Yang Kembali Hijau

Karena hidup adalah pengulangan-pengulangan, suatu rutinitas, begitupun apa yang saya alami setiap pagi dengan aktivitas jalan kaki. Memang tak banyak variasi rute yang saya lalui, barangkali hanya 3 rute berbeda saja.

Kadang tebersit pertanyaan, “seringkali melewati rute yang sama, apakah tidak bosan?”. Atau pertanyaannya barangkali menjadi, “bagaimana mengatasi rasa bosan bila harus melalui rute yang sama berulang kali?

Seperti pagi ini, saya kembali jalan kaki pagi melewati rute jalan kereta api. Entah sudah berapa kali saya melewatinya, tapi saya berusaha menemukan hal-hal baru dari apa yang saya lihat dan rasakan selama perjalanan ini.

Ya, menemukan hal-hal baru menurut saya dapat menjadi semacam obat yang manjur untuk menangkal rasa bosan sehubungan dengan pengulangan-pengulangan aktivitas yang tidak bisa dihindari.

Pagi ini saya melihat area persawahan sudah kembali menghijau. Ini hal baru yang saya temukan pagi ini setelah beberapa saat lalu saya temui area persawahan yang kering dan bahkan sebagian dengan tanah yang retak-retak akibat kemarau panjang yang melanda. Kemarau panjang, sekitar 7 bulan, demikian parah akibatnya kepada tanah khususnya terhadap area persawahan.

Kini, beberapa area persawahan mulai ditanami padi. Beberapa lagi dengan padi yang mulai tumbuh. Beberapa lagi dengan padi yang akan segera menguning. Memandang persawahan kembali hijau ini, ada perasaan bahagia juga di hati.

6.30 AM. Diantara persawahan yang mulai menghijau
7.20 AM. Diantara persawahan yang mulai ditumbuhi padi
7.30 AM. Diantara persawahan dengan padi yang mulai menguning

Barangkali rasa bahagia dengan persawahan yang kembali hijau ini dirasakan juga oleh para pemilik lahan persawahan. Kebahagiaan yang boleh jadi mengalir juga kepada para penggarap sawah atau bahkan kepada para buruh tani. Barangkali demikian.

Melihat lahan persawahan yang luas dengan warna hijau yang mendominasi, pikiran saya melantur kepada hal yang saya tak pahami. Pikiran itu, “ah, masa sih negara kita harus menjadi negara pengimpor beras?”.

Namun saya memaksa otak saya untuk berhenti berpikir. Saya lebih memilih untuk tetap melangkah, melanjutkan aktivitas jalan kaki pagi dan utamanya menikmati waktu yang masih tersisa di masa usia ini.

Sukabumi, 2 Februari 2020

16 respons untuk ‘Yang Kembali Hijau

Add yours

  1. Wah, sawahnya sudah hijau sekali, Pak. Pasti rasanya menyenangkan sekali jalan kaki pagi-pagi di pematang.

    Pemandangan dalam foto ini bikin saya ingat rumah kawan di Temanggung. Kehijauannya hampir sama. Tapi lebih banyak ladang tembakau ketimbang sawah. Dari atap rumahnya, kalau saya ke sana, biasanya kami duduk-duduk waktu pagi dan sore hari sambil mengagumi Gunung Sindoro.

    1. Membayangkan suasana di Temanggung, duduk2 sambil mengagumi Gn Sindoro sepertinya asik banget Mas.

      Saya belum pernah ke Temanggung, ada teman disana yang nyambung lewat twitter, konon sekarang ia giat usaha kopi.

      Salam,

  2. Adakalanya sesuatu yang berulang itu bisa juga dikemas menjadi sesuatu yang menarik Pak. Seringkali saya lihat di youtube orang2 membuat sebuah video dari kumpulan foto dari satu tempat yang sama, posisi yang sama setiap harinya. Menarik juga hasilnya. Seperti ikut menyaksikan tempat tersebut setiap harinya.

    1. Betul, saya sepakat dengan pendapatnya.
      Mengemas dg sentuhan yang berbeda, menyajikannya kembali, terasa sebagai hal yang baru…

      Salam,

  3. Melihat hamparan sawah menghijau seperti ini seperti melihat harapan dan semangat baru, belum lagi udara yang segar.

    Semoga penduduk negara agraria ini tidak ada yang mengalami kelaparan ya Kang.

    1. Hehehe…begitulah, Mbak.
      Tapi tetap saya suka menemukan hal-hal baru, baik dari apa yang saya lihat maupun dari apa yang terkadang saya pikirkan.

      Salam,

  4. jalan jalan di bentangan sawah menghijau dan langit biru … wah asyik banget
    mudah2-an bentangan sawah ini juga tidak beralih fungsi jadi perumahan

  5. Indah banget ini Kang, menghijau dan segeeerr banget!
    Di depan tempat tinggal kami, ada sawah juga, tapi nggak sepanjang tahun diolah, karena melihat air yang mengairi sawahnya berasal dari air hujan, itupun kalau hujannya deras ya tenggelam.
    Sekarang barusa diolah lagi, tidak sabar rasanya menanti masa hijaunya kayak gini.

    Sayapun kadang sedih nih, mengapa negara kita harus impor beras? sementara para petani begitu sedih dengan harga beras yang anjlok?
    Padahal beras asli dari petani jauh lebih enak 😦

    1. Iya nih Mbak setelah beberapa bulan sawah-sawah kekeringan, akhirnya saya bisa melihat lagi hijau terhampar.

      Nah, semoga sawah-sawah dekat tempat tinggal Mbak segera hijau kembali. Nikmat banget memandangnya Mbak.

      Itulah kenapa negara kita jadi pengimpor beras ya padahal sekian tahun ke belakang kita pernah swasembada pangan…

      Salam,

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: