Unforgettable Journey with My Wife: Jumpa Kembali dengan Pelabuhan Ratu dan Pantai Citepus

Setelah sekian lama saya tak pernah mengunjungi Pelabuhan Ratu dan pantai Citepus, Sabtu kemarin akhirnya saya dan istri kembali berkunjung kesana. Berdua, dengan masing-masing menyandang tas di punggung, kami menelusuri kembali sebagian jejak masa muda kami.

Sekian lama yang saya maksudkan ini berarti puluhan tahun. Lama sekali. Padahal dahulu pantai ini demikian akrab dengan saya. Masa saya SMP, pun masa saya SMA, kerap saya mendatangi pantai ini bersama teman-teman.  Banyak kenangan indah yang saya lewati dsini. Tak mengunjunginya kembali bukan karena saya sudah tak lagi cinta pada pantai ini, tapi kesibukan dan macam-macam urusan yang menahan saya sehingga tak juga bertemu dengan kesempatan untuk kembali mengunjunginya.

Sekalian mengenang saat-saat indah masa muda kami dahulu dan sejenak refreshing dari rutinitas kerja sehari-hari, akhirnya tercipta juga kesempatan untuk mengunjungi kembali Pelabuhan Ratu dan pantai Citepus ini.

Mari saya ajak sahabat blogger untuk mengunjungi juga Pelabuhan Ratu dan pantai Citepus melalui posting ini…

***

Jarak Sukabumi ke Pelabuhan Ratu sekitar 60-an km kearah selatan.  Perjalanan ke Pelabuhan Ratu sudah relatif nyaman sekarang ini. Disamping jalannya yang sudah rapi, juga angkutan umum kesana sudah cukup memadai. Ada bis kecil ber-AC dari Sukabumi ke Pelabuhan Ratu. Dengan ongkos Rp 25.000,- per orang, duduk santai, nikmati pemandangan indah selama perjalanan, tak terasa dua jam berlalu dan sampailah di Pelabuhan Ratu.

Sabtu Siang

Sekitar jam 10.00 siang, sampai juga kami berdua di Pelabuhan Ratu. Udara khas yang panas dan bau laut segera dapat kami rasakan. Sempat terkesima melihat Pelabuhan Ratu saat ini. Terminal bis yang sekarang ini rasanya dahulu merupakan lapangan yang kosong. Dahulu hanya ada beberapa toko disini, dan hanya merupakan pasar tradisional. Sekarang sudah berubah. Pasar dan terminal kini menyatu di lokasi ini. Ramai dan terkesan semrawut. Ah, biasa. Pasar dan terminal memang demikian keadaannya bukan?

Melepaskan diri dari keramaian terminal dan pasar, sampailah kami ke jalan raya yang menghubungkan Pelabuhan Ratu menuju kearah Cisolok. Keadaan disini tidak se-semrawut keadaan di sekitar terminal dan pasar tadi.

Ada tempat yang cukup berkesan khususnya bagi saya di Pelabuhan Ratu ini. Namanya Gado Bangkong. Itu semacam tembok beton berbentuk jalan yang menjulur dari sisi pantai kearah laut lepas. Dahulu tempat ini merupakan tempat bersandarnya perahu-perahu nelayan. Disini kerap ditemui tumpukan-tumpukan jaring penangkap ikan. Dibiarkan bergulung membentuk semacam gunung-gunung kecil. Masih ingat, dulu masa saya SMA saya sempat bermalam dan tidur diatas jaring penangkap ikan ini. Yang pasti sih akhirnya pakaian saya berbau ikan. Tapi betapa nikmatnya tiduran sambil menengadah memandang langit berbintang dari atas jaring penangkap ikan ini.

Kini Gado Bangkong hanya merupakan bangunan yang dibiarkan begitu saja. Melihat akses yang tertutup kesini, saya berpikir kemungkinan Gado Bangkong ini akan dihancurkan. Setidaknya ini kesimpulan personal saya saat menjejakkan kaki diatas Gado Bangkong. Saya melihat beberapa orang sedang asyik memancing diujung Gado Bangkong…

Gado Bangkong tinggal kenangan...
Gado Bangkong tinggal kenangan…

Memandang ke sebelah kiri dari Gado Bangkong akan terlihat pasar ikan beserta bangunan masjid yang berada di paling ujung menjulur ke laut. Di laut lepas, terlihat bangunan terapung tempat menjaring ikan. Bangunan ini berbentuk persegi empat dengan semacam tenda diatasnya, merupakan semacam perahu, namun statis, tidak bergerak.  Ini semacam tempat mangkalnya nelayan untuk menjaring ikan disana. Belakangan baru tahu kalau bangunan ini bernama pagang, saat secara kebetulan menemukannya sedang berlabuh dan dalam perbaikan, saat kami berjalan kaki hari Minggu pagi di pantai Citepus.

Pantai Pelabuhan Ratu disebelah kiri Gado Bangkong.
Pantai Pelabuhan Ratu disebelah kiri Gado Bangkong.

Pemandangan di sebelah kanan Gado Bangkong sangat berbeda. Di lautnya terlihat beberapa perahu nelayan yang berlabuh dan diam. Demikian juga dipantainya. Tampak beberapa perahu disana.

Pantai Pelabuhan Ratu disebelah kanan Gado Bangkong.
Pantai Pelabuhan Ratu disebelah kanan Gado Bangkong.

Usai melepaskan kangen dengan Gado Bangkong, kami melanjutkan perjalanan menuju Citepus. Kenapa Citepus? Memang, ada beberapa titik lokasi pantai yang menarik tersebar di Pelabuhan Ratu ini. Sebut saja pantai Cimaja, yang belakangan terkenal sebagai tempat berselancar, dan pantai Karang Hawu. Namun kami lebih memilih menuju ke Citepus karena pantai ini menyimpan nilai kenangan masa muda kami. Kenangan yang menghubungkan masa muda kami hingga kami berkeluarga sekarang ini.

Tidak sampai setengah jam kemudian kami sampai di Citepus. Memang jaraknya tidak jauh dari Pelabuhan Ratu. Mungkin sekitar 5 km-an saja. Suasana jalan yang sepi di siang ini. Suasana yang akan berubah ramai kalau di hari Minggu atau hari libur lainnya. Jalan sekitar Citepus yang rapi dan masih sejuk dibawah rindang pepohonan yang melingkupinya.

Tidak sabar kami ingin segera menatap pantai Citepus, segera kami melangkah cepat. Penasaran, adakah perubahan besar yang terjadi setelah sekian lama tak pernah berkunjung kesini?

Pantai Citepus yang sepi. Tak merasa pangling melihat pesisirnya yang putih. Masih seperti dahulu. Tetap indah. Pantai yang banyak menyimpan kenangan manis dan kerap kami berdua rindukan, sekarang terbentang dihadapan. Ah ya, betapa waktu demikian cepat berlalu. Masa muda itu seakan kemarin, seakan kemarin…

Pantai Citepus..

Pantai Citepus...

Memperhatikan pantai Citepus, setidaknya ada dua hal baru yang kini dapat temukan. Yang pertama adanya Pos Life Guard berdiri disini. Pos yang berdiri menghadap laut ini terlihat cukup kokoh berdiri diatas pasir pantai. Pos ini terdiri dari 3 lantai. Cukup untuk memonitor pengunjung-pengunjung yang biasa berenang di pantai ini.

Hal kedua adalah kini banyaknya bale-bale sewaan di sekitar pantai. Bale-bale ini berbentuk bangunan panggung yang dibuat bersekat, terbuat dari kayu dan bambu. Luas setiap bale-bale berbeda-beda. Kalau saya perhatikan rata-rata luasnya sekitar 3 x 3 m. Cukup untuk rebah dan tiduran disini…

Saat siang baru kepikiran, kami akan menginap dimana? Akhirnya kami menemukan hotel yang kami nilai cukup baik yang berada di seberang jalan raya Citepus. Tak salah kami memilih hotel ini. Pelayanan yang baik dan suasana dalam hotel yang nyaman, membuat kami betah disini. Bahkan di halaman belakang hotel ini terdapat kolam renang, lapangan yang luas dan area untuk bermain anak-anak. Kalau suatu waktu kami berkesempatan kembali berkunjung ke pantai Citepus bersama seluruh anggota keluarga, hotel ini akan merupakan pilihan pertama sebagai tempat untuk menginap.

Ini gambaran suasana hotel tersebut…

Sabtu Sore

Betapa ingin kami menikmati saat senja dengan memandang langit yang berwarna indah dari pantai Citepus ini. Tapi saat ini musim hujan, langit mendung sejak siang menjelang sore tadi. Ya, akhirnya kami menyadari juga bahwa tidak setiap keinginan akan terlaksana sesuai dengan harapan. Rupanya inilah salah satunya.

Walau demikian, menjelang jam 5 sore, kami berjalan juga kearah pantai. Duduk disana, memperhatikan sekeliling. Dikejauhan tampak sekelompok anak remaja asyik bermain bola…

4.50 pm. Main bola di pantai...
4.50 pm. Main bola di pantai…

Beberapa anak remaja ini, entah sudah berapa lama mereka asyik bermain selancar…

Tiada warna jingga pembuka senja di langit…

5.15 pm.
5.15 pm.

Langitpun kian membiru, gelap…

5.55 pm
5.55 pm

Beberapa anak remaja ini masih terduduk di tepi pantai. Mungkin mereka menanti senja tiba juga. Walau akhirnya hanya menatap kerlip lampu di lepas pantai. Kerlip dari perahu-perahu atau dari pagang di laut lepas…

6.05 pm. 4 anak-anak memperhatikan lampu berkelip di laut lepas.
6.05 pm. 4 anak-anak memperhatikan lampu berkelip di laut lepas.

Minggu Pagi

Menjelang jam 5.30 pagi, kami sudah menginjakkan kaki di atas pasir pantai. Berjalan dengan kaki telanjang, merasakan pasir laut kidul yang lembut, sesekali ombak merendam kaki, sungguh nikmat rasanya. Jalan kaki sambil memperhatikan suasana pantai yang agak gelap. Perlahan warna langit yang gelap mulai tersibak. Warna biru tua mulai terlihat di langit…

5.28 am.
5.28 am.

Sekitar jam 5.50, warna-warni indah mulai muncul di langit. Benar-benar ini suasana pagi yang indah yang kami temui. Tataplah langit dan suasana pantai Citepus pada dua foto di bawah ini…

5.46 am
5.46 am
5.49 am.
5.49 am.

Saat jalan-jalan pagi ini, kebetulan sekali, kami menemukan pagang yang sedang berlabuh di pantai. Saya sendiri baru tahu kalau bangunan ini bernama pagang setelah saya bertanya pada teteh penjual kopi. Bangunan yang biasa saya lihat dari kejauhan saat menatap laut lepas itu kini saya lihat dari dekat.

Sepertinya pagang ini sedang dalam perbaikan. Terlihat seseorang sedang sibuk membenahi drum penyangganya. Saya perhatikan dari dekat konstruksi bangunan pagang ini. Sangat sederhana. Dipaling bawah terdapat 10 drum kosong, yang diikat pada dua lajur bambu. Drum-drum kosong  ini tertutup rapat agar air laut tidak memasukinya. Drum-drum inilah yang membuat pagang terapung-apung diatas laut lepas. Pagang ini nantinya akan ditarik oleh perahu bermesin menuju laut lepas.

Diatas pagang dibuat semacam rumah-rumahan kecil dan beratap, menyerupai tenda. Ini menjadi tempat berteduh dan beristirahat nelayan awak pagang. Beberapa hari para nelayan ini akan berada di laut lepas untuk menjaring ikan. Hasil tangkapan ini biasa dijemput oleh perahu-perahu kecil untuk dikirim ke pasar ikan untuk dijual. Demikianlah kehidupan nelayan sehari-hari disini.

Letih berjalan kaki, kami mampir di warung yang sudah buka. Saya memesan segelas kopi hitam yang panas. Istri saya memesan segelas teh manis panas. Menikmatinya seteguk demi seteguk sambil memperhatikan ombak laut dari kejauhan. Mungkin ini kopi dan teh terbaik dalam hidup kami berdua…

6.10 am. Menikmati kopi terbaik pagi ini.
6.10 am. Menikmati kopi terbaik pagi ini.

***

Walau sejenak, saat jumpa kembali dengan Pelabuhan Ratu dan pantai Citepus sungguh mengesankan bagi kami. Sejenak mengembalikan kenangan-kenangan lama yang tersimpan di pantai ini. Kami semakin menyadari kalau sang waktu demikian cepat berlalu, melesat meninggalkan jejak-jejak masa lalu kami yang tetap tersimpan di pantai ini…

“Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Unforgattable Journey Momtraveler’s Tale”

Momtraveler Giveaway

Sukabumi, 11 November 2013 (diposting pertama kali) dan Bekasi, 14 Maret 2014 (posting diperbaharui)

Catatan:

Tulisan ini terkhusus didedikasikan untuk istri saya tercinta, ketiga anak kami sebagai buah cinta kasih kami berdua dan, tentunya, keluarga tercinta. Keluarga yang telah kami bangun sekian puluh tahun silam, yang bermula pada hari ini tertanggal 11 November.

Iklan

111 thoughts on “Unforgettable Journey with My Wife: Jumpa Kembali dengan Pelabuhan Ratu dan Pantai Citepus

  1. Selamat malam pak.
    Kami berencana akan berlibur ke pelabuhan ratu, dan sedang mencari rekomendasi hotel, kemudian nyasar ke blog bapak.
    Boleh minta info nama hotelnya Pak?
    Terimakasih banyak sebelumnya.

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s