Bapak dan Mesin Tik Kuno

Pernah terlintaskah dalam bayangan sahabat-sahabat blogger sekalian kalau pekerjaan meja yang sering dilaksanakan saat ini, dalam hal ini mengetik, dahulu sepertinya begitu sulit dan melelahkan dalam melakukannya?

Mungkin tidak pernah terlintas dalam bayangan maupun pikiran kita karena pekerjaan mengetik sekarang demikian mudah dilakukan. Tinggal buka aplikasi word processing pada pc atau laptop, ketik apa yang hendak disampaikan, edit atau copy-paste, simpan dokumennya. Di print kalau memang perlu hard copy nya atau tinggal send email bila memang dokumen tersebut penting untuk dikirimkan kepada fihak-fihak terkait.

Perkembangan teknologi telah mempermudah urusan mengetik dan mencetak dokumen. Sebegitu mudahnya bahkan kini tak lagi perduli apakah seseorang itu mempunyai kemampuan mengetik 10 jari atau hanya mempunyai kemampuan mengetik “11 jari” saja. Keadaan yang puluhan tahun lalu, seandai dicoba dilakukan sekarang, dengan menggunakan alat mengetik yang dipakai masa itu, ternyata demikian sulit dan berat.

***

Saya menuliskan posting tentang mesin tik dan mengetik ini gara-gara hari Minggu lalu ketika berkunjung ke rumah orang tua saya melihat Bapak sedang asik mengetik surat undangan pertemuan yang akan dikirimkan kepada rekan-rekannya pada organisasi pensiunan dimana beliau menjadi salah satu pengurusnya. Saya takjub melihat Bapak demikian rileks dan enjoy mengetik dengan menggunakan mesin tik kuno yang beliau miliki.

Bapak memang menyimpan barang-barang kuno di rumahnya. Selain mesin tik kuno ini, Bapak juga meiliki benda kuno lainnya berupa Al-Qur’an super mini warisan dari orang tuanya seperti yang pernah saya tuliskan dalam posting berjudul Al Qur’an Mini Milik Bapak.

Mengenai mesin tik ini, Bapak menyimpan dua mesin tik kuno dirumah. Satu bermerk Facit dan satu lagi bermerk Royal. Kondisi kedua mesin tik ini masih baik dalam arti masih dapat digunakan untuk mengetik dan huruf-hurufnya masih sempurna bentuknya. Kedua mesin tik ini dirawat dengan cukup baik, keduanya juga terpasang pita, dan keduanya dalam kondisi siap digunakan.

Mesin tik pertama bermerk Facit. Mesin tik ini mempunyai tempat untuk menyimpan kertas yang lebar. Menurut penuturan Bapak, dahulu mesin tik model ini biasa digunakan oleh tenaga administrator untuk menyusun laporan-laporan dalam bentuk tabel atau lajur-lajur dengan menggunakan kertas yang lebar.

Saya tidak menemukan petunjuk pada badan mesin tik ini tentang kapan mesin tik Facit yang Bapak miliki ini diproduksi. Kondisinya yang masih prima dan terawat sampai saat ini sungguh membuat saya kagum.

Mesin tik kuno merk Facit milik Bapak.

Mesin tik kuno merk Facit milik Bapak.

Mesin tik kedua yang Bapak miliki bermerk Royal. Secara fisik mesin tik ini bentuknya lebih gemuk dibanding mesin tik Facit diatas. Hanya saja penampang untuk penyimpan kertasnya tidak selebar dibanding yang terdapat pada mesin tik Facit. Konon dahulu mesin tik jenis ini hampir selalu terdapat di meja kerja para pejabat setingkat kepala bagian pada masanya.

Ini mesin tik Royal yang masih Bapak simpan dan rawat dengan baik sampai saat ini.

Mesin tik kuno merk Royal. Satu dari dua mesin tik kuno milik Bapak.

Mesin tik kuno merk Royal. Satu dari dua mesin tik kuno milik Bapak.

Minggu pagi ini Bapak demikian asik “bermain” dengan mesin tik kunonya. Suara tak-tik-tak-tik terdengar ketika saya membuka pintu rumah Bapak. Saya sempatkan memotret Bapak yang sedang asik mengetik menggunakan mesin tik Facit favoritnya.  Jari-jarinya terlihat demikian lincah menari-nari mengetuk huruf demi huruf. Terlihat demikian ringan jari-jari itu memukul keypadnya. Sepertinya sangat mudah melakukannya.

Ini foto Bapak yang sedang asik mengetik di Minggu pagi itu. Saya sertakan juga foto lawas Bapak saat beliau sedang mengetik di meja kerjanya. Foto ini diambil sekitar tahun 1970-an saat Bapak bekerja sebagai tenaga administrasi penyusun dokumen di salah satu kantor Notaris di Sukabumi.

Bapak dan mesin tik kuno.

Bapak dan mesin tik kuno.

***

Penasaran saya mencoba menggunakan mesin tik merk Facit ini. Apa yang saya rasakan? Rasanya demikian keras keypad itu harus diketuk supaya menghasilkan huruf yang sempurna pada kertas. Beberapa saat saya teruskan mengetik, mulai terasa pegal pada jari-jari dan kedua pundak.

Saya tidak dapat membayangkan betapa letihnya Bapak saat dahulu bekerja di kantor Notaris itu. Padahal katanya beliau sering lembur hingga jam 12 malam bila waktu sangat mendesak untuk menyelesaikan dokumen-dokumen yang banyak menumpuk.

Memang teknologi telah mempermudah urusan kantor seperti urusan mengetik ini. Tapi bukan itu yang saya kagumi. Saya sekarang justru lebih mengagumi bagaimana kerja keras Bapak untuk menghidupi keluarga melalui kemampuannya mengetik cepat dengan 10 jari. Hal yang ternyata tidak ringan, tidak mudah dan juga melelahkan seperti telah saya buktikan melalui percobaan mengetik saya pagi ini dengan menggunakan salah satu mesin tik kuno itu.

Bekasi, 19 Maret 2014

Iklan