Sawah Ladang Rindu Menanti

Jalan kaki pagi di hari libur minggu lalu saya lakukan dengan agak khusus, setelah biasanya jalan kaki pagi saya selalu menyusuri sudut-sudut kota. Kali ini saya ingin jalan kaki sambil melihat-lihat pemandangan alam, persawahan dan detak kehidupan yang terjadi di sekitar desa tempat saya tinggal. Rute yang saya ambil dengan menyusuri jalan kereta api dan berjalan ke arah barat.

Loh, apa hubungannya antara melihat-lihat persawahan, jalan kaki menyusuri jalan kereta api dan berjalan ke arah barat?

Jawabannya sederhana saja. Persawahan banyak terbentang di sebelah kiri dan kanan jalan kereta api, jadi akan mudah untuk memperhatikan di berbagai lokasinya. Kemudian saya memilih berjalan ke arah barat, karena sinar matahari pagi akan jatuh di bagian belakang badan saya dan, ini yang saya suka, akan memberikan kehangatan kepada punggung.

Langkah-langkah awal saya berjalan di jalan kereta api tak lepas dari perasaan lega dan syukur. Lega, karena dengan menarik nafas sepuasnya paru-paru saya mendapat asupan udara bersih yang melimpah. Syukur, karena keadaan disini tetap hijau dengan dedaunan pohon-pohon, sawah-sawah yang subur dan aliran air yang melimpah.

Bagaimana perasaan ini tidak lega dan penuh syukur bila disebelah kiri tampak hijau dan rimbun dengan dedaunan dari pepohonan yang tumbuh subur disana, sedangkan disebelah kanan terdapat petak-petak persawahan yang berair jernih dengan padi yang baru tumbuh, seperti yang tampak pada foto dibawah ini.

Semakin jauh saya melangkahkan kaki, terbentang persawahan luas yang menghijau. Sebagian dengan padi yang telah tumbuh meninggi, sebagian lagi dengan padi yang masih baru tumbuh.

Saya masih merasakan bahwa persawahan ini demikian luas walaupun konon kini disana-sini lahan persawahan kian menyusut luasnya, kian tergerus dan telah bertransformasi menjadi lahan industri maupun lahan perumahan.

Lahan persawahan yang kian menyusut, sebutlah itu sebagai fakta pertama kondisi pertanian yang memprihatinkan. Fakta kedua, menyeruak kedepan mata ketika memperhatikan dari jauh mereka yang sedang bekerja di lahan persawahan.

Siapa mereka yang bekerja di sawah ini?

Mereka kebanyakan pekerja-pekerja yang tidak bisa dikatakan berusia muda lagi. Kemana pekerja usia muda? Adakah yang masih tertarik bekerja di lahan pertanian, seperti misalnya bekerja di persawahan?

Inilah yang saya lihat sebagian pekerja-perkerja yang tetap bekerja di sawah walau ini hari libur…

Melihat pekerja-pekerja itu, entahlah seakan terngiang di telinga saya lirik lagu lawas ini,

Oh pendekar putri nan cantik
Dengarlah panggilan ibu
Sawah ladang rindu menanti
Akan sumbangan baktimu

Lirik lagu itu adalah penggalan dari lagu berjudul Melati di Tapal Batas. Lagu itu ditulis oleh komponis besar Indonesia Ismail Marzuki pada tahun 1947.

Ismail Marzuki menulis lagu itu untuk mengenang keberanian gadis-gadis yang banyak ditemukan kehadirannya pada front-front pertempuran. Bahkan di Front Bekasi tercatat ada sekelompok perempuan, anak-anak petani, yang membentuk kesatuan perlawanan khusus bernama Barisan Srikandi yang aktif menghadapi tentara-tentara Inggris dan Belanda dalam era revolusi kemerdekaan.

Apakah lagu itu masih relevan dengan kondisi persawahan dan pertanian umumnya saat ini?

Seandainya kita perluas makna kata “putri nan cantik” dengan “angkatan kerja usia muda” saat ini, dan kata “sawah ladang” dengan “lahan pertanian”, saya pikir makna lagu itu relavan dengan kondisi pertanian saat ini. Memanggil kembali angkatan kerja usia muda untuk bekerja di lahan pertanian, mengingat fakta bahwa negeri kita ini negeri agraris.

Sambil duduk merenung menatap persawahan dan merasakan hembusan angin lembut yang menerpa, saya senandungkan dengan lengkap lagu Melati di Tapal Batas ini,

Engkau gadis muda jelita
Bagai sekuntum melati
Engkau sumbangkan jiwa raga
Di tapal batas Bekasi

Engkau dinamakan Srikandi
Pendekar putri sejati
Engkau turut jejak pemuda
Turut mengawal negara

Oh pendekar putri yang cantik
Dengarlah panggilan ibu   
Sawah ladang rindu menanti
Akan sumbangan baktimu   

Duhai putri muda remaja 
Suntingan kampung halaman
Kembali ke pangkuan bunda
Berbakti kita di ladang

Seberkas tanya masih tersisa ketika saya berdiri dan akan melanjutkan jalan kaki pagi. Hanya tanya yang entah darimana saya akan dapatkan jawabannya.

Pertanyaan itu kurang lebih: Apakah menarik bagi angkatan kerja muda usia masa kini untuk bekerja di sawah atau lahan pertanian? Adakah dan siapakah kiranya “ibu” yang akan “memanggil” mereka?

Sukabumi, 3 Oktober 2017

Catatan:

  • Biografi Ismail Marzuki, dapat dibaca pada tautan ini.
  • Gadis Cantik di Balik Lagu “Melati di Tapal Batas”, dapat dibaca pada tautan ini.
  • Foto-foto diambil di area persawahan disekitar Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi.
Iklan

22 pemikiran pada “Sawah Ladang Rindu Menanti

  1. petani jd orang yang terpinggirkan walau sdh banyak dibantu pemerintah, tanah juga semakin sempit. Btw aku paling suak lihat area persawahan yang masih hijau, adem rasanya

    • Memilukan ya mbak nasib petani ini. Entah kapan kehidupan mereka akan terangkat, Padahal ketahanan pangan bergantung pada mereka ini.
      Betul mbak, adem dan tenang berada di persawahan yg hijau.

      Salam,

    • Ide yg baik nih Om. Model atau teladan sepertinya diperlukan untuk menarik minat kaum muda.
      Coba ya Om acara seperti Indonesian Idol itu tidak hanya urusan nyanyi-bernyanyi saja tapi juga urusan prestasi bertani anak-anak muda, misalnya…

      Salam,

  2. Itu pemandangnya mirip arah Jakarta-Kebumen ya ? Ya, ya pulau jawa semakin menyempit lahan persawahan, berubah menjadi perumahan atau tempat hunian, atau pabrik-pabrik. Anak muda disuruh kesawah, malu dan gengsi. Lebih asik megang hape daripada cangkul. Kerja dipabrik lebih menjanjikan upahnya.

    • Arah Jakarta – Kebumen sehijau itu ya Mas? Itu arah Sukabumi – Bogor, masih hijau di kiri-kanan jalan kereta, masih asri.
      Betul juga, bekerja di sawah urusan gengsi dan pendapatan yang tidak sebesar bekerja di pabrik. Kalau bekerja di pabrik mengenal UMR, gak ada aturan UMR untuk bekerja di sawah ya Mas?

      Seperti juga yg Mas bilang diatas, betul kebanyakan yg bekerja di sawah kebanyakan hanya pekerja, atau bhs kasarnya ‘buruh tani’, pekerja yg minim pendapatan dan gak ada aturan untuk urusan kesejahteraannya.

      Terkahir, dulu kita mengenal istilah ‘lumbung padi’ pd daerah penghasil padi terbesar di jawa barat, kemudian negeri kita juga pernah ber-‘swasembada pangan’. Saat ini malah negeri kita pengimpor beras terbesar. Saya pikir ini benar-benar malprestasi yang entah siapa yang harus memikirkannya…

      Terima kasih atas bbrp komentarnya Mas. Setidaknya komentar-komentar tersebut mewakili juga keresahan saya melihat yg terjadi di sektor pertanian saat ini.

      Salam,

  3. Masih sangat hijau sekali Kang. Paru-paru masih mendapatkan oksigen yg belum tercampur polusi ini.
    Semoga harapan petani muda itu segera terwujud, krn kalau tidak, lahan pertanian bisa2 tinggal kenangan. Disekitar tempat tinggal sekarang, dalam hitungan kurang satu bulan saya ga melewati persahan tersebut, tau-tau sudah berubah jd lahan perumahan 😥

    • Iya Mbak area hijau masih luas terhampar disini. Alhamdulillah masih sejuk dan asri.

