Tempat saya tinggal di hari-hari kerja di Bekasi ini memang masuk kategori daerah pinggiran. Sengaja saya memilih untuk tinggal disini. Dekat dengan pabrik tempat saya kerja. Tidak sampai 15 menit jalan kaki ke pabrik. Jadi sudah sekian tahun saya tidak mengenal yang namanya terjebak kemacetan dari dan ke tempat kerja.  Hemat waktu, hemat biaya.

Berbagai keperluan dekat dengan tempat saya ini. Perlu potong rambut, tinggal berjalan ke tempat potong rambut akang Garut. Ada masalah dengan baju dan celana, tinggal datangi Mas Boy. Urusan keperluan sehari-hari seperti sabun, shampoo, minyak rambut, misalnya, ada salah satu Mart yang tak jauh juga.

Urusan makan malam bagaimana? Gampang juga. Ada beberapa warung nasi Padang, ada juga tukang mie goreng dan nasi goreng. Kalau mau makan yang lebih seru, misalnya sate dan sop kambing, tinggal berjalan, walau agak sedikit jauh, disekitar Pasar Bantar Gebang.

Salah satu menu makan malam favorit saya adalah nasi uduk plus ayam goreng. Entah, saya suka sekali dengan menu ini. Mungkin karena dalam  menu ini ada sambal terasi ditambah irisan ketimun, irisan kol dan beberapa tangkai kemanggi. Atau karena salah satunya karena memang saya penyuka daging ayam.

Tempat makan nasi uduk ini sebenarnya sederhana saja. Tidak jauh berbeda seperti kebanyakan warung nasi uduk lainnya. Yang membedakannya hanya satu, di dinding tempat makan nasi uduk ini dipenuhi dengan hasil karya seni anaknya sang empunya warung.

Ini pengaturan meja makan dengan beberapa bangku yang tersedia untuk setiap mejanya. Perhatikan yang tertempel di dindingnya. Foto-foto yang cantik, karya seni anaknya sang empunya warung nasi uduk tersebut.

Meja makan sederhana

Memandang dinding seputarnya, saya terkagum dengan keindahan karya seni ini. Ada foto bung Karno yang mengenakan peci dan jas khasnya. Tersenyum dengan mata yang tegas memandang. Di pojok kanan bagian bawah tertulis kalimat retoris bung Karno. Memperhatikan foto dan membaca kalimat retoris ini saya jadi teringat salah satu buku besar karya beliau, Dibawah Bendera Revolusi. Tetap membuat saya terkagum.

Bung Karno...

Retorika bung Karno

Hasli karya seni lainnya sempat saya foto dengan kamera handphone saya. Kurang bagus hasilnya. Tapi kiranya cukuplah untuk saya abadikan disini.

Rupanya anak sang empunya warung nasi uduk ini penggiat seni yang tergabung dalam komunitas WPAP Community, Wedha’s Pop Art Portrait. Ia aktif dalam berbagai event yang sering diadakan oleh komunitas ini. Di salah satu dinding, ditempelkan juga sertifikat penghargaan yang pernah ia terima.

Sang empunya galeri

Saya pribadi kurang faham apa yang dimaksud dengan karya seni ini. Saya periksa disitus WPAP Community, dijelaskan sedikit gambaaran mengenai aliran seni ini. Disana dituliskan bahwa secara garis besar WPAP adalah gaya ilustrasi potret manusia (biasanya figur-figur terkenal) yang didominasi bidang-bidang datar marak warna yang diletakkan di depan, tengah, dan belakang untuk menimbulkan dimensi. Dimensi itu sendiri dibentuk dari garis-garis imajiner tegas di mana bentuk wajah, posisi elemen-elemen anggota wajah, dan proporsinya tetap sama dengan potret aslinya. Proses tracing kreatif yang digunakan tidak tunduk 100 persen pada apa yang sedang di-trace. Dikembangkan pertama kali oleh Wedha Abdul Rosyid disekitar tahun 1990-1991 saat beliau bekerja sebagai ilustrator disalah satu penerbitan media massa.

Bila sahabat ingin lebih jauh mengenal apa itu WPAP, sila di kunjungi situs WPAP Community.

Oh ya, nasi uduk dan ayam goreng pesanan saya sudah siap. Saatnya makan malam. Mari…

Nasi Uduk & Ayam goreng

Bekasi, 7 Februari 2013

Iklan