Pernah tidak mengalami kasus sederhana, misalnya kita asyik mempelajari metode sesuatu sampai dengan tips dan trik-nya segala, tapi setelah proses itu terlewati kita seperti tidak memperoleh apa-apa? Atau apa yang kita harapkan dari tuntasnya kegiatan mempelajari itu tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan semula?

Begini deh contoh mudahnya. Awalnya kita mempunyai keinginan untuk nge-blog secara konsisten. Artinya blog itu terus-menerus ter-update. Terus menerus disini relatif, misalnya setiap hari, setiap minggu atau bahkan setiap bulan.

Nah, karena kita belum tahu bagaimana cara membuat dan mengelola blog, habis-habisan kita mempelajarinya. Dari internet, dari diskusi dengan teman bahkan sampai mempelajari tips dan trik dari semacam buku panduan.

Contoh buku panduan untuk belajar tip dan trik ngeblog...

Buku panduan untuk belajar tip dan trik…

Setelah itu, mulailah kita membuka sebuah blog. Menata tema dan lay-outnya sesuai keinginan kita. Mengisinya dengan memposting artikel demi artikel.

Tapi ada yang aneh. Semakin lama semakin jauh jarak waktu antara posting terakhir dengan posting berikutnya. Cerita mungkin akan berujung pada vakumnya blog kita. Tak lahir lagi postingan baru.

Apa yang salah dari proses mempelajari cara ngeblog sampai vakumnya blog kita itu?

Menurut saya, itulah yang terjadi bila tidak ada “hati” dalam mempelajari sesuatu. Kita akan berhenti pada penambahan pengetahuan. Pengetahuan yang bahkan sampai demikian detil. Selanjutnya, implementasi dan kontinyuitas akan menjadi hal yang berat untuk dijalankan. Kalaupun berjalan, itu hanya menjadi semacam keterpaksaan dan beban untuk kita tanggung.

Jadi, libatkan “hati” dalam setiap apapun yang kita lakukan. Maka, apapun yang kita lakukan tidak akan menjadi beban, terasa ringan saat kita melakukannya dan akan mudah untuk menjaga kontinuitasnya.

Hanya pendapat awam. Mungkin anda mempunyai pendapat lain? Mari kita sharing…

Bekasi, 21 November 2012

Posted from WordPress for BlackBerry.

Iklan