Entah kenapa dan entah sejak kapan kalau di kota Sukabumi itu banyak sekali jajanan pagi berupa bubur ayam. Tidak heran kalau pedagang bubur ayam tersebar dibanyak sudut kota. Dan hebatnya, masing-masing pedagang bubur ayam ini mengembangkan racikannya sendiri yang khas. Suatu bentuk kreatifitas yang mungkin tak tercatat dalam sejarah. Suatu bentuk kreatifitas yang entah bersumber dari apa dan entah hasil dari olah pikir yang bagaimana.

Beberapa pedagang bubur ayam telah saya tuliskan, mulai dari Mang Mami yang lokasi mangkal berjualan bubur ayamnya tidak jauh dari rumah tempat saya tinggal, seperti saya tuliskan dalam posting ini, juga Mang Deden dengan bubur ayamnya yang sederhana namun dedikasinya yang luar biasa. Luar biasa karena Mang Deden telah berjualan bubur ayam selama kurang lebih 30 tahun, seperti saya tuliskan disini. Kedua pedagang bubur ayam ini bolehlah disebut sebagai pedagang bubur generasi tua yang tidak banyak inovasinya dalam meracik bubur ayamnya. Namun tak dipungkiri, bubur ayam racikan mereka berdua ini tetap dahsyat cita rasanya.

Kini, saya perkenalkan sahabat blogger semua dengan Kang Yudi. Ia, yang saya anggap sebagai generasi muda pedagang bubur ayamtelah melakukan inovasi dalam membuat racikan bubur ayamnya sehingga bolehlah dikatakan bahwa bubur ayamnya ini adalah khas dirinya.

Inilah Kang Yudi…

***

Kang Yudi biasa mangkal setiap pagi di pojok Alun-alun Sukabumi tak jauh dari Mesjid Agung Sukabumi. Saat hari Sabtu kemarin, 12 April 2014, saya mengunjunginya, tampak dari kejauhan gerobak buburnya sudah banyak didatangi oleh pelanggan-pelanggannya. Saat itu sekitar jam 07.00 pagi, saat orang-orang mampir setelah melakukan gerak badan pagi, atau orang-orang yang singgah sejenak untuk sarapan pagi sebelum menuju tempat kerjanya.

Pelanggan setia bubur ayam kampung kang Yudi...
Pelanggan setia bubur ayam kampung kang Yudi…

Saya sempat memperhatikan bagaimana Kang Yudi menyiapkan mangkok demi mangkok racikan bubur ayamnya ini. Terlihat demikian terampil ia bekerja, mulai dari menuangkan bubur kedalam mangkok sampai dengan mengiris-iris daging ayam kampung sebelum dituangkan kedalam setiap mangkoknya.

Rupanya Kang Yudi ini telah 10 tahun berjualan bubur ayam. Waktu yang luar biasa panjang untuk mengasah ketrampilan dan mengembangkan racikan bubur ayam khasnya ini. Setidaknya ia telah berjualan bubur ayam di lokasi sekarang ini sudah sekitar 4 tahun. Sebelumnya lokasi berjualan bubur ayamnya ini di jalan Pejagalan, disekitar Vihara Widhi Sakti. Hanya saja di lokasi ini ia berjualan sore hingga malam hari.

Kang Yudi, yang memakai baju kotak-kotak ini, tampak masih muda. Orang muda yang ramah yang tetap murah senyum saat saya ajak ngobrol disela kesibukannya menyiapkan bubur ayam pesanan pelanggan-pelanggannya yang sudah banyak menanti hidangan bubur ayam kampungnya itu.

Gaya kang Yudi saat menyiapkan bubur ayam...
Gaya kang Yudi saat menyiapkan bubur ayam…

Salah satu yang khas dari bubur ayam Kang Yudhi ini adalah bubur ayamnya tidak ditaburi goreng kerupuk kecil atau goreng emping, seperti umumnya kebanyakan racikan bubur ayam. Goreng kerupuk ini Kang Yudi ganti dengan goring pangsit kecil buatannya sendiri. Jadi kalau kita memesan satu mangkok bubur ayamnya ini, maka kita akan disodori dua mangkok. Satu mangkok yang berisi bubur ayam yang siap dilahap dan satu mangkok lagi berisikan goreng pangsit kecil-kecil ini.

Bubur ayam kampung khas kang Yudi dan pangsit goreng..
Bubur ayam kampung khas kang Yudi dan pangsit goreng..

Bagaimana, merangsang selerakah sajian bubur ayam kampung khas Kang Yudi ini?

***

Saya pribadi salut dengan model usaha yang sudah 10 tahun dijalani dan ditekuni oleh Kang Yudi ini. Selain salut dengan kemandiriannya dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, juga salut dengan inovasi yang telah ia kembangkan dalam racikan bubur ayamnya. Suatu upaya yang luar biasa dan pastinya tidak sembarangan dilakukan bila ia tidak benar-benar mencintai profesinya sebagai pedagang bubur ayam.

Bekasi, 15 April 2014