Sisi Hidupku

my mobile diary…

Muara Gembong: Sisi Alami Bekasi

Apa yang terbayang dan terlintas dalam pikiran anda bila disebut nama kota Bekasi?

Cobalah ajukan pertanyaan ini kepada teman sejawat anda misalnya. Saya menduga bahwa hampir pasti apa yang terlintas dalam pikiran mereka tentang Bekasi adalah daerah kawasan industri, mall-mall, polusi udara, perumahan-perumahan dari yang sederhana sampai dengan yang ekslusif, udara yang panas, kemacetan lalu-lintas atau bahkan daerah yang kerap dilanda banjir saat musim penghujan tiba.

Adakah sisi lain kota Bekasi yang diluar dari apa yang terlintas dalam pikiran itu? Katakanlah sisi dimana alam masih mendominasi keadaan sekelilingnya?

Jawabnya, ada. Dan salah satunya adalah kawasan Muara Gembong yang terletak di bagian utara kota Bekasi.

Dalam posting ini saya tuliskan perjalanan saya hari Minggu, 18 Mei 2014 ke Muara Gembong, menikmati keindahan Muara Gembong beserta hutan mangrove-nya dan juga melihat potensi-potensi yang terpendam di kawasan ini.

***

Perjalanan Menuju Muara Gembong

Sampai saat ini tidak ada angkutan kota, apa yang di Bekasi lazim disebut sebagai Koasi, yang jurusannya langsung menuju dan berakhir di Muara Gembong. Angkutan kota hanya sampai Pasar Babelan saja. Padahal dari Babelan ini masih sekitar 12-an km untuk sampai ke Muara Gembong.

Beruntung saya mempunyai beberapa  sahabat twitter yang asli penduduk lokal disana. Mereka inilah yang telah memperkenalkan Muara Gembong lebih dekat lewat perbincangan di linimasa twitter dan berbaik hati menyisihkan waktunya untuk mengantar saya ke Muara Gembong, walaupun sebelumnya saya belum pernah bertemu langsung dengan mereka di dunia nyata. Hal yang selalu mengingatkan saya akan indahnya persahabatan tak perduli dimanapun terjalinnya.

Dengan bermotor, perjalanan menuju Muara Gembong pun dimulai. Melewati Pasar Babelan, menyusuri jalan yang masih beraspal menuju ke arah utara. Jalan aspal ini cenderung sempit, hanya cukup berpapasan mobil kecil yang berlawanan arah saja. Saya dapat membayangkan kemacetan yang kerap terjadi di ruas jalan ini seandai dua buah truk tanah berpapasan. Kemacetan pastilah tak terhindarkan.

Sejenak kami berhenti di Jembatan CBL. Nama yang ternyata singkatan dari Cikarang Bekasi Laut. Dari atas jembatan ini saya bisa melihat 2 sungai yang bertemu hingga membentuk satu sungai. Yang sebelah kanan adalah sungai yang melewati kawasan Bekasi. Saya melihat airnya berwarna kecoklatan. Sedangkan yang sebelah kiri adalah sungai yang melewati kawasan Cikarang, kawasan yang banyak terdapat pabrik disekitarnya. Warna air sungainya tampat berwarna biru seperti berminyak. Sepertinya ini limbah dari berbagai industri yang berada pada kawasan Cikarang dan sekitarnya tersebut.

Perhatikan foto dibawah ini, dimana sungai yang berasal dari dan melewati kawasan Bekasi dan sungai yang melewati kawasan Cikarang bertemu dan membentuk satu sungai. Perhatikan perbedaan warna air yang mencolok pada kedua sungai tersebut.

Menatap dua sungai menjadi satu dari jembatan CBL.

Menatap dua sungai menjadi satu dari jembatan CBL.

Perjalanan dilanjutkan sampai bertemu dengan belokan di sebelah kanan jalan yang menuju ke kawasan Muara Gembong. Jalan ini belum beraspal, tapi masih dalam bentuk jalan tanah yang ber-koral batu-batu kerikil. Jangan ditanya tentang debu-debu yang berterbangan yang menyambut kami di Minggu pagi itu. Melewati jalan ini, terutama di musim kering seperti ini, mutlak harus mengenakan masker.

Disisi kiri dan kanan jalan saya masih bisa menyaksikan pesawahan yang terhampar dengan padi yang mulai menghijau. Sungguh menyegarkan mata melihat warna hijau yang begitu luas ini. Setelah melewati kawasan yang didominasi persawahan itu, saya melewati kawasan yang banyak tambak di kiri kanan jalan. Sejauh mata memandang hanya tambak yang terlihat.

Akhirnya sampailah kami ke Jembatan Blacan. Ini titik akhir perjalanan bermotor kami sebelum melanjutkan menelusuri kawasan berair bernama Muara Gembong.

Menelusuri Muara Gembong dan Menyaksikan Hutan Mangrove

Sejenak kami beristirahat di warung yang ada di Jembatan Blacan. Menikmati segelas kopi panas sambil berbincang akrab layaknya sahabat yang sudah lama tak berjumpa. Disamping jembatan, perahu kecil telah siap membawa menelusuri kawasan Muara Gembong dan melihat dari dekat hutan mangrove yang masih subur tumbuh disana.

Dengan menaiki perahu kecil bermotor, kamipun menelusuri Muara Gembong. Air muara yang tenang tanpa ombak memberi ketenangan juga kepada diri saya yang belum pernah menaiki perahu model begini sebelumnya. Perahu melaju dengan perlahan.

Dari kejauhan saya menyaksikan hutan mangrove yang menghijau. Sungguh pemandangan yang demikian indah. Kesejukan angin dan kesegaran udara demikian nikmat saya hirup. Tak salah bila hutan mangrove dianggap sebagai paru-paru kota karena menghasilkan oksigen yang demikian melimpah, selain juga penahan abrasi.

Hutan mangrove Muara Gembong.

Hutan mangrove Muara Gembong.

Koloni demi koloni mangrove dilewati. Hijau dan tampak subur menggunung. Kalimat apa lagi yang hendak saya tuliskan untuk menceritakan keindahan ini kepada pembaca semua?

Mungkin rangkaian foto dibawah ini – sila klik foto untuk memperbesar tampilan – memberikan gambaran keindahan, kesejukkan dan ketentraman yang saya rasakan selama saya disana dan tak mampu lagi saya tuliskan disini.

Berbagai cara orang untuk menikmati keindahan Muara Gembong. Seperti saya naik perahu berombongan, di kejauhan saya melihat orang yang mendayung perahu kecil sendirian atau orang yang asyik memancing sendirian ditengah muara diatas bangunan sederhana yang terbuat dari bambu dan beratap guna menahan panas terik sinar matahari.

Teman saya bilang, rasanya kurang sempurna seandai menelusuri Muara Gembong dan tak mampir di masjid yang berada ditengah muara. Masjid itu berupa masjid kecil yang bernama Masjid Alam Blacan.

Mengunjungi Masjid Alam Blacan

Perahu menepi ke ujung daratan. Satu demi satu kami turun dari perahu dan menginjakkan kaki di daratan. Sekian jam kedepan kami minta dijemput kembali oleh Abang yang mengemudikan perahu kecil itu, sementara kami akan menikmati keindahan Masjid Alam Blacan untuk beberapa saat.

Dari jauh tampak Masjid Alam Blacan tersembunyi di balik pepohonan. Untuk mencapainya kami harus berjalan kaki melewati pematang yang membelah tambak-tambak. Berjalan lurus menyusuri pematang itu, kemudian belok kanan melewati jembatan kayu menghantarkan saya dan rombongan ke halaman mesjid.

Saya mengelilingi masjid kecil itu. Memperhatikan setiap sudut-sudutnya yang rapi, bersih dan tertata baik, dipadukan dengan suasana tambak disekelilingnya, sungguh pamandangan yang luar biasa menawan dan memberikan kesan yang mendalam kepada diri saya.

Saat memasuki bagian dalam masjid itu terasa sejuk dan tenang. Sajadah terhampar rapi di lantainya. Didepannya saya lihat ruang kecil yang merupakan ruang mimbar.

Masjid Alam Blacan ini diyakini oleh sebagian masyarakat, seperti tercermin dengan perbincangan dengan pengurus mesjid tersebut, mempunyai kaitan dengan penyebaran agama Islam pada masa Wali Songo. Saya pribadi belum menemukan catatan-catatan resmi mengenai hal ini, demikian juga teman saya yang asli penduduk setempat. Sepertinya akan menjadi agenda yang menarik untuk mengungkap asal-muasal mesjid ini dan menyusunnya menjadi suatu catatan sejarah di masa depan.

Demikian antara lain diskusi saya dengan teman saya saat mengakhiri kunjungan ke Masjid Alam Blacan tersebut.

***

Muara Gembong, yang saya sebut sebagai sisi alami Bekasi ini, saya pikir mempunyai potensi yang besar untuk kedepannya dikembangkan sebagai kawasan wisata. Tidak tertutup kemungkinan juga untuk menjadikan kawasan ini sebagai kawasan pendidikan demi memperkenalkan alam, dalam hal ini hutan mangrove, yang demikian berperan bagi menunjang kehidupan, agar tetap dijaga kelestariannya. Maupun tempat ini dapat juga digunakan sebagai lokasi untuk konservasi dan pengembangan hutan mangrove.

Walau sampai saat ini dirasa sulit mencapai kawasan Muara Gembong, mengingat ketiadaan angkutan umum menuju kawasan ini dan kondisi infrastruktur jalan yang masih sangat minim, namun ada baiknya kondisi ini tidak menyurutkan harapan kedepannya bahwa daerah ini akan maju dan berkembang. Semoga kondisi ini menjadi semacam tantangan bagi pihak pemerintah daerah setempat untuk segera mengembangkan kawasan Muara Gembong ini.

Semoga.

Bekasi, 21 Mei 2014

Catatan Tulisan ini saya dedikasikan untuk sahabat-sahabat twitter saya yang juga admin akun @muaragembongku dan @babelaninfo yang terus berjuang demi pembangunan dan kemajuan daerahnya, dan juga yang telah mengantar saya menyusuri Muara Gembong dan mengunjungi Masjid Alam Blacan. Terima kasih tak terhingga atas keramahan kalian, sahabat…

ki-ka: @fay_ruzz , saya, @bisot , @komarbekasi , Bang Doy. Bang @ucie_yusuf1 yang mengambil foto.

ki-ka: @fay_ruzz , saya, @bisot , @komarbekasi , Bang Doy. Bang @ucie_yusuf1 yang mengambil foto.


Tulisan ini disertakan dalam Kontes Blog #3TahunWB – Warung Blogger Peduli Potensi Daerah


 

Catatan
Posting ini telah di publish di VIVAlog-VIVAnews disini. Terima kasih.

Iklan

50 comments on “Muara Gembong: Sisi Alami Bekasi

  1. chandra
    21 Mei 2014

    terkadang kita sibuk melipir jauh-jauh sampai lupa dengan potensi di wilayah sendiri ya, informatif sekali nih, saya jadi pengen ke sini kalau ke bekasi, respect 🙂

    • Titik Asa
      23 Mei 2014

      Betul sekali, Mbak. Ternyata di kota sendiri ada terdapat potensi wisata yang masih terpendam.
      Boleh dikunjungi kalau kapan-kapan ke Bekasi. Dijamin tak akan menyesal.

      Salam,

  2. ysalma
    21 Mei 2014

    saya lama hilir mudik di Kota Bekasi belum pernah sampai ke Muara Gembong, ternyata Babelan ke sana tersimpan keindahan alam luar biasa.
    Sukses di acara GA-nya Kang.

    • Titik Asa
      23 Mei 2014

      Ini sama kasusnya dengan saya Mbak. Belakangan hanya mendengar namanya saja. Membuat penasaran karena beberapa teman yang ditanya rupanya sama, hanya tahu nama saja dan jarang sekali yang pernah berkunjung ke Muara Gembong.

      Melalui teman-teman twitter lah akhirnya saya sampai ke Muara Gembong…

      Salam,

  3. SITI FATIMAH AHMAD
    21 Mei 2014

    Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Titik Asa…

    Subhanallah walhamdulillah kerana diperlihatkan keindahan alam muara Gembong yang masih lestari dan bertata rapi. Jika kita tahu menjaga alam dan memuliharanya, pasti kita akan tenang dan harmoni di dalamnya.

    Pengalaman yang manis yang telah diabadikan dengan indah dan bermanfaat untuk dikongsikan sesama. Masjidnya juga dibina walau di tengah muara ya. menunjukkan keperihatinan penduduk dan pemerintah setempat akan keperluan ibadah. Semoga sukses dalam lombanya, mas Titik.

    Salam hormat dari Sarikei, Sarawak. 🙂

    • Titik Asa
      23 Mei 2014

      Wa’alaikum salam wr.wb., Mbak Fatimah,

      Terima kasih atas perkenannya Mbak membaca dan memperhatikan keindahan alam yang saya sampaikan disini.

      Betul Mbak, pengalaman manis yang bermakna persahabatan yang terjalin antara saya dengan teman-teman twitter yang sebelumnya belum pernah bertemu dan mereka bersedia meluangkan waktu untuk mengantar saya mengunjungi Muara Gembong, ber-perahu bersama dan mengunjungi masjid alam Blacan yang demikian tertata rapih.

      Salam persahabatan selalu…

      • SITI FATIMAH AHMAD
        26 Mei 2014

        Alhamdulillah, demikianlah Allah berkenan mempertemukan sesiapa sahaja dengan izin-NYA sehingga dapat menjalin persahabatan di dunia maya. Mudahan semuanya akan kekal terjalin dalam rahmat Allah serta dapat lagi merencana wisata yang lebih menarik di masa depan.

        Saya senang melihat alam hijau yang tenang dan indah, Cuma kurang menyenangi kawasan berair walaupun pandai berenang. Hanya takut di dasar sungainya ada buaya… hehe.

        Didoakan mas Titis Asa serta keluarga dalam kondisi diberkati Allah SWT. Aamiin.
        Salam hormat takzim. 🙂

        • Titik Asa
          27 Mei 2014

          Benar sekali Mbak, bila Allah berkenan apapun terjadi. Seperti persahabatan yang mulanya terjalin di dunia maya akhirnya berlanjut ke persahabatan yang lebih bermakna di dunia nyata.

          Nah, saya malah tidak bisa berenang, Mbak. Jadi saat naik perahu kemarin deg-deg-an juga. Untungnya ada pelampung yg siap saya kenakan.

          Salam juga untuk keluarga Mbak disana. Semoga selalu berbahagia dan dalam lindungan Allah SWT.

          Salam persahabatn selalu,

  4. Riski Fitriasari
    22 Mei 2014

    pengen kesana.. mumpung dekat ni… 🙂

    • Titik Asa
      23 Mei 2014

      Wah, dekat ya ke Muara Gembong?
      Segeralah kunjungi. Lokasi yang teramat indah ini sayang kalau dilewatkan dan tidak dikunjungi…

      Salam,

  5. Septi suryani
    22 Mei 2014

    Subhanallah , alhamdulillah .
    Terimakasih atas keperduliannya dan mau mengekspose keragaman yang ada di Muaragembong.

    Jujur, setelah membaca artikel ini ada rasa malu tersendiri dlm hati.
    Saya anak penduduk dan pribumi asli Muaragembong pun tdk pernah menginjakkan kaki ke Masjid Blacan sana karena memang perjalannya yang cukup jauh.

    Saya mengapresiasi penuh atas semua kegiatan yang ada di Group ini tentang Muaragembong yang Hijau dan Tenang.

    Semoga #MuaragembongKu ini bermanfaat banyak dan terus semakin berkembang bersama-sama.

    Salam .

    • Titik Asa
      23 Mei 2014

      Sama-sama Mbak Septi,
      Saya pribadi sangat terkesan dengan keindahan, kesejukan dan keasrian Muara Gembong bersama hutan mangrove-nya. Ditambah dengan masjid alam Blacan yang juga saya kunjungi, lengkap sudah obat kepenasaran saya akan lokasi yang sangat potensil untuk lokasi wisata ini.

      Wah, Mbak Septi asli pribumi Muara Gembong rupanya? Mungkin kenal dengan salah satu dari beberapa tokoh pemuda disana seperti yang tampilkan dlm foto diatas?

      Salam,

  6. bisot
    22 Mei 2014

    ini dia, terimakasih udah posting pengalamannya pak 🙂 potensi ekowisata di Muaragembong belumlah dipoles, masih alami dan jauh dari fasilitas apapun yang selayaknya ada untuk sebuah tujuan wisata, namun dengan “nekad” bapak telah memilih meluangkan waktunya untuk menjelajah ke pedalaman Bekasi pesisir yang hampir terlupakan 🙂

    semoga tulisan ini membuka wawasan ke-bekasi-an yang lebih luas khususnya bagi warga bekasi sendiri bahwa ada surga yang tersembunyi di pesisir utara bekasi.

    salam

    • Titik Asa
      23 Mei 2014

      Saya yang sangat berterima kasih karena Bang Bisot, Bang Komar, Bang Ucie dan Bang Doy rela meluangkan waktunya untuk mengantar saya menyususri Muara Gembong dan mengunjungi masjid alam Blacan. Sungguh perjalanan yang dahsyat nih Bang.

      Hehehe…”nekad” ya Bang? Nekadnya bertemu sahabat-sahabat yang belum pernah bertemu sebelumnya, pas ketemu langsung saya malah merepotkan ya…

      Semoga seperti yang Bang Bisot harapkan, demikian juga saya, dapat tercapai.

      Salam,

  7. rodamemn
    22 Mei 2014

    asyik sekali perjalanannya sambil deg2an di sungainya itu pak, hehehe…gambar2nya juga bagus2 🙂

    • Titik Asa
      23 Mei 2014

      Iya Mbak lumayan dibikin grogi juga naik perahu model begini. Untungnya saya memakai pelampung yang disediakan selama naik perahu itu. Jadi tenang juga.

      Ah fotonya sih asal jepret-jepret saja Mbak. Dari sekian banyak shot, yang lumayan bagus saya tampilkan disini.

      Salam,

      • rodamemn
        24 Mei 2014

        ga bener bagus koq pak, alami dan original 🙂

  8. agita violy
    23 Mei 2014

    wah, kemarin sempet ke muara gembong tapi gak sampai ke masjid blacannya 😦

    baca disini: http://www.menujujauh.com/2014/05/mengenal-sisi-lain-bekasi-lewat-muara.html

    • Titik Asa
      23 Mei 2014

      Sempat ku Muara Gembong juga rupanya. Ah sayang ya tidak sempat berkunjung ke masjid alam Blacan.
      Baik, saya kunjungi blognya…

      Salam,

  9. cumilebay.com
    28 Mei 2014

    Cakep juga yaaaa, suka ama sawah2 yg hijau itu trus ada sungai disebelah nya

    • Titik Asa
      29 Mei 2014

      Memang sawah menghijau masih terhampar luas sepanjang perjalanan menuju Muara Gembong, Mas…

      Salam,

  10. Adi
    29 Mei 2014

    Gali potensi daerah, kembangkan dan bangun… Semangaaat

  11. Ni Made Sri Andani
    29 Mei 2014

    wah..pasti banyak burung pantainya di daerah sekitar muara ya Pak?

    Btw..banyak harpitnas nih minggu ini,nggak ada plan ke Sukabumi, pak?

    • Titik Asa
      29 Mei 2014

      Saya kurang memperhatikan burung-burung disini Mbak. Rasanya banyak juga.
      Saya libur seminggu nih Mbak. Seminggu ini, sejak Sabtu, saya full di Sukabumi.
      Mbak ke Sukabumi juga?

      Salam,

      • Ni Made Sri Andani
        30 Mei 2014

        Ya Pak. Hari ini hingga Minggu pagi saya masih di Sukabumi

        • Titik Asa
          30 Mei 2014

          Kalau ada waktu, Minggu pagi mampir ke Lapang Merdeka, Mbak.
          Lapang Merdeka kini sudah berubah sama sekali. Tidak ada lagi pedagang disana. Lapang Merdeka telah kembali ke fungsi semula sbg area gerak badan dan olah raga masyarakat di Minggu pagi. Saya setiap minggu pagi kesana bersama istri. Mungkin kita bisa saling berkenalan?

          Salam,

        • Ni Made Sri Andani
          1 Juni 2014

          Pak minta maaf..saya kayanya harus berangkat pagi pas hari Minggu. Jadi mungkin nggak sempat bermain ke lapangan merdeka. Mudah-mudahan lain kali kita bisa berkenalan ya Pak.

        • Titik Asa
          1 Juni 2014

          Baik, Mbak.
          Semoga lancar diperjalanan dan selamat sampai tujuan.
          Lain kali moga ada kesempatan kita untuk berkenalan.

          Salam,

        • Ni Made Sri Andani
          1 Juni 2014

          Ya Pak,mudah-mudahan kita bisa bertemu nanti pas liburan Lebaran kali ya Pak.Saya juga ada rencana ke Sukabumi lagi nanti. BTW no telpon bapak berapa ya? Saya pengen e-mail, tapi belum bisa connect ke e-mailnya Bapak.
          Sekali lagi..maaf banget..saya tadi pagi mesti menengok keluarga dulu, ada yang di rawat di RS di Cibadak, lalu ke Jakarta. Jadi berangkatnya lebih pagi.

        • Titik Asa
          7 Juni 2014

          Baik Mbak, no telpon sudah saya kirimkan via email.

          Salam,

  12. Susi
    2 Juni 2014

    Sisi lain dari Bekasi yang luar biasa. Di balik megahnya kota Bekasi, ada wisata alam yang bagus meski harus didapat dengan melewati jalanan tanpa aspal dan berdebu. Sangat layak…. bahkan harus dikunjungi.

    • Titik Asa
      7 Juni 2014

      Betul Mbak Susi, ternyata masih ada sisi alami Bekasi yang masih asri.
      Sayangnya jalan menuju kesana masih jauh dari layak. Demikian keadaannya saat ini. Semoga kedepannya ada perhatian dari pemerintah daerah setempat.

      Salam,

  13. evrinasp
    7 Juni 2014

    salam kenal pak, selamat sudah menjadi salah satu pemenang, selama ini saya tahunya kalo dibekasi itu banyak pabrik, perumahan dan mall, ternyata masih ada wisata alam nan hijau ya 😀

    • Titik Asa
      8 Juni 2014

      Salam kenal juga Mbak.

      Terima kasih ucapan selamatnya. Selamat juga untuk Mbak yang menjadi pemenang juga dalam kompetisi blog Warung Blogger.
      Betul Mbak, Bekasi identik dgn pabrik, perumahan dan mall. Saya sendiri sekian tahun mamandang Bekasi juga sampai tiba kesempatan mengunjungi Muara Gembong yang jauh dari keramaian Bekasi dan bahkan akses jalan kesana masih sangat darurat.
      Semoga kedepan perhatian pemerintah daerah setempat akan lebih besar ke daerah ini.

      Salam,

  14. Wawan Gunawan
    4 September 2014

    Salam perkenalan, saya wawan asli muara gembong pantai mekar, sekarang tinggal di kendal jawa tengah.
    setiap lebaran saya pulang kampung sama keluarga, 35 thn sdh, gembong tak pernah ada perubahan jalan yang tak pernah bagus, seandainya saya jadi bupati bekasi insya allah gembong akan lebih baik dan saya akan membuat jembatan celincing – gembong kaya suramadu he he mimpi kali….. saya juga heran padahal masyarakat gembong antusias dalam pemilihan pileg maupun pilpres akan tetapi gembong tak pernah dipikirkan

    • Titik Asa
      15 Desember 2014

      Salam perkenalan juga…
      Ah, semoga bang Wawan nanti jadi bupati Bekasi sehingga apa yang dicita-citakan mengenai pembangunan di Muara Gembong terlaksana dgn baik.
      Kondisi menuju Muara Gembong masih sulit sekarang ini. Padahal ini daerah yang potensil untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata alam yang mempesona.

      Salam,

  15. Agoeng Bae
    13 Desember 2014

    Bahkan Saya Yang Sering Ke Bekasi Belum Pernah, Malah Belum Tahu Daerah Babelan Apa Lagi Muara Gembong,..

    • Titik Asa
      15 Desember 2014

      Sepertinya memang daerah ini belum dikenal luas sampai saat ini.
      Kapan-kapan berkunjung ke Muara Gembong ya Mas…

      Salam,

  16. Ilham yahya
    14 Desember 2014

    mantap pak , rumah saya di kotanya mau ksitu udah lama tapi ga tau jalanya padahal sama dibekasi

    • Titik Asa
      15 Desember 2014

      Sama, saya juga asalnya tidak tahu bagaimana mencapai Muara Gembong ini. Syukurlah saya bertemu sahabat-sahabat asli orang sana lewat twitter dan jadilah saya berkunjung kesana…

      Salam,

  17. Taufiq Rahman
    3 Januari 2015

    Ada aja ini Bang Komar, jawara Moge.
    Salam dari sy Taufiq Rahman
    #TDA

    • Titik Asa
      4 Januari 2015

      Bang Taufiq rupanya kenal sama Bang Komar ya?
      Saya baru pertama kali bertemu, sebelumnya sering ngobrol di twitter dgn beliau.

      Salam,

  18. abdul aziz
    16 Maret 2015

    Assalamualaikum wr wb…

    Mas titik asa..
    Terimakasih banyak atas kerelaan mas titik utk mengunjungi desa kecil yang kami miliki…
    Terimakasih juga telah membantu memperkenalkan MUARA GEMBONG kepada orang banyak..

    Menjadi suatu kehormatan bagi kami warga gembong menjamu kedatangan orang seperti anda ..
    Yang masih peduli betul akan keindahan mangrove & desa kami..

    Terimakasih mas titik asa…

    • Titik Asa
      16 Maret 2015

      Wa’alaikum salam wr. wb.

      Sama-sama Bang Aziz. Saya pribadi sudah lama mendengar nama Muara Gembong ini, sudah lama juga ingin mengunjunginya. Informasi mengenai Muara Gembong saya rasa masih sulit diperoleh. Beruntungllah saya bertemu teman-teman yang rela mengantar saya ini melalui twitter.
      Muara Gembong sangat postensil dan sangat menarik. Sayangnya untuk menuju ke lokasi masih sulit karena tiadanya angkutan umum menuju kesana.
      Semoga kedepan lingkungan Muara Gembong dan sekitarnya menjadi salah satu fokus pemerintah untuk dikembangkan dengan lebih baik lagi.

      Salam dari saya di Sukabumi,

  19. Zizy Damanik
    3 April 2015

    Kunjungannya menarik sekali, Pak. Saya ingin juga sesekali bisa ke tempat seperti ini. Dulu pernah ada undangan eh saya pas berhalangan.

    • Titik Asa
      20 April 2015

      Kalau nanti ada undangan kesana lagi, datangi ya Mbak.
      Muara Gembong masih asri dgn hutan mangrove-nya. Hanya perjalanan kesana yang belum nyaman Mbak.

      Salam,

  20. bersapedahan
    9 Mei 2015

    wah … saya ingin sekali main ke daerah muara gembong ini ..
    sewa perahu berapa biayanya ?
    salam

  21. atha
    15 Juli 2015

    semoga kmpung halaman muara gembong bisa tambah maju juga mndapat prhatian lebih

  22. Ping-balik: Menyusuri Muara Gembong, Mempererat Persahabatan | Sisi Hidupku

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: