Taman Kota, Wajah Kota

Mungkin terlalu berlebihan bila saya katakan bahwa taman kota itu mencerminkan wajah kota secara keseluruhannya. Tapi, biarlah saya mengambil kiasan seperti itu. Hal ini terutama karena keprihatinan saya melihat perkembangan beberapa kota yang nampaknya semakin giat dan gegap gempita membangun mall-mall. Seakan ada perlombaan baru, satu kota tidak disebut maju atau modern bila tidak terdapat mall didalamnya. Disisi lain perhatian terhadap taman kota nampaknya semakin terabaikan. Atau setidaknya tidak menempati prioritas utama tapi hanya menempati prioritas nomor sekian saja.

Tulisan ini jadi semacam sekuel atas tulisan yang saya posting kemarin yang bertajuk Antara Mall dan Taman Kota, tulisan yang berdasar pada kekaguman saya bahwa di kota kecil Cibadak, tepatnya di Karang Tengah, telah dibangun sarana taman kota. Dan membaca berbagai komentar dari sahabat-sahabat blogger saya jadi terangsang untuk menyusun tulisan ini yang bercerita tentang taman kota di Sukabumi.

Sejak dahulu di Sukabumi sudah ada taman kota. Taman kota ini lebih akrab dipanggill alun-alun disini. Saya pribadi mempunyai kenangan yang indah berhubungan dengan alun-alun Sukabumi ini. Terhampar di depan mesjid Agung Sukabumi, alun-alun kerap menjadi tempat saya bermain saat saya duduk di SMP di sekitar tahun 1977-an. Intensitas saya mengunjungi alun-alun saat itu akan meningkat di bulan Ramadhan. Dari selepas waktu Ashar biasa saya main ke alun-alun. Sekedar main kucing-kucingan dengan teman-teman sebaya atau duduk-duduk sambil bercanda di tempat duduk yang terbuat dari tembok. Jelang waktu Magrib serentak meninggalkan alun-alun menuju rumah masing-masing.

Bagaimana keadaan alun-alun kota Sukabumi saat ini? Mari saya ajak sahabat-sahabat blogger untuk menyaksikannya lewat foto-foto yang saya ambil pagi ini dan sedikit uraiannya.

Gerbang alun-alun bagian depan telah dibuat permanen bertembok rapih. Diatas gerbang tersebut terdapat semacam patung tiga tangan yang menopang semacam buku. Saya tidak faham mengapa harus tiga tangan apalagi filosofi yang melatar-belakanginya. Bagian depan samping alun-alun bahkan dipenuhi dengan berbagai banner yang tidak sedap untuk dipandang.

Menatap gerbang alun-alun lebih dekat, sungguh membuat saya sedih. Tembok yang bertuliskan KOTA SUKABUMI tampak kotor dipenuhi noda-noda hitam. Mungkin semacam lumut yang timbul akibat guyuran air hujan. Seandai bersih, pasti akan enak untuk dipandang agak lama.

Gerbang alun-alun dari dekat

Gerbang alun-alun dari dekat

Masuk ke bagian tengah alun-alun. Disini ada bidang yang membulat. Lantainya berkeramik warna merah. Dahulu disini terdapat beberapa tempat duduk dari tembok menghadap ke bidang yang membulat ini. Sekarang tempat duduk tersebut sudah tidak ada lagi. Jadi entah dimana harus duduk sekarang bila kita hendak berlama-lama di alun-alun. Mungkin alun-alun sekarang hanya dijadikan sekedar tempat numpang lewat saja, bukan untuk tempat duduk berlama-lama. Kalau mau duduk-duduk dipersilahkan duduk ditembok pembatas jalan dengan taman saja…

Hal yang membuat semakin tidak teraturnya alun-alun ini salah satunya adalah banyaknya pedagang disini. Bukan tidak boleh berjualan disini, itu sah-sah saja. Hanya diperlukan pengaturan yang lebih baik untuk menempatkan pedagang ini di area yang khusus sehingga keasrian dan kerapihan alun-alun tetap terjaga.

Sudut-sudut alun-alun lainnya tetap hijau dengan jalan kecil didalamnya yang sudah tertata  rapih. Rasanya hanya perlu sentuhan sedikit, khususnya dalam hal perawatannya, maka wajah alun-alun akan kembali cantik.

Saya berharap semoga tulisan ini terbaca oleh pemangku kekuasaan Kotamadya Sukabumi. Hanya tulisan sederhana yang kiranya menjadi bahan masukan untuk mengembalikan alun-alun ke fungsinya sebagai sarana fasilitas masyarakat dan juga memberi perhatian kepada penataan dan perawatannya yang terus menerus.

Sukabumi, 6 Januari 2013

12 pemikiran pada “Taman Kota, Wajah Kota

    • Betul. Nampaknya perhatian kini lebih tercurah untuk terus membangun mall ketimbang membenahi fasilitas umum semacam taman kota ini.
      Semoga kedepan ada pergeseran dalam pola pandang ini.
      Salam,

  1. Semoga tulisannya dibaca oleh yg bersangkutan ya mas, hingga yg sudah ada akan tetap terpelihara dgn baik, karena sebenarnya tempat tempat hijau itu dibutuhkan oleh manusia

    • Wslm. Terimakasih telah berkunjung kemari. Saya kuatir tidak punya jawaban yg tepat atas pertanyaan itu. Yg saya tahu makna dari simbol buku itu adalah ilmu. Buletan diatas buku itu menggambarkan api yg sedang menyala. Hal itu berarti ilmu sbg penerang dlm kehidupan. Simbol buku ada diatas tangan, artinya kewajiban setiap orang untuk menuntut ilmu.
      Nah, yg terakhir yg saya tidak ketahui, mengapa jumlahnya ada 3 tangan? Itu tetap menjadi pertanyaan saya. Apakah itu hanya sekedar estetika seni saja atau ada makna dibaliknya. Wallahu’alam.
      Salam,

  2. When I first saw this title Taman Kota, Wajah Kota | Sisi Hidupku on google I just whent and bookmark it. Spot on with this write-up, I really suppose this web site needs rather more consideration. I’ll most likely be once more to learn much more, thanks for that info.
    CCrichtonDavesona

  3. Ping balik: Taman Kota Cisaat | Sisi Hidupku

  4. Ping balik: Wajah Baru Alun-Alun Sukabumi | Sisi Hidupku

  5. sangat miris sebenarnya, disaat kota2 besardi dunia mencoba mengurangi jumlah gedung2 pencakar langit dan lebih mengutamakan membuat ruang publik di Indonesia malah sebaliknya, Ini merupakan tugas pemerintah dan juga tentunya tugas kita untuk menata kembali wajah kota kita smua

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s