Kolak oh Kolak…

Pembaca sekalian pastilah tahu apa yang dimaksud dengan kolak?

Betul, kolak adalah sejenis makanan yang berkuah santan dan manis. Rasa manisnya ini berasal dari gula merah. Kolak ini bisa saja berbentuk kolak pisang, kolak kolang-kaling, kolak ubi, kolak tape atau bahkan kolak yang terdiri dari campuran antara bahan-bahan tersebut.

Walau kolak ini sudah populer sejak lama dalam masyarakat kita, namun tak bisa dipungkiri justru di bulan Ramadhan kepopulerannya kembali melangit. Kolak seakan menjadi satu-satunya jenis makanan yang harus selalu hadir saat berbuka puasa tiba. Agak berlebihan memang, namun saya kira demikianlah keadaan yang tumbuh dalam sebagian masyarakat, tak terkecuali dengan keluarga saya.

Kenapa saya berbicara tentang kolak?

Nah ini, seandai saya berbuka puasa selalu di rumah, tentu kolak ini bukanlah masalah. Saya bisa meminta istri saya untuk menyiapkan kolak setiap hari. Walau tidak diminta, toh ia juga kreatif untuk menyiapkan kolak yang berbeda setiap harinya.

Masalah tentang kolak ini menimpa saya karena di hari kerja saya tinggal jauh dari rumah. Tinggal di tempat kost yang dekat ke tempat kerja saya, seperti yang pernah saya tulis di link ini. Bagaimana dengan kolak yang setiap sore biasa menemani saya berbuka puasa? Mungkinkah saya masih bisa menikmatinya rutin setiap berbuka puasa? Untuk membuatnya sendiri tentu saja saya tidak bisa…

***

Untunglah, didepan tempat kost saya ada emak yang membuka warung. Warung yang menjual berbagai kebutuhan harian. Disaat bulan puasa ini emak suka menyiapkan hidangan pembuka puasa. Dan tentu saja sajian utama pembuka puasa favorit saya, kolak, juga tersedia di warung emak ini.

Seperti sore in, sepulang dari tempat kerja, saya mampir terlebih dahulu ke warung emak. Pemandangan yang bikin ngiler sudah hadir disana. Ada adonan es campur, ada kolak dalam kantong-kantong plastik, tersedia juga berbagai gorengan seperti goreng tempe dan goreng tahu.

Inilah adonan es campur yang saya maksud. Adonan ini terdiri dari sari kelapa, agar-agar, blewah, rumput laut dan pacar cina. Bila kita memesan es campur ini, emak akan meraciknya dengan mengambil sedikit demi sedikit dari bahan adonan tadi dan menuangkannya kedalam mangkok. Gula cair, potongan-potongan es dan susu cair menuntaskan penyelasaian pembuatan es campur ini.

Semangkuk es campur ini emak hargai Rp 5000,- saja. Foto dibawah ini foto adonan es campur dan semangkuk es campur yang sudah siap untuk disantap. Saya jamin pembaca pasti ngiler dengan hanya melihatnya fotonya saja…

Bagaimana dengan kolak?

Kolak ini sudah emak siapkan dalam kantong-kantong plastic yang siap dibawa bila kita membelinya. Harga per kantong murah saja, hanya Rp 4000,- . Kantong-kantong kolak ini biasa emak simpan dalam 2 baskom plastik.  Satu baskom plastik biasa diisi 10 hingga 12 kantong plastik kolak.

Kolak yang emak jual berbentuk kolak campuran. Kolak campuran antara pisang, umbi dan kolang-kaling. Tetap dahsyat saat dinikmati, inilah…

Terakhir yang emak sediakan adalah berbagai gorengan. Goreng tahu, goreng temped an bala-bala tersedia. Satu lagi yang hampr terlupakan, ada juga semacam asinan disana. Untuk menambah selera pembeli, makanan-makanan ini emak susun dengan rapih dalam display. Berikut fotonya…

Dari berbagai gorengan sampai dengan asinan...

Dari berbagai gorengan sampai dengan asinan…

***

Berbagai hidangan pembuka puasa memang telah banyak diciptakan. Berbagai minuman, berbagai  makanan. Entah sudah berapa macam yang telah tercipta. Tapi untuk sebagian masyarakat, termasuk juga saya, kolak – dengan berbagai variannya – tetap menjadi pilihan utama untuk berbuka. Manis dan menyegarkan, itu hanya salah satu dari sekian banyak alasannya.

Nah, bagaimana dengan hidangan pembuka puasa sahabat pembaca sekalian semua?

Sukabumi, 14 Juli 2013

21 pemikiran pada “Kolak oh Kolak…

    • Sepakat. Dan saya kadang sempat bertanya, kenapa kolak ini jadi semacam menu wajib saat berbuka puasa. Belum pertanyaan ini terjawab, eh saat magrib telah tiba, jadi ya nikmati ajah kolaknya, lupa sama pertanyaannya…
      Salam,

  1. Ngabibitaaaaa….. hehehe
    Tapi upami di Jerman mah, janten teu wajib tah Kolek teh Kang, abdi biasa ngadamel Es Teller wae atanapi es Cendol, sesah mendak Cau anu tiasa di kolek didieu mah.
    Wilujeng nunaikeun ibadah puasa, maaf lahor bathin..mugi Allah nampi ibadah puasana..aamiin.

    • Alhamdulillah atuh Teh upami masih tiasa ngadamel es teller atanapi es cendol mah. Kutan sesah mendak cau nya?
      Wilujeng beribadah puasa oge Teh. Mugi ibadah urang ditampi ku Gusti Allah. Amin.
      Teh, bade lebaran dimana?
      Salam,

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s