Satu Jam yang Ceria bersama NonaRia di Sukabumi

Walau hari Minggu selalu ceria – atau diusahakan untuk selalu ceria – namun Minggu, 25 Maret 2018, ada kecerian lebih yang saya rasakan. Keceriaan ini dialirkan oleh tiga nona melalui lagu-lagu yang mereka sajikan dalam penampilannya. Tiga nona tersebut menamakan diri mereka sebagai NonaRia.

Kehadiran NonaRia di Sukabumi selain mengalirkan keceriaan, juga semacam kejutan. Setelah saya menyimak debut albumnya sejak bulan Februari 2018 dan mengikuti jejak NonaRia – lewat akunnya di instagram dan twitter  – yang sibuk mengadakan promo tour albumnya ke berbagai kota dan timbul pertanyaan kapan kiranya mereka akan mampir di Sukabumi.

Setidaknya saya sempat bertanya kepada NonaRia lewat twitter, tentang adakah rencana mereka untuk tampil di Sukabumi. Jawaban mereka seakan sebuah janji. Memang ada rencana untuk mampir mempromosikan albumnya di Sukabumi, namun kepastian waktunya mereka belum bisa menentukan. Demikian NonaRia sampaikan.

Akhirnya sampailah ke hari Minggu, 25 Maret 2018, NonaRia tampil di cafe Rumah Mesra, Sukabumi.

***

Siapakah NonaRia?

NonaRia adalah kelompok musik yang terdiri dari trio nona. Mereka adalah nona Nesia Ardi (vokalis dan bermain snare drum), nona Yasintha Pattiasina (bermain biola) dan nona Nanin Wardhani (bermain piano dan akordeon).

Pertama kali saya menyimak sajian musik NonaRia pada festival jazz Jakarta International Jazz Day yang berlangsung pada hari Minggu, 30 April 2017. Saat itu NonaRia tampil berkolaborasi dengan kelompok musik Dua Empat yang terdiri duo gitaris jazz muda, Alvin Ghazalie dan Misi Angellita Lesar.

Kolaborasi NonaRia dan Dua Empat di Jakarta International Jazz Day 2017

Meminjam istilah dari satu iklan, “kesan pertama demikian menggoda”, kurang lebih begitulah kesan pertama saya menyimak penampilan NonaRia. Bagaimana tidak, mereka mengusung musik akustik yang bernuansa vintage. Ada sentuhan rag time dan waltz yang benar-benar menghanyutkan pendengaran saya ke nuansa musik klasik Indonesia dan genre jazz di sekitar tahun 50-an.

Cover album NonaRia dengan tanda-tangan

Pada bulan Februari 2018, sampailah ke tangan saya debut album NonaRia. Album dengan self-titled NonaRia ini menyajikan 8 lagu. Gaya musik pada album ini berkukuh pada musik bernuansa vintage, persis sama dengan seperti yang saya simak saat di Jakarta International Jazz Day. Beragam sentuhan gaya musik dapat disimak pada lagu-lagu di album ini seperti ragtime, waltz dan cha-cha.

Tema-tema yang disampaikan pada setiap lagu diangkat dari keseharian yang ditulis dalam bahasa yang sederhana, lugas dan tanpa pretensi. Tak heran bila ditemukan cerita tentang kejadian yang konyol seperti digambarkan dalam lagu Maling Jemuran, atau tentang teman makan yang jarang diperbincangkan dalam pembicaraan kuliner masa kini pada lagu Sayur Labu, atau menikmati sore sehabis letih seharian bekerja berteman kopi, pisang goreng dan gula jawa pada lagu Santai sampai dengan cibirannya tentang sulitnya budaya antri dalam realita kehidupan sehari-hari seperti dalam lagu Antri Yuk.

Keunikan NonaRia tidak berhenti pada gaya musik dan lirik lagu-lagunya, juga pada cover CD albumnya. Ketiga personil NonaRia tidak ditampilkan dalam bentuk potret diri namun dalam bentuk ilustrasi karakter yang mengingatkan pada ilustrasi yang biasa ditemui pada komik. Termasuk ucapan terima kasih atas dirilisnya album disampaikan oleh personil NonaRia dalam bentuk 3 lembar kartu pos dengan berilustrasi masing-masing personil, yang disisipkan dalam kemasan CD albumnya. Juga terdapat liner-notes berisikan delapan lagu yang lengkap dengan liriknya.

3 lembar kartu pos NonaRia

Kepenasaran saya yang utama kepada NonaRia adalah pada pilihannya menyajikan musik vintage. Hal ini saya tanyakan kepada NonaRia saat saya mendaulat mereka untuk menanda-tangani cover album sebelum tampil penampilannya. Jawaban mereka tidak mengawang-awang kearah teori musik yang rumit, namun sederhana dan lugas. Mereka bilang, “karena kita suka”. Ya, sesederhana itu jawaban mereka.

NonaRia dan saya, sejenak berfoto

Menurut saya, dari jawaban yang sederhana itu terkandung suatu keberanian dalam menentukan pilihan gaya musik vintage yang NonaRia sajikan, ditengah mayoritas musik di tanah air berada dalam corak yang sama sekali berbeda. Sepertinya hal ini disadari oleh NonaRia sehingga mereka giat mengadakan tour albumnya ke berbagai kota untuk memperkenalkan albumnya dan musik garapannya kepada khalayak pencinta musik.

Satu Jam yang Ceria

NonaRia memulai penampilannya pada jam 18.30 dengan lagu pertama mereka berjudul Salam NonaRia. Lagu yang seperti ditakdirkan untuk membuka penampilan NonaRia pada setiap pergelarannya juga merupakan lagu pertama pada debut albumnya.

Kami NonaRia,
Datang tuk menghibur anda,
Berikan senyummu, tinggalkan susahmu,
Mari kita bernyanyi…

Demikian bait pertama Salam NonaRia yang menggambarkan awal dari keceriaan yang bakal dialirkan NonaRia selama penampilannya.

Ruangan cafe Rumah Mesra yang tidak begitu luas, namun juga tidak bisa dikatakan sempit, membuat kedekatan jarak antara NonaRia dan penonton yang hadir. Kedekatan jarak itu menciptakan suasana yang demikian akrab.

Penampilan NonaRia di cafe Rumah Mesra, Sukabumi | sumber: IG @nonariamusic foto by @saptita

Komunikasi dua arah dengan penonton selain terjalin melalui lagu-lagu yang disuguhkan juga dibangun dengan memanfaatkan jeda waktu antara satu lagu dengan lagu berikutnya. Selain diisi obrolan penuh canda dan kadang saling ledek antara Nesia dan Yasintha, juga sering dilempar sapaan dan obrolan dengan penonton.

Saat lagu ke-5 dibawakan, sebuah lagu lawas berjudul Kopral Jono ciptaan komponis Ismail Marzuki, dan Nesia mengajak penonton untuk jangan malu-malu bila ingin berjoget bersama, “kegilaan” penonton seperti tak terbendung lagi. Suasana yang dari semula demikian akrab beranjak menjadi demikian meriah.

Saya terhanyut ketika lagu favorit saya dibawakan. Lagu itu berjudul Santai. Lagu ini berisi ajakan untuk sejenak bersantai melepas lelah setelah seharian bekerja. Setting suasana santai saat menjelang senja di dramatisir dengan menghadirkan kopi, pisang goreng dan gula jawa.

Santai saja Pak, santai saja
Duduk dulu Pak, lepas lelah
Hari sudah semakin senja
Bersantailah lepas kerja
Tak ‘kan dia lari si esok hari

Kopi dulu Pak, santai saja
Pisang goreng Pak, gula jawa
Matahari telah berjanji
Dia ‘kan datang esok pagi
Tersenyumlah, santai saja

Lagu Santai dengan aransemen musik yang cenderung berwarna waltz ini demikian syahdu. Menyimak lagu ini seakan dibuai dengan kelembutan semilir angin menjelang senja apalagi dipertengahan lagu melodi berdurasi agak panjang dari gesekan biola Yasintha seakan mempertegas suasana santai menjelang senja dan pesan yang ingin disampaikan oleh lagu ini.

Sila simak Santai dan rasakan suasana santai dan syahdu saat melepas lelah seusai penat bekerja seharian.

Penampilan NonaRia ditutup dengan lagu berjudul Antri Yuk. Dengan irama ragtime yang riang lagu ini menggambarkan realita keseharian masyarakat kita yang sulit sekali untuk melakukan hal yang sebenarnya sangat sederhana, yaitu antri.

Ayo Teman, belajar antri…

Penampilan NonaRia dengan durasi satu jam telah menyuguhkan 10 lagu. Kesepuluh lagu tersebut terdiri dari 8 lagu yang berasal dari debut albumnya ditambah 2 lagu, Kopral Jono dan Tamasya, yang sering NonaRia bawakan pada berbagai penampilannya.

Sungguh, satu jam yang menawan dan penuh suasana ceria.

***

NonaRia menawarkan sesuatu yang berbeda kepada belantika musik Indonesia. Ditengah mayoritas musik yang serba elektrik dan digital, NonaRia seakan membawa ke arah yang berlawanan dengan menyajikan musik bernuansa vintage yang sederhana, akustik namun terasa demikian syahdu dan romantis.

Terakhir, salut dengan keberanian NonaRia yang menyuguhkan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang – katakanlah – bertolak belakang dengan mainstream musik masa kini.

Terus berkarya NonaRia. Sukses selalu.

Sukabumi, 6 April 2018

Catatan:

Kesepuluh lagu yang dibawakan NonaRia, sesuai dengan urutan penyajiannya, sebagai berikut:

  1. Salam NonaRia
  2. Sayur Labu
  3. Senandung
  4. Tamasya
  5. Kopral Jono
  6. Sebusur Pelangi
  7. Maling Jemuran
  8. Santai
  9. Hari Bahagia
  10. Antri Yuk
Iklan

16 tanggapan untuk “Satu Jam yang Ceria bersama NonaRia di Sukabumi

    1. Iya Mbak pokoknya seru pisan. Musik mereka yang akustik nikmat banget disiman secara langsung dan di ruangan yang tidak terlalu besar.
      Betul, keren banget…

      Salam,

  1. Sebagai penggemar Jazz, kehadiran Nonaria di Sukabumi tentunya seperti dapat angin segar ya Pak Tik. Semoga makin banyak pentas Jazz di Sukabumi ya

  2. Asik nih, Kang. Dan saya jadi tahu siapa nonaria dan lengkap juga ada videonya.
    Tonton dulu ah, penasran..he

  3. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Titik Asa…
    Didoakan sentiasa sihat dan dirahmati Allah SWT.

    Saya sudah mendengar lagu Santai dan Antri Yuk dari NonaRia. Ternyata suara Nona Nesia Ardi selaku vokalisnya sangat merdu, lembut dan sesuai dengan bawaan melodi lagu yang dibawanya. Musik vintange itu memang kita selalu dengar dalam filem-filem lama seperti The Peyton Place. Jika diamati liriknya memang nampak ceria, lucu dan mudah difahami. Ternyata musik Jazz ini ringan dan sentimental walau dibawa dalam irama yang rancak. Pertemuan dengan Nonaria pasti satu kenangan indah buat peminat seperti mas Titik ya.

    Salam sejahtera dari Sarikei, Sarawak.

  4. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Titik Asa…

    Didoakan sihat sekeluarga di sana. Maaf kerana lama tidak berkunjung kemari. Lama juga tidak menulis ya, harap dapat semangat menulisnya lagi, mas.

    Tiada bicara yang dapat saya titipkan dalam kesyahduan hati bagi meraikan kemeriahan hari raya 2018 ini melainkan saya dan keluarga ingin menghulur salam kemaafan di Aidil Fitri yang mulia dengan ucapan….

    Gemersik takbir mengundang hiba,
    Salam diutus tanda ingatan,
    Syawal dinanti menjelang tiba,
    Tangan dihulur pohon kemaafan.

    SELAMAT HARI RAYA AIDIL FITRI
    MINAL AIDIL WAL FAIZIN
    MOHON MAAF ZAHIR DAN BATHIN

    Salam Ramadan al-Mubarak dari Sarikei, Sarawak. 🙂

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s