Lebaran dan Kisah Sang Ketupat

Biasa kita menyebutnya Lebaran untuk sebutan lain dari Hari Raya Idul Fitri, yaitu hari setelah satu bulan menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan. Saya pribadi belum sempat mempelajari darimana dan sejak kapan istilah Lebaran ini populer di masyarakat kita. Mungkin hal itu tidak penting. Yang lebih penting mungkin malah memperhatikan fenomena yang terjadi pada masyarakat saat periode Lebaran tersebut.

Lebaran, selain identik dengan hari saling memaafkan, juga identik dengan berkumpulnya kembali keluarga-keluarga, lengkap bersama dengan sanak-saudara. Mudik, atau kembalinya ke kampung halaman bagi sanak-saudara yang merantau, menjadi semacam gelombang perpindahan manusia yang demikian besar. Jumlah transportasi yang meningkat, naiknya ongkos berkendaraan dan kemacetan yang terjadi disepanjang perjalanan – barangkali merupakan semacam romantika tersendiri bagi para pemudik itu saat berupaya mencapai kampung halaman.

Setiap keluarga akan merasakan kebahagiaan yang tiada tara saat berkumpul kembali anggota keluarganya setelah beberapa waktu terpisahkan. Ledakan kebahagiaan akan terpancar dari wajah setiap orang mulai dari saat saling memaafkan seusai pelaksanaan Shalat Ied. Pesona inilah mungkin yang selalu menarik para perantau untuk kembali mudik pada Lebaran tahun depan, tak perduli apapun kesulitan saat perjalanan mudik tersebut.

Sahabat blogger, tulisan ini hanya sekadar menggambarkan apa yang saya alami pada hari Lebaran ini…

***

Lebaran dimulai dengan pelaksanaan Shalat Ied. Pelaksanaan Shalat Ied ini biasa dilaksanakan di lapangan-lapangan terbuka atau juga di masjid-masjid. Saya dan keluarga melaksanakan Shalat Ied di masjid dekat rumah saja. Hal ini saya lakukan demi mempermudah urusan silaturahmi dan saling memaafkan dengan tetangga dekat. Tidak perlu lagi berkeliling kampung untuk menemui tetangga satu-persatu, silaturahmi bisa langsung dilaksanakan di masjid setelah Shalat Ied dan khotbah Idul Fitri usai.

Upacara saling memaafkan itu biasa dimulai dengan berdirinya jemaah masjid untuk kemudian berputar saling memaafkan mulai dari baris paling depan. Beginilah kurang lebih gambaran salaing memaafkan antar jemaah dan warga kampung yang tadi pagi saya ikuti di Masjid Nurul Huda, Rambay, Cisaat.

Suasana silaturahmi dan saling memaafkan seusai shalat Ied.

Suasana silaturahmi dan saling memaafkan seusai shalat Ied.

Berkumpul dengan keluarga besar, ini salah satu hal yang saya nantikan. Saya sekeluarga biasa langsung menuju rumah mertua. Bertemu dengan ibu mertua, yang saat ini usianya sudah menginjak 90 tahun, bertemu kakak ipar dan adik ipar, dan yang lebih seru lagi bertemu dengan keponakan-keponakan yang setiap tahun ada kemungkinan bertambah. Bisa dibayangkan betapa ramainya suasana di rumah mertua saya itu, karena beliau mempunyai 7 orang anak yang semuanya sudah berkeluarga.

Suasana saling memaafkan dengan terlebih dahulu sungkem mohon maaf lahir batin ke ibu mertua merupakan semacam ritual tahunan saat Lebaran. Ada kebahagiaan disana, walau kadang ada juga titik air mata dari beberapa pasang mata. Itu hanya semacam ungkapan kebahagiaan saja yang demikian sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata.

Beginilah ibu mertua ketika berfoto dikelilingi 7 orang anaknya. Ibu mertua yang semakin sepuh yang kini kadang untuk berkata-katapun sering terbata-bata. Lebaran ini syukurlah beliau masih dalam kondisi sehat. Suasana yang ramai meriah di dalam rumah bisa digambarkan dari foto disebelahnya. Mereka adalan cucu dan cicit yang selalu “berisik” penuh canda tawa saat acara ini berlangsung.

Terkadang saya sering membayangkan bagaimana dahulu mertua membesarkan dan mendidik ketujuh anaknya itu. Saya pribadi dikaruniai tiga orang anak saja. Suka duka saya dan istri membesarkan mereka sepertinya tak seberapa dibandingkan dengan mertua dahulu saat membesarkan anak-anaknya. Sungguh luar biasa perjuangan orang-orang tua dahulu yang rata-rata beranak banyak.

Foto dibawah ini adalah tiga orang anak saya yang kini sudah besar. Mereka adalah generasi muda yang siap menerima estafet perjuangan dari orang tuanya yang kini usianya beranjak senja. Dan juga foto anak-anak saya bersama dua orang anak dari alm. adik saya tercinta. Inzet foto adalah foto mereka ditahun 1999.

Seusai acara saling bermaaf-maafan, biasa dilanjutkan dengan makan bersama. Hdangan Lebaran yang khas dan boleh dikatakan selalu tersedia di setiap rumah tangga adalah ketupat dan opor ayam. Mungkin Lebaran kurang sempurna bila tidak ada dua jenis makanan ini. Ah, setidaknya hal ini berlaku bagi keluarga besar saya saja…

***

Kisah sang Ketupat…

Bagi saya nama ketupat tidak berarti apa-apa. Ia hanyalah semacam makanan saja dengan beras sebagai bahan dasarnya. Namun ketika disebutkan dalam bahasa Sunda, ternyata ada makna filosofis terkandung didalamnya. Mungkin hanya mengada-ada, namun coba saya uraikan sedikit.

Ketupat dalam bahasa Sunda disebut “kupat”. Kata “kupat” itu sebenarnya kependekan dari dua suku kata yaitu “ngaku” dan “lepat”. “Ngaku” itu dalam bahasa Indonesia berarti mengakui. Sedangkan “Lepat” berarti salah atau kesalahan. Jadi kata kupat itu bermakna mengakui kesalahan yang telah dilakukan baik sengaja maupun tidak sengaja. Inilah hal dasar yang harus disadari sebelum kita beranjak ke saling memaafkan dengan fihak lain.

Cangkang ketupat sendiri terbuat dari anyaman daun kelapa. Anyaman ini saling mengikat antara satu helai daun kelapa dengan helai daun kelapa lainnya. Anyaman ini bermakna silaturahmi yang kuat terjalin, kait mengait antara sesama anggota keluarga dan bahkan anggota masyarakat lainnya.

Demikian kurang lebih makna dari kupat bila ditinjau dari sudut budaya Sunda.

Beberapa hari menjelang Lebaran, cangkang ketupat sudah ramai dipasarkan. Disalah satu sudut gang di kota Sukabumi bahkan saya menemukan beberapa orang pengrajin cangkang ketupat ini. Mereka langsung menganyam cangkang ketupat ini ditempat. Kita cukup memesannya berapa banyak cangkang ketupat yang diperlukan. Ditunggu proses menganyamnya sampai selesai, atau ditinggal dahulu untuk kemudian kembali lagi untuk mengambil cangkang-cangkang ketupat yang sudah jadi.

Cangkang ketupat dan daun kelapa.

Cangkang ketupat dan daun kelapa.

Proses pembuatan ketupat cukup sederhana. Hanya cukup memasukkan beras kedalam cangkang ketupat itu. Beras yang dimasukkan ke cangkang ketupat itu paling banyak hanya ¾ luas cangkang ketupat. Setelah semua cangkang ketupat tersebut terisi beras, kemudian dilakukan proses perebusan.

Setelah proses perebusan selesai, inilah cangkang-cangkang ketupat yang menggelembung dan siap untuk disajikan.

Dan, tentu saja opor ayam menjadi pasangan pas untuk menikmati ketupat ini. Bisa ditambah rendang, sambal goreng dan goreng kerupuk kecil, siaplah menjadi hidangan khas Lebaran. Sungguh nikmat.

***

Demikian gambaran kegiatan perayaan Lebaran yang setiap tahun saya rayakan bersama keluarga tercinta. Boleh dibilang beginilah tipikal masyarakat Sunda atau Jawa Barat merayakannya.

Bagaimana dengan perayaan Lebaran yang dilakukan keluarga sahabat blogger lainnya? Barangkali bisa memberikan sedikit gambarannya di kolom komentar dibawah ini.

Mengakhiri tulisan ini tak lupa saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H. Permohonan maaf yang tulus dan sedalam-dalamnya saya sampaikan kehadapan sahabat blogger semua. Sudilah kiranya sahabat membukakan pintu maaf bagi saya…

Sukabumi, 28 Juli 2014

20 pemikiran pada “Lebaran dan Kisah Sang Ketupat

  1. itu fotoin bagian makannya niat bener…. sampe prosesnya juga😀

    ah, seandainya bisa merasakan hal ini….🙂

    wilujeng boboran shiam, pakde🙂 taqabballahu minna wa minkum🙂 maaf lahir batin🙂

    • Hehehe, mbak, ketahuan juga. Emang niat banget kali ngupas singkat tentang ketupat ini. Mungkin karena setiap Lebaran kita nikmati, dan sebagian besar tidak faham makna dibalik ketupat ini. Saya juga baru tahu setelah ngobrol dengan bapak waktu makan bersama kemarin Lebaran.

      Sami-sami, mbak. Neda pangapunten samudayaning kalepatan.

      Salam,

  2. Ping balik: On Becoming A Public Entity ~ How Not To Be A #SocialMedia @Winewanker | Andy Kaufman's Kavalkade Krew Featuring The Wandering Poet

  3. Minal aidzin wal faidzin pak..
    lihat foto ibu mertua dg ketujuah buah hatinya, jadi ingat emak di kampung. Kami juga 7 bersaudara, n bapak juga udah tiada.
    memang acara kumpul bareng paling di nanti jika lebbaran, apalgi plus makan ketupat

    • Mohon maaf lahir batin, mbak.
      Oh, 7 bersaudara juga ya? Keluarga besar yang pasti akan meriah disaat berkumpul terkhusus pada saat lebaran.
      Berlebaran di kampung halaman juga kah, mbak?

      Salam,

  4. Selamat menyambut Hari Kemenangan, Kang
    Mohon maaf lahir dan bathin untuk segala khilaf selama bergaul di dumay ini ya Kang🙂

    Bunda selalu sedih dibalik kegembiraan menyambut hari raya ini Kang
    karena sudah dua kali berlebaran tanpa Ibunda tersayang bersama kami semua
    Semoga Allah swt selalu mencintai dan menyayangi Beliau dalam kasih sayangNYA, aamiin

    salam

    • Sama-sama Bunda, mohon maaf lahir batin juga.,,
      Semoga alm, ibunda berada berada dalam lingkup cinta dan sayangNya selalu.
      Saya pribadi masih lengkap kedua orang tua. Hanya bapak mertua yang sudah tiada…

      Salam,

  5. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Titik Asa…

    Terlebih dahulu ingin mengucapkan Salam Aidil Fitri, Maaf Zahir bathin. Didoakan ibu mertua bersama anak-anak, menantu dan cucu cicit di sana dalam kondisi sihat dan dirahmati Allah SWT. Satu nikmat apabila bisa berkumpul dalam keluarga besar begini. Saya dapat merasainya kerana keluarga saya juga besar dan ramai.

    Tidak sangka maksud ketupat (kupat) dalam bahasa Sunda adalah mengakui kesalahan. Emangnya membuat ketupat itu ayamannya selalu salah dan saya terus terang mengakui tidak pandai menganyam ketupat. Kalu di sana rebusnya dengan air sahaja ya, mas.

    Di Malaysia, merebus ketupat dengan santan kelapa dan hasilnya nanti akan terasa lemak masin.
    Salam hormat takzim dari Sarikei, Sarawak.🙂

    • Wa’alaikum salam wr. wb, mbak Fatimah,

      Mohon maaf lahir batin, mbak. Terima kasih atas doa nya. Demikian juga, semoga mbak bersama keluarga mbak tercinta selalu dalam lindungan Allah SWT.

      Ya mbak, kurang lebih demikian makna kata “kupat” dalam bahasa suku Sunda. Walau suku lainnya, seperti suku Jawa, mengartikan lain kata “kupat” itu tapi saya pikir maknanya sama, yaitu sebagai medium untuk saling memaafkan.

      Wah, baru tahu kalau di Malaysia merebus ketupatnya menggunakan santan kelapa. Saya infokan ke istri saya biar kapan-kapan dicoba juga disini…

      Salam persahabatan selalu,

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s