populer pada masanya.

Idang Rasjidi Syndicate merupakan band penutup event Pemalang Jazz Festival malam ini. Idang Rasjidi tampil di Panggung Utama. Penonton yang hadir sudah demikian membludak. Saya tidak dapat lagi mendekat ke panggung seperti saat saya tadi menyaksikan musisi-musisi jazz yang tampil di Panggung B.

Saya melihat Idang Rasjidi malam ini lebih dari hanya seorang musisi jazz, namun Idang Rasjidi tampil juga dengan semacam memberikan pelajaran kepada khalayak penonton dengan apa yang di maksud dengan jazz, bagaimana cara berapresiasi terhadapnya dan bahkan memberikan contoh teknik bernyanyi yang disebut sebagai scat.

Idang Rasjidi menjelaskan bahwa scat bukan hanya sekadar teknik bernyanyi tapi juga sebagai alat komunikasi yang unik yang dikenal dalam musik jazz. Idang Rasjidi tampil dengan menawan dalam mencontohkan teknik scat ini bersama vokalis jazz Matthew Sayerz.

***

Saya mencatat beberapa kekurangan yang saya rasakan pada saat pelaksanaan event Pemalang Jazz Festival ini berlangsung, antara lain:

  • Tidak ada informasi line-up. Saya tidak menemukan informasi line-up musisi jazz yang akan tampil di kedua panggung tersebut di area pelaksanaan festival. Menurut saya, line-up ini hal yang penting bagi penonton yang hadir karena ia memberikan semacam guidance dalam memilih penampilan yang mana yang akan disaksikan.
  • Keterlambatan waktu event ini mulai dilangsungkan. Dari informasi yang saya peroleh melalui salah seorang teman twitter, event ini akan dimulai pada jam 14.00. Mungkin karena berbagai hambatan dan kesulitan, event ini baru dimulai pada jam 16.00.
  • Tidak tersedianya MC. Di Panggung B tidak tersedia tenaga MC. Hal ini tertutupi dengan didaulatnya pemain gitar dan pemain sax personil Jazz Ngisoringin sebagai MC dadakan.

Namun dukungan dari berbagai komunitas jazz dan musisi jazz yang tampil dalam festival jazz ini sangat membanggakan. Demikian besar dukungan mereka sehingga mereka dapat turut berpartisipasi dan memeriahkan event ini. Patut dicatat juga kehadiran Djaduk Ferianto, seorang tokoh musik dan penggagas event jazz Jogja yang dikenal sebagai Ngayogjazz, yang tentunya dapat dianggap sebagai penyemangat dan bukti dukungan kepada event ini.

Terlepas dari kekurangannya, saya memandang event Pemalang Jazz Festival ini sebagai event yang luar biasa menarik. Dengan kesuksesannya menghadirkan musisi-musisi jazz yang mewakili berbagai usia, tak berlebih bila saya katakan event yang baru pertama kali dilangsungkan di Pemalang ini sebagai langkah awal yang gemilang.

Semoga Pemalang Jazz Festival kembali akan dilangsungkan pada tahun depan dan tahun-tahun mendatang, sehingga festival jazz ini nantinya akan menjelma menjadi salah satu icon wisata bagi Pemalang.

Dan, semoga nanti saya dapat kembali menghadirinya…

Sukabumi, 30 Januari 2015

Tulisan ini diikutsertakan dalam
Pemalang Amazing Extravaganza Blog Competition
Dalam rangka hari jadi Pemalang ke-440

Banner Lomba Blog Kabar Pemalang

Catatan
Posting ini telah di publish di VIVAlog-VIVAnews disini. Terima kasih.

Catatan Tambahan, 17 Februari 2015…

Alhamdulillah, tulisan ini menempati urutan pertama sebagai pemenang kompetisi blog Pemalang Amazing Extravaganza Blog Competion.
Pengumuman dari situs Kabar Pemalang dapat di lihat pada link Pengumuman Pemenang Lomba Blog #HUTPemalang440.

 

***

Iklan