Saya pikir tempat makan murah dan paling populer untuk kalangan menengah bawah, di bilangan Jakarta sekitarnya, bahkan di kota-kota besar lainnya, adalah warteg alias Warung Tegal.

Entah kapan mulai tumbuh menjamurnya usaha warteg dan siapa pula perintisnya, tidak saya ketahui. Yang saya tahu pasti, rasanya setiap tahun semakin banyak warteg baru bermunculan. Nampaknya hal ini tidak terlepas dari meningkatnya permintaan masyarakat atas ketersediaan makanan murah dan terjangkau, cocok dengan lidah dan juga tentunya bersih.

Saya pribadi mengenal warteg sejak tahun 1983, saat saya mulai menggelandang di ibu kota. Hingga kini tetap menjadi tempat makan siang pilihan. Jadi sudah berpuluh tahun saya setia menjadi pelanggan warteg.

Siang ini, usai shalat Jum’at, saya bergegas menuju warteg. Kesibukkan pelayanan mas warteg meningkat di setiap jum’at siang. Pelanggan yang datang hampir berbarengan dan masing-masing ingin segera dilayani, membuat kesibukkan makin menjadi.

Mas warteg yang sibuk melayani pelanggan...

Mas warteg yang sibuk melayani pelanggan…

Tempat makan berjejer. Usai makan, bolehlah nonton tv sejenak...

Tempat makan berjejer. Usai makan, bolehlah nonton tv sejenak…

Antrian yang tercipta alami, senda-gurau saat makan dan pelayanan yang bersahabat adalah beberapa hal-hal yang bisa kita temukan di hampir setiap warteg. Bagi yang belum pernah makan di warteg, cobalah sekali-sekali mampir. Nikmati makanan sederhananya yang tersedia dan rasakan pula suasana ramah, akrab dan penuh persahabatan disana.

Mari makan siang di warteg…

Bekasi, 30 November 2012

Posted from WordPress for BlackBerry.

Iklan