      Miris banget baca kalimat dari Mbak “lahan pertanian bisa2 tinggal kenangan”. Moga hal ini tidak terjadi ya Mbak dan moga juga ada suatu gerakan dari penguasa negeri untuk mencegah agar hal ini tidak terjadi.
      Tapi melihat kenyataan terjadi penyusutan lahan pertanian – seperti yang Mbak saksikan di sekitar tempat tinggal – koq sepertinya tidak ada regulasi untuk mengatur urusan ini…apa memang sebegitunya pembiaran itu terjadi…

      Salam,

  4. Betul juga ya kang, klo lahan persawahan berubah jd perumahan or pabrikan yang untung orang2 berduit, lha petani kerja apa? alih profesi barangkali jadi pedagang. Perubahan memang senantiasa terjadi tak bisa dihindari, tinggal bagaimana menghadapi dan penyikapi perubahan (sebagai sebuah masalah) menjadi sebuah oportunity atau peluang. Itu mungkin ya Kang. Lama juga saya ga mampir ke sini, hehee… apa kabar ya kang, semoga sehat wal’afiat selalu, amien.

    Salam takzim dari Dompu-NTB

    • Betul Mas memang secara umum terjadi transformasi dari masyarakan agraris ke industri, suatu perubahan yg tak bisa dihindari. Namun alangkah baiknya bila sektor pertanian tidak ditinggalkan atau dibiarkan nasibnya seperti ini. Yang bijak, seperti yg Mas bilang, bagaimana mengubah masalah menjadi peluang. Tapi sepertinya disini banyak malah yg jadi korban ya Mas?

      Terima kasih Mas sudah mampir kembali. Semoga silaturahmi kita melalu blog tetap berlanjut.

      Salam hangat dari saya di Sukabumi.

  5. beruntung banget masih bisa melihat pemandangan hijau2 begitu mas.. aku harus pulang kampung dulu supaya bisa liat area persawahan… Tapi bener yaa, skr ini ga banyak anak muda yg mau kembali kerja di pertanian/sawah.. mereka lbh milih pabrik ato kerja kantoran.. aku sendiri kalo ditanya, pasti juga memilih yang sama -__- . Ntah di mana salahnya sampe orang2 muda ga mau lagi kerja yang begitu

    • Iya mbak, pemandangan masih hijau disekitar tempat tinggal saya. Alhamdulillah, masih segar.
      Nah itu mbak, bekerja di sawah atau lahan pertanian tidak lagi merupakan profesi yang menarik bagi orang-orang muda saat ini. Saya pikir ini semacam PR besar bagi pemerintah saat ini.

      Salam,

  6. memang menyenangkan berjalan jalan ke desa .. melihat pesawahan dan kebun2 yang hijau .. bikin hati tentram dan adem. Daerah Sukabumi Bogor banyak tempat seperti ini .. apalagi dengan kontur tanahnya yang berbukit .. semakin asyik untuk dijelajahi dan di pandang

    • Memang tetap asyik berjalan dan melihat-lihat alam yg masih asri dan hijau.
      Semoga keadaan ini berlangsung lama mengingat semakin tergerusnya area-area seperti ini.

      Salam,

  7. Bagus tulisannya mas 🙂 . Foto2nya jg bikin adem. Sampe skr impianku, kalo bisa saat pensiun nanti, bisa tinggal di tempat yg tenang adem gitu :D. Walopun, kalo pertanyaan di lagu tadi ditanya ke aku, mau ga kerja di bidang agraris, ato di sawah, dan ladang.. Aku ga yakin bakal jawab mau -_-.. Pertama bidang ilmu ku jg bukan di situ. Kedua, kerjaan fisik di lapangan gitu, sepertinya ga bakal sanggub juga :D. Dilema yaa.. Negara kita memang negara agraris, tp toh para pemudi dan pemudanya masih lbh memilih kerjaan nyaman kantoran..

    • Memang benar dilema ya mbak.
      Kenyataannya memang bekerja di kantor atau di pabrik lebih menjanjikan bagi generasi sekarang ini.
      Terima kasih atas komentarnya.

      Salam,

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s