Lini Masa yang saya maksudkan disini adalah terjemahan bebas dari kata timeline yang dikenal dalam dunia twitter. Saya tidak faham benar apakah timeline itu memang diterjemahkan sebagai lini masa atau linimassa atau mungkin ada terjemahan lainnya yang lebih tepat. Ah biar saja, yang penting ketidafahaman saya tersebut tidak mengurangi niat saya untuk lanjut menulis posting ini.

Judul Satrawan Lini Masa ini bukan ledekan saya terhadap teman-teman twitter yang memang rajin menulis puisi atau fiksimini lewat jejaring twitter. Malah sebaliknya, ini semacam salut saya kepada teman-teman twitter yang konsisten berkicau dengan menyelipkan puisi atau fiksimini dalam kicauannya. Hal yang bagi saya pribadi sungguh sulit untuk dilakukan.

Beberapa diantara teman-teman twitter saya ini telah melangkah jauh. Mereka mengumpulkan kicauan dalam bentuk puisi atau fiksimini tersebut kedalam bentuk sebuah buku. Dan tentu saja kebanyakan buku ini tidak diterbitkan oleh penerbit yang berada di garis mainstream, tapi melalui penerbit-penerbit indie yang memberikan kemungkinan untuk menerbitkan buku-buku dengan biaya sendiri dari penulisnya. Kurang lebih demikian fenomena menarik yang saya dapat tangkap.

***

Saya pribadi berkenalan dengan jejaring twitter sejak tahun 2010. Pertama membuka akun twitter ini hanya semacam mencari selingan saja dari dunia facebook yang telah saya kenal sebelumnya. Memang terasa sepi saat pertama membuka akun twitter. Ternyata mencari teman di twitter tidak semudah mencari teman di facebook. Itu yang saya rasakan.

Lama kelamaan bermain twitter ternyata lebih mengasyikan rupanya. Bertemu dengan teman-teman baru disana. Saling follow. Saling berbalas kicauan. Akhirnya tercipta juga jaringan pertemanan. Bagi saya sebenarnya hal itu merupakan jaringan yang aneh. Aneh karena mereka itu benar-benar teman maya yang belum pernah berjumpa di dunia nyata. Memang beberapa dari teman-teman twitter itu pernah bertemu muka. Pertemuan-pertemuan yang siap membawa kejutan. Terkadang bertolak belakang dengan apa yang dapat dibaca dari kicauannya dengan aslinya mereka itu.

Beberapa teman-teman twitter, yang saya sebut mereka sebagai sastrawan lini masa tersebut, belakangan telah menerbitkan buku. Buku yang berisi kumpulan dari apa yang sering mereka kicaukan di lini masa.

Inilah mereka itu…

Tino, @JvTino

Entah sejak kapan saya mengenal @JvTino yang bernama lengkap Jasper Valentino ini. Sapaannya yang khas yang berlaku di setiap saat, entah pagi, siang atau malam, selalu menjadi pembuka kala mulai log in ke twitter. Sapaan khas itu adalah, “Selamat gini hari…”. Nah kan gini hari. Pagi, siang dan malam tetap gini hari, bukan?

jvtino

Mas Tino telah menerbitkan buku kumpulan puisinya. Buku yang bercover unik karena bermuka dua sisi. Sisi pertama berjudul Setintapena – Drama Cinta. Sisi sebelahnya berjudul Setintapena – Sisi Hidup. Satu sisi buku itu halamannya berakhir dipertengahan halaman buku. Jadi kita bisa membolak-balikan arah saat membaca buku ini.

Setintapena - Drama Cinta - Sisi Hidup, karya Mas Tino
Setintapena – Drama Cinta – Sisi Hidup, karya Mas Tino

Membaca salah satu puisinya, sungguh membuat saya tercengang. Begitu indah Mas Tino menuliskan tentang waktu. Begini ia menuliskannya,

Waktu

Mereka bilang,

hari kemarin bisa untuk pelajaran,

hari esok menjadi teka-teki misterius,

dan hari ini menjadi hadiah terindah dari detak napas yang mengalir.

Aku bilang,

hari kemarin, esok dan hari ini,

adalah mensyukuri waktu dalam imajinasi.

Tentang waktu ini, ia tuliskan juga dalam puisi lainnya. Ini cuplikannya,

Aku,

Hanya menjalani waktu,

Hingga habislah masaku…

Buku yang berisi kumpulan puisi-puisi indah ini hadir dengan beragam tema. Cinta, imajinasi, waktu, keluarga, begitulah tema yang tertanam dari setiap puisinya.

Oh iya, terima kasih saya ucapkan kepada Mas Tino karena dalam bukunya ini menyertakan juga kicauan berbalas puisi melalui lini masa antara Mas Tino, Rizky Zaldy dan saya dalam puisi yang diberi judul Taman Rahasia

AnDiana Moedasir, @andiana

Mba An, demikian saya memanggilnya di lini masa. Kicauannya di twitter yang seperti berlari-lari random, kadang kicauan serius, kadang kicauan bercanda atau malah kicauan galau, bagai menggambarkan kepribadiannya yang tidak mau diam. Mencari dan mencari, sepertinya begitu yang selalu Mba An lakukan dalam hidup ini.

andiana

Buku yang ada ditangan saya karya mba An ini berjudul #kamu, senyum pelangiku. Dari judulnya ini dapat saya menebak kalau buku ini berisi puisi-puisi cinta. Cinta, penantian, kerinduan dan harapan kepada si #kamu sebagai tokoh sentral dari imajinasi mba An.

#kamu, senyum pelangiku, karya Mba Andiana
#kamu, senyum pelangiku, karya Mba Andiana

Betapa mendalam kerinduan mba An kepada si #kamu itu. Coba simak puisinya ini,

Cawan rinduku sudah tak sanggup menampung.

maka ia tumpah, mengalir perlahan…

menujumu.

Atau yang ini,

Menunggumu menujuku,

meski menghabiskan seluruh hidupku, akan kulakukan.

karena kamulah hidupku.

Atau tentang perpisahan yang terasa begitu menyakitkan namun tetap indah dituliskan dalam puisinya,

Ada gemerisik angin,

menggelitik tengkuk, dingin.

aku tahu, itu bukan tanda rindu.

itu salam perpisahan darimu.

mungkin memang lebih baik.

Kumpulan puisi-puisi yang mba An sampaikan dalam bukunya ini seakan mengajak pembaca untuk merayakan kegalauan hati. Ah, mungkin itu hanya perkiraan saya saja…

Ryan Pradana, @ry4nn_ 

Terus terang saya lebih mengenal Mas Ryan di twitter ini sebagai seorang penggila film. Setiap saat saya berkicau tentang film sering Mas Ryan menanggapinya. Saya menyimpulkan kalau pengetahuannya akan dunia film ini sungguh luas. Saya tidak pernah mengira kalau Mas Ryan ini juga penulis cerita fiksi yang handal sebelum saya membaca cerita pendek karyanya yang terdapat dalam buku yang ia terbitkan.

ryan

Buku yang diterbitkan dari tangan mas Ryan ini berjudul Tujuh. Tujuh ini berarti buku ini berisi kumpulan karya tujuh orang penulis. Tambahan judul dari buku ini adalah, Antologi Cerita Fiksi. Berbeda dari dua buku karya Mas Tino dan Mba An diatas, buku ini bukan berisi kumpulan puisi. Buku ini berisi kumpulan cerita fiksi yang ditulis dengan sangat pendek.

Tujuh, kumpulan cerita fiksi karya Mas Ryan Pradana dkk.
Tujuh, kumpulan cerita fiksi karya Mas Ryan Pradana dkk.

Apa yang khas dari satu cerita pendek? Ini, ia selalu menampilkan semacam kejutan di akhir ceritanya. Kejutan yang diluar pemikiran pembaca tentunya. Inilah serunya keseluruhan cerita pendek yang ada dalam buku ini. Saya merasakan kejutan di akhir cerita itu sebagai sesuatu yang “out of the box”.

Dalam cerita pendek yang berjudul Pulang, karya Ryan Pradana, jelas tergambar apa yang saya maksudkan sebagai kejutan di akhir cerita.

Cerita ini berkisah tentang pemuda bernama Rico yang disatu malam mengantar pulang seorang suster rumah sakit bernama Marini. Begini cuplikan di beberapa paragraf akhir ceritanya,

“Oh iya, setelah tikungan, belok kanan ya. Terus berhenti di depan rumah warna hijau.”

Setelah mengikuti arahannya, mobilku berhenti di depan rumah yang dimaksud.

“Lho, ini kan kuburan, Mbak?” tanyaku ketakutan ketika dia turun dari mobil.

“Nah, Rico, disinilah kamu seharusnya berada, bukan gentayangan di jalan. Kasihan orang tuamu, terus-terusan menangis setelah kecelakaan itu.”

“J… Jadi… kamu…” Lidahku mendadak kelu.

“Lihatlah tubuhmu yang penuh luka itu! Aku suster yang merawatmu dari koma hingga meninggal. Sekarang pulang ya!”

Atau cerita pendek lainnya berjudul Cinta Pertama karya Irfan Aulia. Membaca judulnya, pembaca seakan dibawa untuk mengenang cinta pertama yang romantis. Apakah demikian dengan cerita pendek ini?

Cerita ini berkisah tentang seorang gadis bernama Vera. Suatu waktu, Vera mendapat surat dari Pak Pos. Surat undangan. Surat yang membuatnya terpana. “Dari Arun”, demikian ujar Vera ketika ditanya oleh adiknya yang penasaran.

Surat itu membuka kenangan yang menyeruak bagi Vera. Teringat cinta pertamanya kepada sosok Arun. Cinta yang berbalas, namun tidak lama. Enam bulan kemudian mereka harus berpisah karena Arun harus pindah sekolah.

Dan, paragraf akhir memberikan kejutan yang luar biasa memilukan hati. Ini yang ditulis oleh Irfan,

Kini, setelah bertahun-tahun tak bersua, kulihat dia. Arun hampir sama sekali tak berubah, meski kini berbalut baju nikah. Pikiranku pun dipenuhi nostalgia. Mau tak mau, senyumku pun berkembang, disamping kerandanya.

Membaca cerita demi cerita lainnya dalam buku Tujuh ini, seakan menantang pembaca untuk suatu kejutan yang tidak terduga di akhir cerita. Dahsyat…

***

Itulah beberapa karya sastra teman-teman saya di twitter. Dari ketiga teman yang saya sebutkan diatas, hanya satu orang yang pernah bertemu langsung dengan saya yaitu Mas Tino. Pertemuan yang berlangsung di satu sore di Bekasi Cyber Park. Pertemuan yang penuh keakraban, bagai teman lama yang tidak pernah bertemu lagi. Penuh canda, tawa dan berbagi cerita. Begitulah.

Apapun, upaya yang dilakukan teman-teman twitter saya ini untuk menerbitkan karyanya secara indie pantas saya acungi jempol. Buku yang disajikan ini tetap memberi warna khas kepada dunia kesusastraan negeri ini pada umumnya.

Semoga kalian tetap konsisten berkarya. Perjuangan masih panjang untuk menjadikan kalian sastrawan yang akan membawa harum negeri ini.

Bekasi, 4 Februari 2014

Iklan