Ada permasalahan yang tidak sepele dalam perekonomian kita khususnya dan dalam berkehidupan sosial umumnya dalam masyarakat kita. Hal itu salah satunya adalah melimpahnya jumlah tenaga kerja di satu sisi, berbanding terbalik dengan terbatasnya kesempatan kerja di sektor formal di sisi lainnya.

Berbagai pendekatan dan solusi dicoba untuk diterapkan. Apapun solusinya, menurut saya hal itu akhirnya kebanyakan bernuara pada sektor informal. Sektor yang diyakini bisa menjadi semacam peredam dalam ketimpangan sosial yang terjadi.

Saya pribadi menaruh hormat dan salut kepada mereka yang bergelut di sektor informal ini. Salut kepada mereka ini yang tiada putus berusaha dan mandiri, tiada pernah mengemis-ngemis kepada kebijakan yang jauh dari jangkauan.

Salah satu pelaku sektor informal yang saya kenal itu adalah akang pengecer rokok, minuman dingin, kopi dan mie rebus yang telah selama enam tahun berjualan di depan pabrik tempat saya bekerja.

Warung rokok akang...

Warung rokok akang…

Sekian tahun lalu akang berangkat dari Kuningan untuk mengadu nasib di ibukota. Malang-melintang dalam kesulitan, akhirmya memutuskan untuk menjadi pengecer rokok. Akang memulainya dari menjual rokok asongan sampai akhirnya menjadi pengecer rokok yang dengan lokasi yang tetap. Ternyata tidak mudah untuk mendapatkan lokasi yang bisa ditempati untuk menyimpan gerobak berisi barang dagangannya dan sekaligus menjadi warung tempat akang berjualan.

Akang, anaknya dan warung rokoknya...

Akang, anaknya dan warung rokoknya…

Setelah enam tahun dalam perjuangannya, kini akang sudah beranak satu. Hidup bahagia dengan istrinya yang sekarang sedang menunggu kelahiran anak keduanya.

Anak akang yang sehat..

Anak akang yang sehat..

Apapun bentuk kehidupan ekonomi akang bila ditilik dari sudut ekonomi makro, tetaplah kehidupan ini berjalan pada satu rel yang pasti, bahwa selama masih ada hidup, disana masih ada harapan…

Bekasi, 4 Desember 2012

Iklan