Rindu menikmati jazz secara live dan rindu kembali berada dalam suasana kampus, bagi saya, adalah dua kerinduan yang kadang terbersit di hati. Bisa menikmati kedua hal tersebut secara bersamaan, sungguh merupakan suatu momen yang selalu saya  tunggu dan saya nantikan.

Kesempatan untuk melepaskan kerinduan itu akhirnya muncul juga. Ada acara yang digagas dan dikoordinir oleh BEM Fakultas Hukum, Universitas Padjadjaran, Bandung yang diberi nama keren Kampoeng Jazz. Acara ini berlangsung pada Sabtu, 3 Mei 2014 lalu.

Kampoeng Jazz sudah menginjak ke-6 kalinya. Lengkapnya kegiatan kali ini diberi nama The 6th International Kampoeng Jazz. Entahlah, selalu ada saja halangan untuk menghadiri acara ini pada tahun-tahun sebelumnya, hingga akhirnya saya bisa juga menghadirinya kemarin Sabtu.

Tiket Masuk Kampoeng Jazz.
Tiket Masuk Kampoeng Jazz.

Berikut saya tuliskan sekilas apa yang saya nikmati dan saksikan selama berlangsungnya pegelaran jazz di Kampoeng Jazz tersebut.

***

Sekitar jam 12.00-an, saya sudah berada di gerbang Universitas Padjadjaran, Bandung. Suasana di depan pintu gerbang masih sepi saat itu. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi saya lihat telah bersiap menyambut pengunjung pegelaran jazz ini.

Pintu gerbang masuk ke halaman universitas ini telah dihias dengan indah. Plang besar berlatar belakang dominan warna biru terlihat indah. Bertuliskan The 6th International KAMPOENG JAZZ dengan menyertakan ornamen bertema gunung pewayangan cukup menarik untuk diperhatikan.

Menyerahkan tiket kepada mahasiswa/i yang bertugas menjaga pintu masuk dan melalui pemeriksaan yang sangat teliti terhadap barang bawaan setiap pengunjung dan diakhiri dengan pemakaian semacam gelang identitas yang dililitkan pada tangan sebelah kanan setiap pengunjung.

Gerbang Kampoeng Jazz dan gelang identitas...
Gerbang Kampoeng Jazz dan gelang identitas…

Selepas prosedur pemeriksaan dilalui, akhirnya saya memasuki area universitas. Didepan, dijalan yang akan saya lewati, telah dibangun semacam terowongan historis untuk sementara waktu. Melewati terowongan ini, saya melihat disisi kiri dan kanannya berhiaskan semacam jejak rekam pelaksanaan Kampoeng Jazz ini dari yang pertama hingga keenam ini. Didinding terowongan dipasang juga artis-artis jazz yang pernah tampil di pentas panggung Kampoeng Jazz.

Terowongan historis Kampoeng Jazz...
Terowongan historis Kampoeng Jazz…

Setelah terowongan dilalui, saya melewati area tempat bazaar makanan. Siang ini saya melihat penjual berbagai jenis makanan ini sedang bersiap-siap membenahi berbagai makanan yang dijualnya. Suasana sepi ini kontras dengan keramaian sore hari, sekitar jam 17.00-an, saat saya kembali ke area ini untuk sekedar mengisi perut yang terasa lapar sore itu.

Bazaar makanan saat siang dan sore...
Bazaar makanan saat siang dan sore…

Saya lanjutkan berjalan menuju kearah panggung pegelaran telah disiapkan. Ada semacam photo booth yang telah disiapkan disana. Photo booth yang berlatar belakang sebagian artis jazz yang akan tampil. Saya melihat juga gerbang menuju Lounge yang masih sepi dan juga panggung Main Stage.

Photobooth, Gerbang Lounge dan Main Stage.
Photobooth, Gerbang Lounge dan Main Stage.

Pegelaran jazz kali ini akan dilaksanakan di dua lokasi, yaitu di Main Stage dan di Lounge. Beberapa artis jazz yang saya suka ada yang bertabrakan jadwal manggungnya. Dengan memperhatikan time table yang telah saya peroleh sebelumnya, saya memutuskan untuk tetap menikmati jazz di Main Stage saja karena kebanyakan artis-artis jazz favorit saya ternyata  manggung di Main Stage.

Run Down. Sumber @KAMPOENGJAZZ
Run Down. Sumber @KAMPOENGJAZZ

Beberapa artis jazz favorit saya yang tampil di Main Stage saya tuliskan ulasannya dibawah ini.

Mus Mujiono

Mus Mujiono adalah penyanyi dan gitaris yang saya kenal lagu-lagunya dengan baik. Ia yang dilahirkan di Surabaya, 15 Maret 1960 terkenal dengan kepiawaiannya bermain gitar dengan apa yang dikenal sebagai teknik scating. Walau teknik ini bukan orisinil ciptaan Mus Mujiono, tak urung kehebatannya bermain dengan teknik ini membuat kagum para penyuka jazz. Teknik scating ini selalu dihubungkan dengan artis jazz Amerika, George Benson.

Mus Mujiono tampil sebagai feature dari jazz band KSP yang manggung siang itu. Entah mengapa lagu-lagu jazz yang dibawakan mereka seakan mengajak saya untuk kembali ke masa muda saya. Beberapa lagu terkenal yang pernah dibawakan penyanyi jazz yang sudah tiada, Utha Likumahuwa, disampaikan dengan indah.

Ketika Mus Mujiono tampil, saya sudah menebak pasti ia akan membawakan lagu jazz masterpiece-nya. Benar saja, Mus Mujiono membawakan lagu Arti Kehidupan, ciptaan Oddie Agam, yang pernah populer di sekitar tahun 1988 dan lagu yang sangat berkesan bagi saya pribadi.

Mus Mujiono, Arti Kehidupan.
Mus Mujiono, Arti Kehidupan.

Penampilan Mus Mujiono yang menarik lainnya ialah saat ia berduet dengan gitaris jazz muda bernama Ari Pramundito. Vokal Mus Mujiono dan petikan gitar yang bersahut-sahutan antara mereka berdua sungguh asik dinikmati. Lagu jazz yang mereka bawakan berjudul On Broadway. Lagu yang pernah dipopulerkan oleh George Benson sekian tahun silam.

Mus dan Ari, On Broadway.
Mus dan Ari, On Broadway.

Maliq and D’Essentials

Band beraliran jazz ini berasal dari Jakarta. Maliq sendiri kepanjangan dari Music and Live Instrument Quality. Lagu-lagu jazz Maliq ini terkenal di kalangan anak muda saat ini. Selain jazz-nya yang tidak terlalu berat, lirik-lirik lagu Maliq ini bertemakan cinta yang romantis, merupakan kekuatan dari band ini.

Sampai dengan saat ini, Maliq telah merilis 7 album, termasuk album 1st dan Free Your Mind yang masing-masing albumnya dibuat versi repacked. Album pertama Maliq, 1st, dirilis tahun 2005. Sedangkan album terbarunya, berjudul Sriwedari, dirilis tahun 2013.

Maliq d'Essential on stage
Maliq d’Essential on stage

Sambutan penonton yang luar biasa ketika Maliq hadir bahkan beberapa lagu yang ditampilkan diikiti liriknya oleh sebagian besar penonton, cukup menunjukkan kepopuleran band ini saat ini. Selain irama jazz-nya yang easy listening, jangan dilupakan peran dua vokalisnya yang enerjik bergerak, Angga Puradiredja dan Indah, saat membawakan lagu-lagu populer mereka.

Gaya Angga dan Indah on stage.
Gaya Angga dan Indah on stage.

The Groove

The Groove adalah jazz band yang sudah lama berkiprah dalam belantika musik Indonesia. Band ini sudah 17 tahun eksis sejak dibentuk tahun 1997.

The Groove on stage.
The Groove on stage.

Penampilan meraka yang menarik sore itu tetap mengusung karakter jazz khas mereka. Dengan dua vokalis andalannya, Reza dan Rieka Roeslan, mereka mengalirkan keceriaan Main Stage Kampoeng Jazz sore itu. Salah satu lagu hit mereka, Dahulu, dibawakan dengan sangat menawan.

Reza dan Rieka yang tetap enerjik bernyanyi.
Reza dan Rieka yang tetap enerjik bernyanyi.

Krakatau

Krakatau adalah salah satu jazz band yang sangat saya nantikan penampilannya. Hal ini salah satunya karena mengingatkan saya ke masa saya mengecap kehidupan di kampus. Band yang beraliran fusion jazz ini dibentuk pada tahun 1984,berbarengan dengan masa-masa saya kuliah.

Malam ini Krakatau tampil dengan formasi lengkap, apa yang mereka sebut sebagai Krakatau Reunion, dengan Indra Lesmana (keyboard), Dwiki Dharmawan (keyboard), Pra Budi Dharma (bass), Donny Suhendra (gitar), Gilang Ramadhan (drum) dan vokalis Trie Utami.

Krakatau Reunion
Krakatau Reunion

Hentakan jazz fusion yang cenderung keras dan enerjik, disertai vokal Trie Utami yang prima malam itu membuat saya terkagum menyaksikan kehebatan mereka bermain dan berimprovisasi dalam bermain jazz. Dan lagu-lagu lama mereka yang dinyanyikan dengan indah oleh Trie Utami diantaranya Gemilang (1986) dan Kau Datang (1988), cukup mengingatkan saya kepada kenangan masa muda saat ber-kampus dahulu…

Trie Utami dengan vokal yang prima.
Trie Utami dengan vokal yang prima.

Renee Olstead

Renee Olstead boleh dibilang penyanyi jazz muda saat ini. Bernama lengkap Rebecca Renee Olstead, lahir di Kingswood, Texas pada 18 Juni 1989. Renee yang berdarah Norwegia ini selain penyanyi jazz juga artis film.

Pada tahun 2004, Renee merilis album pertamanya yang diberi judul Renee Olstead. Album yang berisikan lagu-lagu jazz dan pop standards yang cukup sukses di pasar musik. Album keduanya berjudul Skylark diproduseri oleh David Foster. Walau album ini direkam untuk di rilis tahun 2005, tapi mengalami beberapa kali penundaan sampai akhirnya baru dirilis pada tahun 2009.

Malam ini Renee tampil dengan anggun. Mengenakan gaun panjang berwarna hijau terlihat begitu cantik. Ini salah satu kelebihan yang ia miliki selain juga warna vokalnya yang pas dengan karakter lagu-lagu jazz standards yang diusungnya.

Renee Olstead so amazing...
Renee Olstead so amazing…

Saya rasa lagu Renee yang paling populer di kalangan anak muda saat ini adalah lagu yang berjudul A Love That Will Last, lagu yang berasal dari album pertamanya. Mungkin alunan jazz standards yang lembut dan lirik lagu ini yang romantis merupakan faktor kepopuleran lagu ini. Kepopuleran ini ditunjukkan dengan diikutinya kata demi kata dari lirik lagu ini oleh penonton yang hadir menyaksikan penampilan Renee.

The beauty of Renee Olstead...
The beauty of Renee Olstead…

Lagu A Love That Will Last ini ditulis oleh David Foster. Keromantisan lagu ini dapat disimak diantaranya pada chorus lagu ini yang berbunyi,

I don’t want a just a memory,

Give me forever,

Don’t even think about saying good-bye,

‘Cause I just want one love to be enough,

And remain in my heart till I die…

Lirik yang sangat romantis…

***

Jazz dan kampus dua hal yang selalu saya rindukan, terwujud untuk dinikmati bersamaan pada pegelaran jazz di Kampoeng Jazz ini. Sungguh hal yang sangat membahagiakan bagi saya.

Masa kampus telah berlalu bagi saya, berjuta kenangan tetap tersimpan disana. Berbeda dengan jazz yang tetap masih bisa saya nikmati hingga kini. Walau demikian, keduanya saling bertaut mengisi sebagian dari perjalanan hidup saya.

Bekasi, 7 Mei 2014

Iklan