Melamar Dahulu…

Ada fase yang harus dilewati sebelum pernikahan berlangsung. Selain fase saling mengenal antar dua calon yang akan berkeluarga itu, juga fase saling mengenal antar dua keluarga yang nantinya akan dipertautkan oleh ikatan nikah antar dua insan itu. Fase saling mengenal antar keluarga itu biasanya menjadi pembuka ke fase selanjutnya. Fase yang mengarah ke hubungan yang lebih serius, yaitu pernikahan. Fase yang saya maksud disini adalah apa yang dikenal sebagai fase melamar.

Nah, Sabtu kemarin, tepatnya 26 Oktober 2013, saya berkesempatan mengantar keponakan yang akan melamar calon istrinya. Calon istri keponakan saya ini berada di daerah Wates, Subang. Jarak yang lumayan jauh dari Sukabumi, tujuh jam berkendaraan kesana. Hal yang bagi saya tetap merupakan perjalanan yang menarik. Selain ingin mengetahui bagaimana acara melamar itu berlangsung, juga saya selama ini belum pernah bepergian kesana.

***

Sabtu pagi, sekitar jam 06.00, rombongan sudah berangkat dari Sukabumi. Perjalanan menuju Subang dari Sukabumi harus melewati dahulu kota Bandung. Dari Bandung melewati Lembang untuk akhirnya sampai ke Subang.

Sekitar Jam 11.00 siang, sampai juga di kota Subang. Beristirahat sejenak disana. Memandang kota Subang dengan jalan utama kotanya yang telah disibukan oleh hiruk-pikuk lalu-lintas kendaraan bermotor. Dan, Kolonel Sanders ternyata telah “menduduki” kota Subang jauh sebelum saya berkunjung kesini…

Setelah usai rehat di Subang, perjalanan dilanjutkan. Diperkirakan perjalanan sampai Wates akan memakan waktu sekitar dua jam. Melewati kota kecil yang bernama Pagaden. Jalan raya yang rapi dan tidak terlalu ramai, itu yang saya saksikan disana.

Jalan yang sepi di Pagaden...

Jalan yang sepi di Pagaden…

Jam 13.30-an sampai di Wates. Wates  dengan perkampungannya yang sederhana saya perhatikan sejenak. Tanah-tanah yang masih kosong. Lapangan luas terhampar dan rumah-rumah penduduknya yang sederhana. Gambaran umum seperti itu yang saya peroleh sesaat setelah menginjakkan kaki di daerah ini.

Wates. Lapangan luas terhampar...

Wates. Lapangan luas terhampar…

Rumah penduduk yang sederhana di Wates...

Rumah penduduk yang sederhana di Wates…

Memasuki halaman rumah calon istri keponakan saya dengan pohon mangga yang sedang berbuah dan terutama sambutan keluarga disana yang hangat cukup menjadi pengobat lelah perjalanan. Makanan dihidangkan, saling bersapa dengan memperkenalkan anggota keluarga yang hadir menjadikan suasana kian akrab.

Sampailah ke acara utama. Melamar. Acara dibuka dari fihak calon istri keponakan saya. Acara yang disampaikan dalam bahasa Sunda. Walau di daerah Wates bahasa sehari-hari bercampur antara bahasa Sunda dan Jawa, tapi fihak calon istri keponakan menyampaikan uraiannya dalam bahasa Sunda.

Inti acara melamar ini dimulai dengan pembuka mengenai maksud dan kedatangan rombongan dari Sukabumi. Ini sebenarnya semacam penegasan saja, karena fihak calon istri pastinya sudah tahu dengan maksud kedatangan kami. Begitulah. Tanya jawab serius berlangsung antar dua keluarga. Tanya jawab ini diakhiri dengan memanggil calon istri keponakan saya untuk hadir ketengah acara.

Keponakan saya, berkaca mata. Calon istrinya berjilbab merah dan berbaju merah...

Keponakan saya, berkaca mata. Calon istrinya berjilbab merah dan berbaju merah…

Sang pembawa acara dari fihak calon istri keponakan saya ini menjelaskan kepada sang calon istri maksud dari pertemuan ini. Kalaupun belum terikat secara resmi dalam ikatan pernikahan, tapi calon istri ditegaskan untuk menjaga amanat yang dibebankan pada hari ini. Amanat dari calon suami yang harus dipegang teguh sampai berlangsungnya akad pernikahan nanti.

Acara melamar ini diakhiri dengan berdoa bersama. Berdoa semoga tidak ada aral melintang sampai acara pernikahan nanti yang rencananya akan dilangsungkan di bulan November.

Berdoa bersama...

Berdoa bersama…

***

Sangat sederhana acara melamar ini berlangsung. Kesederhanaan yang tetap bertujuan untuk melanggengkan satu ikatan dalam perjalanan hidup manusia, yaitu ikatan pernikahan yang merupakan salah satu bagian sakral. Bagian yang tetap dirindukan oleh setiap manusia untuk dilalui dengan sejahtera. Demikianlah…

Bekasi, 29 Oktober 2013

Iklan

22 komentar

  1. Semoga acara pernikahannya mereka berjalan lancar juga ya mas 🙂 .

    1. Demikian juga yg saya harapkan mbak, semoga lancar acara pernikahan nanti…
      Makasih atas doanya mbak.

      Salam,

  2. Jadi ingat masalalu, hanya saja dulu saya melamar seorang diri.

    1. Begitu ya mas Edi. Wah, melamar sendiri? Luar biasa mas…

      Salam,

  3. Jadi pengen ngelamar lagi :mrgreen: #mohondiabaikan

    1. Hadeuh… Akang mah ah…hehehe

      Salam,

  4. acaranya hening dan khusyuk ^_^ , pas dengan laur ceritanya
    Saya doakan agar keduanya, sampai menjelang akad nikah nanti, diberi kekuatan,keselamatan, dan kesabaran Oleh Allah SWT..

    Amiiin

    1. Amin YRA…
      Terimakasih atas doanya yg indah mas. Semoga. Insya Allah…

      Salam,

  5. wah..jadi ingat cerita lalu…. :p

    1. Hmmm…jadi ber-flash back ya mas…

      Salam,

  6. semangkanya seger tuh *salah fokus*
    okeeee… doakan juga untuk saya ya, pakde #eh :mrgreen:
    maunya sih November juga *iya aja deh biar cepet* 😛

    1. Aih, November juga mbak? Insya Allah turut mendo’akan dari jauh, semoga dilancarkan…

      Salam,

      1. gak tau pakdeee… masih harus menunggu wangsit dari langit. maunya sih… maunyaaaa… *langsung galau akut*

  7. Seneng kalau ada acara lamaran gini. Semoga lancar sampai pernikahannya ya dan semoga banyak berkahnya..

    1. Betul Mas, bahagia rasanya. Makasih atas do’anya Mas…

      Salam,

  8. ckckck Kolonel Sanders dah duluan aja ya mas ke situ hihihi
    semoga acara keponakannya lancar jaya ya mas dan jadi keluarga yang bahagia nantinya amiin

    1. Iya nih, saya kalah cepat sama Kolonel Sanders ini. Bener-bener KO deh…
      Iya, makasih sangat atas do’anya mbak…

      Salam,

  9. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Titik Asa….

    Alhamdulillah, ternyata pemergian ke Subang itu memberi maklumat kepada kita yang jauh dari budaya di sana. Pemandangan kota di dalam perjalanan ternyata damai dan terlihat suasana kampung yang masih segar dengan budaya setempat walau Kolonel Sanders sudah menaklukinya. Di mana-mana penjuru dunia, ada sahaja KFC, ya hingga ke Tanah Suci Madinah dan Makkah juga.

    Kalau istilah di Sarawak, acara melamar dahulu itu dinamakan Acara Bertekul sebagai tanda si gadis sudah dipunyai sebelum acara meminang diteruskan pada masa yang telah ditetapkan. Jarang berlaku terus kepada acara pernikahan.

    Semoga acara pernikahan keponakan mas Titik Asa akan berjalan lancar dan didoakan bahagia dalam keberkatan Ilahi.

    Salam hormat dari Sarikei, Sarawak.

    1. Wa’alaikum salam mbak Fatimah,
      Betul ttg KFC. Kini mereka hadir diberbagai daerah disini. Pun demikian di kota tempat saya tinggal di Sukabumi.

      Baru tahu kalau di Sarawak acara melamar ini disebut Bertekul. Sungguh satu pamahaman baru untuk saya. Boleh sekali-sekali di posting bagaimana pelaksanaan acara Bertekul ini mbak.

      Amin, semoga acara pernikahan nanti lancar berjalan.

      Salam persahabatan selalu,

  10. acara yg sederhana namun sakral ya kang, semoga nikahannya nanti lancar

    1. Makasih doanya Kang. Insya Allah diberi kelancaran saat pernikahan nanti…

      Salam,

  11. […] ini semacam kelanjutan dari posting saya sebelumnya yang berjudul Melamar Dahulu. Jadi kalau disambung menjadi Melamar Dahulu, Menikah Kemudian. Ini semacam tulisan ungkapan […]

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: