Bumi… bumi… bumi…

Ini cerita saya kalau pulang ke Sukabumi dari Bekasi. Ketimbang naik angkutan umum yang langsung ke Sukabumi, saya lebih suka memilih angkutan umum yang putus-putus. Ciawi-lah tempat saya turun dari angkutan umum yang saya naiki dari Bekasi sebelum berganti ke angkutan umum lain dengan tujuan Sukabumi.

Istrahat sejenak di Ciawi. Menghirup udara segarnya, yang sangat jauh berbeda dengan udara Bekasi, sungguh kenikmatan yang tiada duanya. Nongkrong sejenak sambil menikmati secangkir kopi panas atau menikmati berbagai jajanan yang tersedia di warung-warung pinggir jalan akhirnya jadi semacam kebiasaan juga.

Berbagai jenis angkutan umum menuju Sukabumi bisa kita pilih dari Ciawi ini. Bisa naik bus besar, yang berasal dari Kampung Rambutan, Kali Deres atau Priok. Atau bus tiga perempat, yang berasal dari Lebak Bulus atau Depok. Atau naik mini bus, yang lebih populer disebut Colt – sesuai nama jenis kendaraan itu – yang rute sebenarnya Sukabumi-Bogor, yang banyak ngetem di sekitar perempatan Ciawi.

Di Ciawi ini saya selalu mendengar teriakan-teriakan khas yang menawarkan angkutan ke Sukabumi. Teriakan-teriakan yang dikumandangkan calo-calo Colt ini,

“Bumi… bumi… bumi…”

Itu teriakan yang akan selalu kita dengar saat nongkrong di Ciawi. Kata “bumi” itu kependekan dari nama kota “Sukabumi”.

Di Sabtu pagi hari, biasanya beberapa Colt sudah ngetem di Ciawi. Kita masih bisa memilih untuk naik Colt yang kondisinya masih bagus. Tapi keadaan seperti ini jangan harap terjadi di Sabtu sore atau malam harinya. Pada jam-jam tersebut, malah kita akan berebut untuk menaiki sembarang Colt.  Hal ini karena ledakan calon penumpang yang hendak menuju Sukabumi dan minimnya ketersediaan Colt karena terjebak kemacetan.

Beginilah suasana pagi saat beberapa Colt ngetem menunggu calon penumpang…

Pagi hari ini calon penumpang masih jarang. Jadi kita harus sedikit bersabar seandai menaiki Colt yang masih kosong. Colt tidak akan mulai jalan bila sang sopir belum merasa cukup dengan jumpah penumpang yang sudah duduk…

Belum jalan kalau masih kosong...

Colt terdiri dari empat baris tempat duduk. Tiga baris tempat duduk bagian belakang, tiap barisnya bisa diisi empat orang penumpang. Tak perduli penumpangnya kurus atau gemuk, tiap baris harus berisi empat orang. Begitu kenyataannya. Terkadang memang menyesakkan.

Colt sudah penuh, mulai perjalanan

Saat di perjalanan, walau semua baris bangku telah penuh, tetap saja masih bisa menambah satu penumpang lagi. Penumpang ini dijejalkan di baris kedua dari depan, baris yang bersebelahan dengan pintu. Di baris kedua, yang seharusnya untuk empat orang, akan melonjak jadi enam orang. Enam orang itu dengan tambahan satu orang penumpang ditambah kernet yang ikut berdiri membungkuk disana.

Menyesakan penumpang di baris kedua

Kalau penumpang penuh sesak dan jalanan macet, sungguh tidak nyaman berlama duduk di dalam Colt ini. Udara didalam yang gerah, terkadang malah masih ada yang suka iseng merokok, membuat kian sumpek. Kondisi yang cukup untuk membuat kepala kita sedikit pening dan pusing.

Sedikit pusing dan pening kepala...

Perjalanan ke Sukabumi yang berjarak sekitar 60-an km ditempuh dalam waktu sekitar 1,5 sampai 2 jam seandai kondisi lalu lintas tidak macet. Beberapa sopir colt terkenal jago ngebut, bahkan terkesan ugal-ugalan, sehingga bahkan tidak sampai 1,5 jam sudah sampai di Sukabumi.

Dengan ongkos normal Ciawi – Sukabumi Rp 10.000,- dan kondisi berkendaraan dengan Colt seperti yang saya ceritakan, Colt tetap menjadi alternatif angkutan umum. Dengan melupakan sedikit kenyamanan, faktor kecepatan perjalanannya itu menjadi alasan mengapa naik Colt masih tetap menjadi pilihan saat ini.

Sukabumi, 2 Februari 2013

25 pemikiran pada “Bumi… bumi… bumi…

    • Kalo yg dari Ciawi-Sukabumi ini jenis kendaraannya Colt. Ukurannya lebih kecil dari Elf. Kedua kendaraan itu memang terkenal sbg jenis angkutan yg jago ngebut
      Saya gak berani duduk di depan kalo naek colt atau elf ini…
      Salam,

    • Memang demikian keadaannya. Tempat duduk yg sempit dan dipaksa sebaris harus 4 orang, gak perduli ukuran tubuh penumpang yg duduknya.
      Saya naik Colt kalo memang sedang memburu waktu. Kalo tidak, saya lebih memilih untuk naik bis AC tiga perempat. Lebih nyaman, walau jalannya agak lamban.

      Salam,

    • Nah, kebetulan kemarin itu sepertinya sopirnya rada romantis. Diputernya lagu-lagu lawas Nike Ardilla. Jadinya saya bisa enjoy sepanjang jalan dari Ciawi ke Sukabumi…

      Salam,

  1. Paling bete kalo jumat sore, para supir+kenek kolt menaikkan harga seenak perut…
    kenek : “Bumi.. bumi…..bumi…. sok kang naek, 20 rebuwe, colt na tos maracet di ciawi, lami ngantosan mah….”
    saya : “awis pisan ning?!!”
    Kenek :”Bilih bade we…”
    saya: “-_______________-“

    • Rasanya masih ada bis jurusan Sukabumi – Bekasi. Tapi belakangan jarang saya lihat.

      Saya pribadi kalau dari Bekasi lebih suka ke Ciawi dahulu. Dari Ciawi nyambung ke Sukabumi bisa naik colt atau menunggu bis yang dari Rambutan atau bis kecil AC dari Depok atau dari Lebak Bulus.

      Salam,

  2. Ping balik: Fenomena Pekerja Mingguan dan Catatan #CiawiSeninPagi | Sisi Hidupku

  3. oke colt waloupun ugal ugalan tetep sopirnyapun gak mau celaka santaikan saja ga ada orang yang mau celaka.salam sayan Deri mantan supir colt sukabumi Bogor.

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s