Bersiap Kala Lapang

Hidup tak selamanya indah seperti yang diri kita harapkan. Ada pasang surut disana. Hari ini diatas, esok lusa siapa yang tahu kalau diri kita akan terpuruk.

Kalau kalimat diatas terlalu puitis, saya sederhanakan saja. Begini. Misal saat ini kita bertahan hidup dengan cara bekerja di satu perusahaan. Suatu saat, sangat mungkin kita harus meninggalkan perusahaan itu. Baik karena memang usia kita yang sudah memasuki usia pensiun, ataupun semacam “dipaksa” karena suatu hal buruk telah menimpa perusahaan tempat kita bekerja tersebut.

Bila hal itu terjadi, sudah siapkah kita menerimanya? Dalam artian sudah siapkah “kendaraan” lain untuk kita dapat bertahan dalam hidup ini?

Saya mengambil contoh teman kerja saya yang satu ini, yang sore ini saya kunjungi rumahnya…

***

Mengenal teman saya ini sejak tahun 2000, saat saya pertama kali menginjakan kaki ke perusahaan tempat saya bekerja kini. Mengenal ia sebagai sosok pekerja keras, tetap mempunyai semangat belajar dan terlebih mempunyai disiplin kerja yang tinggi.

Ia asli penduduk disini. Di perkampungan dekat pabrik ini berdiri. Pandangan negatif tentang penduduk setempat yang biasanya dianggap manja dan malas, akan sirna seandai berhadapan langsung dengan teman saya ini. Saya pribadi salut terhadap kepribadiannya ini.

Sebagian rumah teman saya ini kini telah dijadikan warung. Konon ia telah sekitar enam tahunan menjalankan usahanya ini. “Sekedar memberikan kesibukan kepada istri”, demikian ia selalu menjawab kalau saya tanya alasan mendirikan warungnya ini. Kalau dikejar lagi jawaban itu dengan pertanyaan lanjutan, paling ia hanya bilang “ah lumayanlah Pa untuk sekedar tambah-tambah biaya dapur mah…”

Warungnya kini sudah lumayan lengkap. Dapat digambarkan kalau warungnya ini dibagi kedalam dua kelompok jasa yang ia tawarkan. Disebelah depan, dikhususkan untuk menjual berbagai kartu perdana telepon seluler. Juga yang perputarannya tinggi adalah penjualan pulsa isi ulang. Kini bertambah jasa yang ditawarkannya yaitu melayani pembayaran rekening listrik bulanan.

Warung bagian depan. Isi ulang pulsa dan kartu perdana seluler dijual disini

Warung bagian depan. Isi ulang pulsa dan kartu perdana seluler dijual disini

Sedangkan disebelah samping warungnya dikhususkan untuk menjual berbagai kebutuhan sehari-hari. Apapun kebutuhan rumah tangga harian tersedia disini.

Warung bagian samping. Tempat menjual berbagai kebutuhan rumah tangga…

Nah, ini sosok teman saya, kang Suhandi, yang berbahagia dengan anak ke-2 nya. Putrinya yang kini berusia 2 tahun…

Kang Suhandi berbahagia dengan putri ke-2 nya…

***

Saya berpikir, teman saya ini termasuk orang yang bersiap dikala lapang. Walau tidak pernah mengharapkan berhenti atau diberhentikan dari pekerjaannya kini, namun ia sudah siap jikalau hal yang tidak diharapkannya itu terjadi di hadapan matanya.

Apapun, saya salut dengan kesederhanaan pemikirannya itu. Kesederhanaan yang mendorongnya untuk selalu siap dan waspada menghadapi hari esok yang penuh gejolak.

Bekasi, 25 September 2013

Posted from WordPress for Android

20 pemikiran pada “Bersiap Kala Lapang

  1. Bisa punya usaha sendiri spt warung malah bisa dapt lebih dari gaji kantoran loh😀 .
    3 tahun saya saya jualan pulsa saja bisa dapat untung 300-700rb/bulan, ga punya toko, hanya terima sms dari teman yg butuh pulsa.

  2. visioner! top! ini juga lagi mikir cari tambahan lain selain kerjaan sekarang *eh emang sekarang kerja apaan ya gue?* hihihihi…

    banyak ide berseliweran sih, tapi ya kepentok modal😀

    • Teman saya ini sederhana tapi rupanya terpendam semangat yg luar biasa.
      Beberapa teman menjalankan usaha sampingan selain kerja di pabrik, ini salah satu contoh yg baru saya tuliskan, mba

      Salam,

  3. Contoh yang bagus untuk pekerja seperti akang nih, kalau melihat orang lain koq sepertinya gampang melakukannya sementara akang terus saja dipusingkan untuk mencari “kendaraan” lainnya. Nuhun Kang nih buat inspirasi dipagi hari.

    • Hatur nuhun Kang seandai tulisan sederhana ini menginspirasi akang pagi ini. Saya pun terinspirasi dgn model ini. Pikirannya sederhana saja, dijalankanpun dengan seadanya dulu. Kuncinya mungkin dalam memulai yang sepertinya tidak semua orang memiliki keberanian untuk memulai, seperti halnya diri saya pribadi ini.

      Nuhun komentarna Kang…

      Salam,

  4. Ping balik: Random Thoughts ~ The Koffee Klatch Krew | Andy Kaufman's Kavalkade Krew ~ Featuring The Wandering Poet

    • Jangan terlalu dipikirkan tapinya Mas. Selalu ready saja bila hal itu terjadi.
      Saya pernah mengalaminya, dan saya tidak siap. Itu saat bencana ekonomi 1998 itu…

      Salam,

    • A ha betul, pekerjaan sampingan. Hal yg sebaiknya dibangun saat pekerjaan utama masih berjalan. Kelak pekerjaan sampingan ini bisa menjadi tulang punggung dlm menghidupi keluarga ya…

      Salam,

  5. Benar sekali Pak… terutama bagi karyawan swasta seperti saya. terasa banget betapa keadaan ekonomi keluarga tergantung sepenuhnya dengan apa yang terjadi di perusahaan. Apa yang kita miliki (pekerjaan) tidak permanent. Saya juga sering kepikiran itu. Salut kepada Pak Suhandi.

    • Apa yg mba katakan, benar adanya. Saya pun demikian. Pengalaman saya di tahun 1998, saat saya ter-phk menyadarkan saya akan tidak permanentnya saya di dunia kerja. Cara berjaga-jaga dgn membangun usaha kecil merupakan alternatif yg layak rupanya…

      Salam,

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s