15 Menit Saja

Betapa banyak waktu, biaya dan tenaga telah terbuang, atau kita investasikan?, dalam perjalanan berangkat dan pulang dari dan ke tempat kerja. Cerita teman-teman, berita-berita di media, cukup menunjukkan akan hal ini. Kemacetan dimana-mana menjadi hal yang akhirnya normal dalam keseharian kita.

Saya pribadi pernah mengalami hal itu seidaknya dalam kurun periode 1989 sampai 1998. Saat itu saya tinggal di Bekasi sedangkan tempat kerja saya di Kali Deres. Benar-benar dari ujung ke ujung. Saat itu saya jadi anggota BP-7, demikian ledekan saat itu. Bukan anggota Badan Penghayat Pancasila yang terkenal pada saat itu, tapi anggota orang yang Berangkat Pagi-pagi, Pulang petang, Pendapatan Pas-pas-an…hehehe.

1998, mengakhiri semua itu. Saya dipaksa berhenti bekerja disana. Saat ekonomi nasional hancur karena krisis moneter, alias krismon, yang dahsyat itu.

Sekarang, sudah beberapa tahun, saya memutuskan hubungan dengan investasi waktu, biaya dan tenaga yang besar yang harus dikorbankan untuk berangkat dan pulang dari dan ke tempat kerja. Sekarang saya hanya butuh 15 menit saja, dengan berjalan kaki, menuju tempat kerja. Pengorbanan saya sekarang hanya jauh sama keluarga. Hmmm, selalu ada pengorbanan rupanya ya…

Oh ya, saya dari dulu cuma pekerja pabrik saja. Begini saya adanya. Dulu bekerja di pabrik kabel. Saking cintanya, sampai sekarang saya masih ingat bagaimana proses produksi kabel listrik maupun kabel telepon. Sekarang di pabrik komponen otomotif. Ya, tetap pabrik dan saya tetap orang produksi.

Pabrik yang sekarang ini tidak berada di kawasan industri. Tapi menyatu dengan kawasan masyarakat biasa. Ada beberapa pabrik di sekitar sini. Saya tinggal tidak jauh dari pabrik. Hanya 15 menit itu. Enaknya, ya saya masih bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Jadi sama sekali tidak kehilangan kontak dengan masyarakat normal, beda seandai pabriknya berlokasi di kawasan industri.

Menyusuri jalanan kecil itu yang saya lakukan tiap pagi. Tegur sapa dari penduduk setempat masih tetap saya rasakan. Memandang kehidupan yang mulai menggeliat di pagi hari. Anak-anak yang giat menuju sekolah, pekerja-pekerja yang berangkat menuju tempat kerjanya masing-masing. Setidaknya demikian gambaran perjalanan saya menuju tempat kerja di setiap pagi.

Bagaimana cerita berangkat dan pulang dari dan ke tempat kerja masing-masing, sahabat?

Bekasi, 13 Februari 2013

35 pemikiran pada “15 Menit Saja

  1. kalau ane berangkat kerjanya mesti naik motor dan menghabiskan waktu sekitar 30 menit…itu kalau jalan normal..klu lagi padat, bisa lebih satu jam….habis waktu dan biaya (minyak)..hehehe..itu ceritaku

  2. enak banget pak tempat tinggalnya, adem liatnye……🙂
    kalau saya dulu 30 menit tapi sekarang 1jam padahal tempat yang di tuju sama, biasa akibat macet…🙂

    • Lumayan masih asri disini Mas…
      Demikianlah akibat macet ya. Makin lama berangkat makin pagi dan pulang makin malam sampe rumah.
      Saya mengalaminya di periode kerja sd th 1998 itu.

      Salam,

  3. Abdi mah ngga kerja di luar rumah Kang… janten bolak balik dapur..kamar..ruang tamu….kamar..dapur..ruang keluarga…kitu we unggal dinten hehehe

    Meni waas ningal lemburna Kang…

  4. hampir sami kang sareng abdi tahun 1994 – 1999, damel di BP-7 didugdag ti cibadak ka bogor, kangge menghindari macet sareng biaya abdi ngangge abodemen kareta api, brangkat subut uih tos isya (berangkat poek uih ge poek) hehehe … tahun 1999 liren sami karena krismon, pami ayeuna mah damel di kampung we kang, cekap 5 menit ga pake macet…. hehehe

    • Aduh ieu akang anggota BP-7 oge geuning kapungkurna nya. Kabayangkeun upami ayeuna masih keneh kitu nya Kang, padahal kareta Bumi Geulis mogok wae ayeuna mah.
      Atuh raos Kang ayeuna mah caket damel na…
      Salam,

  5. enaknya jalan pagi di sana ya mas.
    saya kalau pagi… tunggu bus jam 5 pagi. tidur di bus. terus nanti kalau dah sampai ngupi2 dan sarapan dulu. terus kantor. baca buku (minimal 2 halaman per hari). Kerja.

  6. Ping balik: Makan Malam di Galeri Seni | Sisi Hidupku

  7. jd inget masa2 s1 kang… aku berangkat dari rumah lumayan pagi, pake sepatu lari/sendal gunung, lalu jalan kaki/lari sampai ke tpt ngetemnya metromini, perjalanan 30menit, di pinggang aku pasang pedometer, jd jumlah langkahku terekam…
    klo sekarang bawa mobil kang, supaya praktis klo butuh jemput atau antet pasien.. *ko-as nyambi supir*

  8. Saya belasan tahun kerja bergelut dengan kemacetan, Kang.. Tua di jalan Bintaro – Sudirman/Kuningan he he. Sekarang agak lumayan, karena kantor di daerah Daan Mogot dan bisa ditempuh lewat jalan belakang yang tidak terlalu macet.

    • Ah, saya bisa merasakan belasan tahun yg mb rasakan itu. Saya mengalami hal yg sama, Dulu saya kerja di Kali Deres tepatnya di Jln Daan Mogot km 16, hampir sampai terminal Kali Deres. Waktu itu rumah di Bekasi. Begitulah mba BP-7,,,
      Syukurlah mba kalo sekarang sudah lumayan tidak terlalu terjebak kemacetan…
      Salam,

    • Nikmatnya kerja di rumah.
      Saya priadi belum bisa membayangkan pekerjaan apa yg bisa saya lakukan dari rumah, sementara sudah bertahun-tahun saya tetap harus kerja jauh dari rumah.
      Salam,

    • Oh, dulu kantornya tidak begitu jauh dari rumah rupanya ya mba.
      Sekarang kebanyakan orang tinggal di luar Jakarta dg kantor di dalam Jakarta. Ah, terbayang deh hari demi hari selalu terjebak dlm kemacetan…
      Salam,

  9. Ping balik: Kolak oh Kolak… | Sisi Hidupku

  10. Ping balik: Kontrakan oh Kontrakan… | Sisi Hidupku

  11. Ping balik: Semoga Segera Bersih Kembali | Sisi Hidupku

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s