Mamang Penjual Pisang Ambon

Kadang-kadang saya suka berpikir, kira-kira bahan apa yang hendak saya tuliskan untuk kemudian di posting di blog. Terkadang saya  menemukan momen yang sepertinya menarik. Tapi ketika dicoba ditelaah lebih jauh, seperti ada rasa kurang sreg, seperti hambar, akhirnya momen tersebut urung saya susun menjadi bahan untuk ditulis lebih lanjut.

Tapi terkadang saya menemukan satu momen, yang ketika ditemukan biasa-biasa saja, tidak ada greget, tapi ketika dipelajari bahan tersebut lebih lanjut, biasanya melalui foto-foto yang berhasil saya ambil, malah memberikan semacam gairah untuk diurai, dituangkan dan dituliskan menjadi bahan untuk di posting di blog.

Aneh atau demikian juga yang dirasakan oleh narablog lain juga ya?

Momen biasa yang akhirnya menarik untuk ditulis, setidaknya menurut saya pribadi, seperti contoh tentang mamang penjual pisang ambon yang saya tuliskan dibawah ini…

***

Hari Minggu pagi kemarin, saat saya naik angkutan kota, angkot, menuju kota Sukabumi, mata saya tertumbuk kepada mamang penjual pisang ambon yang telah naik terlebih dahulu. Sebenarnya bukan hal yang aneh melihat pedagang yang membawa barang dagangannya untuk diangkut ke pasar dengan menumpang angkot. Hal yang lumrah. Tapi yang membuat saya tertegun adalah betapa rapinya mamang penjual pisang ambon ini berpakaian.

Saya lihat mamang duduk dipojok bangku angkot. Ia membawa bakul pikulan dengan masing-masing bakulnya berisi 6 sisir pisang ambon yang menguning. Pisang ambon yang sudah matang. Tidak seperti kebanyakan penjual pisang ambon yang suka membawa bakul pikul, yang biasanya, maaf, berpakaian seadanya dan terkesan semrawut, mamang berpakaian sangat rapi. Ia mengenakan celana panjang berwarna gelap dengan baju berlengan panjang yang dominan warna putih. Lengan panjang bajunya tidak digulung tapi dibiarkan rapi sampai ujung dengan ujung lengannya tak lupa masing-masing dikancingkan. Luar biasa, sungguh rapi penampilan mamang ini…

Mamang penjual pisang ambon menatap jalan didepan.

Mamang penjual pisang ambon menatap jalan didepan.

Sayang saya tak sempat banyak berbincang dengan mamang. Hanya saya sempat bertanya tentang pisang ambon dagangannya saja. Saya bertanya berapa harga pisang ambon tiap sisirnya. Mamang bilang harganya 10.000,- rupiah. Tak jauh dari perkiraan saya. Kisaran harga pisang ambon satu sisir memang antara 7.000,- rupiah hingga 10.000,- rupiah.

Pertanyaan saya selanjutnya, dimana mamang akan berjualan. Apakah di pasar? Ternyata bukan. Lokasi mamang menjajakan pisang ambonnya di emperan sebuah rumah sakit yaitu RS Assyifa, Sukabumi. Nah, mendengar jawaban ini baru saya faham. Ternyata cara berpakaian mamang yang rapi itu rupanya disesuaiakan dengan lokasi tempat mamang berjualan.

Entah darimana mamang belajar, kalau penjual memang harus menyesuaiakan dengan situasi dan kondisi dimana lokasi berjualannya itu. Mungkin mamang hanya mempelajari hal ini dari pengalaman selama sekian tahun berjualan pisang ambon. Atau siapa tahu mamang pernah belajar teori tentang marketing?

***

Saya pikir pengalaman yang dilalui selama hidup akan menempa seseorang untuk kemudian beradaptasi dengan lingkungan yang dihadapi. Seperti contoh mamang penjual pisang ambon ini, yang berpenampilan sangat rapi mengingat lokasi berjualannya di tempat yang mengisyaratkan kebersihan dan kerapian juga, sebuah rumah sakit.

Ya, setidaknya itu pelajaran sederhana yang dapat saya petik dari mamang penjual pisang ambon ini.

Bekasi, 10 Desember 2013

41 pemikiran pada “Mamang Penjual Pisang Ambon

  1. Bayak hal yang bisa diambil pelajaran lewat kejadian sehari-hari yang kita temui, saya pun belajar dari peristiwa ini terimakasih sudah memberikan pelajaran yang sangat berarti🙂 salam kenal dari saya dian🙂

    • Betul mba Dian, demikian yang saya rasakan juga. Memang butuh kepekaan yg lebih untuk menangkap hikmat dan pelajaran yang dapat diambil dari sesederhana apapun kejadian atau peristiwa yg melintas didepan kita.

      Salam kenal juga mba,

    • Iya mba, memang demikian rata-rata harga jual pisang ambon saat ini di Sukabumi.
      Tentang bapak penjual itu, iya pakaiannya yg rapi itu yg bikin saya tertarik untuk memperhatikannya selama perjalanan dari rumah saya menuju kota Sukabumi.

      Salam,

  2. Ping balik: Letters to Conrad ~ A Social Media Odyssey | Andy Kaufman's Kavalkade Krew

    • Betul mba Susi, selalu ada bahan pelajaran dari sekecil apapun peristiwa yang kita temui…
      Terimakasih kunjungan dan komentarnya mba. Maaf agak telat membalas, karena saya baru sadar kalo komentar dari mba masuk ke inbox spam. Saya gak faham suka ada komentar dari beberapa sahabat dgn platform berbeda masuk ke inbox spam.

      Salam,

  3. Wah, salut sama mamangnya.. Tapi kok aku sedih ya melihatnya? Ga tau aku ya perasa atau gimana, yg jelas.. salut dengan umur yang sekian, masih mau berjualan tanpa harus (maaf) meminta2 kepada orang lain..

    • Wah, anda peka dan perasa rupanya padahal hanya melihat mamang dari fotonya saja. Mamang ini saya perhatikan banyak diam waktu saya ketemu di angkot. Sepertinya beliau sedang banyak yg dipikirkan…

      Salam,

  4. Met malam Oom,
    Posting yang menarik Oom. Salut dengan kejelian Oom menangkap momen yg sederhana dan mengemasnya kedalam tulisan yg menarik ini.
    Saya baru belajar ngeblog nih Oom. Mohon masukannya pd blog saya.
    Makasih banyak sebelumnya Oom…

  5. 7000-10.000? wah murah tiu pak, di Bogor mana dapet segitu? minimal 15.000. saya penyuka pisang ambon dan pisang tanduk, apalagi yg gratisan hehe. Memang sebagai pedagang harus bisa menyesuaikan situasi dan kondisi dalam menghadapi calon konsumen ya Pak. Semoga kita terus bersemangat kayak mamang ini.🙂

    • Wah mahal juga harga sesisir pisang ambon di Bogor ya. Mamang cuma menawarkan 10.000 rp saja satu sisirnya. Ini harga yang masih bisa ditawar.
      Saya penyuka pisang juga. Apalagi kalau bulan puasa, rasanya ada yg kurang kalau berbuka tanpa kehadiran kolak pisang…

      Iya, semoga kita tetap semangat.

      Salam,

  6. Kerapian dan kepantasan berpakaian memang perlu. Walau pakaiannya tidak mahal dan baru yang penting pas dengan situasi lingkungan ya Mas
    Terima kasih pelajarannya
    Salam hangat dari Surabaya

    • Met malam Pakde. Ah senangnya dikunjungi Pakde kembali…
      Betul Pakde, rapi dan pantas walau dengan pakaian yang tidak mahal sangat perlu. Semacam upaya menghargai diri sendiri mungkin sebelum dihargai oleh orang lain.

      Salam hormat dan salam persahabatan selalu,

    • Iya Mba Ely, pisangnya sudah kuning matang dan bersih pula. Kerapian dan kebersihan mamang tercermin juga pada pisang ambon dagangannya. Waktu lihatnya saja langsung ngiler…

      Salam,

  7. Saya melihatnya mamang penjual pisang ambon ini adalah sosok yang sederhana dan pekerjaannya tentu jauh lebih terhormat dari pada para pejabat yang menilap uang rakyat, meskipun pakaian pejabat itu lebih rapi dan perlente dari mamang ini. Salut.
    terima kasih sudah berbagi pak Titik.
    salam🙂

  8. hallo, mas Titik.
    kerapian dalam berpakaian memang perlu, ya paling tdk menyesuaikan dng sekitarnya. sederhana saja asal rapi saya kira lbh baik drpada kelihatan wah tp memaksakan diri..
    saya pribadi nggak terlallu perhatian dlm berpakaian, nggak pernah serapi mamang ini…

    • Met malam mas Zainal,
      Benar kalo begitu, mamang penjual pisang ini juara dalam kerapian berpakaian.
      Saya sama gak biasa sehari-hari serapi mamang ini. Keseringan dan keenakan pakai jeans sama t-shirt ajah nih…

      Salam,

  9. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Titik Asa….

    Kalau saya, sangat suka membeli kepada penjual yang mempunyai penampilan kemas, rapi dan bersih. Mudahan itu sebagai jaminan kepada kualitas barang jualannya juga dijamin bersih.

    Semoga para penjual lain juga patut mengambil contoh seperti mamang penjual pisang Ambon di atas. Di mana-mana sahaja, penjual harus kelihatan kemas dan rapi agar ramai yang mahu membeli.

    Salam hormat dari Sarikei, Sarawak.😀

    • Wa’alaikum salam wr.wb…

      Betul seperti apa yang mba Fatimah katakan, dimana-mana harusnya pedagang itu berpenampilan rapi dan sopan agar pembeli menjadi tertarik dan yakin akan kualitas barang yan dijualnya.

      Tapi memang jarang pedagang tradisional yang berpenampilan rapi seperti mamang ini. Ini semacam kekecualian yang langka.

      Salam persahabatan dari saya di Sukabumi,

  10. Ping balik: Waktu yang Tepat Makan Pisang | GOLDEN SNITCH

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s