Masih Suka ke Pasar Tradisional?

Pertanyaan sederhana saja, masih suka ke pasar tradisional kah sekarang ini untuk belanja kebutuhan sehari-hari?

Pertanyaan yang suka menggelitik diajukan saat ini mengingat pasar-pasar yang selalu bernama keren dan berakhiran kata “market” rasanya sudah demikian menyerbu dan mengepung disetiap penjuru kota. Market-market tersebut, atau lebih terkenal dengan sebutan “super market” memang menawarkan harga yang lebih mahal ketimbang harga di pasar tradisional. Namun yang pasti, kenyamanan berbelanja disana lebih terjamin. Ruangan yang ber-AC, penataan yang rapih, pelayanan yang baik tentulah menjadi semacam rayuan untuk kembali berbelanja dan mendatangi market tersebut.

Memang ciri yang melekat dalam ingatan tentang pasar tradisional itu adalah semrawut, becek, tidak nyaman dan bahkan tidak aman. Mungkin tidak semua pasar tradisional berciri seperti tersebut diatas. Tapi rasanya sebagian besar memang demikian adanya.

Pagi ini saya melewati pasar tradisional Sukabumi. Pasar ini bagian luarnya menempati area Jalan Pelabuan. Jalan yang dikiri-kanannya dipenuhi pedagang-pedagang berbagai jenis kebutuhan sehari-hari. Pasar tradisional sendiri, yang bernama Pasar Pelita, menempati bangunan khusus. Sementara, inilah keramaian Senin pagi ini di Jalan Pelabuan yang telah berubah fungsi menjadi bagian Pasar Pelita bagian luar.

Hiruk pikuk pasar tradisionil di jln Pelabuan

Bangunan tinggi di belakang itu adalah Pasar Pelita

Berbagai sayuran segar tersedia disini. Segar yang benar-benar segar tanpa melalui proses pengawetan dalam freezer seperti yang biasa kita temui di berbagai super-market. Harga dijamin lebih murah disini, tapi kita harus rajin menawar. Tidak ada label harga pasti. Tapi semua itu tentunya dengan satu minus. Minus kenyamanan seperti yang akan didapat seandai kita berbelanja kebutuhan harian di super market.

Nah, dengan sedikit perbandingan dan contoh penggambaran pasar tradisional tersebut, hendak berbelanja kebutuhan sehari-hari kemanakah anda? Ke super market ataukah ke pasar tradisional?

Sukabumi, 4 Februari 2013

Iklan

44 komentar

  1. wuihhhhh….kren2 jepretannya kang….jadi ngiri

    1. Terimakasih Mas.
      Ah, ini hanya asal jepret saja pake kamera saku…
      Salam,

  2. being practical, saya lebih pilih Supermarket. Tapi ada kalanya pergi ke pasar, dan disana ada lebih banyak pilihan sayur/lauk lebih banyak dengan harga yang jauh lebih murah. Sayang pengelolaan pasar masih kurang baik sehingga identik dengan tempat yang kumuh.

    1. Itulah yg sangat disayangkan, pengelolaannya yg nampak seadanya.
      Moga kedepan bisa lebih diperbaiki keadaan pasar tradisional ini ya…
      Salam,

  3. enakan ke pasar tradisional. bisa nawar. hehehehe…. tapi jadi terasa menyatu dengan keseharian. kalau ke market yang modern, kesan angkuh yang didapat. “gue dong belanja banyak di sini, bisa dapet banyak dan murah” <— entah, gitu yang aku tangkap. karena setiap ada diskonan, udah pada brutal gak karuan. troli belanja pada main sruduk geje. yaaaa…. jadinya kampungan aja sih.

    *sebodo ah gak nyambung juga* 😀

    1. Hahaha…emang begitu mba klo ada diskonan. Kita cenderung bukan membeli krn kebutuhan tp hanya krn keinginan.
      Jadi, masih setia dg pasar tradisional ya?
      Salam,

      1. masih doooonnggg 🙂 pokoknya gak ada yang ngalahin sensasi becek-becekan dan denger celoteh pedagang dengan aneka logat: sunda, batak, jawa, dan kadang logat manado atau ambon. seru! 😉

  4. kalo untuk beli sayuran, memang pasar tradisional itu asyik buat belanja. tapi kalo untuk kebutuhan seperti sabun, shampo, bedak, pasta gigi perangkat temen-temennya tuh, seringnya di minimarket atau toko kelontong.
    Kalau belanja besar buat arisan, pesta, tentu pilihan yang ekonomis adalah di Pasar Tradisional.
    Ada yang menggembirakan untuk di DKI, Psar tradisional dalam jangka panjang akan dikelola agar rapi, nyaman dan biaya sewa lebih ringan. Gubernur Jokowi sering banget blusukan ke pasar-pasar. Dan di Solo, para pedagang sering memberikan tertimoni yang positif selama Jokowi jadi Walikota.
    hadeeeh.. jd kayak kampanye ya..maaf.. ini fakta.

    jadi situasional sih pak. Dua-duanya kita perlukan.

    1. Gerakan yg menggembirakan nih di DKI. Memang sudah sewajarnya pasar tradisional mendapat perhatian dan pengeloaan yg lebih baik. Krn betapa banyak masyarakat kita yg hidup tergantung darinya.
      Terimakasih pencerahannya mengenai gerakan P. Jokowi di DKI. Berharap yg sama juga untuk di Jabar.
      Salam,

  5. Fotografinya bagus ya, jadi bikin pasar tradisionalnya keliatan keren alih-alih kumuh dan kotor.
    Saya udah nggak pernah ke pasar tradisional… 😦 tapi akhir-akhir ini sebisa mungkin saya belanja apapun di warung-warung kecil. Bantuin ngebangun ekonomi warga haha, yang punya market-market itu udah pada kaya semua

    1. Ah fotonya biasa aja. Saya gak ahli moto, jd sebenarnya asal jepret saja pake kamera saku.
      Boleh juga nih dg belanja di warung2 kecil. Ya betul, membantu perkembangan ekonomi masyarakat…
      Salam,

  6. Saya masih senang ke pasar tradisional dan masih eksistensi pasar tradisional akan terus terjaga. Pasar tradisional adalah pilar ekonomi rakyat. 😀

    1. Tetap berbelanja ke pasar tradisional ya yg memang dapat disebut juga sbg pilar ekonomi rakyat.
      Salut dg sikapnya…
      Salam,

  7. kalo supermarket itu ndak nego-able pak, harga pas semua, ndak ada interaksi antara penjual dan pembeli, ndak ada seni-seninya 🙂

    1. Dahsyat. Betul juga Mas. di supermarket sudah berkurang “human touch”-nya mungkin…
      Salam,

  8. Kalo di Bali Pasar Tradisional itu malah ibarat tempat mutlak di kunjungi setiap hari dan di setiap hari raya.
    Tidak akan pernah ada pasar modern yg mampu menggantikan 🙂

    1. Oh, demikian ya di Bali. Terus terang saya baru tahu nih…
      Salam,

      1. Iya Pak, bahkan ketika hari raya besar.
        Akan ada banyak hasil buatan tangan masyarakat untuk bahan upacara. 🙂

        Salam kembali

  9. dari dulu saya memang jarang ke pasar tradisional, jaraknya jauh dari rumah, hampir 7 km. Belanjanya ke tukang sayur yang lewat aja.

    1. Wah, jauh juga ya jarak ke pasar tradisionalnya.
      Ya ringkasnya demikian, belanja kebutuhan hariannya dari tukang sayur yg lewat…
      Salam,

  10. Waduh eta Peuteuy ngabibita pisan kang hehehe

    Upami didieu mah, abdi terpaksa ka supermarket da dipasar tradisional mah duuuhh meni awis pisan 🙂

    InsyaAllah iraha2 abdi aplod foto2 pasar tradisional di Nürnberg.

    1. Hehehe…aya nu kabitaeun peuteuy geuning. Ieu nuju musim na. Nuju mirah oge pangaosna. Paling awis mung 2000rp sapapan na.
      Oh, disana lebih mahal harganya di pasar tradisional ya Teh?
      Diantos foto2 pasar tradisional di Numberg na…
      Salam,

  11. Masih dong Kang Asa… punya banyak langganan malah… hehehe…
    Biar becek, ga ada ojek.. #ups…

    1. Mantap Mba, apalagi sudah punya banyak langganan ya. Jadi lebih ke bersosialisai ketimbang belanja ya akhirnya…
      Salam,

  12. lebih sering ke supermarkt mas
    foto fotonya bikin kangen kampung halaman nih

    1. Walau disana ada juga pasar tradisional ya Mba?
      Wah malah jadi kangen kampung halaman ya gara2 lihat foto2-nya…
      Salam,

  13. Saya ke pasar tradisonal tiap hari rabu. Senang lihat suasananya juga :).

    1. Saya pikir disana hanya ada semacam supermarket mba. Rupanya ada juga ya pasar tradisional. Tapi sudah bagus ya penataannya?
      Salam,

      1. Ada mas, hari rabu & sabtu, terkadang lebih mahal sedikit karena si pedagang jualan dari hasil kebunnya sendiri. Penataan bagus, mereka jualan dalam mobil toko.

  14. Tetep pasar tradisional pak. Lebih fresh dagangannya 🙂

    1. Betul mba, untuk sayuran tentu lebih fresh ya…
      Tempatnya gak masalah ya mba? Misalnya becek dan berdesak-desakan?
      Salam,

      1. Hmmm, itu ciri khasnya pak. Tapi sekarang pasar tradisional juga sudah banyak yang dibenahi kok.

  15. kalau saya sering ke pasar tradisional (bisa nawar harga sih). hanya yang buat ga mood nya kalau hujan atau setelah hujan,pasti pasar becek. jadi jadwal ke pasar kalau cuaca mundukung. hehehehe. kalau ke supermarket untuk beli keperluan sehari-hari,seperti sabun,detergen, dan kawan2nya.

    1. Rasanya dimana-mana sama ya ttg pasar tradisional ini. Diantaranya ya beceknya itu kalo hujan…
      Jadi lihat2 kondisi saja ya antara ke supermarket atau ke pasar tradisional itu.
      Salam,

  16. sepertinya pasar tradisonal dimanapun tempatnya selalu membumi…. hehehe 🙂 I like it :-bd

    1. Istilahnya boleh juga nih, membumi…
      Tapi sering ke pasar tradisional juga sampe saat ini?
      Salam,

  17. Wah, asiknya keliling pasar, apalagi ketemu Pete alias pelor…..yang segar pisan

    1. Iya, ini lagi musim pete. Nikmat banget, karena saya suka.
      Suka pete juga gak ya?
      Salam,

  18. aku belum suka masak2 dan urusan belanja dpt tugasnya belanja keperluan rumah, jd enaknya di supermarket, all in one. 🙂

    1. Betul juga, kalo untuk kebutuhan rumah tentu lebih nyaman belanja di supermarket ya.
      Salam,

  19. Aduuuh ninggalian foto na kangen ih janten hoyong uwih ka sukabumi…

    1. Sono nya Teh?
      Iraha atuh bade nyelang wangsul heula ka Sukabumi?
      Salam,

  20. […] Senin pagi ini akhirnya saya jadi juga mengunjungi pasar Cisaat ini. Dan, ya, gambaran saya tentang pasar tradisional yang selalu semrawut, becek dan tak terawat sedikit berubah di pagi ini setelah menyaksikan bagaimana keadaannya saat ini. Gambaran yang secara lumayan rinci telah saya posting, setelah saya melihat dengan mata kepala sendiri kondisi pasar tradisional di kota Sukabumi, disini. […]

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: