Ada satu festival jazz yang unik yang digelar disetiap bulan Ramadhan dan festival jazz ini diberi nama Ramadhan Jazz Festival. Festival jazz ini unik karena pergelarannya yang dilangsungkan di halaman sebuah masjid, dalam hal ini Masjid Cut Meutia, yang berlokasi di Menteng, Jakarta Pusat. Inilah satu, dan hanya satu-satunya, festival jazz yang digelar di halaman masjid.

Ramadhan Jazz Festival 2015
sumber: wartajazz.com

Ramadhan Jazz Festival kali ini adalah pergelarannya yang ke-5. Festival jazz yang mulai digelar sejak tahun 2010 ini terlaksana atas kerjasama antara Remaja Islam Masjid Cut Meutia, RICMA, dengan WartaJazz. Kepada para penampil yang akan meramaikan festival ini panitia penyelenggara mensyaratkan, disamping beberapa lagu yang akan mereka tampilkan, mereka diharuskan membawakan satu lagu bertema religi yang dibalut musik bernuansa jazz.

Ramadhan Jazz Festival 2015 dilaksanakan pada Jumat – Sabtu, 26 – 27 Juni 2015, yang pergelarannya dimulai setelah Shalat Isya dan Shalat Taraweh berjamaah.

Saya hanya berkesempatan menghadiri festival jazz ini pada malam ke-2, yaitu Sabtu, 27 Juni 2015, dan berikut ini catatan saya setelah menghadiri festival tersebut.

***

Suasana…

Saya memasuki halaman masjid Cut Meutia menjelang waktu shalat Isya tiba dengan melewati gerbang yang bertuliskan Ramadhan Jazz diatasnya. Suasana masih lumayan sepi, dengan kebanyakan orang yang mendatangi masjid adalah warga masyarakat sekitar yang akan melaksanakan Shalat Isya dan Shalat Taraweh berjamaah.

Di halaman masjid sudah terlihat tenda-tenda, demikian juga disamping masjid. Tenda-tenda ini kebanyakan tempat menjual makanan dan minuman. Disamping masjid ada tenda untuk registrasi pengunjung yang akan menghadiri festival dan sekaligus tempat penerimaan donasi. Photobooth juga sudah tersedia.

Saya melihat di halaman masjid pada bagian ujung sudah disiapkan satu panggung dengan penataan dan hiasan yang cantik. Sedangkan di tengah halaman masjid sudah ditebar sajadah yang dipersiapkan bagi jamaah yang akan melaksanakan shalat Isya dan shalat Taraweh berjamaah.

Ketika usai shalat Taraweh berjamaah, sajadah yang terhampar di halaman masjid ini digulung oleh beberapa anggota panitia. Halaman masjid kini siap untuk menampung pengunjung yang akan menyaksikan penampilan artis-artis jazz di atas panggung yang telah dipersiapkan.

Panggung Ramadhan Jazz Fest

Dan, Inilah Penampil pada Malam ke-2…

Pergelaran malam ke-2 ini dibuka dengan menampilan grup TARI BETAWI. Tarian yang dibawakan oleh muda-mudi yang mengenakan pakaian adat Betawi ini sungguh menarik.

Tarian yang menggambarkan keceriaan masa muda ini, yang tergambar dari gerakan-gerakan tari yang luwes, setidaknya mengingatkan kembali akan akar budaya tempat kita berpijak saat ini.

oOo

Anak-anak muda yang tergabung dalam band bernama SUMRINGAH, tampil berikutnya. Grup band ini masih tergolong grup band baru. Mereka bisa tampil dipanggung malam ini setelah melalui proses audisi yang ketat.

Sumringah Band

Melihat usia mereka yang masih tergolong muda, namun penampilannya tidak mengecewakan, malahan menarik juga dengan lagu-lagu yang mereka bawakan. Rasanya tidak berlebih bila saya mengharapkan mereka tetap berupaya keras terutama dalam menemukan ciri khas-nya sendiri.

oOo

Grup band yang mengusung warna latin jazz tampil ke panggung. Grup band yang dimotori pianis RIO MORENO ini mengambil warna latin jazz sebagai warna utama musik-musik yang mereka bawakan. Sebelumnya saya pernah menyaksikan penampilan Rio Moreno ini di festival jazz yang dilangsungkan di kota Bogor, Bogor Jazz Reunion, pada tahun lalu.

Rio Moreno (piano)

Penampilan Rio Moreno malam ini sungguh memukau. Saya merasakan kalau grup band ini semakin kompak bermain dan berimprovisasi dalam format latin jazz yang lincah. Dan satu hal yang tidak berubah bagi saya ketika mendengar dentingan piano Rio Moreno, saya seperti mendengar nada-nada ketukan piano jazz Chick Corea.

oOo

Ketika YURA YUNITA tampil ke panggung, sambutan penonton demikian meriah. Inilah penyanyi muda yang sedang menanjak karirnya dan kepopulerannya di belantika musik tanah air saat ini. Sekilas saya pernah menyaksikan Yura di festival jazz Kampoeng Jazz 2015, namun saya tidak menyaksikannya secara penuh. Malam ini saya menuntaskan kepenasaran saya menyaksikan bagaimana penampilan Yura di panggung.

Yura Yunita tampil memukau

Yura yang baru merilis satu album berjudul YURA pada tahun 2014 sepertinya sudah menyedot perhatian yang besar dari publik peminat musik. Dan saya membuktikannya malam ini melalui penampilannya.

Warna vokal Yura yang khas memberikan “kekuatan” kepada lagu-lagu yang ia bawakan. Lagu-lagu dengan beat yang keras dan lincah, seperti pada lagu Kataji dan Superluna, maupun lagu-lagu yang bernada sendu, seperti terdengar pada lagu Cinta dan Rahasia dan lagu Berawal dari Tatap, dibawakan dengan baik oleh Yura, seperti yang ditunjukkan pada penampilannya malam ini.

Kepopuleran Yura dikalangan kawula muda saat ini setidaknya dapat terlihat ketika penonton ikut bernyanyi bersama dengan mengucapkan lirik lagu-lagunya dengan pas.

oOo

Penampil berikutnya adalah grup band LANTUN ORCHESTRA. Saya menyimak penampilannya yang seakan melengkapi pesan yang telah disampaikan oleh TARI BETAWI di awal pergelaran tadi karena Lantun Orchestra ini menampilkan lagu-lagu tradisional Betawi dalam setiap penampilannya. Demikian juga dengan kostum yang selalu mereka kenakan.

aya salut dengan anak-anak muda Lantun Orchestra ini. Mereka mempopulerkan kembali lagu-lagu tradisional Betawi dengan sentuhan-sentuhan warna musik khas mereka. Sambutan penonton yang hangat dan kesuksesan penampilan mereka malam ini semoga tetap menguatkan mereka untuk tetap berada di jalur yang telah mereka rintis ini.

oOo

Saya penasaran dengan sajian jazz yang dibawakan oleh BEBEN JAZZ and FRIEND. Bagaimana tidak, saya sudah sering mendengar namanya dalam kancah jazz tanah air, namun baru kali ini saya menyaksikan langsung penampilannya di panggung.

Akhirnya malam ini saya dapat menyimak petikan gitar khas Beben Jazz. Semoga saya tidak salah menyimpulkan kalau warna rock dan blues menjadi semacam “pemanis” dari nada-nada yang disuarakan dari petikan gitarnya. Lagu terakhir yang Beben Jazz and Friend bawakan berjudul Knockin’ Heaven Door, yang dipupulerkan oleh grup Guns N’ Roses, seakan menguatkan kesimpulan saya tersebut.

Beben Jazz

Beben Jazz selain pemusik juga kini berkiprah dibidang edukasi dan pengenalan jazz kepada masyarakat luas. Selain itu Beben Jazz juga tercatat sebagai founder dan pembina dari satu komunitas jazz di ibukota yang bernama Komunitas Jazz Kemayoran.

oOo

INNA KAMARIE tampil ke panggung dengan mengenakan gaun berwarna putih. Saya terpesona dengan gaya bernyanyinya terutama saat Inna membawakan lagu Blue Moon. Lagu Blue Moon seakan “dibongkar” oleh Inna, dan di-interpretasi-kan dengan olah vokal dan gaya khasnya Inna. Namun warna sendu lagu ini masih tetap terasa.

Demikian dalam penghayatan Inna bernyanyi.

Melihat gaya penampilan Inna di panggung, saya menyimpulkan kalau Inna ini piawai memainkan emosi penonton. Disatu saat ia akan tampil energik, namun disaat lain ia akan berubah menjadi lembut dan kadang berseling canda.

oOo

Saya mengenal nama RIEKA ROSLAN yang selalu lekat dengan band The Groove. Namun penampilan Rieka malam ini minus The Groove. Rieka tetap menampilkan gaya bernyanyinya yang riang seperti yang saya kenal lewat album-album rekaman The Groove.

Rieka memberi suatu kejutan kepada penonton yang hadir dengan menampilkan penyanyi jazz yang sudah lama jarang tampil, Iga Mawarni, dan pemain keyboard, Dian HP, yang malam ini bermain accordion. Penampilan mereka bertiga di panggung rasanya memberikan kesan tersendiri kepada penonton.

Rieka Roslan dan Iga Mawarni

oOo

MALIQ & D’ESSENTIALS merupakan penampil terakhir di panggung Ramadhan Jazz Festival. Grup band yang sudah berkiprah sejak tahun 2004 ini masih tetap populer dan menempati hati para penggemarnya hingga saat ini. Beat yang lincah, disertai dengan aksi panggung yang hebat, membawa penonton yang hadir untuk tetap bergairah menyaksikan penampilan mereka.

Lagu Sriwedari menutup penampilan Maliq. Lagu ini juga sekaligus mengakhiri pentas Ramadhan Jazz Festival ke-5. Waktu menunjukkan pukul 02.10 dini hari ketika Maliq mengakhiri penampilannya.

Duo vokalis Maliq

***

Ramadhan Jazz Festival ke-5 usai sudah. Melihat kemeriahannya malam ini saya dapat membayangkan kemeriahan total selama 2 malam festival jazz ini berlangsung. Terlintas rasa sesal juga karena saya hanya berkesempatan menghadiri festival jazz ini pada malam ke-2 saja.

Sebagai catatan, tidak dipungut bayaran untuk menghadiri festival jazz ini. Memang saat registrasi kepada pengunjung ditawarkan untuk memberikan semacam donasi. Donasi ini diperuntukkan bagi penggalangan dana untuk program #CareForDisability melalui Yayasan Saba dan untuk program #AirUntukKehidupan melalui Dompet Dhuafa. Untuk program #AirUntukKehidupan panitia menyediakan paket pilihan besaran donasi, dari paket donasi sebesar Rp 25.000,- sampai dengan Rp 100.000,-. Namun, pemberian donasi ini tidak mengikat.

Salut yang luar biasa atas upaya dan kerja keras yang telah dilakukan oleh RICMA dan WartaJazz yang telah berani memulai, mewujudkan dan konsisten menggelar festival jazz yang dilangsungkan di halaman masjid. Hal ini menjadikan festival jazz ini festival jazz yang unik dan hanya satu-satunya.

Saya berharap semoga Ramadhan Jazz Festival tetap dilangsungkan pada tahun-tahun mendatang.

Sukabumi, 30 Juni 2015