Sudah menjadi kebiasaan saya untuk jalan kaki pagi di Sukabumi pada akhir pekan, yang suka saya lakukan bila tidak Sabtu pagi pastilah Minggu pagi. Udara pagi Sukabumi yang masih sejuk dan segar yang sepuasnya saya hirup, barangkali bisa membersihkan paru-paru yang telah dipenuhi dengan pengap dan polusi udara pabrik setelah seminggu bergelut disana.

Kebiasaan lainnya, setelah selesai dengan jalan kaki, saya biasa nongkrong ditempat penjual makanan yang banyak ditemukan disudut-sudut kota. Memang banyak pilihan jajanan pagi tersedia sebut diantaranya bubur ayam dan bandros, yang merupakan makanan favorit bagi saya untuk dinikmati.

Tapi, sepertinya bubur ayam atau bandros, belakangan saya rasa terlalu mainstream. Saya butuh juga makanan yang khas, yang unik. Geco, saya pikir, memenuhi kriteria tersebut.

Kali ini saya ajak sahabat blogger dan pembaca blog ini untuk mengenal dan menikmati salah satu makanan unik yang ada di kota Sukabumi, geco.

Mari ber #GecoTalk

***

Geco singkatan dari Tauge dan Tauco. Sejenis hidangan dengan bahan utamanya terdiri dari tauge yang direbus dipadu dengan siraman tauco. Bahan lain yang disertakan dalam hidangan geco adalah ketupat, mie rebus, tahu, kerupuk dan kecap. Namun yang mendominasi tetaplah rebus tauge dan tauco, sehingga tak salah bila dijadikan nama makanan ini.

Selain di Sukabumi, sejauh yang saya tahu, geco juga ditemukan di Cianjur. Tak heran bila mengingat Cianjur adalah kota yang juga terkenal dengan tauco-nya. Saya pribadi belum pernah merasakan geco Cianjur, jadi saya tak dapat membandingkan persamaan atau perbedaan dari kedua geco tersebut. Selain di Cianjur, mungkin geco ada juga di kota lainnya.

Sabtu pagi kemarin saya mengunjungi warung geco bu Yayat, salah satu dari beberapa warung geco yang ada di Sukabumi. Warungnya terkenal dengan nama Geco Samsat Ibu Yayat. Disebut sebagai Geco Samsat karena lokasi warung ini berada diseberang kantor Samsat, Sukabumi. Sedangkan Ibu Yayat, nama pemilik dan pengelola warung ini.

Saya mendekati warung bu Yayat yang sudah mulai ramai dikunjungi pelanggannya. Saya lihat bu Yayat sedang asyik meracik geco. Sedangkan didepannya mengepul asap dari tungku yang diatasnya terdapat semacam wajan untuk merebus tauge. Ini salah satu yang khas, karena tetap digunakan tungku, bukannya kompor,  yang didalamnya terdapat kayu yang dibakar untuk memanaskan air rebusan tauge tersebut.

Sambil mengobrol dengan bu Yayat, saya perhatikan proses meracik geco dengan rinci.

Proses meracik geco dimulai dengan mengiris ketupat dan menempatkan beberapa irisannya diatas piring yang telah disediakan. Tauge rebus kemudian diambil dari wajan perebusan dan ditempatkan diatas irisan ketupat. Diatas tauge rebus tersebut, dituang sedikit mie rebus dan selanjutnya diberi beberapa irisan tahu. Proses meracik geco dituntaskan dengan menaburkan adonan tauco diatas seluruh permukaan racikan bahan-bahan tadi. Sebelum dihidangkan, tauco akan disiram dengan sedikit kecap dan kemudian goreng kerupuk kecil-kecil ditaburkan sebagai penutup, sebelum geco diberikan kepada pelanggan untuk dinikmati.

Proses meracik geco mungkin lebih jelas dengan melihat foto-foto rangkaian prosesnya dibawah ini.

Inilah geco racikan bu Yayat yang sudah siap untuk dinikmati.

Cukup membuat ngiler? Atau penasaran dengan cita rasa geco? Mari kita nikmati saja…

***

Saya tidak tahu sejak kapan geco ditemukan dan dikenal di masyarakat. Satu hal yang pasti, rasanya bangsa kita ini kreatif sekali menciptakan berbagai jenis makanan. Cobalah perhatikan, masing-masing daerah pastilah memiliki makanan khasnya sendiri-sendiri.

Tak untuk mengajak berteori-teori tentang jenis makanan, pesan saya, bila sahabat yang tinggal di Sukabumi, cobalah sekali-sekali nikmati geco. Rasakan cita rasanya yang unik. Untuk sahabat yang tidak tinggal di Sukabumi, siapa tahu suatu saat sempat jalan-jalan atau mampir di Sukabumi, tak ada salahnya untuk singgah sejenak di warung Geco Samsat Ibu Yayat, memesan satu porsi dan merasakan sensasi kenikmatannya.

Sukabumi, 14 Oktober 2014

Catatan
Posting ini telah di publish di VIVAlog-VIVAnews disini. Terima kasih.

Iklan