Sabtu Cerah Ceria

Sabtu pagi tiba juga. Saat menikmati keleluasaan dan menikmati waktu milik sendiri. Demikian saya selalu tegaskan pada diri sendiri, seandai tidak ada keharusan untuk bergelut dengan rutinitas.

Sabtu pagi ini demikian cerah. Berniat menghadiri undangan dari sahabat senior di pabrik. Ia tinggal di desa Tapos Lebak, Tenjo Laya. Kalau tidak salah desa tersebut masih masuk pemerintahan Bogor. Tempat yang belum pernah saya kunjungi. Ia mengundang beberapa rekan untuk datang ke rumahnya. Ada semacam syukuran atas pernikahan anaknya yang telah diselenggarakan dua minggu lalu.

Berangkat dengan beberapa orang teman. Alamat jelas sudah dituliskan dikertas. Kuatir nyasar juga. Memulai perjalanan sekitar jam 9 pagi. Diiringi dengan langit cerah yang menemani sepanjang perjalanan.

Menatap langit yang biru cerah seakan memberi kebahagiaan tersendiri. Mungkin wajar saja, karena hari-hari belakangan ini seringnya langit pagi berbalut mendung.

Hampir tiga jam diperjalanan, sampai juga ke tempat tujuan, tentunya setelah beberapa kali bertanya di jalan. Ini rupanya desa Tapos Lebak itu. Lingkungannya yang masih asri. Udara segar menerpa. Masih hijau sejauh mata memandang. Sungguh nikmat disini. Jauh dari keramaian dan bising suara kendaraan.

Sambutan yang hangat dari keluarga sahabat. Salam. Obrolan dan candaan yang segar spontan hadir. Obrolan dan candaan yang tulus, tanpa ada kepura-puraan.

Hidangan kecil tersaji. Ada noga, penganan yang terbuat dari kacang tanah dan gula kawung, dengan bentuk yang membulat. Bentuk noga yang aneh buat saya. Biasa saya menikmati noga yang dikemas dalam bentuk persegi empat. Selain noga, ada juga pisang emas. Pisang yang kulitnya berwarna kuning yang terang dan berbentuk kecil-kecil. Sungguh hidangan yang luar biasa untuk dinikmati menemani ngobrol dan bercanda kami.

Saat waktu shalat dzuhur tiba, bergegas sejenak menuju mesjid. Mesjid yang rupanya sedang dalam tahap pembangunan swadaya masyarakat setempat. Salut dengan kebersamaan masyarakat disini, menyumbang rupiah demi rupiah demi terwujudnya mesjid yang permanen.

Usai shalat, menginjak ke acara puncak. Tidak lebih, acara ini berupa makan siang bersama. Sayur kacang, bihun dan sajian favorit telah disiapkan tuan rumah. Itu adalah pepes ikan mas. Benar-benar luar biasa nikmatnya makan siang bersama ini…

Saat pulang, langit tak secerah waktu pagi. Kini langit mulai menghitam. Mungkin hujan sebentar lagi akan turun. Langit hitam seakan mengantar saya kembali ke habitat. Habitat yang penuh kebisingan dan penuh polusi udara yang dengan rela harus saya nikmati setiap hari.

Bagaimana dengan hari Sabtu-mu, sahabat?

Bekasi, 14 Desember 2012 

Abah Sobari

Abah Sobari

CatatanTulisan ini dipersembahkan untuk Abah Sobari yang sedang berbahagia dengan pernikahan anaknya.

8 pemikiran pada “Sabtu Cerah Ceria

  1. Meni waas nyak jeung bangun nikmat eta katuangan nana, ngan ari noga mah kurang resep da sok nyeri kana waos,,,
    hehehe,,,

    kang, ajarkeun abdi cara ngeblog atuh !!! Maklumlah,,teu gaul kang haji mah,,,
    hehehe,,,

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s