Kisah Sepasang Sepatu dan Perjalanan Menuju Bahagia

Bermula dari sepasang hati,
riuh rendah bertanya tentang makna,
makna cinta yang hakiki,
dalam hidup yang fana ini,
adakah?

Sepasang hati,
masing-masing dengan sepasang sepatu,
menelusuri lorong waktu,
waktu yang seolah demikian kejam,
membiarkan yang tertinggal kian meronta,
ah, kuatkah kita menerima?
demikian tanya menggema di hati kita…

Baiklah, duhai sepasang sepatu,
akan kau bawa kemana kami melangkah,
apa yang kau janjikan disana?
setitik harapan akan bahagia yang nyata,
atau hanya seonggok mimpi yang maya?

Ia menyahut,
duhai sepasang hati yang selalu bertanya,
ikuti perjalanan ini saja,
buka pintu hatimu dengan lapang,
resapkan kebahagiaan,
yang akan menelusup,
memasuki setiap denyut urat nadimu.

Maka,
seperti tertulis dalam suratan,
berjalanlah sepasang hati,
masing-masing dengan sepasang sepatu,
menyusuri jalan lekuk berliku.

Tiada sunyi dalam tiap ayun langkah,
tanya selalu terucap,
hanya kesejukan angin,
keasrian rindang dedaunan,
pepohonan yang melingkupi,
memberi tenteram bagi sepasang hati…

Gemerisik angin berucap,
diamlah wahai sepasang hati yang selalu bertanya,
pandanglah sekeliling,
alam akan mengajari engkau,
bagaimana berucap dalam diam,
bagaimana bersyukur dalam renung,
bagaimana mencinta tanpa seucap kata…

Angin terus berujar,
pandanglah hamparan air di kolam itu,
bukankah kau akan temui sekumpul awan biru disana?
apakah kau harus menatap awan untuk melihatnya?
tentu tidak,
yang kau perlukan hanya menatap hamparan air,
disana kau akan lihat sang awan…

Demikian juga dengan cinta,
kau tidak harus menyentuhnya untuk merasakan bahagianya,
sentuhlah cinta di hatimu,
cinta telah ada dan bersemi disana,
di salah satu sudut hati terdalam,
sudut hati terdalammu, wahai sepasang hati…

Duhai angin,
wahai sepasang sepatu,
letih kami telah berjalan,
menyusuri langkah penuh tanya,
sejenak kini,
izinkan kami tetirah,
tetirah dalam hening yang syahdu,
tetirah dalam tanya yang diam,
tetirah dalam cinta yang kian dalam,
tetirah merasakan makna bahagia,
yang dengan lembut telah diajarkan alam,
bagi kami sepasang hati yang penuh tanya…

Maka,
terduduklah kami,
disudut bangku yang setia menanti,
sejak dahulu…

Sepasang hati tetap penuh tanya,
walau kini dalam tanya yang lambat perlahan,
tanya itu…
akankah kami, sepasang hati,
diberi kekuatan untuk tetap bersama,
menyusuri setiap lekuk kehidupan ini,
berteman sepasang sepatu,
merancang bahagia,
dalam bangun yang sederhana…

Demikianlah hidup,
ia memang penuh tanya,
dan bahkan ia misteri,
sungguh,
tidak tersedia jawab atas setiap tanya,
tapi,
bukankah ini yang membuat hidup ini menarik…
itu yang kini selalu terucap,
menggema selalu,
di sanubari sepasang hati…

Bekasi, 30 Maret 2011

Posted with WordPress for BlackBerry.

4 pemikiran pada “Kisah Sepasang Sepatu dan Perjalanan Menuju Bahagia

  1. Ass. Semua yang berasal dari hati selalu tertuang indah. Puisi ini begitu indah berpadu dengan fofo-foto yang diambil dengan cinta dari si pemotret. Semoga ini bisa jadi penawar kekecewaan dari asa yang kadang akan tetap sebagai harapan. Kritik sedikit y. Mungkin kata bangun untuk foto itu bisa diganti dengan kata pondok. Oke Bro, puisi yang sangat menyentuh hati. Terus berkarya ya.

    >>Wa’alaikum salam,
    Sepertinya Sis terlalu memuji untuk sebuah puisi yg sangat sederhana ini, sungguh.
    Tentang harapan, biar demikian adanya, karena selama masih ada hidup maka harapan itu masih tetap ada.
    Terimakasih atas kritiknya tentang penggunaan kata pondok itu. Tapi izinkan puisi ini tetap demikian adanya, mengingat proses penciptaannya yg “dahsyat”, setidaknya menurut saya.

    Salam,

  2. Saya setuju degan apa yg dikatakan oleh Rekan B&S, bahwa semua yg berasal dari hati, selalu indah.
    Puisi anda begitu indah, begitu menyentuh, karena sayapun membacanya dg hati , begitu banyak makna yg tertuang di dalam puisi anda yang hanya bisa dicerna dan dirasakan juga dengan hati.
    Dan Saya selalu menuggu karya2 anda yg lainnya

    Note : kalau boleh tau didaerah mana ya foto2nya di ambil?

    Met malam Mei,
    Ah, anda terlalu memuji atas puisi sederhana ini. Sungguhkah ia begitu menyentuh?
    Tentang foto, sementara saya rahasiakan saja ya…
    Salam,

  3. Life is full with unlimited possibility… foto2 diambil dimana, kalo boleh tau ?

    Setuju dengan unlimited possibility-nya. Great…
    Tentang foto, hmmm, saya rahasiakan saja ya, biar penasaran…
    Salam,

  4. Ass. Melihat foto dan baca puisi ini, saya jadi terkenang akan kondisi yang seringkali harus dilepaskan meski itu terasa menyakitkan. Masihkah ada waktu untuk meraih semua mimpi yang akan terwujud menjadi kebahagiaan atau mimpi itu akan tetap menjadi mimpi? Rahasia dibalik rahasia. Semoga siapapun yang ada di puisi itu bisa meraih apa yang jadi mimpinya. Akankah sang waktu mampu membuat hati yang luka bisa tersenyum kembali. Akankah hati yang hancur dan penuh tanya tetap punya kekuatan untuk menjaga asa yang semakin lama semakin memudar dan semakin jauh

    Wslm. Met malam Lara,
    Ya, memang benar, hidup dan kehidupan ini akhirnya dibatasi oleh sang Waktu. Kadang Ia demikian bersahabat, kadang Ia demikian kejam. Akhirnya, hanya berdamai dengan diri sendiri menjadi semacam obat penyejuk akan semua “sakit” itu.
    Lara, semoga hati yg luka bisa tersenyum kembali, semoga hati yang hancur dan penuh tanya masih diberi kekuatan dan semoga diberi keyakinan bahwa selama masih ada hidup masih ada harapan itu, walau hanya setitik…
    Salam,

Sila tinggalkan komentar sahabat disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s