Freedoms Jazz Festival: Panggung Generasi Muda Musisi Jazz Indonesia

Freedoms Jazz Festival adalah festival jazz yang rutin digelar pada setiap bulan Agustus sejak tahun 2015. Pergelaran yang merupakan hasil kerja dari iCanStudioLive ini berformat satu hari-satu penampil, berlangsung selama 17 hari, digelar di studio iCanStudioLive di Jakarta. Nama Freedoms terinspirasi dari makna bulan Agustus sebagai bulan Kemerdekaan bagi negara kita.

Tahun ini Freedoms Jazz Festival kembali digelar dengan format pergelaran yang sedikit berbeda. Selain format satu hari-satu penampil, yang dimulai sejak 1 Agustus sampai 17 Agustus, juga ada tambahan pergelaran satu hari yang berlangsung pada Sabtu, 19 Agustus 2017. Satu pergelaran tambahan ini diberi nama Freedoms Jazz – After Party dan dilaksanakan di foreground stage mall fX Sudirman, bersamaan dengan ulang tahun ke-9 mall ini.

Freedoms Jazz – After Party (sumber: freedomsjazz.com)

Dari keseluruhan rangkaian pergelaran Freedoms Jazz tahun ini saya pribadi hanya berkesempatan menghadiri pergelaran Freedoms Jazz – After Party. Dengan melihat enam kelompok musisi jazz muda yang akan tampil pada pergelaran ini, rasanya sayang sekali bila event ini saya lewatkan begitu saja.

***

Persiapan panggung di foreground fX Sudirman

Saya sampai di pelataran mall fX Sudirman saat pergelaran belum dimulai. Panggung dan peralatan musik masih dalam tahap persiapan dengan beberapa pekerja yang sedang sibuk memasang berbagai alat pendukung agar pergelaran nanti berjalan lancar. Saya lihat beberapa musisi bergantian naik ke panggung. Hal yang biasa mereka lakukan sebelum penampilan mereka nanti. Sound check, demikian istilah mereka.

Salah seorang musisi jazz muda yang saya kenal lewat karya-karyanya, namum namanya tidak tertera dalam daftar penampil, saya lihat kehadirannya. Ia, Alvin Ghazalie.

Alvin Ghazalie, gitaris, telah merilis dua album. Album pertama – berjudul Exists – dirilis tahun 2016. Satu prestasi membanggakan bagi Alvin karena album Exists ini menjadi salah satu nomine pada AMI Award 2016 sebagai Album Jazz Terbaik. Sedangkan album kedua – berkolaborasi dengan pasangannya, Misi Lesar, membentuk grup DuaEmpat – dirilis tahun 2017 dan diberi judul Two of A Kind.

Saya dan Alvin Ghazalie (Inset: Album Exists-2016 dan Two of A Kind-2017)

Saya sempat berbincang sejenak dengan Alvin. Terus terang saya kangen dengan gaya bermain jazz Alvin seperti yang saya jumpai pada album Exists. Menurut Alvin memang sedang dipersiapkan album berikutnya, namun diakuinya ada beberapa kendala yang menghadang. Saya berharap semoga tak terlalu lama menanti hadirnya album garapan Alvin.

Khusus untuk Freedoms Jazz – After Party ini, Alvin akan bermain pada penampilan Albert Fakdawer dan jam session bersama David Manuhutu dan Robert MR. Demikian mengakhiri perbincangan saya dengan Alvin.

***

Freedoms Jazz – After Party

Aboda

Pergelaran baru dimulai sekitar jam 18.30 dengan menghadirkan penampil pertama grup band Aboda. Grup band yang beranggotakan empat pemuda bersaudara ini mengusung format musik light jazz yang terasa mengalir dengan nyaman saat disimak.

Komposisi pertama yang Aboda bawakan sebuah instrumental dari lagu lawas That’s What Friends Are For. Menyimak komposisi yang mereka suguhkan ini terasa sekali nuansa light jazz dengan improvisasi-improvisasi yang cukup meyakinkan. Komposisi selanjutnya adalah medley dari beberapa lagu daerah yang mereka sampaikan dengan memikat.

oOo

Grup band kedua yang tampil menamakan dirinya Three Song. Grup band yang bermarkas di Lampung ini terdiri dari tiga anak muda bersaudara, mereka adalah Sam – Samuel Song (18 tahun) – bermain pada bass, Josh – Josafat Song (15 tahun) – pada drums dan yang termuda Abe – Abraham Song (13 tahun) – bermain gitar.

Three Song (Inset: Album Kalahari Noon)

Three Song menyuguhkan tiga komposisi karya mereka sendiri. Format jazz yang mereka usung lebih cenderung ke jazz rock yang mereka sajikan dengan kompak didukung dengan kemampuan bermain musik mereka yang matang. Khusus pada komposisi ketiga tampil juga ayah kandung mereka, Dodo Mikha, yang bermain pada keyboard.

Terus terang saya tercengang menyimak komposisi-komposisi yang Three Song sampaikan. Kemampuan bermusik grup ini sudah sangat meningkat, jauh berbeda dengan dua tahun lalu saat saya saksikan penampilan mereka di Pemalang Jazz Festival tahun 2015.

Sampai saat ini Three Song telah merilis dua album yang diberi judul Jazz for Nature dan Kalahari Noon, dengan catatan hanya CD album Kalahari Noon yang ada pada koleksi saya. Semoga akan segera dirilis album menarik berikutnya dari Three Song.

oOo

Penampil ketiga adalah Albert Fakdawer, seorang vokalis jazz dan pemain keyboard. Albert tampil bersama beberapa rekannya, termasuk Alvin Ghazalie yang bermain pada gitar.

Albert Fakdawer and friends

Lagu pertama yang Albert bawakan berjudul On Broadway. Lagu yang dipopulerkan oleh penyanyi jazz George Benson di era 80-an ini dibawakan dengan gaya bernyanyi khas Albert. Dukungan sentuhan musik dari rekan-rekan pengiringnya membuat lagu ini terasa manis.

Beberapa lagu Albert bawakan termasuk lagu karyanya sendiri yang berjudul Mama dan lagu jazz lawas berjudul Summertime. Penampilan Albert yang kental dengan warna jazz fusion ditutup dengan dinyanyikannya lagu berjudul Esok Kan Masih Ada, lagu yang pernah dipopulerkan oleh penyanyi jazz Utha Likumahuwa pada tahun 80-an.

oOo

Adhitia Sofyan

Setelah pergelaran dihangatkan oleh light jazz, jazz rock dan jazz fusion, tampil ke panggung musisi dan vokalis Adhitia Sofyan. Adhitia yang bermain gitar akustik tampil hanya berdua dengan rekannya yang bermain contra bass. Penampilan Adhitia dengan format minimalis ini memberikan efek sejuk, syahdu dan romantis.

Beberapa lagu disajikan Adhitia. Lagu-lagu yang berasal dari album-album yang telah dirilisnya rupanya cukup popuper di kalangan penonton yang hadir menyimak penampilannya. Kepopuleran lagu-lagu Adhitia ini terlihat ketika saya perhatikan beberapa penonton turut bernyanyi mengikuti lirik lagu dengan baik.

oOo

 

Satria

Giliran trio anak muda Satria and The Monster tampil di panggung. Satria and The Monster terdiri dari Satria – berusia 13 tahun – yang bermain pada gitar. Walaupun Satria yang termuda, sepertinya ia bertindak sebagai leader band dengan kakak-kakaknya yaitu Dimas yang bermain pada drums dan Andy yang bermain pada bass.

Band yang bermain blues ini tampil memikat menyuguhkan komposisi-komposisi karya mereka sendiri dalam sentuhan blues yang energik.

oOo

Pergelaran terakhir merupakan penampilan yang paling menarik. Penampilan yang mengambil format Jam Session ini dimotori oleh David Manuhutu (pada piano), saya mengenalnya lewat album A Journey dirilis tahun 2017 dan Robert MR (pada gitar) yang saya kenal diantaranya melalui album Indonesian Songbook, dirilis tahun 2015, bersama grup band Shadow Puppets Quartet. Selain kedua musisi tersebut, di panggung juga sudah hadir Alvin (gitar), Rafi (drums) dan Dennis Juno (sax).

Jam Session

Beberapa komposisi mereka sajikan dengan apik. Selain musisi yang ada di panggung, Robert juga mengundang musisi-musisi lain yang hadir untuk berkolaborasi bersama. Jam session memang menuntut kepiawaian yang tinggi bagi setiap musisi yang terlibat dalam hal bermain alat musik yang mereka pegang dan berimprovisasi, namun tetap tujuan akhirnya adalah komposisi yang harmoni.

Dan, itulah yang menjadikan penampilan terakhir di panggung Freedoms Jazz ini demikian sangat menarik untuk disimak.

***

Flashback: International Jazz Day 2017

Sumber: unesco.org

Pada tanggal 30 April 2017, Freedoms Jazz dan iCanStudioLive menggelar festival jazz di tempat yang sama. Festival jazz ini digelar dalam rangka merayakan International Jazz Day yang jatuh pada tanggal 30 April setiap tahunnya.

Dari beberapa sumber media saya mendapat informasi bahwa sejak tahun 2012, UNESCO menetapkan 30 April sebagai International Jazz Day. Pada hari itu mereka mempromosikan dan menyelenggarakan konser musik jazz di berbagai kota di dunia. Dalam penyelenggaraannya, UNESCO bekerja sama dengan Thelonious Monk Institute of Jazz, yang kini diketuai oleh Thomas R. Carter.

International Jazz Day Event Map 2017 (Sumber: jazzday.com)
International Jazz Day – Jakarta (Sumber: freedomsjazz.com)

Tahun ini Jakarta telah disetujui menjadi salah satu kota dari kota-kota dari 190 negara yang ikut memeriahkan International Jazz Day. Persetujuan tersebut disampaikan Carter melalui surat yang dikirimkan kepada pendiri iCanStudioLive, Irsan Wallad, pada 28 Maret 2017.

Untuk memeriahkan International Jazz Day beberapa musisi jazz muda – sebut saja Barry Likumahuwa, David Manuhutu, Jordy Waelauruw, Ricad Hutapea – tampil pada festival jazz ini, berikut musisi jazz senior Benny Likumahuwa, sedangkan pergelarannya sendiri dimulai dari jam 09.00 sampai dengan jam 23.00.

Dua panggung disiapkan di foreground mall fX Sudirman dengan format penampilan bergantian antar panggung. Konsep penampilan yang akan menghemat waktu yang biasa terbuang saat jeda waktu peralihan antara satu penampilan ke penampilan berikutnya.

Barry Likumahuwa – International Jazz Day

Saya yang hadir pada pergelaran ini kagum dengan musisi-musisi jazz muda berbakat yang tampil. Kepiawaian mereka dalam teknik bermain musik maupun dalam berimprovisasi demikian mengesankan. Kekaguman yang membuat saya bertahan menyimak penampil demi penampil sampai akhir pergelaran.

***

Salut dengan upaya yang dilakukan oleh iCanStudioLive dan Freedoms Jazz yang memberikan wadah bagi musisi-musisi jazz muda untuk berkarya dan menunjukkan kemampuannya. Hal yang dapat saya simpulkan setelah menyaksikan dua festival jazz yang mereka gelar.

Tak berlebih bila saya katakan bahwa Freedoms Jazz Festival adalah panggung bagi generasi muda musisi jazz Indonesia.

Sukabumi, 24 Agustus 2017

Galery Foto – International Jazz Day 2017klik foto untuk memperbesar tampilan.

Iklan

11 respons untuk ‘Freedoms Jazz Festival: Panggung Generasi Muda Musisi Jazz Indonesia

Add yours

    1. Saya sependepat, konsep pergelaran Freedom Jazz memang menarik. Menggenapkan pergelarannya ke angka 17. Sayang saya belum sempat hadir di pergelaran hariannya tersebut.

      Salam,

  1. Kereeeeen pisan kaaang! Itu ada Barry Likhumahua et the gank.. jadi pengen nanyi bareng.. Keep smiling, keep shining, only you can always count on me, for sure.. that’s what firends are for..

    1. Iya mbak, keren acaranya dan keren juga yang tampil, musisi-musisi muda yang berbakat. Tentang Barry, memang dia hebat banget baik permainan bass-nya maupun kekompakkan band-nya…

      Ayo mbak, nyanyi bareng…

      Salam,

    1. Adhitia Sofyan memang sudah lama berkiprah dgn beberapa album, pantas lebih dikenal. Hal yg saya lihat juga ketika ia tampil di panggung.
      Sekarang banyak musisi-musisi muda yang bermunculan. Mainnya hebat-hebat…

      Salam,

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: