Pengabdian Mang Deden: 30 Tahun Berjualan Bubur Ayam

Minggu pagi dan jalan kaki, itu semacam kegiatan yang biasa saya lakukan bila liburan di Sukabumi. Menghirup udara segar, memperhatikan perkembangan lingkungan dan masyarakat sekitar, merupakan hal yang teramat menarik bagi saya. Rasanya akan sangat menyesal bila minggu pagi hanya saya lewatkan di rumah saja.

Seusai jalan kaki pagi, biasanya saya nongkrong di tempat penjual makanan. Udara pagi yang sangat sejuk dan langkah kaki yang telah diayun membuat perut terasa lapar untuk diisi makanan pagi yang hangat. Bubur ayam merupakan salah satu pilihan, dari berbagai pilihan jajanan pagi yang tersedia, untuk dinikmati.

Minggu pagi ini, saya menikmati kembali lezatnya bubur ayam Mang Deden. Mari saya ajak sahabat untuk menikmatinya juga walau hanya lewat foto-foto yang saya sertakan dalam posting ini…

***

Minggu pagi ini, sekitar jam 7-an, gerobak bubur ayam Mang Deden, yang biasa mangkal di Jalan Cikiray, Cisaat ini sudah mulai ramai dikunjungi calon pembeli. Saya perhatikan dari jauh, tampak beberapa orang duduk dan berdiri disekitar gerobak buburnya. Wajar, bubur ayam ini tidak pernah sepi pengunjung, apalagi di minggu pagi.

Gerobak bubur ayam Mang Deden dari kejauhan...

Gerobak bubur ayam Mang Deden dari kejauhan…

Saya menghampiri gerobak bubur ayam Mang Deden dan memesan beberapa mangkok bubur ayam. Dengan sigap mang Deden menyiapkan mangkok-mangkok kosong. Saya perhatikan dengan seksama bagaimana proses penyiapan bubur ayam ini berlangsung. Saya lihat bagaimana cermat dan telitinya mang Deden menyiapkan bubur ayam mangkok demi mangkoknya.

Pertama, dituangnya bubur kedalam setiap mangkok kosong ini. Takaran bubur terlihat merata di setiap mangkoknya. Walau saya belum pernah menimbangnya, tapi saya yakin plus-minus takaran bubur di setiap mangkok ini banyaknya merata.

Bubur dituang kedalam setiap mangkok.

Bubur dituang kedalam setiap mangkok.

Selanjutnya, kedalam setiap mangkok ini dituangkan berbagai bumbu, mulai dari kecap, merica dan tumis usus ayam bawang daun. Bumbu yang terakhir, tumis usus ayam dan bawang daun, ini bumbu khasnya mang Deden. Bumbu hasil racikan mang Deden sendiri. Setiap tukang bubur ayam tradisional model Mang Deden ini memberikan rasa khasnya masing-masing pada bumbu ini.

Bumbu ditabur diatas bubur. Pada mangkok paling kiri, inilah bumbu khas Mang Deden...

Bumbu ditabur diatas bubur. Pada mangkok paling kiri, inilah bumbu khas Mang Deden…

Terakhir adalah penaburan kerupuk, goreng kacang, goreng bawang dan sayatan daging ayam goreng ke dalam setiap mangkoknya. Satu demi satu mangkok ini ditaburi oleh masing-masing bumbu tersebut.

Bubur ayam hampir tuntas pemberian bumbunya...

Bubur ayam hampir tuntas pemberian bumbunya…

Dan, inilah bubur ayam Mang Deden yang siap untuk disantap. Sebelum menikmatinya, bolehlah dituangkan sambal dan tambahan kecap sesuai selera masing-masing. Lebih asik pula bila langsung dinikmati ditempat. Mang Deden menyediakan meja dan tempat duduk sederhana untuk pelanggannya…

Mang Deden. 30 tahun berjualan bubur ayam.

Mang Deden. 30 tahun berjualan bubur ayam.

Saya sempat berbincang sejenak dengan Mang Deden. Saya tanya sejak kapan Mang Deden berjualan bubur ayam dilokasi ini. Ah, seperti biasa kebanyakan setiap orang, lupa, Mang Deden pun lupa kapan tepatnya memulai usaha ini. Yang Mang Deden ingat, ia berjualan bubur ayam ini sejak anak pertamanya lahir. Kini semua anaknya telah berjumlah 6 orang dan bahkan sudah bercucu pula. Konon sekarang jumlah cucunya sudah 12 anak. Entah benar atau hanya sekedar bercanda saja. Kalau dikira-kira, mungkin sudah sekitar 30-an tahun Mang Deden berjualan bubur ayam ini. Demikian Mang Deden sedikit bercerita. Saya mendengarkan dengan takjub. 30 tahun? Sungguh, waktu yang demikian panjang untuk satu pengabdian. Saya kagum dengan apa yang disampaikan oleh Mang Deden ini. Bagi saya ini benar-benar luar biasa…

***

Terasa nikmat menikmati bubur ayam Mang Deden di minggu pagi. Udara Sukabumi yang demikian sejuk dan sedikit lelah setelah berjalan kaki tentu memberikan kenikmatan lebih akan lezatnya menikmati semangkok bubur ayam ini.

Dan, jalan kaki yang saya lakukan tidak terlalu jauh. Hanya melewati kampung-kampung disekitar rumah tinggal saya di Sukabumi, dan melewati berbagai gang dengan dikiri-kanan gang masih hijau dengan rimbun dedaunan, cukuplah memberi kesegaran.  Gang-gang dengan tembok jalannya yang mulai rusak dan bolong-bolong seakan luput dari perhatian. Terlupakan karena kesejukan dan kesegaran udara pagi yang jauh dari polusi. Sedikitnya, inilah sekelumit wajah Sukabumi yang bisa saya tangkap di pagi ini.

Gang yang saya lewati pagi ini

Gang yang saya lewati pagi ini

Kiri kanan gang yang masih hijau...

Kiri kanan gang yang masih hijau…

***

Nah, bagaimana dengan acara rutin setiap Minggu pagi sahabat blogger semua?

Sukabumi, 3 November 2013

34 pemikiran pada “Pengabdian Mang Deden: 30 Tahun Berjualan Bubur Ayam

        • Sakaterang abdi, bubur hayam Sukabumi khas na dina tumis usus bawang daun. Ieu nu kapendak ku abdi ti sababaraha tukang bubur model Mang Deden ieu. Tp nu terkenal sapertos bubur bunut, teu nganggo tumis usus bawang daun, tapi siksikan daging hayamna nu mangropi sapertos kotak alit, dicampur sareng bubur. Bubur bunut pangaos saporsina kaetang awis. Upami teu lepat dugi ka Rp 14.000. Upami bubur Mang Deden saporsi mung Rp 4.000.

          Leres bubur cianjur khas dina papaisna. Salut ka bubur cianjur nu tos ekspansi kamana-mendi. Abdi malah sok ngabubur cianjur di ciawi, saupami abdi pulkam mingguan ti bekasi ka sukabumi.

          Oge aya varian bubur hayam nu sanesna, sapertos bubur hayam cirebon. Berbagai bubur hayam dgn mengusung nama daerah tur masing2 sareng bumbuna nu khas.

          Diemut-emut, luar biasa ieu kreasi bubur hayam teh. nya Kang…

          Salam,

        • Pami bubur di tasik, simpel pisan…buburna tos diasak ngangge bumbu uyah sareng kaldu, tos kitu ditambih tumis bawang daun sareng tambihan nu sanesna sarupi cakue sareng kurupuk. Namung pami daerah di pringan timur nu sanesna mah aya oge bubur polos ditambihan cai kari (ciamis, garut, majalaya)
          Sigana mah di tatar sunda hobi pisan kana bubur, di tasik wae unggal pojok aya tukang bubur, malihan aya bubur 24 jam. nah tadi akang sebatkeun bubur cirebon, abdi teu acan ngaraosan….

          Asa kabita icalan bubur…..🙂

        • menurut abdi mah kang bubur cianjur khasna dina sayur tumis bawang, kerupukna warna warni, sedikit emping, sate-satean(ati/usus) bubur agak encer, upami bubur sukabumi sayur tumis bawang, pepes usus, karoket, bubur kental, bubur bandung mah cakue khasna sareng nganggo telor, bubur cirebon khasna daun bawang sareng bumbu seperti kari

  1. Minggu pagi abdi mah ngojay sareng nu bungsu. mung sanes di walungan anu teu kedah mayar. Kiwari mah hayang ngojay oge meni kedah mayar. Sigana di sukabumi mah aya keneh walungan tempat ngojay nya🙂

  2. Saya paling suka dengan tulisan yang realistis kehidupan, dan tulisan di atas bahwa anak mang deden jumlahnya 6 membuktikan bahwa orang dahulu dahulu lebih berani dalam menjalani hidup dan tidak pernah suudzon kepada sang maha pencipta dan selalu meyakini bahwa rezeki Allah maha luas.
    terimakasih sharenya, bukan bubur yang akang suguhkan tetapi pelajaran hidup.

    • Ya benar Mas, orang sederhana semacam Mang Deden ini ternyata mempunyai keberanian luar biasa untuk berjuang dengan tanggungan jumlah anak yg banyak. Hal yg luar biasa bagi kehidupan di masa sekarang…

      Terimakasih bila posting ini memberikan sedikit pelajaran tentang hidup ini, Mas.

      Salam,

    • Bener nikmat disantap pagi-pagi Mas Heru. Pagi ini saya di bekasi, gak ada tukang bubur yg lewat di depan kontrakan saya. Jadi ngebayangin nikmatnya…

      Tentang msg, saya sepakat. Saya sering mengingatkan kalo bubur sedang dibumbuin. Mang, mang…petsinnya sedikit saja…

      Salam,

    • Betul banget, memang mantap. Walau tetap dlm kesedehanaan penyajian dan tempat jualan yang seadanya, mang Deden tetap menjadi pilihan ngabubur pagi-pagi. Setidaknya bagi saya dan keluarga…

      Salam,

  3. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Titik Asa…

    Bikin perut lapar nih melihat banyaknya bahan di atas bubur tersebut. patutlah buburnya enak dan digemari ramai. Mudahan niaga bubur Mang deden akan terus berjaya dan masih enak sampai kapan pun.

    Salam Maal Hijrah 1435 dari Sarikei, Sarawak.😀

    • Wa’alaikum salam wr. wb, mba Fatimah…

      Mohon maaf seandai posting ini bikin mba Fat lapar. Oh ya, apakah di Sarikei, Sarawak ada juga penjual bubur seperti mang Deden ini?

      Selamat tahun baru Hijriah 1435. Semoga tahun ini penuh dengan berkah…

      Salam,

    • Betul banget Mas Heri. Nah, kapan Mas akan berkunjung ke sukabumi? Naik delman keliling kota dan menikmati sarapan pagi semacam bubur ayam, pasti akan terasa nikmat Mas…

      Salam,

  4. sukabumi surga bubur dan bakso, rata2 penjual bubur dan bakso si sukabumi enak2, jangan dulu ke bunut atau apud yg di pinggir jalan model mang deden ini rata2 enak, insya allah sabtu ini mau jajal bubur mang deden

    • Leres pisan. Bubur sareng bakso dimana-mana. Sudah coba bakso dengan tempat sederhana di Gg Nugraha? Disana lebih sip, sehabis nikmati baksonya langsung kita nikmati es campur Gg Nugraha yg klasik itu…

      Mangga dicobian bubur ayam Mang Deden. Sederhana, tapi tetap nikmat.

      Salam,

  5. Ping balik: Kang Yudi: Generasi Muda Pedagang Bubur Ayam | Sisi Hidupku

  6. Ping balik: Bubur Ayam Abah: Kisah Perjuangan Hidup | Sisi Hidupku

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s