Apresiasi Nial Djuliarso kepada Ismail Marzuki: The Jazz Soul of Ismail Marzuki

Dari sekian banyak musisi muda jazz tanah air yang menarik perhatian saya adalah Nial Djuliarso, pianis jazz muda berbakat dengan begitu banyak prestasi dan penghargaan yang telah diraihnya.

Sepanjang karir bermusiknya, Nial telah merilis beberapa album rekaman. Tercatat pada tahun 2006 ia merilis album pertamanya yang bertajuk Nial Djuliarso at Juilliard hingga albumnya yang paling menarik perhatian saya, bertajuk The Jazz Soul of Ismail Marzuki, yang dirilis pada tahun 2011.

Sampai akhir tahun 2016, tak satupun CD album rekamannya tersebut saya miliki. Saya tak pernah menemukan CD albumnya di gerai CD yang saya kunjungi, maupun di salah satu on-line store yang pernah menjualnya. Pada on-line store tersebut selalu tertulis out of stock. Kondisi ini memaksa saya untuk menyimak alunan jazz yang disuguhkan Nial hanya melalui youtube.

Hingga sesuatu yang mengejutkan terjadi di akhir November 2016…

***

Email yang Mengejutkan

Pada bulan Oktober 2015, tepatnya tanggal 27 Oktober 2015, secara resmi album Djanger Bali dirilis resmi di Indonesia. Album jazz fenomenal ini pertama kali dirilis di Jerman pada tahun 1967, saat berlangsungnya Berlin Jazz Festival. Djanger Bali merupakan karya fenomenal musisi jazz Indonesia The Indonesian All Stars – beranggotakan Buby Chen, Jack Lesmana, Marjono, Yopi Chen dan Benny Mustafa dan featuring Tony Scott – yang telah mempersembahkan sesuatu yang unik ke dalam musik jazz.

Suatu hal yang menggembirakan bagi pencinta musik jazz tanah air seperti saya, ketika album Djanger Bali ini dirilis resmi disini setelah selang waktu 48 tahun sejak rilis pertamanya. Ungkapan kegembiraan tersebut saya tuangkan kedalam tulisan berjudul Djanger Bali: Tonggak Sejarah Musik Jazz Indonesia yang saya posting pada blog ini di bulan Desember 2015.

Pada akhir bulan November 2016 saya mendapat email. Pengirim email itu menyatakan bahwa dirinya saat ini sedang kuliah di New York University, mengambil program S2 – Jazz Studies. Ia menjelaskan bahwa kini sedang menyusun tesis dengan tema album Djanger Bali. Tulisan saya tentang Djanger Bali merupakan sebagian kecil referensi bagi skripsi akhirnya tersebut, disamping referensi-referensi lainnya.

Saya hampir tak percaya ketika saya membaca nama pengirim emailnya. Tertulis, Nial Djuliarso. Benar-benar mengejutkan.

Kontak awal lewat email berlanjut dengan berbalas email. Saya bertanya beberapa hal kepada Nial yang selalu ia jawab dengan ramah. Tak lupa saya memesan CD album The Jazz Soul of Ismail Marzuki dan Nial Djuliarso at Juilliard, dengan permintaan tandatangan pada cover CD-nya.

Kedua CD album akhirnya saya terima dengan tandatangan Nial pada cover album The Jazz Soul of Ismail Marzuki – karena CD tersebut ada ditangannya di Amerika – dan ditandatangani juga oleh adiknya, Othman Djuliarso, yang memainkan drum pada album ini. Sebagai catatan, eksekutif produser kedua album ini adalah Gita Wirjawan, Omega Pacific Production.

Album Nial Djuliarso, The Jazz Soul of Ismail Marzuki dan At Juilliard, akhirnya saya miliki

Lebih Jauh dengan Nial Djuliarso

Nial Djuliarso, bernama lengkap Nial Radhitia Djuliarso, lahir di Jakarta, 5 Februari 1981, mulai belajar piano sejak usia 2,5 tahun. Kedua orang tuanya, Tripudjo Djuliarso dan Vera Martam Djuliarso, yang sama-sama penyuka jazz, adalah sosok-sosok yang memberikan terpaan musik sejak Nial kecil.

Tahun 1996, Nial diajak orangtuanya menonton konser gitaris jazz Amerika, Pat Metheny, di Jakarta. Sejak saat itu Nial terpikat oleh musik jazz dan ia bertekad untuk terus belajar, berlatih dan mendengarkan musik jazz.

Tahun 1999 Nial mendaftar ke salah satu sekolah musik papan atas di Amerika, Berklee College of Music di Boston, Massachussets dan diterima dengan beasiswa penuh. Pada Mei 2004 Nial menamatkan pendidikannya dengan meraih gelar Bachelor of Music di bidang Performance.

Pada Maret 2004, Nial diundang oleh sekolah musik papan atas yaitu Juilliard School di New York untuk mengikuti audisi program studi jazz. Ia diterima dan kembali mendapatkan beasiswa penuh. Nial menamatkan studinya pada tahun 2006 dengan meraih gelar Artist Diploma – yang memiliki kurikulum setingkat Master. Saat itu Juilliard memang belum menyediakan studi tingkat Master untuk bidang jazz.

Saat ini Nial melanjutkan studi di New York University. Ia mengambil program S2 di bidang Jazz Studies, dengan major Master of Music: Instrumental Performance – Jazz Instrumental.

Dengan beasiswa dari Program Beasiswa LPDP, kini Nial dalam tahap akhir studi dan sedang menyiapkan tesis tentang album Djanger Bali. Alasan Nial memilih subjek ini selain karena ketertarikannya akan sejarah jazz Indonesia juga karena album Djanger Bali belum banyak diketahui oleh musisi Amerika termasuk kepala bagian program studinya di New York University.

Nial Djuliarso di New York University | Sumber: Kiriman dari Nial Djuliarso

Banyak prestasi yang telah Nial raih dari berbagai kompetisi musik yang diikutinya, sebagian diantaranya:

  • Beberapa kompetisi musik jazz di Amerika telah mengantarkan Nial menjadi juara I – antara lain menempati  1st place pada Horace Silver Piano Competition, University of Southern California (2003);
  • Juara II di sejumlah kompetisi di Amerika – diantaranya meraih 2nd place pada East Coast Jazz Fetival Scholarship Competition, Silver Spring, Maryland (2004);
  • Juara II di Swiss – meraih 2nd place pada Montreux Solo Jazz Competition, Montreux, Switzerland (2005);
  • Juara III di Rusia – meraih 3rd place pada The First International Moscow Jazz Piano Competition, Moscow, Rusia (2005).
  • Di tanah air, pada tahun 2008 Nial terpilih sebagai The Most Promising Young Musician pada The 30th Jazz Goes to Campus Award, Universitas Indonesia.
Penampilan Nial Djuliarso Trio feat Arief Setiadi di @america | sumber: youtube

Nial yang kini tinggal dan mengembangkan karir musiknya di New York, merasa bangga dengan perkembangan musik jazz di tanah air. Menurut penilaiannya saat ini banyak pemain musik jazz yang bagus di Indonesia, disamping juga tempat bermain musik yang lumayan banyak. Suatu gambaran yang menjanjikan bagi  masa depan perkembangan musik jazz yang baik.

Antara Nial Djuliarso dan Ismail Marzuki

Ismail Marzuki (1914 – 1958) adalah sosok komponis legendaris tanah air. Dalam masa usianya yang relatif pendek, ia telah menciptakan lebih dari 240 lagu. Banyak dari lagu-lagu dan liriknya yang ia ciptakan memberikan inspirasi dan semangat untuk berjuang meraih kemerdekaan pada saat itu. Pada tahun 2004 Ismail Marzuki mendapat anugerah sebagai Pahlawan Nasional dari pemerintah.

Di sisi lain, sejak Nial mulai mempelajari musik jazz pada tahun 1996, ia mempelajari banyak lagu-lagu yang dikenal sebagai the great American songbook. Lagu-lagu ini diciptakan pada periode 1930-an hingga 1960-an oleh komponis legendaris Amerika seperti George Gershwin, Irving Berlin, Cole Porter dan komponis lainnya. Hingga tahun 2003, setelah banyak mempelajari lagu-lagu tersebut, timbul keinginan Nial untuk mempelajari lagu-lagu Indonesia karena menurut pengakuannya hanya sedikit saja dari lagu-lagu itu yang ia ketahui.

Keinginan Nial untuk mempelajari lagu-lagu Indonesia terwujud sejak ia usai mengadakan konser di Bandung pada tahun 2003 dan bertemu dengan Oom Yong (Yongki Nusantara), seorang pianis jazz senior yang juga mempromosikan konser Nial di Bandung. Oom Yong memiliki banyak partitur musik terutama karya Ismail Marzuki, yang kemudian partitur-partitur ini diserahkan kepada Nial untuk dipelajari.

Prolog album The Jazz Soul of Ismail Marzuki

Satu demi satu karya Ismail Marzuki disertakan dalam album yang dikeluarkan oleh Nial, seperti lagu Juwita Malam pada album pertama Nial yang berjudul At Juilliard (2006), dirilis saat Nial masih berstatus sebagai mahasiswa semester akhir di Juilliard. Sedangkan lagu Sabda Alam disertakan dalam album yang bertajuk New Day New Hope (2008).

Cover depan albumThe Jazz Soul of Ismail Marzuki

Lagu-lagu karya Ismail Marzuki yang disisipkan dalam album-album itu bagaikan pemicu api semangat bagi Nial untuk mewujudkan keinginannya mempersiapkan satu album yang khusus dipersembahkan sebagai apresiasi, penghargaan atau tribute, bagi Ismail Marzuki.

Keinginan Nial tersebut baru terwujud pada tahun 2011 ketika akhirnya ia menggarap sebelas lagu karya Ismail Marzuki, berimprovisasi, memberikan sentuhan jazz yang variatif dan mengemasnya dalam satu album yang bertajuk The Jazz Soul of Ismail Marzuki.

The Jazz Soul of Ismail Marzuki

Dalam penggarapan album The Jazz Soul of Ismail Marzuki ini Nial melibatkan tiga musisi pendukung yaitu Ken Fowser, bermain pada saksofon, berasal dari New York; Othman Djuliarso, bermain pada drum, adik kandung Nial; Joonsam Lee, bermain pada kontrabass, berasal dari Korea Selatan. Album dikerjakan dan direkam di Lofish Studio, New York, dengan Reed Taylor berperan sebagai engineer.

Musisi yang terlibat dalam album The Jazz Soul of Ismail Marzuki

Sebelas komposisi karya Ismail Marzuki yang terkandung dalam album ini dapat dibaca pada cover belakang album. Dibawah judul setiap lagu dicantumkan nada dasar dan gaya musiknya dengan huruf yang sangat kecil sehingga agak sedikit sulit untuk dibaca.

Sebelas komposisi dalam The Jazz Soul of Ismail Marzuki

Album ini dibuka dengan lagu Indonesia Pusaka dengan sentuhan swing yang bertempo cepat. Tiupan saksofon Ken Fowser sangat dominan pada lagu ini. Namun dipertengahan lagu, Nial mengisinya dengan improvisasi yang segar.

Berbagai gaya jazz dapat disimak melalui lagu-lagu yang ditampilkan pada album ini. Seperti lagu berjudul Aryati dengan sentuhan bossa yang lembut, Halo-halo Bandung yang lekat dengan sentuhan bebop dan Saputangan dari Bandung Selatan yang dikemas dengan gaya waltz.

Album ini diakhiri dengan solo piano pada lagu Sepasang Mata Bola. Improvisasi cantik yang disampaikan dalam irama rhumba disepanjang lagu ini menambah elegannya komposisi ini ditangan seorang Nial Djuliarso.

Penasaran dengan album ini?

Berikut saya sertakan video klip yang menarik dari lagu pertama yang terdapat dalam album The Jazz Soul of Ismail Marzuki, Indonesia Pusaka.

Masih penasaran dengan gaya bermain dan berimprovisasi Nial?

Simak video klip berikut saat Nial bersama Tasya Kamila mengadakan sesi live recording di NYU, New York. Duet yang menawan ini mempersembahkan lagu jazz klasik, My Funny Valentine

***

Nial Djuliarso menuangkan segenap kemampuan dan upayanya dalam menggarap dan mengaransir dengan menggali dan memberikan sentuhan jazz pada komposisi-komposisi karya Ismail Marzuki. Tidak dilupakan tiga musisi pendukung – Ken Fowser, Othman Djuliarso dan Joonsam Lee – yang berkontribusi dan berperan aktif pada setiap komposisi yang disampaikan. Kolaborasi ini menciptakan efek keindahan dan harmoni pada setiap lagu dan memberikan kenikmatan yang luar biasa saat menyimak track demi track album ini.

Karya-karya Ismail Marzuki sendiri ternyata merupakan semacam media yang baik untuk berimprovisasi, karena struktur musiknya yang sama dengan struktur musik pada lagu-lagu Amerika yang dikenal sebagai the great American songbook, seperti Nial ungkapkan dalam booklet albumnya berikut ini,

Ungkapan Nial Djuliarso atas karya-karya Ismail Marzuki

I found most of Ismail Marzuki’s music to be good vehicle for improvisation, mostly because of the song form. He wrote a lot of his music using the same structure as most American songs known as “the great American songbook”.

Selayaknyalah kita bangga, mencintai dan mengenal lebih dalam karya-karya Ismail Marzuki, karena karya-karyanya itu tak berlebihan bila kita kategorikan sebagai the great Indonesian songbook. Dan, Nial telah bergerak melampaui kebanggaan dan kecintaannya itu menjadi suatu karya nyata, karya nyata yang terwujud melalui sebuah album berjudul The Jazz Soul of Ismail Marzuki.

Salut untuk Nial Djuliarso…

Sukabumi, 18 Maret 2017

Catatan

Selain bersumber dari email pribadi saya dengan Nial Djuliarso, tulisan ini juga bersumber pada:

Iklan

12 thoughts on “Apresiasi Nial Djuliarso kepada Ismail Marzuki: The Jazz Soul of Ismail Marzuki

  1. Senang pastinya bisa bersapa ria dengan pujaannya. Nial Djuliarso.
    dan aku juga penyuka musik jazz, dan aku juga salut untuk Kang Nial, yang tetap ingat sama karya-karya generasi tua. Tidak malu memperkenalkannya kepada kalayak luas.
    Nanti jika susah bosan sama CD nya, bolehlah dilempar kerumahku 🙂

    1. Iya Mas senang banget bisa kontak dengan musisi jazz muda Nial Djuliarso ini yang sekian lama saya cari-cari albumnya dan tidak saya temukan.
      Saya salut kpd Nial karena kecintaannya kpd karya musik generasi sebelumnya dan memperkenalkannya kepada khalayak lebih luas.

      Ah Mas penyuka jazz juga rupanya, senang saya mendengarnya.

      Salam,

  2. Sebagai pecinta dunia musik jazz sudah sepantasnya bang kita ikut mempublikasikan potensi dan bakat yang ada pada generasi muda dalam pengembangan dunia musik jazz Indonesia seperti Nial Djuliarso yang masih tetap membawa dan mengahargai karya-karya generasi sebelumnya.

    1. Betul Mas, saya pribadi mencoba menulis sebatas kemampuan sekelumit tentang jazz, seperti menuliskan tentang Nial Djuliarso ini yang saya anggap mewakili generasi muda musisi jazz tanah air yang berkarir musik dan mengenyam pendidikan di luar negeri namun tetap mencintai dan tidak melupakan karya-karya musik generasi sebelumnya.

      Salam,

  3. Halo pak Bambang, indahnya teknologi, jadi bisa mempersatukan kita semua. Setau saya, penikmat musik jazz itu tidak banyak. Jadi saya selalu senang ketika bertemu teman baru seperti pak Bambang. Teruskan tulisan2nya pak! insya allah kita bertemu satu hari.
    Salam,
    Nial Djuliarso

    1. Ah iya benar Mas, walau terentang jarak yang jauh kita dapat saling berkabar dengan cepat berkat teknologi.
      Sebagai penikmat jazz saya senang bisa kontak langsung dengan musisi jazz seperti Mas Nial ini. Semoga saja apa yang saya tuliskan disini tidak mengecewakan Mas karena hanya begini kemampuan saya dalam menulis.
      Saya menantikan album-album rilisan Mas selanjutnya dan semoga suatu waktu nanti kita dapat berjumpa langsung.

      Salam,

  4. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Titik Asa…

    Musik jazz begitu mendayu dan tenang dengan lenggok lembut iramanya walau ia juga dimainkan dalam bentuk rancak. Sungguh beruntung dan bertuah mas Titik apabila tulisan yang dianggap biasa-biasa sahaja rupanya menjadi rujukan pemusik terkenal, malah bisa berkomunikasi dengan baik dan bahagianya mendapat CD yang diingin dengan mudah. Tuah ayam nampak di kaki, tuah manusia tiada siap yang tahu ya.

    Salam sejahtera dari Sarikei, Sarawak.

    1. Wa’alaikum salam wr.wb. Mbak Fatimah apa kabar?

      Iya Mbak, tak disangka tulisan sederhana saya jadi perhatian dan jadi sedikit rujukan dari musisi jazz muda yang saya kagumi dan sudah lama saya ikuti jejak karirnya.

      Saya suka dengan peribahasa yang Mbak sampaikan, yang ternyata bermakna “tiada orang dapat meneka untung malang nasib seseorang”. Demikian setelah saya search di wikipedia Bahasa Melayu.

      Salam persahabatan dari Sukabumi, West Java.

      1. Alhamdulillah, apabila ia sudah menjadi rejeki kita, pasti tetap menjadi milik kita. Semuanya ketentuan Allah sehingga apa yang kita tulis walau kecil namun bernilai besar kepada orang lain. Salut atas komitmen dalam musik jazz.

  5. Nial, bintang yang sangat membumi ya Pak Titik. Saya mendoakan akan agar karirnya terus melesat agar Jazz Indonesia juga dikenal dunia

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s