Mural di Kota Sukabumi: Ketika Dinding Tak Lagi Bisu

Saat ini sudah menjadi pemandangan yang lazim dinding-dinding di berbagai kota telah dipenuhi dengan lukisan-lukisan dinding, atau apa yang dikenal sebagai mural.

Saya tidak tahu kapan mural mulai bertebaran menghiasi dinding-dinding berbagai kota dan entah juga siapa yang memulai menggerakkan aktivitas ini, sehingga seperti tiba-tiba saja dinding-dinding tidak lagi kosong tanpa makna dan suara namun kini dipenuhi dengan lukisan-lukisan artistik, tak lagi bisu dan menyuarakan berbagai ekspresi.

Hal yang sama terjadi juga di kota Sukabumi. Kini dinding-dinding di beberapa sudut jalan telah dipenuhi mural dengan tema yang beragam mulai dari lukisan abstrak, keprihatinan atas suatu peristiwa sampai dengan pandangan yang kritis atas satu fenomena yang terjadi.

Di kota Sukabumi, saya menemukan 4 lokasi yang dindingnya telah dihias mural yaitu di Jl. RE Martadinata, Jl. Alun-alun Utara, Jl. Pemuda dan terakhir di Jl. Baledesa.

Mari simak dan perhatikan mural pada lokasi-lokasi yang saya sebutkan diatas.

***

Mural di Jalan RE Martadinata

Ada beberapa mural di dinding Jl. RE Martadinata, namun perhatian saya terfokus pada mural yang ukurannya lumayan panjang. Mural ini bertuliskan “Pray for Everything” dengan disebelah kiri tulisan tersebut terdapat lukisan gunung dan laut.

Mural di Jl. RE Martadinata

Saya menafsirkan mural ini sebagai ekspresi keprihatinan terhadap bencana tsunami yang terjadi di Selat Sunda baru-baru ini dan mengajak untuk berdoa, baik untuk korban-korban bencana tersebut maupun agar bencana tersebut tidak terulang kembali.

Mural di Jl. RE Martadinata ini sepertinya selalu update dengan peristiwa-peristiwa terkini. Beberapa minggu lalu saya masih melihat mural bertuliskan “Soempah Pemoeda” pada dinding ini dengan latar belakang berwarna merah dan gambar tangan yang mengepal di sebelah kiri.

Mural bertema Sumpah Pemuda itu menggambarkan ajakan agar kaum muda harus tetap bersemangat mengejar apa yang menjadi tujuan hidupnya atau apa cita-citanya dengan mengambil teladan dan semangat dari peristiwa bersejarah Soempah Pemuda.

Mural di Jl. RE. Martadinata

Mural di Jalan Alun-alun Utara

Jalan dengan ruas pendek yang menghubungkan bagian utara Alun-alun Sukabumi dengan Lapang Merdeka telah dihiasi mural dengan warna-warni ceria yang cukup mencolok.

Mural di Jl. ALun-alun Utara

Saya mengamati satu demi satu deretan mural tersebut, mencoba memahami apa maksud dibalik lukisan-lukisan itu. Beberapa mural saya pahami karena melukiskan hal yang real, seperti lukisan berbentuk bunga.

Namun dengan mural lainnya saya menyerah dan gagal paham, karena dominan dengan lukisan abstrak.

Mural di Jl. Alun-alun Utara

Pada bagian depan deretan mural, terdapat lukisan real berbentuk kepala kuda dan seorang gadis.

Walaupun tak perlu berpikir lama untuk memahami mural ini, seperti ketika mengamati mural dengan lukisan abstrak, tapi tetap menyisakan pertanyaan, “Siapa gerangan gadis yang dilukis tersebut?”.

Mural di Alun-alun Utara

Mural di Jalan Pemuda

Mural di ujung Jl. Pemuda yang bertabrakan dengan Jl. Pelabuhan merupakan lukisan abstrak dengan warna-warni yang ceria dan mencolok. Mural yang bertuliskan identitas Carnifolks – Sukabumi Street Art tidak dapat saya pahami maksud yang terkandung dari lukisan itu, namun saya mengagumi paduan dan harmonisasi warna yang demikian dinamis.

Ini mural yang terdapat di ujung Jl. Pemuda.

Mural di Jl. Pemuda

Mural di Jalan Baledesa

Mural di Jl. Baledesa ini saya kategorikan mural yang unik, karena di lokasi ini tidak hanya terdapat mural yang berwarna namun terdapat juga mural warna hitam-putih yang sarat dengan pandangan kritis terhadap dunia pendidikan.

Pada dinding bagian depan, disuguhkan mural dengan warna-warni yang ceria. Mural ini bergambar lelaki bertopi dan berkumis tebal. Entah kenapa saya menginterpretasikan lelaki ini sebagai seorang pelaut, mungkin karena bentuk topi yang dikenakannya.

Apakah mural ini bermaksud mengingatkan bahwa bangsa kita adalah bangsa pelaut?

Mural di Jl. Baledesa

Disebelah lukisan lelaki itu terdapat lukisan seorang wanita. Ah, mungkin ini menggambarkan bahwa sejauh-jauhnya seorang melaut, ia akan kembali juga ke pujaan hatinya. Lebih jauh mungkin ingin menyampaikan bahwa sejauh-jauhnya orang merantau akan kembali juga ke pangkuan ibu pertiwi.

Pada bagian dalam, kita disuguhi mural hitam-putih. Mural ini yang saya sebut sebagai mural yang berisi pandangan kritis terhadap fenomena dunia pendidikan yang terjadi saat ini.

Mural di Jl. Baledesa

Saya memandang mural hitam-putih ini dan mencoba memahami apa maksud yang terkandung dalam rentetan lukisan-lukisannya. Untuk memahaminya, saya membagi mural ini kedalam 3 potongan yang setiap potongannya mengandung fragmen penting.

Fragmen pertama berpijak pada pernyataan “Education Not for Sale”. Ini boleh jadi semacam pandangan kritis terhadap dunia pendidikan yang dirasakan mahal pada saat ini, sehingga tidak setiap warga masyarakat bisa memasuki dunia pendidikan terutama untuk jenjang yang semakin tinggi. Atau mungkin juga mengkritisi praktek pengelolaan pendidikan yang tidak berbeda dengan pengelolaan satu badan usaha.

Mural di Jl. Baledesa

Fragmen kedua seperti menyerang kepada kerancuan metode pendidikan yang saat ini dijalankan, sehingga mereka berucap, “Kami butuh pengajaran yang memanusiakan manusia, bukan pendidikan yang mengkerdilkan siswa”.

Mural di Jl. Baledesa

Fragmen ketiga, menurut saya fragmen ini merupakan output dari kerancuan yang diakibatkan oleh fragmen pertama dan fragmen kedua, bermuara pada kalimat “Untuk apa ijazah menumpuk, jika kepedulian tidak dipupuk”.

Digambarkan dengan lulusan pendidikan tinggi yang menggunakan ijazahnya hanya untuk mendapatkan uang semata tanpa menjadikan kemampuannya untuk meningkatkan kepeduliannya kepada generasi penerus dan masyarakat umumnya.

Mural di Jl. Baledesa

Mural hitam-putih itu cukup “pedas” dan membuat saya berpikir agak lama ketika memandangnya.

Saya berpikir dan bertanya dalam hati, apakah benar pada masyarakat umumnya dan dunia pendidikan khususnya telah terjadi fenomena seperti apa yang dilukiskan dalam mural hitam-putih itu?

***

Setelah saya menyimak dan mencoba memahami pesan yang disampaikan mural di beberapa lokasi tersebut, tebersit pertanyaan di benak saya antara lain:

  • Siapakah mereka yang menjalankan aktivitas pembuatan mural ini?
  • Darimana mereka belajar dan meningkatkan kemampuan melukis mural?
  • Bagaimana mereka memperoleh dana untuk menjalankan aktivitas ini, misalnya untuk pengadaan alat-alat dan cat yang dibutuhkan?
  • Bagaimana pandangan dan tanggapan Pemerintah Kota Sukabumi terhadap aktivitas mural ini?

Sampai saat ini saya belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas. Semoga saja nanti saya akan memperoleh jawaban dan kembali akan saya sampaikan melalui blog ini.

Namun bagaimanapun saya salut dengan aktivitas mural ini, selain dinding-dinding kota tak lagi kotor dengan coretan-coretan yang tidak jelas dan tidak mengandung nilai estetika, kini dinding-dinding kota menjadi indah dan menjadi sarana untuk menyalurkan dan menyuarakan berbagai ekspresi yang tidak dapat disalurkan melalui media lain.

Ya, kini dinding-dinding kota tak lagi bisu.

Sukabumi, 1 Februari 2019

33 respons untuk ‘Mural di Kota Sukabumi: Ketika Dinding Tak Lagi Bisu

Add yours

  1. Sama, di Bandung pun banyak mural dan aku gak tahu siapa pelakunya. Tapi aku lebih suka begini aih daripada corat-coret ga jelas tanpa makna. Btw, bagus tulisannya sampai dibahas mendalam 🙂

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: