Mungkin salah satu fenomena yang menarik dari dunia kerja adalah pekerja-pekerja yang pulang mingguan ke rumah keluarganya di kampung halaman.  Mereka ini tidak membawa keluarganya untuk tinggal di sekitar lokasi pekerjaan, namun keluarga mereka tetap tinggal di kampung halaman.

PJKA, demikian mereka ini sering disebut. Sebutan yang tidak berhubungan dengan jawatan kereta api tapi kependekan dari Pulang Jumat Kembali Ahad, karena begitulah pola hidup mereka. Pulang Jumat sore selepas menuntaskan pekerjaan menuju rumah keluarganya di kampung halaman. Dan rata-rata mereka kembali menuju tempat mereka tinggal di sekitar tempat kerjanya pada hari Minggu alias Ahad.

Entah sejak kapan fenomena PJKA ini hadir dalam masyarakat kita. Entah pula berbagai alasan apa yang melatar-belakangi fenomena ini, karena saya pribadi belum pernah mengadakan survey atas hal tersebut. Namun bagi saya pribadi hal ini bagaikan mengikuti jejak orang tua saya. Dahulu saat beliau masih aktif bekerja di Jakarta, beliau telah menjalani model pekerja PJKA ini.

Walau saya tidak sama persis dengan kaum PJKA ini, setidaknya saya biasa pulang ke Sukabumi, tempat keluarga saya tinggal, pada Jumat malam. Perbedaannya hanya kepulangannya kembali ke Bekasi, tempat saya mengais rezeki, bukan Minggu sore namun Senin dini hari.

***

Pekerja yang pulang mingguan ini barangkali mengalami hal yang sama dengan apa yang saya rasakan. Pulang ke kampung halaman dengan suka cita karena rindu dan segera akan bertemu dengan keluarga tercinta setelah seminggu ditinggalkan. Namun rasanya berat sekali meninggalkan keluarga untuk kembali menuju tempat kerjanya. Terbayang kesibukan pekerjaan. Terbayang juga seminggu akan berpisah dengan keluarga. Ah, romantika hidup macam apa yang dijalani ini?

Perjalanan dari Bekasi menuju Sukabumi, atau sebaliknya, biasa saya tempuh dengan naik angkutan umum yang putus-putus. Di Ciawi saya biasa berganti angkutan umum. Istirahat sejenak di Ciawi menjadi pilihan. Melepas lelah disini sebelum melanjutkan perjalanan, seperti yang pernah saya tuliskan dalam posting berjudul Bumi…Bumi…Bumi…

Seperti yang saya sampaikan diatas, bagi saya, yang sering terasa berat itu adalah saat harus meninggalkan keluarga dan kembali menuju Bekasi pada hari Senin. Mulai dari bangun jam 02.00 dini hari, bersiap dan kemudian keluar rumah menuju pinggir jalan untuk menunggu angkutan umum. Udara Sukabumi yang dingin, apalagi kalau ditambah hujan, bagaikan kata-kata rayuan yang menarik-narik mengajak untuk kembali ke tempat tidur dan berselimut kembali. Namun, the show must go on…

#CiawiSeninPagi

Bila perjalanan lancar, sebelum jam 04.00 saya sudah sampai di Ciawi. Setiap hari Senin pada jam seperti itu Ciawi sudah ramai. Keramaian khas di hari Senin yang tidak terjadi pada hari-hari lainnya. Demikian sejauh yang saya amati.

Angkutan umum menuju Jakarta, dengan berbagai tujuannya yang berbeda, sudah berjajar menanti penumpang. Selain angkutan umum, kendaraan-kendaraan pribadi – biasa disebut sebagai omprengan – telah banyak juga dengan pintu terbuka menanti langganannya. Sedangkan di pinggir jalan Ciawi, geliat usaha pagi sudah juga terlihat. Warung rokok, warung kopi, tukang bubur ayam sampai tukang goreng-gorengan telah siap melayani.

Suasana Ciawi Senin Pagi.
Suasana Ciawi Senin Pagi.

Saya biasa rehat sejenak di Ciawi sebelum melanjutkan perjalanan menuju tempat tinggal sementara saya di Bekasi. Segelas kopi panas atau teh manis panas kerap menjadi pilihan saya. Goreng-gorengan panas, seperti goreng pisang, goreng tempe dan goreng tahu yang mengepul diatas penggorengannya sangat mengundang selera untuk dinikmati.

Sambil menikmati hidangan panas itu saya biasa suka membuka twitter, jejaring sosial yang saya sukai. Iseng ngetwit tentang suasana yang saksikan kedalam twit-twit yang saya beri hestek #CiawiSeninPagi, itulah yang sering saya lakukan. Seperti twit-twit saya pada tanggal 14 September 2014, yang menggambarkan keadaan Ciawi saat itu yang udaranya terasa lebih dingin dari biasanya.

Twit 14 September

Segelas kopi panas, gorengan yang sudah tersedia untuk dinikmati dan kesibukan Akang penjual gorengan yang melayani pembelinya, menjadi salah satu objek yang menarik juga untuk ditwitkan.

Twit 12 Oktober, segelas kopi panas

Twit 12 Oktober, gorengan yang mengundang selera

Twit 26 Oktober, kesibukan akang tukang gorengan

Suasana keramaian Ciawi sekitar jam 04.00 subuh saya sampaikan pada twit-twit lainnya. Potret yang diambil seadanya dengan kamera hp membantu menggambarkan suasana saat itu. Diam-diam saya ambil potret Akang yang setia setiap Senin pagi berada disini. Sama seperti saya, Akang ini sedang istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanannya.

Twit 14 Desember, suasana Ciawi

Twit 30 Nov, akang yang sedang rehat

Twit-twit saya biasa diakhiri saat Adzan Subuh berkumandang sebelum saya menaiki angkutan umum menuju Bekasi. Sapaan seorang sahabat twitter, seperti sapaan Kang Dedi Suhendra @d3d1ssahabat twitter saya dari Sukabumi – cukup berarti. Saya merasa tidak sendirian dalam perjalanan walau kenyataannya jarak kami berjauhan…

Twit 14 Des, sapaan sahabat twitter dan doa

Ungkapan mengajak untuk tetap semangat dan do’a tetap selalu saya sertakan dalam twit-twit terakhir tersebut.

***

Demikian sekelumit fenomena pekerja yang selalu pulang mingguan ke kampung halaman, menemui keluarganya disana, kemudian harus kembali menuju tempat kerjanya pada hari Minggu atau Senin pagi. Suatu fenomena yang entah sejak kapan mulai timbul dalam masyarakat dan akhirnya kini saya menjalaninya juga dan menjadi bagian dalam hidup saya.

Mungkin ada sahabat blogger dan pengunjung blog ini yang juga menjadi bagian dari fenomena pekerja mingguan?

Mari berbagi suka dukanya…

Sukabumi, 20 Desember 2014

Saya di twitter…

Saya dan twitter

Catatan
Posting ini telah di publish di VIVAlog-VIVAnews disini. Terima kasih.

 

Iklan