Setelah sekali mengunjungi dan menyusuri Muara Gembong pada bulan Mei tahun 2014 yang lalu, kerinduan saya untuk kembali mengunjunginya seakan tak pernah padam. Ingin kembali lagi kesana, ingin memuaskan diri menghirup udara segarnya, ingin menyusuri kembali Muara Gembong dengan berperahu, ingin kembali singgah di Masjid Alam Blacan; begitu yang sering terbersit dalam pikiran saya.

Pesona Muara Gembong salah satunya terletak pada kontradiktifnya keadaan lingkungan disana dibanding keadaan lingkungan Bekasi umumnya. Ketenangan, kedamaian, semilir angin sejuk, hijau alam berselimut hutan mangrove, hanyalah sebagian gambaran betapa sangat jauh berbedanya lingkungan disana.

Kerinduan saya akan Muara Gembong akhirnya terjawab pada hari Minggu, 26 Juli 2015…

***

Siapa yang tak akan timbul keinginannya untuk mengunjungi Muara Gembong dan menyusurinya dengan berperahu, terlebih bagi saya yang pernah sekali berkunjung kesana, bila saya menunjukkan foto dibawah ini?

Ketenangan alam Muara Gembong
Ketenangan alam Muara Gembong

Dan begitulah, setelah komunikasi yang cukup intens dengan sahabat-sahabat melalui jejaring twitter akhirnya kami  bersepakat untuk mengunjungi Muara Gembong pada hari Minggu, 26 Juli 2015.

Tiga admin twitter masing-masing dari akun @muaragembongku, @CeritaBekasi dan @babelaninfo dan juga beberapa teman yang terhubung melalui jejaring twitter akan berkumpul. Sungguh ini perjalanan menyapa alam yang juga akan lebih mempererat tali persahabatan di dunia nyata setelah sekian lama terjalin di dunia maya.

Perjalanan menuju Muara Gembong, setelah keluar dari jalan raya, masih sama keadaannya seperti tahun lalu. Kondisi infrastruktur jalan belum ada perubahan, masih persis seperti apa yang saya gambarkan setahun yang lalu dalam tulisan saya berjudul Muara Gembong, Sisi Alami Bekasi.

Jalan-jalan yang hanya berlapis kerikil, dengan debunya yang berterbangan liar saat melewatinya, harus dilalui untuk mencapai Jembatan Blacan. Tampaknya belum ada perhatian dari pemerintah daerah setempat untuk menata infrastruktur jalan apalagi mengembangkan kawasan Muara Gembong ini sebagai kawasan wisata.

Sesampainya di Jembatan Blacan, sejenak rombongan melepas lelah di warung yang ada disana. Duduk-duduk di bale-bale yang disediakan oleh warung, sambil menikmati goreng-gorengan yang tersedia, cukuplah untuk sejenak beristirahat dan bercengkrama disana. Di samping warung, perahu telah dipesan dan siap untuk mengantar kami menyusuri muara.

Setelah puas rehat sejenak di warung, rombongan bersiap menaiki perahu. Perahu kecil ini paling banyak mungkin hanya dapat membawa 7 orang, jadi 2 perahu akhirnya yang dipesan. Meluncurlah perahu bermesin ini mengantar rombongan menyusuri Muara Gembong.

Dan betapa nikmatnya saat berperahu. Angin sejuk yang menerpa dan hawa dingin air muara saya rasakan sepanjang berperahu. Kelompok-kelompok hutan mangrove yang menghijau terlihat dikejauhan.

Berperahu menyusuri Muara Gembong
Berperahu menyusuri Muara Gembong

Selain hutan mangrove, pemandangan khas Muara Gembong adalah adanya jaring-jaring penangkap ikan dalam ukuran yang besar terpancang diketinggian. Saya tidak tahu pasti kapan jaring-jaring ikan ini diturunkan dan ditenggelamkan ke dalam muara, untuk berapa lama ditenggelamkan dan kapan diangkat lagi untuk diambil ikan-ikan yang terjaring oleh jaring-jaring tersebut. Rupanya begitulah cara penghidupan nelayan-nelayan di Muara Gembong.

Jaring-jaring penangkap ikan
Jaring-jaring penangkap ikan

Berperahu di Muara Gembong sungguh mengasyikan. Selama dalam perahu, selain mengamati keindahan alam hijau disana, bolehlah kita mengobrol atau bercanda ataupun berfoto di perahu, seperti yang saya dan rombongan lakukan disana.

Rupanya kegiatan berperahu menyusuri muara merupakan kegiatan favorit di Muara Gembong, seperti yang saya perhatikan siang itu dengan adanya perahu-perahu lain yang hilir-mudik disana. Suatu fenomena yang menarik, betapa Muara Gembong ini sudah menjadi tujuan wisata bagi segelintir orang yang mengetahui keberadaannya. Tapi yang lebih menarik tentulah memperhatikan keindahan alam sekeliling muara yang sayang sekali bila tidak diabadikan oleh jepretan kamera.

Setelah puas menyusuri muara, perahu menepi. Saat itu sudah menjelang tengah hari. Rombongan akan singgah ke Masjid Alam Blacan. Beristirahat sejenak, shalat dzuhur dan makan bersama, itulah yang rombongan akan lakukan disana.

Turun dari perahu, saya perhatikan hamparan alam yang luas. Jalan tanah yang cukup lebar dengan di kiri-kanannya terdapat petak-petak tambak adalah pemandangan utama di lokasi ini. Jauh disana, saya melihat Masjid Alam Blacan tampak tersembunyi dibalik rimbun pepohonan…

Jalan tanah harus ditempuh untuk mencapai Masjid Alam Blacan. Berjalan menyusurinya dengan siraman udara yang panas menyengat siang itu cukup membuat badan berkeringat. Gerah yang terasa seakan terobati dengan hembusan angin yang terkadang datang menerpa.

Ketika tiba di halaman masjid, saya terkesima dengan melihat banyaknya pengunjung masjid siang ini. Mereka kebanyakan berkendaraan motor menyusuri jalan tanah untuk mencapai masjid ini. Saya tidak sempat bertanya, dari mana mereka mulai berawal melewati jalan tanah untuk sampai ke kawasan masjid ini. Rupanya menuju masjid ini bisa juga ditempuh dengan berkendaraan motor seperti yang mereka lakukan.

Untuk penjelasan lebih rinci mengenai Masjid Alam Blacan, sila cek pada posting Muara Gembong: Sisi Alami Bekasi.

Sambil menanti waktu shalat dzuhur tiba, saya dan teman-teman menyempatkan diri berbincang-bincang dengan pengurus masjid ini. Masjid yang diyakini mempunyai nilai historis ini bila dirunut kisahnya akan sampai ke masa para Wali menyebarkan ajaran agama Islam disini.

Sayang saya belum menemukan kajian historis akan keberadaan masjid ini, namun yang patut dicatat banyaknya pengunjung dari berbagai daerah yang mendatangi masjid ini karena keyakinan spiritualnya. Demikian seperti yang diungkapkan oleh pengurus masjid ini.

Duduk-duduk di halaman masjid ini sambil memperhatikan keadaan alam sekitar yang dominan dikelilingi petak-petak tambak, sungguh menyegarkan. Semilir angin yang berhembus menerpa badan seakan membuai dan memberikan ketenangan. Demikian tenang, demikian syahdu…

***

Kerinduan saya akan Muara Gembong dan Masjid Alam Blacan seakan terlunaskan pada hari ini. Saat saya beranjak meninggalkan masjid ini, entahlah rasanya ada getar di dalam batin bahwa ini bukan yang terakhir kali saya berkunjung kesana. Namun akan ada kunjungan-kunjungan berikutnya.

Seakan ada yang menautkan batin saya dengan Muara Gembong dan Masjid Alam Blacan. Tautan yang menandakan bahwa kerinduan saya akan tempat ini tidak pernah akan pudar.

Bekasi, 28 Juli 2015

Galery Fotoklik foto untuk memperbesar tampilan.

Iklan