Tulus di Java Jazz Festival 2020: 45 Menit yang Mengesankan

Tulus, penyanyi dan penulis lagu yang mulai saya kenal sejak tahun 2011 melalui album bertajuk Tulus. Terus terang saya tidak tahu bagaimana awal perjalanan karirnya dalam dunia musik, hanya terkesima saja ketika namanya dan lagu-lagunya menjadi demikian populer di kalangan anak muda saat itu.

Seperti kata satu iklan “Kesan pertama demikian menggoda“. Ya, kesan pertama lewat album Tulus membuat saya jatuh cinta kepada Tulus baik kepada karakter vokalnya, kepada lagu-lagunya, kepada lirik lagu-lagunya, kepada olahan musiknya dan kepada penampilan panggungnya yang rapi, sopan, akrab dan selalu tampil handsome.

Tak heran bila perkenalan melalui album pertamanya tersebut terus berlanjut kepada penantian akan kehadiran album-album berikutnya sampai dirilisnya album Gajah (2014) hingga Monokrom (2016).

3 album Tulus koleksi saya

Berbicara mengenai olahan musik yang Tulus sajikan, saya tidak dapat mengatakan kalau Tulus bermain pada satu genre musik tertentu saja. Mungkin lebih tepat musik Tulus semacam pop kreatif dengan berbagai genre musik bercampur di dalamnya,  seperti jazz, swing, bossa, rock hingga soul.

Berbagai genre musik yang bertebaran pada lagu-lagunya menjadikan musik yang disajikan Tulus sebagai musik yang nyaman untuk disimak, ringan, mengalir, renyah dan tidak njlimet.

***

Sebelumnya saya pernah menyimak langsung penampilan Tulus pada tahun 2014 pada pergelaran Coopfest (Cooperative Festival) yang diselenggrakan oleh IKOPIN (Institut Koperasi Indonesia) yang berlagsung di Gedung Sabuga, Bandung. Kemudian pada tahun 2015 saya berjumpa lagi dengan Tulus pada pergelaran Tangsel Jazz Festival.

Dari kedua pergelaran tersebut saya menyimpulkan bila memang penampilan Tulus dalam hal berbusana sangat rapi seperti foto pada cover album-albumnya.

Khusus penampilan Tulus di Tangsel Jazz Festival 2015, Tulus mendapat kehormatan sebagai penampil utama dan ditempatkan sebagai penutup festival. Tulus tampil di panggung mulai jam 24.00, membawakan lagu-lagu yang berasal dari album Tulus dan Gajah hingga usai penampilannya pada jam 01.10 dini hari.

Saking enjoy-nya, penampilannya yang panjang itu tidak terasa lama apalagi membosankan.

***

Pada Java Jazz Festival 2020 tadi malam, Tulus membuka penampilannya dengan membawakan lagu “Langit Abu-abu” yang hanya diiringi dengan piano. Lagu yang berasal dari album Monokrom ini dibawakan dengan syahdu dan sangat menonjolkan olah vokal Tulus.

Tulus di panggung Jakarta Jazz Festival 2020

Suasana menjadi meriah dan menggairahkan saat lagu “Tergila-gila” dinyanyikan. Aransemen musik lagu ini memang berbau fusion dengan irama yang menghentak dan gebukan drums yang kuat. Tak ayal lagu ini mengajak penonton yang hadir untuk “bangun dari tidur”.

Kepiawaian Tulus juga terlihat dari kemampuannya membangun komunikasi dengan penonton. Jeda diantara lagu, disinya dengan perbincangan yang hangat. Seperti saat Tulus bercerita tentang lagu “Teman Hidup” yang akan dinyanyikannya.

Menurut pengakuannya, awalnya lagu “Teman Hidup” ragu untuk disertakan pada album pertamanya. Tapi produsernya meyakinkan kalau lagu tersebut layak untuk direkam. “Kalau tidak ada dorongan dari produser, mungkin “Teman Hidup” tidak akan ada pada album manapun…”, demikian penuturan Tulus.

Penampilan Tulus berlangsung kurang-lebih selama 45 menit dengan membawakan 9 lagu. Lagu-lagu Tulus yang sangat saya sukai termasuk dalam lagu-lagu yang dinyanyikannya, lagu-lagu itu adalah: “Jangan Cintai Aku Apa Adanya” (duet bersama Sal Priadi), “Teman Hidup” dan “Sewindu”.

Ah, betapa senangnya!

Sebagai penutup, mari simak video klip lagu “Sewindu”. Lagu ini juga merupakan lagu penutup penampilan Tulus pada Jakarta Jazz Festival 2020.

***

Seandainya saya menyaksikan langsung Java Jazz Festival 2020, sudah pasti penampilan Tulus masuk ke daftar artis yang akan saya tonton penampilannya. Dan, senang sekali rasanya ketika melihat bahwa penampilan Tulus ada dalam daftar yang di tampilkan secara Live Streaming.

Terimakasih kepada Tulus atas 45 menit penampilannya yang keren dan mengesankan.

Terimakasih kepada penyelenggara Java Jazz Festival 2020 atas live streaming-nya, sehingga saya tetap dapat menyaksikan beberapa artis yang tampil selama 3 hari festival berlangsung dari rumah saya di Sukabumi, termasuk penampilan Tulus yang sangat saya nantikan.

Sukabumi, 2 Maret 2020

Catatan:

9 lagu yang dibawakan Tulus, sesuai dengan urutan penyajiannya, sebagai berikut:

  1. Langit Abu-abu
  2. Tergila-gila
  3. Ruang Sendiri
  4. Jangan Cintai Aku Apa Adanya (duet dengan Sal Priadi)
  5. Monokrom
  6. Labirin
  7. Teman Hidup
  8. Adu Rayu
  9. Sewindu

Tulisan Internal Terkait:

  • Coopest 2014, “Bertemu Mocca, Tulus dan Raisa di Coopfest“, klik tautan ini.
  • Tangsel Jazz Festival 2015, “Tangsel Jazz Festival 2015“, klik tautan ini.

31 respons untuk ‘Tulus di Java Jazz Festival 2020: 45 Menit yang Mengesankan

Add yours

  1. saya hadir di java jazz 2020 … kesana anter anak karena pengen nonton …
    tapi bukan yang hari dimana Tulus tampil. Sayang banget waktunya tidak tepat … soalnya nyari tiket online yang murah … haha
    Tulus lagu lagunya juara …. saya suka banget Tulus

    salam dari Jakarta

    1. Asik Mas bisa hadir di Java Jazz. Disana nonton penampilan siapa saja Mas?
      Saat ini aga repot untuk saya hadir di Java Jazz. Selain harga tiketnya yang mahal menurut ukuran kantong saya, juga lokasi saya yang kini sudah full di Sukabumi.

      Tulus memang keren. Lagu dan musiknya disukai kalangan muda dan tua…

      Salam dari Sukabumi, Mas.

  2. Saya salah seorang yang suka lagu-lagunya Tulus, lagunya tuh enak tapi maknanya luas, dan nggak ngegombal doang.
    Contoh, jangan cintai aku apa adanya.
    Itu pas banget, berlawanan dengan anak-anak mudah zaman now yang suka bilang,
    “Soalnya saya nyaman sama dia, dia nerima saya apa adanya”

    Padahal ya kalau sudah nikah, kita kudu sempurna, karena anak butuh seseorang yang lebih baik buat dicontoh hehehe

    1. Ah ketemu juga dengan sesama fans Tulus nih…

      Lagu-lagu Tulus memang nyaman disimak. Ya liriknya, ya musiknya. Mengalir dengan lancar ketika menyimaknya.

      Jangan cintai aku apa adanya itu memang berlawanan dengan banyaknya realita yang justru bicara cintai aku apa adanya. Dengan kata “jangan” di depannya, Tulus memberi perspektif yang berbeda. Dan, itu kena pada sasaran.

      Salam,

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: