2013, Antara Yang Kian Menjulang dan Yang Terpinggirkan

Pagi ini pagi pertama di tahun yang baru. Walau tahun baru, kebiasaan saya tidak ada yang baru seandai saya di Sukabumi. Tetap dengan jalan kaki pagi menyusuri sudut-sudut kota Sukabumi yang saya cinta ini. Selain demi alasan kesehatan, jalan kaki menghirup udara segar yang masih minim polusi, juga memperhatikan dan mengamati aktifitas-aktifitas anggota masyarakat di pagi hari, sungguh menjadi kegiatan mengasyikan bagi saya.

Menelusuri jalan-jalan raya yang benar-benar sepi pagi ini saya menangkap fenomena biasa yang sebenarnya adalah fenomena yang luar biasa. Suatu fenomena kontradiktif. Fenomena yang sebenarnya banyak diperbincangkan juga sejak awal pembangunan di negeri ini mulai ditancapkan dan diprogramkan.

Pembangunan yang sudah berjalan beberapa dekade belakangan ini memang memberikan dampak positif bagi masyarakat. Akan tetapi jangan dilupakan, didalamnya terkandung juga dampak negatif. Salah satu dampak negatif itu terciptanya jurang kesenjangan dalam kehidupan masyarakat kita. Disatu sisi ada sebagiam masyarakat yang kian menjulang pencapaian ekonominya, disisi yang lain sebagian masyarakat masih berada dalam kemiskinan. Bukan hanya miskin tapi semakin lama masyarakat ini kian terpinggirkan pula.

Namun bukan kapasitas saya untuk membahas fenomena kontradiksi ini dengan pendekatan teori ekonomi pembangunan, misalnya. Saya hanya mendokumentasikan secara sederhana fenomena ini dari mengamati keadaan Sukabumi pagi ini.

Kini telah berdiri bangunan berupa gedung-gedung yang megah dan menjulang tinggi di Sukabumi. Saya menggambarkan ini sebagai mewakili sosok kelompok yang kian menjulang pencapaian ekonominya. Lihatlah beberapa foto tentang hal tersebut.

Salah satu contoh yang mewakili sosok yang terpinggirkan dalam percaturan ekonomi adalah akang-akang penarik becak. Mereka biasa nongkrong berkelompok di mulut-mulut gang, dipinggiran jalan, di pasar atau di beberapa lokasi lain yang terpencar.

Di hari pertama tahun baru ini, dimana sebagian besar kita masih tertidur lelap karena semalaman disibukan dengan acara atau bahkan pesta penyambutan tahun baru, akang-akang penarik becak ini sebagian sudah bersiap-siap membenahi becaknya. Sebagian lagi malah sudah hilir-mudik beroperasi mengayuh becaknya mengantar penumpangnya ke berbagai tujuan.

Inilah akang-akang penarik becak yang sedang bersiap di pagi ini,

Bahkan akang-akang ini sudah mengayuh becaknya dari pagi,

Sungguh salut terhadap perjuangan akang-akang becak ini untuk bertahan hidup dalam keterbatasannya. Mungkin yang mereka tahu hanya berjuang, berusaha keras dan tetap mengayuh becaknya karena bisa jadi hanya itu ketrampilan yang mereka miliki demi mengais rezeki yang halal.

Tulisannya ini hanya menggambarkan salah satu contoh kontradiksi dalam masyarakat kita. Tentunya tidak hanya terjadi di Sukabumi, tapi di kota-kota lain pasti  menghadapi kasus yang mirip bahkan mungkin sama.

Dan di tahun 2013 ini, nampaknya fenomena kontradiksi antara kelompok masyarakat yang kian menjulang dan kelompok masyarakat yang terpinggirkan masih akan tetap mewarnai pola kehidupan masyarakat kita.

Sukabumi, 1 Januari 2012

23 pemikiran pada “2013, Antara Yang Kian Menjulang dan Yang Terpinggirkan

  1. itulah khidupan beh klo smua orang kaya repot,,,,
    example: klo smua jdi majikan trus siapa yg mngerjakan tugas2 rmahny,kan Allah mnciptakan umatny sdah berpasang-pasangan ada cewe pasty da cowo bgitu pula khidupan ada yg kaya sdah pasty ada yg miskin,,,,

      • Bendera negeri singapura dan lagu kebangsaan Singapura itu sangat mirip Indonesia. Lee Kwan Yu kalau tidak salah pernah mengakui bahwa Indonesia itu inspirasi mereka. Bahkan Sukarno pernah menyebut Singapura sebagai kota nelayan kecil, miskin dan penuh perompak.

        Tapi itu dulu, sekarang tidak lagi….

        Malaysia dulu mendatangkan guru guru dari Indonesia. Metoda mengajar ngaji I’qro pun terang terangan ia pakai sebagi metodologi pendidikan. Bahkan, Anwar Ibrahim pun sekolah di Indonesia.

        Tapi itu dulu, sekarang tidak lagi……

        Dan kini mereka sudah tinggal landas, sementara negeri kita sebagai landasannya.

  2. saya sering membayangkan kalau yg di sana yg tambah banyak adalah pohon pohon , taman dan semua yg hijau hijau drpd munculnya gedung gedung tinggi dan bangunan yg membikin bumi semakin panas

  3. apakah ini fenomena yg nyata antara kepentingan bisnis, rakyat kecil, yg tak disikapi secara adil oleh pemangku wilayah?

    • Nah ini, entah apa kontradiksi ini terjadi seperti yang Kang MT bilang atau bukan. Yang terlihat hanya akibat dari suatu sebab yg kompleks, mungkin…
      Salam,

  4. Ping balik: Keliling Kota Naik Delman | Sisi Hidupku

  5. When I first saw this title 2013, Antara Yang Kian Menjulang dan Yang Terpinggirkan | Sisi Hidupku on google I just whent and bookmark it. Outstanding post, I believe people should learn a lot from this web blog its really user pleasant. So much great info on here .

  6. sukabumu emang kota yg sangat tertinggal..kota yang dataarrr2 saja-sama sekali tak ada pencakar langit..atw rumah susun(btn vertikal) sederhana untuk rakyat kecil-zaman gini kota tanpa gedung pencakar langit/rusun sederhana*tidak pantas disebut kota*rumah susun sederhana(btn rakyat vertikal) yg cocok untuk ukuran kantong rakyat kecil- sukabumi kota tertinggaalll..datarrrr datarrr..tak ada sama sekali gedung pencakar langiitt..yg ada baru hanya MALL pendek pendek..lihat kota tawau(kota kabupaten di malaysia..punya banyak pencakarlangit rusun sederhana buat rakyat kecil..nampak maju modern…tdk sprti sukabumi..butut

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s