Sesuai dengan namanya Jazz Kota Tua, ini adalah festival jazz yang digelar di kawasan Kota Tua Jakarta, atau lebih tepatnya berlangsung di taman yang berada dalam area Museum Sejarah Jakarta di bagian belakang.

Festival Jazz Kota Tua yang digagas oleh musisi jazz Dwiki Dharmawan dan mendapat dukungan penuh dari Unit Kerja Permuseuman Sejarah Jakarta ini adalah pergelarannya yang ke dua, setelah sukses digelar pada tahun 2014 yang lalu. Festival jazz ini menggambarkan bahwa museum bukan hanya sebagai tempat menyimpan dan memamerkan benda-benda bersejarah namun juga bisa dijadikan tempat pertunjukkan musik yang berkualitas.

Jazz Kota TuaFestival Jazz Kota Tua yang digelar pada hari Sabtu, 24 Oktober 2015 ini, bagi saya merupakan salah satu festival jazz yang unik, mengingat tempat pelaksanaannya yang berlangsung pada sebuah museum. Selain menyimak suguhan musik jazz yang disajikan oleh berbagai musisi lokal dan internasional, pengunjung juga berkesempatan untuk menelusuri kandungan Museum Sejarah Jakarta sehingga festival jazz ini diharapkan dapat menjadi bagian dalam rangka meningkatkan keperdulian masyarakat untuk mencintai museum dan kawasan Kota Tua Jakarta sebagai warisan dan sejarah bangsa.

***

Saya sampai di halaman Museum Sejarah Jakarta, atau dikenal juga dengan sebutan Museum Fatahillah, sekitar jam 13.00 siang. Matahari demikian menyengat saya rasakan. Halaman museum saya lihat demikian ramai. Orang-orang berlalu-lalang, sebagian ada yang berfoto-foto, sebagian ada yang asyik bersepeda.

Suasana di halaman Museum Sejarah
Suasana di halaman Museum Sejarah

Di halaman museum saya melihat poster besar berlatar belakang dominan warna biru yang menggambarkan festival Jazz Kota Tua lengkap dengan foto-foto musisi jazz yang akan tampil. Angin yang kencang berhembus membuat poster ini agak condong, sehingga tak aneh bila beberapa saat kemudian poster besar ini sempat roboh.

Poster di halaman museumKarena festival Jazz Kota Tua ini dilangsungkan dalam taman bagian dalam museum, maka untuk menghadirinya kita terlebih dahulu harus membeli tiket tanda masuk museum. Tiket tanda masuk museum ini disediakan di loket yang berada di sebelah kiri museum dengan harga tiket untuk dewasa hanya Rp 5000,-. Harga yang sangat murah.

Saya memasuki museum dan langsung menuju area taman yang ada di belakang. Area taman yang cukup luas ini telah diubah menjadi arena pertunjukkan jazz dengan di pojok kiri dan pojok kanan taman telah didirikan panggung. Bagian tengah diantara dua panggung ini dibiarkan kosong dan diperuntukkan bagi penonton yang menghadiri festival jazz ini.

Saya melihat di bagian pojok kanan taman telah beridiri satu panggung. Itu adalah Stage A. Pada panggung ini nanti akan tampil antara lain Iga Mawarni, Tohpati, Dwiki Dharmawan dengan World Peace Trio, Ermy Kullit dan Balawan. Sedangkan pada bagian pojok kiri taman terdapat satu panggung lagi, Stage B. Pada panggung ini akan tampil antara lain Tesla Manaf, Idang Rasjidi, Rieka Roeslan Trio dan Ligro Trio feat Mark Wingfield.

Selain kedua panggung yang berada di taman, ada juga satu panggung yang berada dalam ruangan,di Museum Hall. Saya tak sempat melihat keadaan panggung tersebut, dan juga tak menyaksikan musisi-musisi jazz yang tampil disana. Hal ini dikarenakan saya sudah demikian terpesona dengan musisi-musisi jazz yang tampil di kedua panggung yang berada di taman tersebut.

Disamping kedua panggung tersebut, telah disiapkan juga semacam photo-booth yang menarik. Latar belakang photo-booth ini sederhana saja, dominan berwarna biru. Namun disebelah kiri photo-booth tersebut berdiri ondel-ondel dalam ukuran besar. Semacam Abang dan Nona ondel-ondel yang menyambut dengan ramah pengunjung yang datang menghadiri festival Jazz Kota Tua.

Karena sesuatu hal, saya tidak sampai tuntas menyaksikan festival jazz ini dan hanya bertahan sampai penampilan Ermy Kullit saja. Tiga penampil setelah Ermy Kullit, Rieka Roeslan Trio, Balawan dan Ligro Trio, tidak sempat saya saksikan.

Berikut sedikit ulasan saya atas musisi-musisi jazz yang saya saksikan penampilannya di panggung Jazz Kota Tua.

***

Penampilan Siang hingga Sore

4 SenarSaat saya memasuki area taman museum, di Stage B sedang berlangsung penampilan dari grup 4 Senar. Menyimak olahan jazz yang mereka sampaikan, agak menyesal juga saya datang terlambat.

Baru pertama kali ini saya melihat penampilan 4 Senar. Melihat para pemainnya yang tak lagi berusia muda tapi tetap greget dengan improvisasi yang mereka sajikan. Komposisi-komposisi yang mereka bawakan lekat dengan fusion jazz. Menarik sekali.

Yuri Jo Collective saya saksikan penampilannya di Stage A. Yuri Jo, bermain gitar, tampil trio. Warna musik yang ditampilkan Yuri Jo Collective ini cenderung “keras”. Saya pikir unsur rock berpengaruh kuat pada komposisi-komposisi yang mereka bawakan siang itu.

Walaupun unsur rock demikian kental, namun tetap saya masih bisa merasakan kelembutan dan kesyahduan improvisasi mereka ketika mereka membawakan lagu Sunda berjudul Es Lilin. Sungguh membuat saya terpesona. Keterpesonaan saya bertambah ketika mereka mengalirkan lagu lawas berjudul Rangkaian Melati. Salut dengan apa yang disajikan oleh Yuri Jo Collective.

Gitaris jazz muda Tesla Manaf tampil bertiga di Stage B. Ini adalah pertama kali saya menyaksikan langsung penampilan Tesla Manaf. Selama ini saya hanya menyimak permainan gitar dan improvisasinya melalui album Tesla Manaf feat Mahagotra Ganesha yang berjudul It’s All Yours yang dirilis pada tahun 2011.

Bagi saya apa yang Tesla Manaf Trio sajikan selama kurang lebih 45 menit seakan mengajak untuk menerka dan berimajinasi tentang apa makna yang terkandung dibalik rangkaian nada dan improvisasinya. Beberapa yang Tesla Manaf sampaikan masih merupakan misteri hingga penampilannya usai. Misteri yang menimbulkan kepenasaran untuk lebih banyak menyimak karya-karya ciptaannya.

Musisi jazz muda Syahravi dengan grupnya tampil memukau penonton di Stage A. Saat Syahravi tampil saya melihat banyak sekali penonton yang berusia muda demikian antusias menyambut kehadirannya di panggung.

Syahravi, atau lengkapnya Syahravi Dewanda berguru gitar pada gitaris jazz Tohpati. Belum lama ini Syahravi merilis mini album yang berjudul Kita. Pada penampilannya kali ini Syahravi banyak membawakan lagu-lagu dari albumnya tersebut. Tak ketinggalan lagu berjudul Kita yang menjadi andalan pada mini albumnya tersebut.

Menyimak lagu-lagu yang dibawakan Syahravi, yang bermain gitar dan bernyanyi, pantas saja Syahravi mendapat sambutan meriah dari penonton. Lagu-lagunya yang cenderung kuat unsur pop ini memang nikmat untuk disimak. Nada-nada dan lirik lagu-lagunya rasanya pas dengan selera musik kawula muda.

Apalah arti sebuah nama, sepertinya ungkapan ini cocok bila dihubungkan dengan nama grup asal Yogyakarta ini. Bagaimana tidak, grup band ini menamakan dirinya I Know You Well Miss Clara. Nama yang unik.

Entah siapa yang dimaksud dengan Miss Clara tersebut, namun grup yang beranggotakan empat personil ini, Adi Wijaya (keyboard), Enricko Gultom (bass), Alfiah Akbar (drums) dan Reza Ryan (gitar) penampilannya cukup memukau sore itu. Grup ini mengusung genre Progressive Jazz Rock dalam setiap komposisi yang mereka sampaikan. Dan ternyata grup ini sudah merilis album pada tahun 2013 yang diberi judul Chapter One yang rekamannya dilakukan di New York dibawah label MoonJune.

Sementara saya penasaran dengan materi yang disampaikannya lewat album Chapter One, saya memuaskan diri dahulu dengan menyimak penampilan panggungnya…

Sore berteman lagu-lagu lawas yang penuh kenangan, pastinya syahdu banget. Inilah yang ditawarkan melalui penampilan Iga Mawarni di Stage A mulai jam 16.30-an.

Iga Mawarni yang berbusana anggun sore itu tampil menawan melantunkan lagu-lagu lawas hitsnya dengan diiringi empat musisi muda yang ciamik bermain jazz. Olah vokal Iga Mawarni, lagu-lagu lawas yang syahdu disertai dengan iringan musik yang dominan lembut membuat sore itu terasa romantis.

Lagu pertama yang Iga Mawarni bawakan berjudul Andai Saja. Lagu yang dirilis pada tahun 1998 ini tetap nikmat untuk disimak hingga kini. Tak hanya lagu Andai Saja, lagu lawas lainnya, yang melambungkan nama Iga Mawarni di belantika musik Indonesia pada tahun 1991, Kasmaran, Iga Mawarni sajikan juga. Melihat sambutan penonton yang hadir, rasanya tak berlebih bila saya katakan bahwa lagu-lagu lawas Iga Mawarni tetap mendapat tempat tersendiri.

Selain lagu-lagunya sendiri, Iga Mawarni juga membawakan lagu dari musisi lain. Sebut saja lagu Let It Be-nya The Beatles dan lagu Jemu-nya Koes Plus. Penampilan Iga Mawarni ditutup dengan lagu jazz yang pernah hits pada masanya yang dinyanyikan oleh penyanyi jazz Utha Likumahuwa, Esok kan Masih Ada. Sekali lagi, sore yang teramat romantis…

Penampilan Malam

TohpatiGitaris jazz Tohpati membuka pentas malam dengan tampil berdua di Stage A. Penampilan Tohpati dengan gitar akustik ini setidaknya menunjukkan kepiawaian Tohpati dalam teknik bermain gitar dan berimprovisasi. Keindahan petikan gitar Tohpati diimbangi oleh permainan gendang dari rekannya yang tampil di panggung.

Saya mencatat dua lagu yang demikian syahdu diinterpretasikan oleh Tohpati dan rekannya ini. Lagu tersebut berjudul Semusim dan Panah Asmara. Dan itulah gaya bergitar yang khas Tohpati.

Grup World Peace Trio tampil di Stage A, setelah upacara Opening Ceremony usai dilaksanakan. Personil inti World Peace Trio ini terdiri dari Dwiki Dharmawan pada keyboard, Gilad Atzmonmusisi jazz berkebangsaan Inggris – pada alat tiup dan Kamal Musallammusisi jazz berkebangsaan Yordania – bermain gitar akustik Arab. Selain personil inti tersebut, ditambah juga dengan personil lainnya yang bermain gitar elektrik, gendang dan akordeon.

Dwiki dan World Peace Trio.
Dwiki dan World Peace Trio

Dwiki Dharmawan_World Peace TrioKomposisi-komposisi yang dibawakan oleh World Peace Trio ini seakan mengajak penonton berkeliling menyusuri dunia yang damai. Mereka membuka penampilannya dengan menyajikan lagu Gambang Suling, dilanjutkan dengan satu komposisi – yang kalau tidak salah sebuah lagu Lebanon – yang menceritakan tentang keindahan malam dan rembulan. Lagu-lagu lainnya dibawakan dengan menawan oleh grup ini antara lain lagu Lir Ilir dan Bubuy Bulan.

Rangkaian komposisi-komposisi jazz yang disampaikan oleh World Peace Trio ini seakan membawa pesan, bahwa demikian indahnya hidup di dunia ini dalam suasana yang damai. Apa yang mereka sampaikan itu senada dengan tema Jazz Kota Tua tahun ini, Musik dan Perdamaian.

Idang Rasjidi, musisi jazz senior, dan juga salah seorang penggagas festival jazz di kota Bogor – Bogor Jazz Reunion – tampil di Stage B. Idang Rasjidi yang bermain pada piano, malam itu tampil bersama Richard Hutapea pada saxophone dan Shakuhaci pada perkusi.

Format penampilan yang disebut sebagai Idang Rajidi sings jazz ini adalah penampilannya yang berbeda dari penampilan-penampilan lainnya. Pada penampilannya kali ini, Idang Rasjidi lebih banyak memberikan porsi kepada bernyanyi. Ditengah penampilannya, dengan berseloroh Idang Rasjidi berkata kalau ia ‘menyesal’ menerima job ini, karena selama 40-an tahun berkarir di dunia musik baru kali ini ia harus banyak bernyanyi…

Idang Rasjidi membuka penampilannya dengan membawakan lagu lawas berjudur For Once In My Life. Kepiawaian trio ini memainkan alat musik yang dipegangnya mampu mengalirkan irama jazz yang demikian syahdu malam itu.

Idang Rasyidi,sings jazz
Idang Rasyidi, sings jazz

Dari beberapa lagu yang Idang Rasjidi lantunkan, saya mencatat satu lagu lawas yang demikian hebat diinterpretasikan dan diberi sentuhan-sentuhan improvisasi oleh Idang Rasjidi Trio ini. Lagu lawas itu berjudul Kesepian, yang pernah dipopulerkan oleh penyanyi jazz Margie Siegers. Saat lagu Kesepian dibawakan, saya melihat sambutan yang demikian hangat dari penonton. Reffrain lagu ini bahkan sempat diulang beberapa kali dengan penonton yang ikut bernyanyi bersama.

Usai penampilan Idang Rasjidi Trio, saya berpindah ke Stage A. Disana akan tampil penyanyi jazz senior, Ermy Kullit, dan penyanyi jazz muda, Lana Nitibaskara.

Lana Nitibaskara tampil pertama. Penampilan Lana yang masih berusia sangat muda, 14 tahun, sungguh menawan. Bagi saya, ini penampilan Lana yang kedua yang saksikan setelah sebelumnya saya dibuat tertegun menyimak lagu-lagu yang Lana bawakan saat di festival jazz Enjoy Jakarta Jazz Festival 2015.

Lana Nitibaskara yang telah merilis mini album berjudul Spirit of Jazz pada tahun 2011, kembali membuat saya kagum ketika membawakan lagu jazz yang pernah dipopulerkan oleh penyanyi Al Jarreau. Lagu berjudul Spain mengalir dengan riang dan demikian nikmat untuk disimak. Menutup penampilannya malam itu, Lana kembali membawakan lagu lawas berjudul Ratu Sejagad. Sepertinya Lana suka dengan lagu ini, karena hal yang sama Lana lakukan saat tampil di Enjoy Jakarta Jazz Festival. Penampilan yang sungguh mengesankan.

Ermy KullitErmy Kullit tampil ke panggung setelah Lana menyelesaikan lagu terakhirnya. Ermy salah satu penyanyi jazz senior yang saya suka. Periode 80-an hingga 90-an Ermy kerap mengeluarkan album-album jazz yang berfokus pada genre bossas.

Beberapa lagu Ermy Kullit bawakan, namun bagi saya yang paling berkesan adalah saat Ermy Kullit membawakan lagu berjudul Pasrah, lagu yang pernah dipopulerkan Ermy Kullit pada tahun 1998. Nuansa saat dahulu saya menyimak lagu ini tetap kini masih bisa saya rasakan ketika melihat langsung Ermy Kullit membawakan lagu ini di panggung.

Penampilan Ermy Kullit ini mengakhiri kehadiran saya di festival Jazz Kota Tua.

***

Sebagai pencinta musik jazz, saya kagum melihat pelaksanaan Jazz Kota Tua ini. Bagi saya, festival Jazz Kota Tua merupakan salah satu festival jazz yang unik yang pernah saya hadiri, mengingat pelaksanaannya yang dilangsungkan di dalam area museum. Kekaguman saya lainnya karena melihat pelaksanaannya yang berkelanjutan dan konsisten sehingga kini menjadi event tahunan, hal yang merupakan perwujudan dibalik upaya dan kerja keras yang telah dilakukan oleh Dwiki Dharmawan, penggagas event Jazz Kota Tua, dan dukungan yang penuh dari Unit Kerja Permuseuman Sejarah Jakarta.

Penyiapan dua panggung perlu dicatat juga dari sudut time management yang baik. Keberadaan dua panggung ini menghilangkan jeda waktu saat beralih dari satu penampil ke penampil lainnya. Hal ini selain memberikan kenyamanan kepada penonton yang hadir, karena tidak perlu menunggu kesiapan penampilan panggung, juga dari ketepatan waktu tampil antara yang telah dijadwalkan dengan pelaksanaannya.

Terakhir, semoga tahun depan festival Jazz Kota Tua akan dilaksanakan dengan lebih baik lagi. Dan, tentu, saya akan datang kembali untuk menghadirinya.

Sukabumi, 28 Oktober 2015

Iklan