Sarapan Pagi Ketupat Sayur Padang, Kenapa Tidak?

Salah satu kebiasaan saya seusai jalan kaki dengan durasi 60 menitan, pastilah menyempatkan untuk sarapan pagi.

Urusan sarapan pagi ini bisa variatif juga. Tidak hanya Bubur Ayam – yang memang tetap menjadi favorit saya – tapi juga bisa sarapan pagi dengan Nasi Uduk atau Ketupat Sayur atau Ketupat Tahu atau Ketupat Sayur Padang. Atau juga keluar dari rasa asin pindah ke rasa manis seperti menikmati kue Bandros dan segelas Kopi Susu.

Dari beberapa alternatif sarapan pagi tersebut, kali ini saya akan bicara tentang Ketupat Sayur Padang saja…

Ada beberapa pedagang ketupat sayur Padang yang saya temukan di kota Sukabumi. Namun setelah mencicipi racikan masing-masing pedagang, akhirnya saya kepincut – dan kemudian menjadi pelanggan setianya – dengan racikan ketupat sayur Padang yang mangkal di sudut pertigaan antara Jalan Kapt. Harun Kabir dan Jalan Jend. A. Yani.

Ketika kemarin saya mampir ke pedagang ketupat sayur Padang tersebut, saya melihat sesuatu yang baru di gerobaknya. Pada kaca gerobak tersebut kini tertulis kalimat “Syukurilah”.

Ketupat sayur Padang “Syukurilah”

Wah, kemajuan nih Uda – demikian saya memanggil pedagangnya karena saya yakin kalau pedagangnya itu orang Padang – memberikan identitas khusus. Jadi besok-besok dagangannya akan dikenal sebagai ketupat sayur Padang Syukurilah. Begitu mungkin, untuk membedakan dengan pedagang jajanan sejenis yang ada di Sukabumi ini.

Eh, tapi saya penasaran juga, apa yang  dimaksudkan Uda dengan kata “Syukurilah” tersebut. Saya tak tahan untuk bertanya, “Da, kenapa gerobaknya tiba-tiba diberi tulisan “Syukurilah”? Apa maksudnya, Da?”.

Jawaban Uda keren juga. Katanya, “Yang namanya jualan, Kang. Kadang laris dan rame. Kadang sepi pembeli. Apapun, tetap harus disyukuri. Semuanya sudah ada yang ngatur. Jadi ya itu Kang, syukuri saja apa yang diterima. Syukurilah, Kang...”.

Luar biasa kan jawabannya!

Sekarang saya intip apa yang Uda siapkan sebagai bahan racikan ketupat sayurnya.

Ada bahan utama berupa ketupat, racikan mie goreng, balado telur ayam dan kuah sayur nangka. Ada juga bahan tambahan berupa goreng kerupuk yang berwarna merah muda. Bahan-bahan inilah yang diracik dalam piring dan akhirnya menjelma menjadi sajian ketupat sayur yang mengundang selera.

Bahan racikan ketupat sayur Padang

Inilah seporsi ketupat sayur Padang lengkap dengan ketupatnya yang tersembunyi karena terendam kuah sayur nangka agak kental berwarna kuning dan tertutup oleh mie goreng, irisan buah nangka dan daun pakis. Balado telur ayam terlihat jelas dengan kerupuk warna merah muda ditaburkan diatas racikan ketupat sayur.

Seporsi ketupat sayur Padang lengkap

Komentar saya tentang ketupat sayur Padang Syukurilah ini; ketupatnya yang empuk, kuahnya yang kental dengan rasa asinnya yang pas, balado telurnya yang kenyal putihnya dan lembut kuningnya, irisan buah nangka, daun pakis dan kerupuknya sebagai pelengkap dan penyedap rasa… barangkali itulah poin-poin yang membuat saya jatuh cinta dan selalu kembali untuk menikmati ketupat sayur Padang “Syukurilah” ini.

Dan, sekarang saya siap menikmati seporsi ketupat sayur Padang…

Sebagai informasi, harga seporsi ketupat sayur Padang lengkap – “masih sama dengan harga tahun lalu, tidak ada kenaikan harga”, demikian kata Uda – Rp 10.000,00 saja.

Seusai sarapan, sebelum meninggalkan Uda, “boleh berfoto sejenak ya Da…“.

Bergaya sejenak bersama Uda…

Jadi, sarapan pagi dengan ketupat sayur Padang, kenapa tidak?

Sukabumi, 22 Januari 2020

31 respons untuk ‘Sarapan Pagi Ketupat Sayur Padang, Kenapa Tidak?

Add yours

  1. Saya dulu sempet suka sarapan ketupat sayur padang kang pas di bogor, kayaknya kalo yang akang cicipi enak ya. Kalo di sekitaran jakarta bumbu2 nya saya rasa agak kurang hehe. . Mungkin selera saya berbeda

    1. Iya Kang kalau yang ini enak pisan. Tapi mungkin kembali lagi ke selera, enak kata saya belum tentu pas dengan selera orang lain.

      Salam,

  2. Di Padang, katupat sayur ini jadi favorit orang-orang pas Minggu pagi, Pak, selain bubur kacang hijau bertoping roti tebal. Buat saya yang paling menggoda dari katupat sayur adalah kerupuk merahnya yang kayaknya satu level lebih krispi dan gurih ketimbang kerupuk lain. Hehehe…

    1. Sebetulnya saya penasaran Mas. Kalau di luar Padang kan ketupat sayur ini disebut ketupat sayur Padang, nah kalau di Padang sendiri disebutnya apa Mas?
      Tentang kerupuk merah, itu memang penambah rasa yang mantap pisan…

      Salam,

      1. Biasanya cuma disebut “katupek” saja sih Pak. Kecuali kalau ketupat itu versi daerah tertentu di Sumatera Barat. Ada yang namanya “katupek Pitalah” karena berasal dari daerah bernama Pitalah, Kab. Tanah Datar. Hal lain yang bikin ada adjektiva di belakang katupek itu biasanya kekhasannya, Pak. Di Sumbar itu ada namanya “katupek gulai toco” karena kuahnya pakai bumbu tauco. Ada juga “katupek gulai tunjang” karena pakai condiment berupa kulit sapi.

    1. Eh Mbak, disana mah gak ada daun pakis ya?
      Bikin dong di youtube-nya Mbak cara meracik ketupat sayur Padang yang khas Mbak Kayka…

      Salam,

      1. disini gak ada kang. kemarin itu dibawain daun pakis langsung dari Sumatera lho dan dimasakin di Jakarta. videonya udah mau diproses. tungguin yaaa….

    1. Aih Mbak, jadi bikin lapar ya?
      Kapan-kapan kalau ke Sukabumi, mampir kemari Mbak.
      Dan ya, menulikan Syukurilah di gerobaknya itu keren banget…

      Salam,

  3. Duh Kang, melihat ketupat sayur ini saya jadi nelan ludah. Di tempat saya, yang ada campuran daun pakis itu jarang2 ditemukan.

    1. Sepertinya daun pakis itu baru saya temukan di pedagang ketupat sayur ini, Mbak.
      Beberapa pedagang ketupat sayur yang saya coba di Sukabumi gak menyertakan daun pakis ini dalam racikannya…

      Salam,

  4. Kelihatan enak Pak, walau hanya dari gambar saja. Kekentalan dan warna kuahnya kelihatan pas, tidak telalu berminyak. Jadi ikutan lapar 🙂

    1. Oh iya benar 2 hal itu – kekentalan dan warna kuahnya – memang demikian pas. Ini salah satu yang bikin saya ingin kembali lagi menikmatinya.

      Salam,

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: