Tiga Tokoh Menggetarkan

Terkadang sering saya terpesona dengan gemerlap gebyar pembangunan saat ini. Gedung-gedung tinggi, mall-mall, perumahan-perumahan ekslusif, pusat-pusat bisnis dan industri – kurang lebih itu sebagian yang memenuhi mata dan pandangan saya. Ditambah dengan indeks pertumbuhan ekonomi, yang sering disitir oleh para ahli dan para birokrat, lengkaplah gambaran “kemajuan” yang mencitrakan gambaran “indah” negeri ini.

Saya menemukan tiga tokoh berikut ini yang, saya sebut saja, keluar dari gambaran seperti yang saya ungkapkan diatas. Ada rasa haru melihat kesederhanaan mereka ini, ada juga rasa takjub betapa mereka tetap bertahan dalam kesederhanaan hidupnya. Saya menyadari kalau ini hanya pandangan personal saya yang jauh dari pemahaman saya atas teori-teori ekonomi, karenanya sila pembaca untuk berkomentar yang berbeda dengan apa yang saya tuliskan ini.

Tiga tokoh ini saya temukan di sudut-sudut kota Sukabumi. Hanya sample saja karena saya yakin banyak tokoh-tokoh seperti ini di kota-kota lainnya pula.

Mari, saya perkenalkan pembaca kepada mereka…

***

Tokoh pertama yang saya perkenalkan adalah seorang tukang sol sepatu. Pembaca pasti tahu apa yang saya maksud dengan tukang sol sepatu. Ia biasa memperbaiki sepatu-sepatu yang mengalami sedikit kerusakan. Misalnya, sol sepatu sudah menganga karena lemnya sudah tidak merekat lagi, atau kulit sepatunya yang terlepas sehingga perlu dijahit ulang. Walau yang ia biasa kerjakan bukan hanya memperbaiki sepatu, sendal kulit juga bisa, tapi sudah kadung kalau mereka ini disebut sebagai tukang sol sepatu. Tukang sol sepatu ini menjajakan jasanya ada yang diam di lokasi tertentu, ada juga yang keliling menyusuri gang-gang perkampungan. Yang saya tampilkan adalah tukang sol sepatu keliling, yang pada suatu hari kebetulan melewati gang di depan rumah saya.

Ia mengaku bernama Kang Yayan. Saya sempat berbincang sejenak dengan Kang Yayan saat ia memperbaiki sendal-sendal rusak yang keluarga saya miliki. Konon, Kang Yayan ini sejak tahun 1990-an sudah bergelut dengan usahanya ini. Ia sendiri lupa berapa lama ia menjalankan usahanya ini di Tangerang, kemudian pindah ke Bekasi dan kini di Sukabumi.

Hanya ini kemampuan saya untuk menghidupi keluarga, Kang”, demikian ia berujar, sambil tersenyum, kepada saya.

***

Tokoh kedua yang saya perkenalkan adalah seorang pengamen jalanan. Ia biasa nongkrong di trotoar jalan di depan Kantor Pos Sukabumi. Saya biasa sejenak menikmati alunan tembangnya di hari Sabtu, seusai saya jalan kaki pagi.

Ia selalu membawakan tembang-tembang Sunda klasik yang menawan. Tembang-tembang Sunda yang sering saya kurang pahami maksudnya karena lirik-liriknya yang penuh dengan “simbol”. Sering terharu bila sejenak saya berdiri di hadapannya, mendengarkan ia nembang dengan begitu indahnya dan memperhatikan kelincahan jari-jari tangannya memainkan kecapi, mengingat ia seorang tunanetra.

Kang, koq sekarang sering gak ada disini kalau hari Sabtu? Pindah nongkrongnya?”, saya bertanya demikian karena sering beberapa hari Sabtu saya tidak menemukannya disini.

Suka agak sibuk di rumah, Kang. Saya lagi ngurus ayam. Lagi ngegedein, buat dijual nanti jelang Lebaran…”, demikian ia berujar.

***

Tokoh ketiga adalah seorang pengamen jalanan juga. Ia biasa nongkrong di Gang Baledesa Sukabumi. Ia pemain kecapi dan penembang Sunda namun sangat kontras perbedaannya dengan Akang pemain kecapi diatas, ia berpenampilan keren. Ciri khasnya bendo yang selalu ia kenakan di kepalanya. Juga lagu-lagu Sunda yang dibawakannya. Ia lebih sering membawakan lagu-lagu pop Sunda yang populer di masyarakat.

Karena terpesona dengan lagu-lagu Sunda pop yang ia bawakan, suatu waktu saya pernah iseng bertanya,

Kang, kalau bangsa Sunda itu memang masih ada?

Masih ada atuh, Kang. Tapi menurut saya mah, bangsa yang sepertinya kian meninggalkan adat dan tradisinya…”.

Sungguh suatu jawaban dahsyat atas pertanyaan iseng saya tadi…

Ketika saya meninggalkannya, ia katanya ingin bernyanyi khusus untuk saya. Kemudian ia memetik dawai kecapinya dan menyanyikan lagu Mawar Bodas dengan indah. Lagu ini aslinya dibawakan oleh penyanyi Sunda Detty Kurnia yang kini sudah tiada. Ia meninggal pada usia 49 tahun di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, akibat kanker payudara yang dideritanya. Ia meninggal tepatnya pada tanggal 20 April 2010.

Entah kenapa Akang pemain kecapi ini memilih lagu Mawar Bodas dan menghadiahkannya khusus untuk saya…

Mapay jalan satapak

Ngajugjug ka hiji lembur

Henteu karasa capena

Sabab aya nu diteang...

***

Tiga tokoh yang saya sampaikan diatas ini adalah tokoh-tokoh nyata. Tokoh-tokoh yang banyak bertebaran di berbagai sudut kota di tanah air kita ini. Tokoh-tokoh yang sering menggedor kebanggaan dan kejumawaan kita yang mengaku sebagai bangsa yang sudah demikian maju dalam hal pembangunan dan perekonoman.

Bagi saya, mereka adalah sebagian dari tokoh-tokoh yang senantiasa membawa untuk kembali merenungkan arti dan makna kehidupan ini.

Bekasi, 15 Mei 2014

46 pemikiran pada “Tiga Tokoh Menggetarkan

  1. Lagu seperti Mawar Bodas yang pernah booming dan penyanyii lain semacam Hetty Koes Endang itu, punya chemistry yang ga bisa dijelasin.🙂 Akang tukang sol dan pengammen itu contoh mereka yang punya harga diri, ya. Enggak mau jadi beban buat orang lain. Sampaikan hormat saya buat mereka, ya.
    salam kenal dari Bandung.

    • Saya juga gak paham mengapa lagu Mawar Bodas itu demikian terasa mantap kala didengarkan.
      Akang tukang sol sepatu dan pengamen itu barangkali mewakili sosok tokoh-tokoh sederhana namun mandiri yang banyak ditemui di berbagai pelosok tanah air.

      Salam kenal juga dari saya di Sukabumi,

    • Ironis, memang. Walau sekarang mulai banyak komunitas-komunitas yg berupaya menumbuh-kembangkan kembali budaya dan tradisi ini, mungkin gerakan mereka masih kurang besar…

      Salam,

  2. sangat menarik sekali pernyataan akang pengamen itu ya.. saya juga salah satu yang sangat mengkhawatirkan kenyataan itu.. banyak dari kita tidak lagi mempelajari adat istiadat kita sendiri…boro-boro bangga ya Pak..

    • Pernyataan akang pemain kecapi itu entah bercanda entah bukan tapi saya pribadi sempat terperanjat dengan ucapannya itu, Mbak.
      Apa benar atau tidak, itu jadi bahan perenungan juga bagi saya.
      Semoga kedepan akan semakin tumbuh komunitas-komunitas yang bergerak kearah pengembangan kembali budaya dan tradisi luhur kita. Semoga.

      Salam,

  3. Teu acan maosna oge tos cirambayan abdi mah kang…

    Semoga Allah SWT melinpahkan rejeki yang barokah buat beliau semua..aamiin.

    *ngusap-ngusap cisoca*

    • Hapunten upami posting ieu ngajantenkeun Teh Wie janten cirambayan kitu. Hapunten abdi, Teh.
      Sumuhun, mugi Allah SWT memberikan mereki rezeki yang barokah…

      Salam,

  4. Pertama ningal di FB, teu acan wantun bacana..da ujug2 cirambayan, meni nyesek ka dada kang…
    Hatur nuhuun postinganna, membuka mata dan hati untuk pandai mensyukuri semua nikmat-Nya…

  5. Tokoh-tokoh ini juga seperti saya dan orang kebanyakan, yang belum sempat mengukir sejara yang bisa ditulis dengan tinta emas, yang punya ladang perang sendiri untuk terus diperjuangkan🙂

  6. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Titik Asa…

    membaca tulisan mas tentang 3 tokoh yang hebat di atas, bener2 mengetarkan hati. Mereka mampu melakukan pekerjaan tersebut dengan redha dan bahagia sesuai dengan apa yang Allah kurniakan pada mereka. Saya selalu rasa tersentuh melihat manusia yang mampu hidup dalam kesukaran, menguras peluh tetapi bisa membahagiakan orang lain demi sesuap nasi untuk mengisi perut keluarganya. Mudahan mereka bisa menemukan kegembiraan di akhirat kelak. Saya jadi malu dengan diri, saat ada keluhan yang dilafazkan sedangkan kerjanya dalam AC. Astaghfirullah.

    Terima kasih mas atas tulisan yang sangat mencerah jiwa ini. Semoga mendapat manfaat untuk kehidupan kita agar lebih bersyukur dengan nikmat Ilahi.
    salam hormat dari Sarikei, Sarawak.🙂

    • Wa’alaikum salam wr.wb, Mbak Fatimah…

      Betul Mbak, mereka manusia-manusia yang tegar dan tetap terus berjuang diatas kemampuannya sendiri demi mempertahankan hidupnya yang layak sebagai manusia. Bagi saya mereka ini semacam guru-guru yang siap untuk direnungi berbagai pelajaran yang secara tidak sadar mereka berikan kepada kita.

      Terima kasih juga Mbak atas apresianya kepada tulisan sederhana saya ini. Semoga ada manfaat bagi yang kebetulan membacanya.

      Salam,

  7. Salut untuk mereka bertiga…
    Bersemangat menjemput rejeki dan pejuang bagi keluarga nya
    Subhanallah satu lagi pencerahan dari tulisan Kang Asa…

    • Demikian juga saya, Kang. Haru dan salut bercampur baur melihat ketiga tokoh ini berjuang mengais rezeki demi menghidupi keluarganya.

      Terima kasih Kang atas kunjungan dan komentarnya.

      Salam,

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s