Semua Akan Berlalu…

Dalam dimensi ruang, kita bebas. Bergerak kemanapun, asalkan mampu dan sesuai tujuan, bisa kita lakukan.

Dalam dimensi waktu? Kita mutlak terikat dan “terjebak“, hanya pasrah. Kata mundur, kembali ke belakang, mustahil belaka. Hanya satu jalan tersedia, maju ke depan. Suka tidak suka, tetap kita ikuti aliran itu.

Dalam dimensi waktu, tugas kita hanya memberi makna terindah yang kita mampu. Menyia-nyiakannya, barangkali akan menemui sesal di masa datang.

***

Ingat saat kita kecil? Bermain, belajar bermasyarakat dengan teman sebaya. Atau belajar menguasai permainan baru yang dikenalkan oleh teman-teman sepermainan kita?

Dengan tekun kita belajar menguasai permainan itu. Teman sebaya kita, mengajari dengan sepenuh hati. Ah ya, ingat kan saat kita belajar menerbangkan layang-layang di tengah lapangan yang luas…

Ingat juga kan saat kita baru bisa naik sepeda? Tak terasa letih, mengayuh sepeda memutari perkampungan. Membonceng adik tercinta, berdiri dibelakang. Kedua tangan adik, dengan kencang berpegangan pada bahu. Ah ya, pasti ingat saat indah itu bukan…

Bersepeda bonceng adik tercinta... Awas...awas...

Bersepeda bonceng adik tercinta… Awas…awas…

Entah mengapa, rasa kasih dan sayang kita bukan hanya kepada teman-teman sebaya, tapi mengalir juga pada makhluk ciptaanNya yang lain. Apa yang bisa dijelaskan ketika ada rasa iba melihat seekor kucing yang kesakitan ditengah jalan. Entah apa yang menggerakan tangan ini untuk memangku dan merawat kucing itu. Keajaiban apakah ini? Tentu, ingat juga hal seperti ini?

Sini Pus, aku pangku yaaa...

Sini Pus, aku pangku yaaa…

Ingat juga saat kita bersekolah? Belajar bersama dan berteman, itu sehari-hari yang kita lakukan. Berangkat dan pulang sekolah bersama, menyusuri jalan-jalan yang menembus perkampungan, sambil bercanda riang. Ah, jangan-jangan ini memang kenangan tak terlupakan dari masa sekolah kita…

Ingat ketika sudah dewasa? Satu demi satu teman menyusuri jalan hidupnya masing-masing. Kadang kita benar-benar merasa sendiri menyusuri jalan hidup yang sudah ditakdirkan menjadi jalan hidup yang ditetapkan bagi diri kita. Ikhlas, lapang dada, tetap berupaya dan selalu bersyukur, konon itu yang harus selalu kita pegang dalam menyusuri perjalanan yang menjadi bagian diri kita…

Dan, suatu waktu kita akan memasuki masa senja usia kita. Saat kita merasa berat dan tak mampu lagi berdiri diatas kaki sendiri. Saat dimana, semoga, anak kita akan dengan penuh ikhlas menumpahkan kasih dan sayangnya merawat diri kita…

Ketika usia sudah senja...

Ketika usia sudah senja…

***

Detik demi detik waktu akan berlalu. Siapapun kita, tiada yang sanggup menghentikannya barang sepersekian detikpun.  Mengisi setiap detiknya hanya dengan berbuat baik, sepertinya itu yang semestinya kita lakukan.

Semoga masih ada hamparan waktu yang masih tersisa untuk diri kita. Hamparan waktu yang entah seberapa “panjang” lagi. Sepertinya itu tak penting. Yang terpenting, bagaimana kita akan mengisi dan memberi makna yang baik pada hamparan waktu yang semuanya akan berlalu.

Sukabumi, 8 Juni 2014

18 pemikiran pada “Semua Akan Berlalu…

  1. dan jatah waktu itu dalam seharinya sama untuk semua, tetapi berbeda sampai keakhirnya,
    semua yang sudah lewat tak bisa dijemput kembali, manfaatkan waktu saat ini sebaik-baiknya.

    • Ya benar sekali, waktu demikian cepat berlalu. Suka duka terlallui juga hingga akhirnya kita berada diujung.
      Mari, sesuai dengan ajakannya, isi waktu dengan kebaikan…

      Salam,

    • Betul Mas, demikian indah masa kecil. Sambil memandang anak-anak kecil bermain, sejenak kita mengenangkan masa kecil yg demikian indah itu…

      Salam,

    • Betul juga Mbak. Masing-masing menyusuri jalan hidupnya masing-masing. Ada kala sejenak kita bertemu lagi sekedar mengenangkan masa lalu saat kebersamaan dgn mereka…

      Salam,

  2. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Titik Asa…

    Hidup ini umpama roda yang sentiasa berputar mengikut masanya. Kita berada dalam ruang waktu yang meniti setiap detik kehidupan untuk mencari kebaikan dari setiap kronologi sejarah yang dilalui. Semoga banyak pengajaran yang bisa diambil sebelum mata tertutup dengan talkin berkumnadang untuk mengiringi pengakhiran dunia fana ini menuju jalan pulang abadi di sisi-NYA.

    Salam hormat takzim dari Sarikei, Sarawak.🙂

    • Wa’alaikum salam wr.wb, Mbak Fatimah,

      Benar, begitulah hidup ibarat roda yang berputar. Belajar tiada henti demi mengisi waktu dengan kebaikan dan tindakan yang di-ridhoi-NYA tentu seharusnya menjadi fokus utama.
      Terima kasih atas komentarnya yang indah ini, Mbak.

      Salam,

    • Foto-foto anak kecil dengan background alam desa selalu menggetarkan saya, Kang.
      Semakin memandangnya, semakin menyadari betapa waktu bergerak melesat dengan cepat…

      Salam,

  3. Uh…. melihata foto orang tua yang sepuh itu bikin saya sedih. Jadi kangen orangtua di Medan.
    Mudah-mudahan nanti saya bisa menyayangi orang tua saya tanpa pamrih saat mereka semakin sepuh dan butuh saya, juga saat saya tua ada anak yang menyayangi saya.

    • Duh, Mbak Zizy, maafkan bila foto itu membuat Mbak sedih dan kangen orang tua di Medan.
      Semoga Mbak, demikian juga saya, bisa mencintai dan menyayangi orang tua tanpa pamrih saat mereka sepuh…

      Salam,

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s