Kota Tanpa Bioskop

Terasa aneh ga ya judul tulisan diatas untuk telinga anda? Masa sih di zaman modern dengan masyarakat yang selalu haus hiburan malah terdapat kota yang tidak memiliki satupun gedung bioskop?

Tapi ini benar adanya. Itulah yang terjadi dengan kota Sukabumi. Kini di kota itu tidak ada satupun gedung bioskop. Entah mengapa? Mungkinkah bisnis bioskop tidak lagi menguntungkan di kota itu saking banyaknya serbuan vcd atau dvd, baik yang resmi maupun bajakan, yang siap dinikmati di rumah?

Sekedar flash back menengok masa lalu Sukabumi. Aku masih ingat, dahulu di saat aku masih remaja, antara periode tahun 80-an sampai 90-an terdapat beberapa gedung bioskop di kota ini.

Ada gedung bioskop dengan kapasitas penonton yang besar. Kapasitasnya mungkin sekitar rata-rata dua kali kapasitas bioskop 21 saat ini. Bioskop Royal, Indra, Gelora, Capitol, Nusantara dan Sukabumi Theatre termasuk ke dalam kategori ini. Patut dicatat, Nusantara merupakan bioskop yang khusus hanya memutar film India.

Belakangan muncul bioskop dengan kapasitas penonton yang lebih kecil. Ukurannya mirip dengan rata-rata bioskop 21 saat ini. Bioskop Mutiara dan Mustika termasuk kategori ini.

Selain ukurannya yang relatif kecil, Mutiara dan Mustika juga punya ciri khas tersendiri. Harga karcis di kedua bioskop ini hampir setengahnya dari bioskop kategori pertama diatas. Bisa demikian karena film yang diputar di kedua bioskop ini adalah film yang sebelumnya pernah diputar di bioskop kategori pertama. Jadilah kedua bioskop itu menjadi favorit dikalangan remaja yang beruang saku pas-pasan.

Kemudian munculah era Bioskop 21. Ia merevolusi bagaimana cara menikmati sajian film dibioskop. Ukuran bioskop yang kecil, suara yang stereo dan ruangan ber-ac menjadi ciri khasnya. Ciri lainnya tentu pada harga karcis yang lebih mahal dibanding bioskop kategori pertama diatas tadi.

Akhirnya menurut hemat aku saat itu ada 3 kategori bioskop.

  • Kategori 1, bioskop 21 tersebut.
  • Kategori 2, bioskop Royal cs.
  • Kategori 3, Mutiara cs.

Selain dibedakan oleh harga karcis, kategori itupun dibedakan oleh urutan pemutaran film. Film terbaru pastilah selalu diputar dahulu di bioskop 21. Satu sampai dua minggu kemudian barulah diputar di bioskop Royal cs. Dua mingguan kemudian, barulah diputar di Mutiara cs.

Cukup banyak bukan jumlah bioskop di Sukabumi pada waktu itu hingga sampailah ke masa kini saat dimana tak satupun gedung bioskop terdapat di kota ini…

Bagaimana kondisi bioskop saat ini di kota anda?

Sukabumi, 10 Oktober 2010
[sent from my mobile phone]

6 pemikiran pada “Kota Tanpa Bioskop

  1. nyaris gak percaya ketika mendapatkan kabar ini saat ngobrol dg kang Gerry di Halimun. apakah mmg bisnis bioskop di Smi tak menguntungkan? atau apakah sedikit sekali masyarakat Smi yg suka nonton bioskop.

    Bagaimana kabar BIORA yg dibuka di Gedung Juang oleh Aa Gatot? masih jalan, Kang?

  2. Demikianlah kenyataannya Kang. Sekarang orang Smi yg kebelet pengen nonton harus naik colt dulu untuk nonton di Bogor…

    Tentang Biora, wah malah saya gak tahu nih Kang….

    Salam blogger,

  3. Ping balik: Jejak Bioskop-Bioskop di Kota Sukabumi | Sisi Hidupku

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s